Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Sepanjang Hari Bersama


__ADS_3

    "Yeah... Cici senang bangat hari ini!!" seru Cici melompat-lompat kegirangan di depan mamanya kayak baru habis menang lotre aja.


    "Senang bangat Ci,dapat amplop kosong kamu?" tanya bu Desi.


    "Kali ini bukan amplop kosong ma,tapi rejeki nomplok." Jawabnya penuh semangat.


    "Dia kenapa Mira?" tanya wanita itu sama Amira.


Amira dengan murung menjawab. "Kita di rampok ma."


     "Astarghfirullah!" bu Desi tidak bisa menyembunyikan kekagetannya,saat mendengar jawaban Amira kalau mereka dirampok,tapi anehnya kok Cici malah senang?


    "Cici,kakak dirampok kok kamu malah senang gitu,lompat-lompat lagi." Tegur bu Desi sedikit marah.


    "Cici yang ngerampok tante." Tambah Rangga menjelaskan,wajahnya semakin terlihat aneh,sebenarnya kalau di perhatikan lucu juga sih wajah mereka berdua.


    "Hahaha..." bu Desi tertawa,kirain mau marah,ternyata wanita itu malah ketawa.


    "Mama kok malah ketawa?" Amira masih cemberut aja.


     "Iya lucu aja,kalian pasti disuruh beli barang mahal sama Cici kan?" tebak wanita itu.


     "Itu tuh tante sepeda yang diluar!" tunjuk Rangga dengan mulutnya,saat itu Cici sedang bermain dengan sepeda barunya dihalaman depan.


    "Sabar-sabar aja lah kalian punya adek kayak begitu,mama sama papa juga sering digituin sama dia,makanya kalau bicara sama Cici jangan langsung di iyain." Ucap bu Desi.


    "Kita lagi nggak sadar ma." Jawab Mira.


    "Ya sudah,kalian tunggu disini dulu ya,mama mau buatin minum dulu." Bu Desi langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.


   *****


      "Ah seger rasanya." Ucap Rangga,setelah meminum sirup dingin yang disuguhkan bu Desi.


     "Capek ya?" tanya Amira penuh perhatian.


     "Em sedikit sih."


     "Gimana hasilnya.?" Bu Desi jadi penasaran.


      "Kalau mama ya setuju aja sih tante,nggak ada masalah sama sekali bahkan mama sangat mendukung acara pernikahan kami di akhir tahun ini" ungkap Rangga.


    "Kalau begitu tinggal empat bulan lagi dong."


    "Ya,kalau menurut mama gimana,apa kami terlalu buru-buru?" tanya Amira meminta pendapat.

__ADS_1


      "Ya,kalau menurut mama sih nggak,tapi bukannya kakak kamu Dimas juga mau nikah dalam bulan ini?" bu Desi memastikan.


      "Iya!" jawab mereka berdua serempak.


     "Memangnya kamu sudah kasih tahu sama mama dan papa kamu soal rencana kalian ini?"


    "Belum tante." Yang dijawab Rangga.


    "Nah,kalau menurut mama ni ya,mamanya Amira nggak bakalan setuju,terlalu cepat tahu. Lagian kalian ngebet banget pengen nikah." Ucap bu Desi,wanita itu sepertinya curiga dengan mereka berdua,dan benar saja matanya itu kini memandang perut Amira dengan tatapan curiga,dia terus memperhatikannya,Amira merasa tidak nyaman hingga membuat dia meletakkan kedua tangannya di perut.


     "Mama kenapa sih,jangan negatif thinking ya?" ucap Amira,karena merasa bahwa dirinya diduga sedang mengandung.


     "Iya ni,tante pasti mikir aneh-aneh kan?" tebak Rangga.


      "Ya,mana tahu ya kan,anak zaman sekarang memang banyak yang begitu,memangnya kalian nggak lihat tu di tv banyak berita-berita tentang anak yang dibuang setelah dilahirkan,ada yang dibunuh lagi gara-gara si cowok nggak mau bertanggung jawab." Ucap bu Desi.


      "Ya,tapi jangan curiga juga sama kita ma." Wajah Amira terlihat murung.


      "Mira,mama memang bukan ibu kandung kamu tapi sebagai seorang ibu mama pasti khawatir,mama tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Bu Desi menjelaskan,Mira terharu mendengarnya. Ternyata bu Desi sangat peduli terhadap dirinya.


     "Makasih ma atas perhatiannya." Ucap Amira sambil memeluk ibu tirinya itu.


      "Iya sama-sama."


     "Eh aku nggak di peluk ni?" tanya Rangga sambil merentangkan kedua tangannya.


     "Ih jahat." Rangga hanya bisa memeluk dirinya sendiri.


       "Ma,tanaman lidah buaya Cici mana?" tanya Cici setengah merengek pada mamanya.kayaknya itu anak sudah lelah bermain dengan sepeda barunya.


      "Itu sudah dimakan sama kak rangga." Jawab Amira sembarangan.


      "Lihat tante,Amira kalau bicara omongannya itu kelewatan bangat kan." Adu Rangga.


Bu Desi senyum-senyum aja melihat tingkah mereka.


\*\*\*


     "Kita pergi dari pagi,siang,sekarang sudah sore begini kamu masih belum mau pulang juga?" tanya Rangga,saat itu Amira masih duduk dengan santainya sambil menikmati hembusan angin dipantai yang memang sudah sering mereka kunjungi.


       "Aku ingin kamu tahu Rangga meskipun aku sering marah-marah nggak jelas,kadang cuek,tapi pada kenyataannya aku sangat sayang sama kamu." Ucap Amira mengungkapkan isi hatinya.


      "Aku tahu itu,aku juga ingin hubungan kita selalu seperti ini,sedikit masalah dalam sebuah hubungan itu adalah hal biasa,yang penting kita saling percaya itu aja."


     "Iya,kita harus saling percaya,berarti aku harus selalu percaya dong sama kamu." Ucap Amira.

__ADS_1


    "Ya harus lah."


     "Berarti kalau nanti ada orang bilang kalau kamu selingkuh aku harus percaya juga?" tanya Amira bergurau.


    "Ya bukan kayak gitu juga,kamu itu percayanya sama aku,bukan sama orang lain." Rangga menjelaskan.


      "Hehe... aku cuma bercanda,tapi memang benar kan dalam sebuah hubungan itu harus saling percaya,jangan menyimpan rasa curiga yang pada ujungnya akan berakhir dengan perpisahan,seperti mama dan papa aku,aku belajar banyak dari pengalaman hidup mereka berdua." Ucap Amira merenung kembali masa lalunya.


      "Yang sudah berlalu jangan di ungkit lagi,ambil hikmahnya aja." Ucap cowok itu mengingatkan karena tidak ingin Amira sedih.


      "Mengingat masa lalu itu tidak mengapa jika untuk mengambil pelajaran,yang penting jangan di ulang." Jelas Amira tepat di telinga Rangga,membuat cowok itu kesal,syukur suara Amira tidak terlalu besar kalau nggak,mungkin dia hanya akan tinggal nama hari itu.


     "Ternyata sore-sore kepantai begini enak juga ya?"


     "Tentu dong."


     "Ayo kita kesana?" ajak Rangga,dia mengajak Amira untuk jalan-jalan di dekat pantai.


     "Enggak ah takut,nggak seru."


     "Ngapain takut,cuma jalan-jalan aja,memangnya aku ngajakin kamu berenang?"


    "Enggak ah disini aja,adem tau,di sana banyak orangnya,nggak romantis lagi nantinya" ucap Amira tersenyum.


    "Apa? Romantis kamu bilang? Sejak kapan memangnya kita romantis-romantisan,yang ada ni ya aku selalu di buat emosi tiap kali sama kamu."


     "Kapan aku ngebuat kamu emosi?" tanya Amira nggak mau kalah,malah sekarang dia berkacak pinggang di depan Rangga kayak orang mau berantem aja.


     "Nah,mulai lagi kan pikunnya?"


     "Yang ada kamu tu,selalu buat aku kesal,kamu juga suka ngusilin aku,kamu lupa ya?" tambah Amira.


     Diantara mereka nggak ada satupun yang mau mengalah.


     "Kamu nggak salah ngomong Mira,yang ada malah kamu yang sering buat aku kesal,tapi aku sabar-sabar aja." 


    "Bukan aku,tapi kamu." Amira masih tidak mau mengalah.


     "Capek juga ya kalau berurusan sama cewek,seri aja nggak mau,apa lagi kalah." Ucap Rangga,tambah pusing sekarang kepalanya,syukur Cici nggak ada di sana kalau dia juga ada,entah apa yang akan terjadi,mungkin dia sudah masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung.


     "Kok diam?" tanya Amira


     "Malas berdebat sama cewek,cewek itu selalu benar." Setelah menyelesaikan ucapannya,Rangga langsung bangun dan masuk ke mobilnya,cowok itu berniat ingin langsung pulang saja,dan Amira mengikuti dari belakang,ternyata takut juga dia kalau di tinggal pergi sama Rangga.


     

__ADS_1


                  ********


__ADS_2