
"Ma,mama sedang memikirkan keadaan amira ya?" tanya Aura,yang baru saja pulang dari acara ulang tahun temannya.
"Bagaimana mungkin tidak memikirkan keadaan dia Ra,semenjak mama bercerai dengan ayahnya,dia selalu kesepian,mama mengabaikannya,menganggap dia tidak ada,tidak peduli dengan apa yang dia lakukan,mama ini orang tua yang buruk Aura." Wanita itu kembali menangis,Aura tahu mamanya sangat sedih,dan rasa bersalah itu masih menyelimutinya.
"Amira itu anak yang baik,dia pasti sudah memaafkan mama,dia tidak akan menyimpan dendam ma,hanya saja saat ini dia sedang kehilangan sebagian ingatannya." Aura mencoba menenangkan mamanya.
Bu Diandra sekarang terlihat lebih kurus,berat badannya menurun drastis,dia terlalu memikirkan keadaan Amira,rasa bersalah itu tetap ada,selama Amira belum mengatakan bahwa dia telah memaafkan mamanya.
. ********
Amira menatap lekat wajah lelaki yang sekarang tidur di sampingnya,lelaki yang tak lain adalah Rangga,dia sudah tidur sejak tadi,tapi Amira masih belum bisa memejamkan matanya.
Gadis itu mulai merasa ada yang aneh selama beberapa hari ini dengan sikap Rangga,Rangga tidak seperti suami pada umumnya,dia seperti membatasi diri dengannya.
"Mungkin karena keadaan ku yang seperti ini" batinnya. Dia mencoba untuk tidak berburuk sangka pada cowok itu,Amira menggerakkan tangannya,jari jemarinya mulai membelai lembut wajah Rangga, "Benarkah dia suamiku?" pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Rangga kaget,dan menepis tangannya Amira dengan kasar. Amira pun ikut terkejut karena Rangga tiba-tiba bangun.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa Amira ucap kan,Rangga kemudian kembali tidur memunggunginya. "Jangan menyentuh aku saat aku lagi tidur,aku tidak nyaman kamu membuatku terbangun,padahal aku sangat lelah hari ini." Ujar Rangga.
Amira tidak menjawab apa-apa,dia langsung memejamkan matanya tidak ingin berpikiran yang bukan-bukan lagi.
__ADS_1
******
Saat membuka matanya Amira melihat Rangga sudah tidak ada lagi di sampingnya,biasanya dia selalu membangunkan Amira,menyuruh dia untuk membenarkan dasinya,dan memilihkannya baju yang cocok untuk di pakai pergi bekerja. Tapi akhir-akhir ini Rangga tampak sedikit berubah,mungkin karena dia terlalu sibuk.
"Rangga berangkat sangat pagi-pagi sekali hari ini" kata oma,saat Amira sedang sarapan bersamanya.
"Mungkin akhir-akhir ini dia sangat sibuk oma."
"Mungkin" jawab oma sekilas. "Kamu terlihat pucat hari ini,kamu sakit?" tanya oma,saat melihat wajah Amira yang seperti orang sakit.
"Kurang enak badan oma,hari ini Amira mau keluar sebentar,oma temanin ya?" pinta Amira,dia sangat bosan berada di rumah terus,Rangga juga tidak pernah mengajaknya keluar rumah,sudah hampir sebulan dia terkurung di rumah itu,dan rasanya sangat membosankan.
"Iya oma temanin,tapi tadi katanya kurang enak badan,gimana sih?"
Amira tidak langsung menjawab dia hanya tersenyum. "Oma kan tahu sendiri kalau sering di rumah memang bisa bikin badan tidak sehat,contohnya kayak Mira ni,badan lemas,wajah pucat." Jelas Amira.
*****. ****
Amira dan oma sepertinya terlalu fokus memilih baju di butik yang cukup terkenal itu,hingga mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sejak tadi,seorang lelaki dan lelaki itu adalah ayahnya sendiri.
Pak Aryo ingin sekali mendekati Amira,namun dia sudah tahu kondisinya saat ini,karena beberapa hari yang lalu dia datang ke rumahnya Pak Andi,Bu Diandra memberitahukan segala apa yang terjadi kepada mantan suaminya itu,termasuk yang Amira ingat hanya Rangga sebagai suaminya,itu sebabnya dia tinggal di rumah Rangga,padahal mereka belum menikah sama sekali.
"Kamu cuma beli baju ini saja Mira?" tanya oma,saat melihat baju yang di ambil Amira hanya satu,dan itupun yang paling murah di butik tersebut,harganya cuma tujuh ratus ribu,dia tidak tega menghabiskan uang Rangga hanya untuk kesenangannya.
__ADS_1
Meski Rangga sudah memberikan kartu kredit kepada Amira,dan dia juga bilang bahwa Amira boleh membeli apapun yang dia suka dengan kartu kredit itu.
"Baju di sini semuanya mahal-mahal oma,kasian uangnya Rangga kalau di pakai cuma buat beli pakaian untuk aku," jawabnya jujur. "Andai saja dia benar-benar menantuku,pasti aku sangat bahagia." Ucap oma dalam hatinya,beliau menyayangi Amira dengan tulus,bukan sandiwara,karena menurut oma perempuan seperti Amira zaman sekarang sangat sulit di cari.
*****
Malam ini Rangga pulang agak terlambat,biasanya jam lima sore dia sudah berada di rumah. tapi ini,sudah jam sembilan dia masih belum pulang juga,jadi Amira hanya bisa duduk di kamarnya sendirian,dia bahkan tidak keluar untuk sekedar ngobrol sama oma,ya karena oma memang tidak ada di rumah,sore tadi oma pergi ke rumah temannya,mungkin akan menginap di sana beberapa hari,karena suami temannya oma baru meninggal,dan beliau kesana untuk menemani temannya,setidaknya dengan kehadiran oma bisa sedikit mengurangi kesedihan temannya itu.
Amira sudah benar-benar tidak sanggup lagi menunggu Rangga pulang,dia ingin cepat-cepat ke kamar mandi. "Ini sudah di ujung tanduk" llirih nya, "aku tidak tahan lagi."
Dia menarik kursi rodanya,dan berusaha untuk bisa duduk di sana,tapi yang ada malah dia yang jatuh dari tempat tidur.
"akkhh!" Amira menjerit kesakitan,kakinya tidak bisa di gerakkan,dia hampir menangis saat itu,dia kesal dengan keadaan nya,tapi ini sudah takdir untuknya,jadi dia harus bisa menerimanya dengan ikhlas.
Dengan susah payah Amira menyeret tubuhnya untuk sampai di kamar mandi,ternyata jadi orang cacat itu susah,mungkin juga ini yang membuat Rangga malas pulang cepat,sebab Rangga capek harus menggendong dia saat hendak ke kamar mandi,apa lagi kalau di saat tengah malam pas lagi kebeletnya,dia juga harus bangunin Rangga.
Amira mengunci pintu kamar mandinya,dan kemudian menangis sejadi-jadinya di sana,padahal di rumah masih ada bi Lastri,tapi dia tidak tega memanggil wanita tua itu,dia tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya bi Lastri.
Amira tidak mau merepotkan banyak orang karena dirinya yang saat ini tidak bisa berjalan.
"Maafkan aku Rangga,aku sudah membuang-buang waktu kamu untuk ngurusin istri cacat seperti aku." Lirih Amira,dia tidak ingin menahan tangisnya,biar saja dia menangis sendiri disana,dari pada harus menangis di depan Rangga.
__ADS_1
"Amira...!" seseorang memanggilnya dan itu adalah suara Rangga,dia rupanya sudah pulang.