
Laras bersenandung kecil sambil menyisir rambutnya,dia tampak sangat menikmati hidupnya akhir-akhir ini karena dia memang tidak pernah merasa sebebas ini,dia merasa bahwa mamanya terlalu mengatur hidupnya,dia tidak boleh ini,tidak boleh itu semua harus dilakukan sesuai keinginan sang mama. Laras melihat bayangannya di cermin,dia mulai memakai kalung pemberian Amira.
"Kalung ini sangat bagus,mbak Amira terlalu baik sama aku,bagaimana jadinya kalau nanti dia tahu tujuan sebenarnya aku ke sini,dia pasti akan sangat marah," gumam Laras,dia menarik nafasnya yang terasa berat,dia tidak ingin melakukan apa yang disuruh oleh mamanya,karena setelah dipikir-pikir keinginan mamanya itu sudah terlalu berlebihan tidak masuk akal.
"Laras...!"
"Laras...! Tolong mama!" jerit bu Anet,membuat Laras kaget dan dia langsung saja keluar dari kamarnya tanpa memikirkan bahwa saat itu dia sedang menjadi orang buta,perasaannya jadi tak tenang apalagi dia tadi di telepon oleh mamanya yang mengatakan akan bertindak sendiri kalau Laras masih belum melakukan perintahnya itu.
Dan benar saja,begitu keluar Laras melihat bu Anet sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah,dan terlihat ada bekas tusukan pisau di perutnya,mamanya juga sudah ada di sana dengan memegang sebilah pisau ditangannya yang sudah berlumuran darah.
"Mama! Kenapa mama melakukan semua ini sama mama Anet? Mama sudah keterlaluan?" bentak Laras,dia berdiri di depan bu Anet yang sudah tidak berdaya.
"Salah kamu,kamu yang tidak mau melakukan apa yang mama suruh,jadi mama melakukannya sendiri." Jawab bu Lidia tersenyum jahat.
"Laras tolong telpon ambulance mama sudah tidak kuat,tolong bawa mama ke rumah sakit," pinta bu Anet,Laras semakin panik dengan keadaan yang kacau saat itu,apalagi mamanya yang sudah seperti orang gila.
"Jangan coba-coba untuk melakukan hal bodoh Laras,biarkan saja dia mati,ini keinginan mama." Ucap wanita itu,mencegah Laras untuk menelpon ambulance.
"Aku tidak punya urusannya dengan dendam mama,mama cepat pergi dari sini sebelum aku teriak!" suruh Laras dengan nada tinggi
"Tolong!!!"
"Tolong! Ada pembunuh!!!"
"Tolong!" teriakan Laras sangat keras,dia bahkan tidak menghiraukan perkataan mamanya yang menyuruhnya untuk diam,dan satpam kompleks yang kebetulan lewat segera datang untuk melihat,membuat bu Lidia langsung pergi dari sana,dia bahkan langsung menjatuhkan pisau itu karena panik.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
"Dengan mas Rangga?
"Iya benar."
"Saya Udin mas,satpam komplek ibunya mas Rangga ada di rumah sakit sebaiknya mas Rangga segera kesini." Ucap lelaki itu.
Handphonenya Rangga hampir saja terjatuh karena tangannya lemas tiba-tiba,dia mulai yakin apa yang tadi dikatakan Amira sepertinya benar-benar terjadi.
"Ada apa Rangga?" tanya Amira saat melihat mata Rangga mulai berkaca-kaca.
"Mama masuk rumah sakit Mir." Lirihnya.
???
Mereka semua kaget mendengarnya,dan timbul berbagai pertanyaan di pikiran mereka apa ini semua ada hubungannya dengan Laras,dan Rangga juga tidak menanyakan sebab mamanya masuk rumah sakit,ini membuat mereka semakin penasaran.
\*\*\*\*\*
Rangga menangis di samping mamanya,wanita itu belum sadarkan diri.
"Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja,aku akan pastikan mereka menerima balasan yang setimpal." Ucap Rangga berapi-api,dia terlihat sangat marah kala itu,Amira hanya bisa diam saja tidak tahu harus berbuat apalagi,kata-katanya juga sudah habis untuk menghibur Rangga dari tadi.
"Aku tidak ingin kehilangan mama Mir." Lirihnya lagi,Amira memeluk Rangga untuk memberikan ketenangan kepadanya.
"Mama akan baik-baik saja Rangga,kita sama-sama berdoa ya untuk kesembuhan mama." Ujar Amira menghibur.
__ADS_1
******
Dua hari setelah kejadian hari itu Laras tidak kelihatan lagi,padahal dia tidak di masukkan dalam daftar buronan,karena semuanya sudah dijelaskan oleh pak Udin dan bu Anet yang memang sudah siuman kemarin.
Dan hari ini keluarga Amira datang untuk menjenguk bu Anet,di sana juga ada Cici,jadi Amira dan Rangga keluar sebentar dari ruangan tempat mamanya dirawat,mereka ingin berbicara hanya berdua saja.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang Ga? Kamu sudah lebih tenang kan,karena mama sudah sadar?" tanya Amira.
"Aku senang mama sudah sadar Mir,tapi aku belum tenang kalau bu Lidia belum di temukan,dia bisa datang kapan saja ke sini untuk melakukan hal buruk kepada mama," jawab Rangga dengan raut wajah terlihat cemas.
"Aku mengerti perasaan kamu,kamu memang sangat menyayangi tante,kalau di suruh memilih kamu lebih memilih mana,aku yang pergi atau tante yang pergi?" tanya Amira,dia sangat penasaran dengan jawaban Rangga.
Rangga tidak langsung menjawabnya,dia malah menatap Amira dengan tatapan marah,marah karena tidak seharusnya Amira menanyakan hal seperti itu di saat keadaan sedang tidak stabil seperti ini.
"Aku butuh jawaban kamu Rangga." Ucap Amira lagi,dia menatap laki-laki di depannya dengan tatapan yang tenang,tidak terlihat emosi sama sekali,entah apa maksud Amira dengan pertanyaan seperti itu.
"Aku tidak bisa memilih di antara kamu dan mama,kalian sudah memiliki tempat masing-masing di hati aku,jadi jangan lagi menanyakan hal seperti itu aku tidak suka." Jawab Rangga,sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Amira.
"Aku tahu itu,tapi tetap saja kan jika menyangkut soal perempuan,perempuan masih banyak dimuka bumi ini,tapi kasih seorang ibu sulit untuk digantikan,apalagi tante sudah menjaga kamu dari kecil,beliau sudah seperti ibu kandung kamu sendiri." Ujar Amira,kata-katanya seperti air yang mengalir,pandangannya juga hanya lurus ke depan dia tidak lagi menatap Rangga,sekarang entah apa yang sedang dipikirkannya.
Jujur saja ada ketakutan yang tiba-tiba saja merayap ke dalam hati Rangga,saat mendengar perkataan Amira tadi,gadis itu seperti ingin meninggalkannya.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu Mir?" tanya Rangga,dia menggeser sedikit posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Amira.
Amira menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara. "Jika kamu memang sangat menyayangi tante,maka aku juga akan menyayanginya sama seperti kamu,aku tahu kamu akan sangat terluka jika terjadi sesuatu dengan tante,itu sebabnya aku akan menjadi orang yang berdiri di barisan paling depan untuk melindungi tante buat kamu,jika kedepannya terjadi sesuatu yang melibatkan nyawa,maka aku lebih rela kehilangan nyawa aku untuk melindungi mama kamu,agar kamu tidak terluka," tutur Amira sambil merebahkan kepalanya di bahu Rangga dia memejamkan matanya,tidak ingin Rangga melihat kesedihan yang bertengger di sana.
"Apa yang kamu katakan Mira,jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu,aku sedang tidak ingin mendengar hal-hal buruk,tidak ada yang boleh pergi termasuk kamu,lagian kamu sudah berjanji sama aku,setelah suasana kembali normal kita akan langsung menikah,aku tidak ingin menunda-nundanya lagi!" tegas Rangga,dia membelai rambut Amira dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan semua orang-orang di sampingku bahagia Rangga." Amira membenamkan kepalanya dalam pelukan Rangga,ingin sekali dia menangis,dia sendiri bahkan tidak tahu kenapa perasaanya jadi melow begitu.
"Jangan lagi mengatakan hal-hal yang membuat aku khawatir Mira sayang," bisik Rangga ditelinganya.