
"Papa!" panggil Amira,ketika papanya itu sudah berjalan menaiki tangga.
"Papa mau tidur dulu." Jawab papanya tanpa menoleh.
"Eits,papa nggak boleh begitu,papa lupa sama janji papa tadi?" tanya Mira,mencegah papanya untuk langsung tidur.
"Besok aja Mir ceritanya,kamu nggak kasihan apa sama papa?" bu Diandra ikut berbicara,mencoba memberi pengertian pada anaknya.
"Nggak bisa mama,ini sangat penting!" tegas Amira. "Mama dan papa juga harus tahu," sambungnya lagi.
"Memang ada masalah apa?" tanya pak Andi,dia kenal betul dengan sikap Amira dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya kalau memang tidak terlalu penting.
"Makanya duduk dulu yuk! Biar Amira ceritakan masalah ini sama mama dan papa" ajak Amira,dia berjalan menuju sofa di ikuti dengan kedua orang tuanya,sedangkan Cici sudah masuk kekamar dan tidur duluan.
"Coba ceritakan papa ingin dengar!" pinta pak Andi.
Tanpa banyak basa-basi lagi Amira langsung menceritakan semua hal tentang Laras.
"Jadi semua ini memang sudah direncanakan oleh mereka?" tanya bu Diandra,beliau masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan dari Amira.
"Iya ma,dan yang pertama kali curiga sama Laras adalah Amel,jadi dia yang menyelidiki semua ini,dan ternyata Rangga juga melakukan hal yang sama." Ungkap Amira,membuat pak Andi membulatkan matanya,merasa takjub dengan kepekaan mereka.
"Hebat sekali mereka,tidak langsung percaya begitu saja dengan Laras." Ucap pak Andi kagum.
"Owh jadi itu sebabnya kamu ingin mengetahui tentang Lidia?" tebak mamanya.
"Ya benar sekali."
"Apa hubungannya Lidia dengan masalah kalian.?" Tanya pak Andi dengan kening berkerut.
"Papa sama mama tahu nggak,kalau orang yang tadi bertemu dengan tante Lidia itu adalah orang tuanya Laras,alias orang tua palsunya dia," ucap Amira.
"Mama sama papa mana tahu,kan saat Rangga menikah kami nggak datang,yang datang itu cuma kakak-kakak kamu." Ujar bu Diandra,pantesan aja ya mereka nggak kenal dengan dua orang tadi.
"Jadi tante Lidia itu temannya papa,rekan bisnis aja sih,papa cuma tahu sedikit tentang kehidupan...
"Ah,papa lama!" keluh amira,menurut dia papanya itu terlalu bertele-tele. "Langsung ke intinya saja pa!" suruh Amira tidak sabaran.
"Nah kan,kebiasaan kamu selalu aja menyela omongan orang,kan papa lagi mau cerita tadi." Bela bu Diandra.
"Tante Lidia itu pernah masuk rumah sakit jiwa karena stres berat dua tahun setelah suaminya meninggal,nama suaminya sih kalau nggak salah...
"Pak Samuel," sambung Amira,yang membuat bu Diandra dan pak Andi heran ditambah bingung,karena Amira bisa tahu nama suaminya bu Lidia tahu dari mana dia.
__ADS_1
"Kamu kenal sama suaminya?" tanya pak Andi.
"Cuma nebak pa,jadi benar kalau bu Lidia itu istrinya pak Samuel?" Amira memastikan.
"Iya,dan kalau nggak salah sih ya,menurut cerita yang papa dengar dari teman papa,pak Samuel itu meninggal dalam sel tahanan."
"Di penjara karena apa pa?" giliran bu Diandra yang bertanya,beliau merasa pembahasan mereka saat itu cukup menarik.
"Penggelapan dana perusahaan,cuma itu saja yang papa tahu,soalnya papa nggak terlalu suka kepoin tentang kehidupan orang lain," pungkas pak Andi mengakhiri ceritanya.
"Papa tahu nggak kalau pak Sam itu bekerja di kantornya papa Rangga.?" Tanya Amira.
"Nah kalau soal itu papa nggak tahu."jawab pak andi.
"Jadi menurut kalian Laras itu datang untuk membalaskan dendam papanya gitu?" tebak sang mama,yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Amira.
"Menurut mama ya Mira,ini tidak ada hubungannya dengan dengan papanya saja,sebaiknya kalian selidiki lebih lanjut tentang masa lalu bu Lidia." Ucap bu Diandra memberi saran.
"Mama benar,itulah yang saat ini sedang kami lakukan.
°°°<<°°°
Pagi ini Rangga kembali datang ke rumahnya Amel,dan di sana juga sudah ada Amira dan Hendri.
"Sedikit." Jawabnya singkat,matanya Rangga tidak henti-hentinya menatap Amira entah apa yang dilihatnya,dan itu membuat Amira risih sendiri.
"Kamu kenapa Ga?" tanya Amira bingung dengan cara Rangga menatapnya.
"Kalian bisa nggak duduknya jangan terlalu berdekatan,hampir nggak ada jarak sama sekali." Ucap Rangga,melihat Hendri dengan ujung matanya.
Mendengar ucapan dingin Rangga,Hendri buru-buru bangun dan duduk di samping Amel,Amel hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap pencemburuan cowok itu.
"Dasar cemburuan jadi orang." Ucap mira memonyongkan bibirnya.
"Iya,jarak sejauh itu di bilang nggak ada jarak sama sekali," timpal Hendri ikut kesal.
"Biarin! Memangnya nggak boleh,aku kan sedang menjaga calon istriku," ujar Rangga yang membuat Amira geli mendengarnya.
"Ih istri apanya,istri kamu di rumah tu" ucap Amira.
"Sudah! Kalau kalian mau berdebat nanti aja ya,sekarang kita bahas soal Laras dulu," ucap Amel melerai,dan mereka sama-sama terdiam,tidak bicara apa-apa lagi.
"Oke kita akan membahas masalah Laras,dan aku sudah tahu nama ibunya dia,namanya kalau nggak salah Lidia." Rangga memberitahu,dia mulai melihat reaksi dari orang-orang di depannya,tapi tidak ada satupun dari mereka yang terkejut,mungkin mereka sudah tahu lebih dulu. "Kalian sudah tahu ya nama ibunya Laras adalah Lidia?" tanya Rangga.
"Iya,Amira tadi sudah mengatakannya" jawab Amel.
__ADS_1
"Oh percuma dong,dan aku cuma tahu itu aja nggak ada yang lain."
"Aku punya berita yang akan mengejutkan kalian." Ucap Hendri kemudian.
"Coba katakan!" pinta Amira,dia terlihat sangat bersemangat,tidak hanya dia,Amel dan Rangga juga demikian.
"Bu Lidia itu pernah mencintai papanya Rangga,tapi pak Erick tidak mau menikah dengan bu Lidia,beliau lebih memilih ibu Anet,kan waktu itu bu Lidia sudah memiliki suami," ungkap Hendri."
"Cuma segitu informasinya Hen?" tanya Amel terlihat kurang puas dengan cerita Hendri tadi.
"Ya,untuk lebih jelasnya aku rasa kalian perlu menanyakan hal ini sama mamanya Rangga." Ucap cowok itu memberi saran.
"Mama itu sangat susah di ajak kerja samanya,mama bahkan tidak sedikitpun mau menceritakan tentang masa lalunya," desis Rangga tidak bersemangat sama sekali.
"Tapi,bagaimanapun kamu harus bertanya lagi sama mama,Rangga. Karena yang mengetahui semua masalah ini hanya mama," ucap Amira.
"Oh iya,mengenai Laras kalian merasa ada yang janggal nggak sih dengan kebutaan dia itu?" tanya Amel kemudian,yang langsung di jawab oleh Rangga.
"Aku rasa itu cuma sandiwara aja,dia nggak benar-benar buta,dan mungkin aja dokter yang waktu itu juga dibayar sama dia."
"Kamu kenapa bisa seyakin itu Rangga?" tanya Hendri.
"Ya jelas aku yakin lah,sebab semua benda-benda yang berada dalam kamar dia itu bisa berubah tempat,semalam aku meletakkan air di depan meja riasnya dia,eh tadi pagi pas aku masuk itu air sudah berpindah ke samping tempat tidurnya,jam dinding yang ada di kamarnya juga begitu,kalau di pikir-pikir ya,orang buta mana bisa melihat jam iya kan?" cerita Rangga,dan mereka pun mengiyakannya.
"Kamu benar dia memang tidak buta,aku sudah curiga tentang ini sejak malam di saat aku dan Amira ke rumah kamu,saat itu Laras memegang handphone ditangannya lalu dia meletakkannya di atas meja,dan aku dengan sengaja memindahkan handphone itu ke depan tante Anet,dan yang anehnya ya,pas dia bangun saat aku dan Mira mau pulang dia dengan mudahnya mengambil handphone itu di depan tante." Tutur Amel panjang lebar.
"Jadi sebenarnya dia benar-benar nggak buta?" Amira tampak khawatir.
"Iya,aku rasa sih seperti itu." Jawab amel.
"Kamu kenapa khawatir begitu Mir?" tanya Rangga ketika melihat ekspresi Amira yang tidak biasa itu.
"Kalau dia benar-benar tidak buta,kenapa kita dengan mudahnya membiarkan dia tinggal dengan mama,entah apa nanti yang akan dia lakukan terhadap mama,kalian pernah berpikir sampai kesitu nggak sih?" ucapan Amira membuat mereka ikutan khawatir,karena apa yang dikatakan Amira itu bisa saja terjadi,toh selama ini yang di incar oleh Laras dan keluarganya bukanlah Rangga melainkan mamanya.
__ADS_1