Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Melamar Siska Untuk Dimas


__ADS_3

   "Sekarang kamu katakan sama tante,kamu mau nggak?"tanya wanita itu terus terang.


   Siska melihat sejenak ke arah Dimas,dia ingin meminta pendapat cowok itu,namun ternyata Dimas sama sekali tidak menggubrisnya.


 


    "Katakan saja Sis,jangan ragu-ragu om tante akan menghargai apapun keputusan kamu."Ucap pak Andi.


    "Kalau Siska,ya tergantung sama Dimas aja om" jawab Siska,dia sengaja mengalihkan pertanyaan itu kepada Dimas.


   "Kok aku sih,mama kan nanyanya sama kamu,kamu yang jawab dong." Tolak Dimas.


    "Baik,aku mau menikah secepatnya,kamu sendiri mau nggak?" Siska balik nanya,dan jawabannya bikin kedua orang tua Dimas senang,sedangkan Dimas harus gigit jari.


   "Kamu serius Siska?" bu Diandra memastikan.


    "Iya tante,mau tunggu apa lagi,kalau Dimas juga sudah siap ya Siska nerima aja" jawaban Siska bikin mereka pangling.


   "Tuh kan,kamu dengar sendiri kan Dimas,kalau siskanya mau,sekarang kamu nggak bisa ngeles lagi,bilang ini itu." Ucap bu Diandra.


   "Besok om sama tante akan datang untuk bertemu dengan kedua orang tua kamu" ucap pak Andi memberitahu.


   \*\*\*\*\*


    "Kamu yakin Sis?" Dimas bertanya ragu,saat ini mereka sedang berada di teras depan.


   "Yakin,kenapa memangnya? Apa kamu nggak mau sama aku?


    "Bukan itu maksud aku,tidak kah ini terlalu cepat?"


     "Bukankah lebih cepat lebih baik.?" Tanya Siska balik.


     Sebenarnya Dimas sangat senang karena mengetahui bahwa Siska juga mencintainya,tapi dia masih belum yakin untuk menikah.


     "Kamu memang benar." Dimas menjawab sekilas,kemudian dia kembali larut dalam pikirannya.


    \*\*\*\*\*\*


     "Kamu kenapa datang ke cafe hari ini,bukannya siang ini kamu mau melamar puteri Siska untuk menjadi calon isteri mu?" goda Rangga.


    "Nggak usah ngeledek." Ucap Dimas kesal.

__ADS_1


    "Kok ngeledek,aku serius lho," jawab Rangga.


     "Entah kenapa aku sendiri masih ragu,Rangga" ungkap Dimas.


     "Ragu kenapa,kamu nggak yakin Siska beneran suka sama kamu?" tanya Rangga,dia jadi bingung sendiri kemarin Dimas gelisah karena takut Siska menolaknya,sekarang setelah Siska menerimanya,dia sendiri jadi ragu.


    "Cuma ragu orang tuanya mau merestui atau nggak." Jawab Dimas.


    "Ternyata itu toh,kalau soal orang tuanya ya sudah pasti akan sangat setuju dan merestui hubungan kalian,kamu tenang saja." Rangga meyakinkan.


    "Kamu dengan Amira gimana?" tanya Dimas kemudian,karena akhir-akhir ini dia tidak pernah mendengar lagi Rangga menyebut nama Amira.


   "Baik-baik aja,tapi akhir-akhir ini dia susah sekali untuk di hubungi."


    "Kamu sudah tahu belum,kalau pada akhir bulan ini dia akan pulang?" tanya Dimas.


   "Dia nggak bilang soal ini sama aku." Ujar Rangga dengan raut wajah menunjukkan rasa kecewa.


   "Sengaja mungkin."


    "Bisa jadi."


   "Lalu bagaimana dengan amel?" tanya Dimas penasaran,karena Amel adalah mantannya Rangga,jangan sampai wanita itu datang lagi ke kehidupan mereka,yang hanya akan membuat hubungan Amira dan Rangga retak.


   "Tapi kamu tidak lupa kan,kalau Amel itu wanita yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Dimas mengingatkan.


    "Iya aku ingat,dan semoga saja dia tidak kembali lagi." Ucap Rangga penuh harap.


    ******


    "Kamu masih ingin memilikinya Mel?" tanya Lisa sinis.


    "Iya,kenapa memangnya? Aku nggak boleh menginginkan dia menjadi milik aku seutuhnya ?" Amel balik nanya.


   "Dia itu sudah tidak mencintai kamu lho,dan dari dulu memang dia tidak mencintai kamu,kamu saja yang memaksa dia."


   "Yang pastinya aku tidak akan membiarkan dia jatuh ke dalam pelukan Amira,aku nggak akan membiarkan Amira bersatu dengan Rangga lagi." Ucap Amel dengan kilatan kebencian terpancar jelas di matanya.


   "Kamu tidak kasihan sama Amira,dia itu teman kamu juga kan?"


   "Aku tidak peduli,aku menginginkan Rangga." Amel sepertinya benar-benar sudah di rasuki roh jahat,dia sangat berambisi ingin memiliki Rangga seutuhnya,padahal Rangga sama sekali tidak mencintai dia

__ADS_1


   "Terserah kamu aja deh,aku juga sudah capek nasehatin kamu terus,tapi jangan pernah meminta bantuan dari aku untuk ikut menghancurkan hubungan mereka ya,aku tidak mau." Tegas Lisa,meski Amel adalah sahabatnya tapi,soal begituan dia nggak mau ikut campur,apalagi untuk merusak hubungan orang.


   "Kamu tenang aja Lis,kalau soal ini aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Amel dengan senyum jahat terukir di bibirnya.


   "Mel,kok aku jadi takut ngelihat kamu begini ya,apa nggak sebaiknya kamu cari yang lain saja,masih banyak loh cowok di luaran sana yang mau sama kamu,kamu juga cantik ngapain ngejar-ngejar Rangga terus.?" Ucap Lisa,apa yang di katakannya itu memang ada benarnya juga. Rangga sudah memiliki Amira dan mereka juga saling mencintai.


   "Aku tahu Lisa sayang,tapi cinta aku cuma untuk Rangga seorang,aku sudah lama mencintai dia,tapi kamu lihat kan,Amira merebutnya dari ku." Ujar Amel masih dengan wajah datar.


   "Mel,Amira itu nggak pernah merebut Rangga dari kamu,Rangga sendiri yang mendekati Amira,dia juga yang mengatakan di depan anak-anak saat itu,kalau dia menyukai Amira, kamu lupa?" Lisa mengingatkan,tentang hal itu Amel memang tidak pernah melupakannya.


    Amel melihat Lisa sebentar dia tidak mengatakan apa pun,kemudian tersenyum lagi,sepertinya gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang jahat.


   \*\*\*\*\*


     "Bagaimana ma lamarannya?" Tanya Dimas begitu orang tuanya pulang dari rumah Siska.


    "Sukses,berjalan lancar." Ucap mamanya.


    "Dan keluarga Siska menginginkan pernikahan kalian di percepat" ungkap pak Andi.


   "Apa?" Dimas kaget mendengar.


   "Di percepat,masih kurang jelas ?" tanya pak Andi.


   "Kenapa buru-buru sekali?" Dimas bergumam,saat ini kepalanya seperti di tindih batu besar,dia tidak bisa membayangkan kalau sudah menikah nanti pasti hidupnya akan sangat di kekang oleh Siska,dia sangat frustasi saat ini.


   "Kamu terlalu berlebihan Dim,kamu pasti memikirkan kalau sudah menikah itu semuanya nggak bisa berjalan sesuai kemauan kamu iya kan?" tebak mamanya.


   "Iya,kok mama tahu?"


   "Semua juga begitu Dim,tapi jalani saja dulu,nanti kamu akan tahu sendiri betapa enaknya hidup setelah berumah tangga." Ujar pak Andi memberi semangat.


    "Setelah pernikahan kamu dengan Siska nanti,mama dan papa akan membuat acara untuk pertunangan Doni dengan Aura,iya kan pa?"


   "Iya,dan setelah itu baru Amira." Sambung pak Andi penuh semangat.


   Dimas mulai berpikir bahwa orang tuanya itu sebenarnya ingin mengeluarkan mereka semua dari rumah ini,sepertinya mereka hanya ingin hidup berdua saja di hari tuanya,benarkah begitu?


   


  

__ADS_1


 


__ADS_2