Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Idenya Cici


__ADS_3

    Begitu sampai di depan kamar Amira,Cici berhenti sebentar dia tidak langsung masuk,anak itu mengintip dari balik pintu dan melihat di sana ada dua orang wanita.


   "Siapa lagi itu,mungkinkah itu kakak-kakaknya kak Amira?" batin Cici,dia masih ragu untuk masuk.


  "Ra,ada anak kecil di depan pintu." Bisik Siska memberitahu,Aura segera menoleh ke belakang,dan terlihatlah Cici yang sedang mematung di sana.


    "Coba kakak lihat siapa anak itu!" suruh Aura pada Siska,mereka saat itu sedang mengajak Amira mengobrol,tapi sayangnya Amira seperti tidak menganggap mereka ada di sana.


    "Kok ngelihat aja sih,bukan dipanggil disuruh masuk kek,dasar nggak peka" ucap Cici dalam hatinya.


    "Kak,sepertinya anak itu menunggu kita untuk menyuruh dia masuk deh," tebak Aura.


     "Lama benar sih,bukan dipanggil malah ditengokin saja dari tadi." Cici membatin.


     "Sayang,sini masuk!" ajak Siska,sambil melambaikan tangannya.


    Dengan senyum malu-malu Cici pun masuk,ah sebenarnya itu hanya gaya sok polosnya si Cici aja tu.


     "Nama kamu siapa?" tanya Aura,dia mencubit gemas pipi tembemnya anak itu.


    "Cici." Jawab cici singkat.


     


"Nama yang bagus" puji Siska.


  "Terimakasih,oh iya kakak berdua ini bisa keluar sebentar tidak,Cici ingin ngobrolin sesuatu sama kak Amira.!" Ucap Cici. Aura dan Siska tidak langsung menjawab,mereka saling pandang tidak percaya dengan omongan yang di dengarnya dari anak kecil itu,mereka sepertinya di usir oleh anak kecil.


****


    "Sepertinya aku salah menilai anak kecil itu kak,kelihatannya aja polos,ternyata dia licik." Ucap Aura kesal begitu mereka sudah keluar dari kamar Amira dan Cici segera menutup pintunya.


    "Iya,dia meminta kita untuk meninggalkan dia dengan Amira,meminta izin tapi terkesan mengusir kita." Jawab Siska membenarkan. Dia juga kesal,tapi menurutnya sikap Cici lucu juga.


                    *******


    "Kak Amira,Cici datang ke sini untuk bertemu dengan kakak." Ucap Cici memulai obrolan.


Tapi sayangnya nggak di respon sama Amira.


   "Kita main yuk!" ajak Cici,Amira masih diam saja,pikirannya masih tidak fokus dengan apa yang ada di hadapannya,dia bahkan seperti tidak melihat keberadaan cici.


     "Kak,kak Amira." Cici terus memanggil Amira dan menggoyangkan bahunya dengan kuat,tapi amira tidak bergeming sama sekali,membuat Cici tidak sabar lagi.


    Cici mulai memikirkan ide-ide anehnya,bagaimana caranya supaya Amira bisa fokus pada dirinya saat ini.


    "Kak Amira" bisik Cici di telinga Amira,dia kemudian langsung memeluk Amira dan menangis hebat,itu hanya aktingnya aja.

__ADS_1


"Kak Amira kalau begini terus jika Cici mati sekalipun kakak juga tidak akan tahu,hiks...!" Cici menangis.


    "Mama bilang kalau penyakit Cici semakin parah,Cici bahkan belum tentu bisa hidup sampai dua bulan lagi,keadaan kakak juga seperti ini sekarang,Cici mau bilang sama siapa? Cici nggak punya teman." Ucap Cici tangisnya semakin menjadi-jadi,dia bahkan terus memeluk Amira dan berharap kali ini caranya itu berhasil.


     "Cici..." Panggil Amira,dia mulai mengalihkan perhatiannya dan melihat Cici yang memeluknya sambil menangis.


    "Kamu bilang apa tadi?" Amira bertanya karena ucapan Cici tidak jelas terdengar olehnya.


     "Cici sakit,m-mama bilang hidup Cici juga tidak lama lagi,kalau kak Amira juga seperti ini siapa yang akan menemani Cici di sisa-sisa terakhir hidup Cici."


    "Cici." Amira ikut memeluk adiknya,dia juga tidak menyangka ternyata hidup Cici lebih berat,dia sangat menyayangi adiknya itu meski mereka tidak terlahir dari rahim yang sama.


"Aku tidak boleh begini,Cici juga sedang sakit tapi dia kuat,aku harus melawan perasaan ini aku harus bisa mengontrol emosiku sendiri," batin Amira.


     "Kayaknya aku berhasil." Batin Cici sambil tersenyum penuh kemenangan.


     "Kamu sakit apa? Sudah kerumah sakit?" Mira terlihat khawatir.


      Cici menghapus air matanya,dan menggeleng dengan lemah.


   ********


     "Semoga saja Cici bisa membujuk Amira." Ucap bu Diandra berharap.


    "Saya rasa sepertinya dia memang bisa membujuk kakaknya itu" ujar pak Andi dengan penuh keyakinan.


    "Ciciiiiii....!!" Terdengar teriakan Amira dari kamarnya,suaranya itu bahkan terdengar dengan jelas sampai keruang tamu.


     "Sepertinya dia berhasil." Ucap Aura dengan ekspresi wajahnya yang datar.


  "Ciciiiiii...!! Dasar anak nakal!" seru Amira lagi,kayaknya dia benar-benar dibuat kesal oleh Cici.


    Cici lari keluar dari kamar Amira.


"Ampun... Cici minta maaf!" ucap anak itu tertawa,dia terus berlari pergi menjauh dari kamar Amira.


Amira menutup pintu kamarnya dengan kesal.


  "Mama,kak Amira ngamuk-ngamuk kayak singa." Adu Cici,saat kakinya itu sudah menginjak lantai bawah,terlihat peluh dikeningnya itu,kayaknya sih dia cukup kelelahan karena lari dari amukan Amira.


   "Hahaha...! Mereka semua tertawa melihat tingkah konyol Cici,ternyata dia bisa diandalkan juga.


  


     ********


   Keesokan harinya keadaan Amira sudah kembali membaik,dia bahkan berniat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk gadis yang di tabrak oleh Rangga.

__ADS_1


   Namun,bu Anet sudah lebih dulu datang ke rumah Amira.


Amira yang kebetulan masih ada di kamarnya dan sedang bersiap-siap untuk pergi,dia sangat terkejut karena kedatangan bu Anet dan sekarang wanita itu sudah ada di kamarnya.


  "Tante minta maaf ya,baru sekarang bisa menjenguk kamu?" ucap wanita itu murung.


    "Nggak apa-apa kok tante,Amira paham tante juga sibuk."


   "Tante terus menenangkan Rangga,dia bahkan tidak masuk kantor,dia sangat terpukul dengan kejadian ini,dia tidak nafsu makan tidak banyak bicara yang pasti dia tidak ingin menikahi gadis itu," ungkap bu Anet sedih,beliau bahkan menangis di hadapan Amira.


Amira tidak menyangka ternyata Rangga juga lebih sulit keadaannya,seharusnya dia pergi untuk memberi semangat pada Rangga bukan malah bersedih di rumahnya.


   "Lalu keadaan gadis itu bagaimana?"


"Seharusnya kemaren adalah hari pernikahannya,tapi karena keadaannya sudah cacat begitu,membuat keluarga dari calon mempelai pria tidak mau menerimanya sebagai menantu" ucap bu Anet memberitahu.


     "Apa yang dikatakan oleh keluarga gadis itu tante?" tanya Amira,sebetulnya dia tidak ingin membahas sama sekali tentang masalah ini,tapi dia penasaran.


    "Mereka meminta Rangga menikahi anaknya dalam minggu ini,dan Rangga tidak bisa mengelak" jawaban bu Anet kembali membuat Amira lemah,hatinya juga sakit dia tidak ingin Rangga dimiliki oleh orang lain,tapi apa boleh buat ini sudah takdir yang ditentukan untuk mereka berdua.


      *********


     Amira datang kerumah bu anet untuk menemui Rangga,dia ingin melihat keadaan cowok itu dan mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.


    "Rangga!" panggil Amira pelan,Rangga yang saat itu baru selesai dan duduk di sisi tempat tidurnya,hanya menoleh saja ke arah Amira. Wajahnya tampak ditekuk,dia tidak sedikit pun tersenyum,bahkan rambutnya masih basah dan meneteskan air ke atas bajunya dia tidak peduli akan hal itu,pikirannya sedang kacau.


     Amira mengambil handuk kecil yang terletak di samping Rangga untuk mengeringkan rambut kekasihnya,Rangga diam saja terlihat tidak peduli,tapi sejujurnya dia sangat menikmati di perlakukan begitu manjanya oleh Amira.


    "Kamu jangan begini terus,punya masalah ya di cari jalan keluarnya,jangan buat mama juga ikut sedih." Cicit Amira,dia kemudian mengambil sisir dan merapikan rambut kekasihnya.


     "Kamu sudah makan belum?" tanya Amira.


Rangga masih tidak menjawab,dalam hati sebenarnya Amira tahu Rangga sangat senang di manja seperti itu,kayak anak kecil aja.


   "Belum," akhirnya dia menjawab juga.


   "Ayo keluar untuk makan!" ajak Amira.


    "Suapin!" pinta Rangga bertingkah manja. "Ini orang dikasih hati minta jantung." Batin Amira kesal.


     "Ya sudah aku ambilin dulu makanannya."


Hari ini Amira akan melakukan semua kemauan Rangga,karena setelah hari ini dia tidak akan mengganggu cowok itu lagi.


Rangga harus bisa memilih,dan Amira juga tidak boleh egois dia harus membuat Rangga mau bertanggung jawab,Rangga harus mau menikahi gadis itu.


                 *******

__ADS_1


     


__ADS_2