Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Bertemu Papa


__ADS_3

"Papa tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini nak,belasan tahun papa tunggu,papa selalu menunggu kabar dari kamu,kamu juga sudah pindah dari rumah kita dulu." Pak Aryo tak kuasa menahan air matanya,putri kecil yang selama ini selalu di rindukannya,kini sudah tumbuh dewasa.



"Papa tahu sendiri kan,mama tidak mengizinkan Amira untuk bertemu papa lagi?"


"Ya papa tahu itu,ini semua juga karena kesalahan papa yang egois,papa yang tidak bisa memahami kemauan mama kamu." Ungkap Pak Aryo.


"Kalau boleh Amira tahu,apa yang terjadi sehingga mama dan papa bercerai.?" Tanya Amira,pertanyaan yang sudah sejak dulu ingin di tanyakannya.


Pak Aryo menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita.


"Dulu,kakek kamu menjodohkan mama dan papa,tapi kami sama-sama tidak mau,namun karena selalu di paksa,kami pun tidak punya pilihan lain,akhirnya kami pun terpaksa menikah,padahal saat itu papa sudah punya wanita pilihan papa sendiri.


"Lalu papa putusin wanita itu,dan menikah dengan mama?"



"Ya karena kami harus melakukannya,kami menikah tanpa rasa cinta,namun kami sadar,kami harus belajar menerima keadaan,dan belajar untuk menerima satu sama lain. Waktu terus berlalu,papa pun merasa kalau sudah bisa menerima mama kamu,dan setelah kamu lahir,hidup kami terasa lebih bahagia. Hingga tiba suatu hari,papa kembali bertemu dengan wanita yang pernah papa cintai dulu,saat itu dia masih sendiri,belum menikah"



"Karena itu papa memutuskan untuk berpisah dengan mama?" tanya Amira tidak sabar,dia memotong pembicaraan papanya.


"Tidakk... Papa tidak seperti itu,saat pulang papa menceritakan kejadian itu pada mama kamu,mama terlihat tidak merespon,jadi papa pikir mama tidak cemburu sama sekali,hingga beberapa saat lamanya,papa sering pulang kemalaman karena harus kerja,tapi mama kamu tidak percaya,dan menuduh papa selingkuh dengan mantan papa yang dulu. Padahal sudah berkali-kali papa jelaskan kalau kami tidak memiliki hubungan apa-apa,selain sebagai rekan bisnis,hingga akhirnya papa benar-benar melakukannya,papa sudah tidak sanggup lagi dengan sikap mama kamu,papa lelah."


"Sudah Amira duga." Ucapnya dengan penuh rasa kecewa.



"Papa minta maaf Mira,karena keegoisan papa,kamu harus menanggung semua ini." Pinta lelaki itu,Amira melirik ke sekelilingnya berharap pengunjung taman di sana segera pergi,karena dia ingin menjerit sekeras-kerasnya saat itu juga.

__ADS_1


    "Amira harus pergi sekarang juga pa."


    "Kamu mau kemana?" tanya papanya,saat melihat Amira membawa koper.


    "Amira mau nyari kontrakan,soalnya Amira sedang bekerja di sebuah perusahaan,Amira mau hidup mandiri." Jawab gadis itu berbohong.


   "Oh... Syukurlah,ternyata kamu hidup dengan baik,kamu benar-benar sudah dewasa nak,papa harap kamu bahagia." Ucap Pak Aryo beliau tidak tahu bahwa Amira sudah membohonginya.


   "Amira pamit pa."


   "Amira,karena sekarang kamu sudah bertemu dengan papa,jadi kalau butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi papa."


   "Aku tidak ingin mengganggu kebahagian orang lain,lagian papa sudah punya keluarga sendiri," tambah Amira untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi. Dia pergi begitu saja,dengan membawa sejuta kenangan,kepedihan dan rasa sakit di hatinya,mungkin ini akan menjadi hari terakhir dia bertemu dengan papanya."


                      **************


    Amira sedang duduk di halte,dia merasakan kepalanya sangat pusing,sudah beberapa kali dia melihat teman-temannya dan terus menghindar,dia sangat lemah saat ini,sekujur tubuhnya terasa kaku,sulit di gerakkan,beberapa hari ini dia hanya minum air putih saja,singgah dari masjid ke masjid untuk shalat,dan kemudian pergi lagi dengan tujuan yang tak pasti,kalau di katakan lelah dengan semua ini ya dia memang sangat lelah,harus mengakhiri hidup,tapi itu bukan keputusan yang tepat,hidup adalah pilihan,dia harus bertahan pada pilihannya,Allah tidak pernah menguji seorang hamba,di luar batas kemampuan hamba itu sendiri,Allah tahu dia sanggup dia bisa menghadapi semua ini,jadi dia berusaha untuk tetap kuat.


   Dia tidak sadarkan diri,beberapa orang datang untuk menolongnya.


                ******""*****"*******


     "Nak,kamu sudah sadar?" tanya seorang wanita yang duduk di sampingnya,dia terus menunggui Amira sejak tadi.


   "Saya ada di mana?" dia heran saat melihat wanita yang tidak di kenalnya,kepalanya masih terasa berat.


  "Kamu tadi pingsan,dan saya membawa kamu ke rumah sakit ini." Wanita itu menjelaskan.


   "Terima kasih sudah membantu saya bu,tapi saya harus pergi sekarang." Amira berusaha bangkit untuk berdiri,dia tidak bisa berlama-lama di sana,dia tidak punya uang,meski badannya masih terasa lemas.


   "Kamu tidak perlu terburu-buru seperti itu,jangan pikirkan soal biayanya,semua sudah saya bayar,dokter bilang kamu sudah beberapa hari tidak makan,ini sebabnya kamu jatuh pingsan,kamu pasti sangat lapar sekarang kan." Ucap wanita itu dengan lembutnya.

__ADS_1


   "Maaf bu,saya harus...


   "Panggil saja oma,saya tahu kamu sangat kelaparan,sekarang makan ini,nanti baru bicara lagi!" suruh wanita itu tanpa memberikan kesempatan Mira untuk menyelesaikan omongannya,Amira mengambil nasi bungkus yang di berikan wanita paruh baya itu kepadanya,dan memakannya dengan lahap,dia memang sangat lapar,tidak pernah dia merasa seperti ini.


  


               ****.     **** ****.      *****


   Di tempat lain di waktu yang sama,Aura tampak gelisah entah apa yang di pikirkannya.


   "Kamu belum tidur juga Ra?" tanya Dimas beralih duduk di sisi tempat tidur adiknya.


  "Aku tidak bisa tidur kak."


  "Kamu teringat Amira kan."


  "Untuk apa aku teringat gadis itu,lagian karena keteledorannya juga aku jadi kayak gini." Jawab Aura kesal.


   "Kamu tidak perlu bohong Ra,aku tahu meskipun kamu tidak suka dengan Mira,tapi kamu juga tidak mau dia di usir dari rumah kan." Tambahnya lagi.


   "Entahlah aku mau tidur,kakak sebaiknya pergi!" Aura langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


  


          *****.  ****.  *****


  Di rumah Bu Anet,Mira bukannya jadi tenang dan bahagia,melainkan penderitaannya bertambah lagi,bekerja seharian di rumah itu membuat tenaganya terkuras habis,rumah Bu Anet padahal tidak sebesar rumahnya meski memiliki dua lantai. Dia sangat lelah,karena hanya dia sendiri yang bekerja di rumah itu.


    "Sudah berhenti aja kamu,memangnya pekerjaan kamu sudah selesai? tanya Bu Anet saat Amira sedang melepas lelahnya,sambil menikmati angin sepoi-sepoi di taman belakang.


   "Sudah nyonya." Jawab Amira,dia masih sulit untuk memanggil wanita itu dengan sebutan nyonya,seumur hidupnya,gadis itu tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang pembantu rumah tangga,andai saja oma Jihan tidak membawanya ke sini,pasti sekarang dia masih di luar sana,sebenarnya dia ingin ikut dengan oma saja,tapi oma itu bilang kalau anak perempuannya sedang butuh asisten rumah tangga,kalau Mira mau dia bisa bekerja di sana dan mendapatkan uang,dan sekarang dia benar-benar menjadi Art. Sesuatu yang dia tidak suka tapi dia harus melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2