
Sudah berhari-hari Amira terus sibuk mengurusi Amel di rumah sakit,terkadang dia menjaga Amel berdua dengan Lisa,tapi hari ini dia sendirian,karena Lisa sedang ada urusan di luar.
"Keluarga kamu belum ada satu pun yang datang Mel,mereka kemana ya?" tanya Amira penasaran.
"Keluarga aku semuanya sudah pindah ke luar negeri Ra,aku sengaja tidak mengabari mereka,agar mereka tidak khawatir." Jawab Amel."
"Oh iya makasih ya,karena kamu sudah mau membuang-buang waktu cuma untuk ngurusin aku yang sudah berlaku jahat sama kamu." Sambungnya lagi,kali ini sepertinya Amel tulus,dia tidak sedang bersandiwara,mungkin kecelakaan itu sudah membuatnya sadar.
"Aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu memintanya,bagaimanapun kita pernah menjadi kawan dekat" ujar Amira,tersenyum lembut ke arah temannya.
"Rangga pasti sangat bahagia bisa mendapatkan perempuan secantik dan sebaik kamu." Puji Amel.
"Aku akan selalu berdoa untuk kamu,semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari Rangga." Ucap Amira.
"Amiinnn" jawab Amel tersenyum penuh haru,dia bangga memiliki teman sebaik Amira,musibah yang di terimanya adalah sebagai teguran untuk dirinya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
"Kamu yakin ini rumah papa kamu?" tanya Rangga,saat mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah yang di gerbang depannya di jaga oleh dua satpam
"Benar,aku yakin kita nggak salah,tapi aku telpon papa dulu ya,suruh papa saja yang keluar." Ucap amira sambil mengambil handphone di tasnya hendak menghubungi sang papa.
"Pa,Mira sudah di depan ni,papa keluar dong,Mira nggak berani bicara sama satpam di sini,wajahnya menakutkan." Ucap Amira,terdengar suara tawa di seberang,dan itu adalah papanya,ternyata lelaki itu sudah berada di depan gerbang untuk menyambut kedatangan putrinya.
\*\*\*\*\*\*\*
"Owh jadi ini yang namanya Amira,anak pertamanya papa,cantik ya." Puji bu Desi istri kedua papanya.
"Ah tante bisa aja." Ucap Amira,sedikit malu karena di puji begitu.
"Jangan panggil tante dong,panggil saja mama Desi.".Suruh wanita itu.
"Hai semuanya,cici pulang.!" Seru seorang anak kecil yang berlari dengan cepatnya dan kemudian berhambur kepelukan bu Desi.
Anak kecil itu heran melihat dua orang asing di depannya,dia menatap aneh ke arah mereka.
"Kakak sama abang ini siapa ma?" tanya Cici,beralih duduk di pangkuan mamanya.
"Kenalin,ini kak Amira dan kak Rangga." Ucap pak Aryo memperkenalkan.
"Cici,panggil saja Cici." Ucap anak itu.
__ADS_1
"Namanya cantik sekali persis seperti orangnya" puji Rangga.
Amira hanya melirik sekilas ke arah Rangga,entah kenapa perasaannya tiba-tiba kesal,masa sih dia cemburu.
"Pa,temanin mama masak yuk! Buat nanti malam,kebetulan ada Amira sama Rangga di sini kita bisa makan bersama nanti" ajak bu Desi.
"Biar Amira saja yang bantuin ma,papa nggak bisa masak soalnya." Ucap Amira,dia tidak enak hati membiarkan dua orang tua itu masak untuk dirinya,sedangkan dia tidak ikut membantu.
"Wah,dia ngeraguin masakan papa,lihat saja nanti,kamu bakal ketagihan,ayo ma!" lelaki itu segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur.
"Nah,kalian berdua jagain Cici ya,mama sama papa mau masak dulu!" ucap wanita itu,Amira hanya bisa mengangguk saja.
Hati Amira terasa tentram melihat keluarga papanya itu,ternyata bu Desi orangnya baik,lemah lembut lagi,padahal baru hari ini dia bertemu Amira tapi sudah bisa seakrab ini.
"Cici umurnya sudah berapa?" tanya Amira sambil menarik Cici hendak membawa ke pangkuannya,tapi anak itu tidak mau,dia lebih memilih duduk di pangkuan Rangga,kenapa coba?
"Baru empat tahun" jawabnya singkat. "Wah kak Rangga tampan sekali seperti pemain sinetron aja" ujar cici genit. Amira sama sekali tidak suka,jadi dia meraih Cici untuk duduk di sampingnya saja,namun anak itu mengelak.
Rangga tahu Amira cemburu,sama anak kecil saja cemburu.
"Cici juga cantik,coba aja kalau Cici sudah dewasa,pasti kak Rangga jadiin calon istri." Ucap Rangga berusaha membuat Amira semakin di bakar api cemburu.
"Mau,mau jadi kakek pun kak Rangga tetap tampan." Jawab Cici sambil bergelayut manja pada leher Rangga.
"Dasar Cici,kecil-kecil genit" ucap Amira kesal.
"Kamu cemburu Mir,masa sama anak kecil cemburu sih?" rangga tersenyum geli melihat tingkah Amira.
"Iya,kak Amira sama Cici aja cemburu." Tambah Cici yang membuat Amira semakin kesal.
"Rangga!!!" Amira memukul-mukul bahu cowok itu karena kesal.
"Jangan di pukul dong,kayaknya kalau di pijit enak tu,di pijit dong!" pinta Rangga.
"Suruh aja sama Cici" ucap Amira sambil menghentakkan kakinya,dan kemudian dia segera pergi ke dapur ingin melihat masakan apa yang akan di buat oleh papa dan mama Desi.
"Yah,nggak seru kak Amira keburu pergi" ucap Cici.
"Kita gangguin lagi yuk!!" ajak Rangga.
"Ayo!" Cici terlihat sangat bersemangat.
__ADS_1
"Tapi nggak ah,kak Rangga nggak berani,kalau kamu mau pergi,pergi aja sendiri,soalnya kalau sudah marah kak Amira itu kayak orang kesurupan." Ucap Rangga berusaha menakut-nakuti Cici.
"Benarkah.?"
"Iya,kak Rangga nggak bohong."
"Masa sih? Cici nggak percaya,mending Cici buktiin aja sendiri di dapur" ucap Cici,kemudian dia pergi menuju dapur.
*****
"Kak Amira ada di sini rupanya." Ucap Cici sekedar basa basi
"Ma,daging ayamnya sudah di kasih garam belum?" tanya Amira,dia sengaja mengacuhkan Cici.
"Sudah Mir,tolong cuci sayuran ini dulu!" pinta bu Desi.
"Oke siap."
Merasa di cuekin oleh Amira,akhirnya Cici memilih untuk benar-benar membuat Amira marah.
"Kak Amira,boleh nggak kalau kak Rangga buat Cici aja?" tanya Cici sengaja mengeraskan suaranya.
"Cici!!!" Amira terlihat benar-benar marah bahkan suaranya hampir saja merusak gendang telinga.
"Haahha." Cici ketawa sambil lari menjauh,takutnya nanti di lempar pakek baskom sama kakaknya itu.
"Amira,suara kamu itu keterlaluan besarnya tahu,sakit telinga papa mendengarnya." Ucap pak Aryo sambil mengusap-usap telinganya yang serasa hampir tuli itu,karena jeritan Amira.
"Kamu harus terbiasa sama sikap usilnya Cici Mir,dia itu memang begitu,suka caper apalagi sama kamu." Ucap bu Desi.
"Maksud mama?" Amira bingung.
"Iya,sudah berkali-kali dia menyuruh papa untuk membawa kamu ke sini,katanya dia sangat ingin bertemu sama kak Amira,tapi saat itu papa bilang kamu sedang sakit karena kecelakaan" ungkap bu Desi. Amira hanya tersenyum mendengarnya,Cici memang nyebelin,tapi enggak bisa di pungkiri kalau sikap anak itu juga menggemaskan.
****
__ADS_1