
"Oh iya saya hampir lupa,hari ini anak saya pulang,jadi kamu segera siapin makan siang secepatnya!" perintah wanita itu,wajahnya terlihat garang,beda sekali saat berbicara dengan oma semalam. Di depan oma,Bu Anet bersikap sangat baik dan patuh,tapi ternyata ini sifat aslinya.
"Tapi saya tidak pintar memasak nyonya," jawab Amira,dia memang bisa memasak,tapi kadang enak kadang tidak.
"Saya tidak mau tahu,pokoknya siapin masakannya,bahannya semua ada di dapur!.
.
**********
"Tepat jam 02:00 siang,Amira sudah selesai menghidangkan semua masakannya,tinggal makan saja,makanannya terlihat lezat baunya juga enak,tapi Amira sendiri tidak yakin kalau Bu Anet menyukai rasanya. Amira langsung kembali ke dapur begitu anak Bu Anet datang,dia bahkan tidak tahu siapa pemuda itu,kalau dia tahu itu adalah Rangga,dia pasti sangat malu.
"Duduk nak,mama sudah nyiapin semua ini buat kamu,mama kira kamu nggak bakalan pulang," ungkap wanita itu begitu anaknya pulang.
"Mana mungkin Rangga tidak pulang ma,kan apartemen Rangga tidak jauh dari sini."
"Ayo di makan jangan di lihatin aja."
"Rangga cuma heran saja ma,ini semua mama yang masak?" tanya cowok itu penasaran.
"Bukan,yang masak itu Amira pembantu baru kita.
"Mira?" Rangga mengernyitkan alisnya.
"Sudah nanti saja di bahas,kita makan dulu mama sudah lapar ni." Wanita itu langsung mengambil nasi dan rendang di depannya kemudian di taruh di piring anaknya.
"Ehm... Kok rasanya aneh gini? Pahit,asin gitu." Ujar Rangga begitu makanan masuk ke mulutnya,dia langsung memuntahkannya kembali.
"Masa sih,kelihatannya enak,coba mama cicipi,wah benar juga gimana sih Amira?"
__ADS_1
"Mira!"
"Mira!! teriak Bu Anet,sepertinya dia benar-benar marah.
Amira yang saat itu sedang mengepel lantai di dapur,langsung ketakutan begitu mendengar Bu Anet memanggil namanya dengan keras,benar dugaannya,kali ini masakannya pasti tidak enak,keringat dingin kini membanjiri tubuhnya,kalau sedang marah Bu Anet lebih menakutkan dari pada mamanya.
"Ada apa nyonya?" tanya Amira sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wanita yang sedang marah itu.
"Nih kamu makan sendiri!" Bu Anet langsung mengambil ayam rendang itu dan menyumpal ke mulutnya tanpa ampun,Mira ingin mengelak tapi tidak sempat,bajunya pun jadi kotor,Rangga yang melihat kelakuan mamanya langsung bangun untuk membantu,saat itu dia baru sadar yang ada di depannya adalah Mira.
"Ma...Sudah ma,sudah cukup! Mama sudah keterlaluan," Rangga menarik paksa tangan mamanya,wanita itu langsung pergi dengan membawa emosinya yang masih belum hilang. "Buat selera makan saya hilang aja."
Amira menangis,dia sedih dan juga malu,kenapa selalu ada Rangga di saat seperti ini,kenapa dunia terasa begitu sempit,bagaimana bisa Bu Anet itu adalah ibunya Rangga.
Bu anet kembali lagi,setelah tadi pergi dari sana,sekarang dia datang dengan membawa air di tangannya,Amira terus memunguti ayam yang berjatuhan di lantai.
"Byuurrr..." Air itu ternyata di siram ke wajah Mira,Mira sangat terkejut dia tidak menyangka kalau Bu Anet akan datang kembali dan menyiram wajahnya. "Maaf saya hanya membersihkan bekas rendang di wajah kamu." Bu Anet langsung pergi masuk ke kamarnya.
Rangga tidak berani membantu Amira,dia juga sudah menyakiti perasaannya,kini tangisnya semakin tidak bisa terkontrol,dia sesenggukan,Rangga tahu saat melihat bahu Amira naik turun karena menahan tangisnya,baru kali ini dia melihat Amira menangis seperti itu.
Meski ragu-ragu Rangga langsung mengambil kain lap,dan membantu Amira,Amira tidak mengatakan apa-apa,dia mengambil ayam yang tadi di pungutnya dan di bawa kembali ke dapur,dia meninggalkan Rangga di sana sendiri.
\*\*\*\*
Saat di dapur Mira masih menangis,dia tidak bisa membuat air matanya berhenti mengalir.
"Kenapa banyak orang yang tidak suka sama aku,apa mungkin aku sudah menyakiti hati mama,tapi apa yang sudah aku lakukan hingga membuat mama sakit hati,selama ini bahkan aku tidak pernah sekalipun marah saat mama membeda-bedakan antara aku dengan anak tirinya,lalu di mana letak kesalahan aku.?" Lirih Amira dalam hatinya.
Dia hanya berdiri mematung di dapur itu,tidak tahu harus berbuat apa,apa kah dia harus pergi dari rumah ini,atau dia tetap harus tinggal,kalau pergi dari sini dia tidak akan punya tempat berteduh,dia juga tidak bisa makan,kalau memilih tetap tinggal itu berarti dia harus siap menderita.
__ADS_1
****. ****
Malam ini,Amira kembali mengambil tas dan kopernya,dia sudah memutuskan untuk pergi saja,sebab setelah di pikir-pikir Bu Anet terpaksa memberikannya pekerjaan karena di minta oleh oma Jihan,sebenarnya Bu Anet lebih suka tinggal sendiri,atau dia memang tidak menyukai Mira.
Mira menarik kopernya keluar melalui gerbang belakang,dia bahkan tidak berpamitan dengan Bu Anet dia tidak berani lagi bertemu wanita itu,setelah kejadian tadi siang,dia juga tidak ingin Rangga melihatnya pergi,itu sebabnya Amira pergi diam-diam.
****** *******
Waktu terus berlalu,hari berganti hari Amira tidak pulang,Amira sudah berminggu-minggu tidak ada kabar,bahkan tidak ada yang mencarinya,mereka mungkin sudah tidak peduli lagi dengan kehidupannya,Amira sudah seperti gelandangan saja,berpindah-pindah tempat,kadang dia tidur di dalam masjid,kemudian di pagi hari bangun untuk mencari makan,dia bahkan harus mencuci piring di warung-warung makan hanya untuk sesuap nasi. Meski lelah apa boleh buat,dia belum berani untuk kembali ke restauran tempatnya bekerja dulu,apalagi di saat keadaannya sedang kacau begini.
\*\*\*\*\*\*
Dimas dengan penuh emosi datang menghampiri mama dan papanya yang sedang duduk dengan Aura sambil tertawa gembira,seolah tidak ada masalah.
"Ma,papa. Kenapa kalian terlihat tenang dan santai-santai aja di rumah dengan keadaan seperti ini.?" Mendengar suara lantang Dimas yang baru saja pulang,Pak Andi spontan mematikan tv.
"Kamu marah-marah nggak jelas,kenapa lagi ini? Pasti gara-gara Amira lagi kan?" lelaki itu ikutan marah.
"Iya,mama sama papa tidak khawatir sama sekali sama Amira,mama ini ibu kandungnya,tapi mama lebih sayang sama Aura yang cuma anak tiri." Ucap Dimas suaranya sangat lantang,emosinya meledak-ledak saat itu.
__ADS_1
"Dimas hentikan omongan kamu itu! Apa kamu mau papa usir seperti Amira?" tanya Pak Andi hampir saja tangannya bergerak untuk menampar wajah Dimas.