
"Jadi pertanyaannya sekarang adalah,kenapa Amira bisa langsung tenang begitu oma datang,dan marah saat kalian yang membujuknya,itu karena kalian sudah melukiskan banyak kenangan buruk di hidup amira,sedangkan oma tidak." Ucap Siska menjelaskan.
"Jadi apakah ada cara lain untuk membuat Amira kembali seperti dulu Sis?" Rangga bertanya.
"Sebenarnya sih cukup mudah,kita suruh saja temannya Della untuk datang ke sini,bukankah tadi om dan tante juga bilang bahwa Amira memiliki sahabat bernama Della.?"
"Iya benar kita telepon Della saja,suruh dia menginap beberapa hari di sini." Bu Diandra setuju dengan usulan Siska.
"Ya sudah,kalau begitu mama telepon saja dia" suruh pak Andi tidak sabar.
"Yang penting sekarang kita tidak boleh membuat dia stres,jangan sampai dia merasa tertekan,kalau tidak keadaannya akan menjadi semakin parah." Siska mengingatkan.
"Aku rasa ini ada hubungannya sama Amel,beberapa hari yang lalu,kami sempat bertemu saat aku datang ke kantor papa,di situ aku menceritakan keadaan Amira,dan mungkin saja dia juga sudah bertemu dengan Amira." Ungkap Aura.
"Lalu kamu juga bilang kalau Amira tinggal di rumah aku,dan aku harus berpura-pura jadi suaminya dia?" tanya rangga memastikan.
"Iya,aku juga bilang begitu." Jawab aura jujur.
"Kamu kenapa bisa bertindak sebodoh itu sih Ra,kamu kan tahu Amel itu orangnya gimana." Dimas ikut kesal di buatnya.
"Aku pikir tidak mengapa,karena Rangga bilang dia sudah putus sama Amel." Ujar Aura,membela diri.
"Sudahlah,soal ini nanti biar aku yang ketemu sama Amel,dan aku akan membuat semuanya menjadi jelas." Tambah Rangga,dia bertekad untuk kembali kepada Amira,karena yang dia cintai hanya Amira bukan Amel.
******
Dua hari kemudian Della benar-benar datang,dia bahkan sangat sedih saat mengetahui keadaan Amira sekarang,dia tidak pernah menyangka bahwa sahabat yang di kenalnya selama ini sebagai perempuan kuat,sekarang keadaannya sangat terpuruk,dia begitu rapuh.
"Amira..." panggil Della pelan,kini dia sudah berdiri tepat di hadapan Amira,tapi Amira masih diam,Della pikir Amira benar-benar sangat terguncang jiwanya saat ini,padahal Amira pikir dia sedang berhalusinasi saat itu,makanya dia tidak menatap Della yang berdiri di depan tempat tidurnya.
"Amira,aku Della." Ucap Della.
"Aku pasti sedang berhalusinasi." Lirih Amira.
"Aku benaran Della." Merasa tidak di pedulikan Della langsung memeluk Amira.
"Kamu benaran Della.?" Amira kembali menangis.
"Hiks.!!"
__ADS_1
"Kamu kenapa jadi cengeng gini sih,kamu itu Amira yang kuat,kamu masih ingat kan,dulu aku selalu memanggil kamu wanita tangguh?"
"Aku juga nggak tahu kenapa bisa seperti ini." Amira tidak bisa berhenti menangis,padahal dia sudah berusaha menahannya.
"Makanya jangan sok kuat,kalau memang mau menangis,menangis saja." Ujar Della.
"Kamu ini gimana sih,nggak jelas banget,tadi kamu bilang aku harus jadi orang kuat,sekarang nyuruh aku nangis." Ucap Amira,sekarang dia sudah lebih tenang.
"Kamu sudah makan?" tanya Della kemudian.
"Belum,aku tidak lapar" jawab Amira murung.
"Mira,sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan saat ini semua sudah membaik sekarang,kebahagiaan sudah berpihak sama kamu." Della mencoba untuk membuat Amira mengeluarkan uneg-unegnya.
"Aku sekarang selalu merasa di bayang-bayangi dengan kejadian beberapa waktu lalu dell,aku takut kalau di jadikan sebagai Amira yang dulu,mereka akan kembali mengabaikan aku,apa lagi sekarang keadaan ku begini" ujar Amira dengan sedihnya.
"Kamu harus yakin,dan percaya sama keluarga kamu sendiri,seperti apapun mereka di masa lalu,tapi mereka tetap keluarga kamu,yang penting kan sekarang mereka benar-benar tulus menyayangi kamu."
"Kamu juga akan pergi lagi kan?"
"Saat ini tidak,aku kembali menetap di kota ini,mama suruh jagain kamu,mama dan papa juga nitip salam buat kamu,makanya kamu cepetan sembuh biar bisa kesana bareng aku." Della memberi semangat.
"Kamu ini gimana sih?" Della cemberut.
"Terus kalau aku nikah aku juga harus ngajak kamu sekalian gitu? kan kagak mungkin." Sambungnya lagi,setelah itu mereka sama-sama tertawa,dan tawanya sampai terdengar keluar yang membuat orang tua Amira juga kedua kakaknya merasa senang,ternyata Amira tidak butuh obat,sebab kehadiran Della sudah membuat kondisinya jadi lebih baik.
****
"Kamu pasti sengaja datang ke rumah aku kan,untuk membuat hubungan aku sama Amira berantakan?" Rangga tidak bisa menahan emosinya.
"Aku kan sudah bilang,kalau kamu itu nggak bisa bersatu lagi sama Amira,kamu lupa?" Amel mengingatkan.
"Kamu sudah gila Mel,aku kan sudah mutusin kamu sebulan yang lalu,apa urusannya kamu sama hidup aku,kamu pikir ini drama di tv apa?" bentak Rangga penuh emosi.
"Eh,dengar ya,aku nggak akan membiarkan siapa pun memiliki kamu termasuk Amira,camkan itu." Amel langsung keluar dari cafenya Rangga. Gadis itu benar-benar aneh,kenapa juga dia marah,kan cinta itu tidak bisa di paksakan.
Rangga mulai merasa bahwa dia harus berhati-hati sama Amel,takutnya nanti dia melakukan hal yang tidak di inginkan.
__ADS_1
******
"Kamu masih menyukainya Mira?"
"Tentu saja,karena dia adalah yang pertama di hati aku,dan aku berharap dia akan menjadi yang terakhir." Jawab Amira penuh harap.
"Hem....aku bukannya tidak setuju sama pilihan kamu,tapi kalau kamu tanya sama aku,aku akan tetap jawab Rangga itu bukan yang terbaik."
"Kenapa kamu ngomongnya gitu?" tanya Amira heran.
"Karena dia pernah membuat kamu tidak berharga sama sekali,kamu tidak lupa kan?" Della bukannya ingin membuat harapan Amira hilang,hanya saja dia tidak bisa menahan perasaan untuk tidak mengatakannya,bahwa dia memang tidak menyukai cowok yang bernama Rangga itu.
"Eum...bunga di sini cantik kan?" Amira mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jangan mengalihkankan pembicaraan aku,kamu sengajakan mau ngelak?" ucap Della kesal.
Mira tersenyum saja mendengarnya,sambil memetik bunga mawar yang sudah tumbuh bermekaran di taman itu.
*****
"Kelihatannya dalam dua hari ini,keadaan Amira sudah berangsur-angsur membaik Dim." Ucap Siska,mereka saat itu berada tidak jauh dari Amira dan Della.
"Ya,aku rasa juga seperti itu"
"Lalu,bagaimana hubungan kalian dengan Mira,apa dia sudah bisa memaafkan kalian?" tanya Siska penasaran,rupanya dia sudah tahu tentang keluarga mereka yang pernah berbuat jahat kepada Amira.
"Kamu sepertinya,sudah tahu banyak hal tentang keluarga kami,mama yang mengatakannya sama kamu kan?" tebak Dimas.
"Hanya sebagian saja,tapi kamu juga jangan lupa,dulu saat kita masih SMP,aku ini kan tetangga kamu,aku juga sudah tahu akan hal itu dari dulu,sebelum pindah dari komplek ini." Jelas Siska mengingatkan.
"Iya,aku tidak lupa" jawab Dimas cuek.
"Kamu juga tidak lupa kan,kalau dulu itu kamu juga pernah nyatain perasaan kamu ke aku." Ungkit Siska,membuat Dimas sangat malu.
"Itu masa lalu,kenapa kamu mengungkitnya? Dimas kesal.
Siska langsung pergi dari sana saat melihat wajah Dimas yang sudah tidak enak di pandang. Namun dia juga tidak lupa menyunggingkan senyuman penuh arti pada Dimas.
__ADS_1