Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Ingin Bersamanya


__ADS_3

Amira sedang melamun di kamarnya dia tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa kembali bersama dengan Rangga,melihat keadaannya saat ini,dia sendiri tidak yakin apa Rangga masih benar-benar mencintainya atau tidak.


"Makan dulu nak.!" Ucap bu Diandra,membuyarkan lamunan Amira.


"Amira belum lapar ma,baru aja tadi pagi makan,sekarang harus makan lagi mana bisa,lagian Mip masih kenyang." Tutur amira.


"Ya sudah tidak apa-apa,nasinya mama letakkan di atas meja ya,mama keluar dulu,kalau butuh apa-apa panggil saja,mama ada di ruang tengah." Pesan wanita itu sebelum dirinya keluar,dan kembali menutup pintu kamar Amira.


\*\*\*\*\*\*



"Amira aku pulang.!" Seru Della sambil melompat ke atas tempat tidurnya,seperti anak kecil aja.


"Lama bangat dell,kamu habis dari mana aja sih.?" Tanya Mira penasaran.


"Ayo tebak tadi aku ketemu sama siapa?" suruh Della.


"Di tanya bukannya di jawab,eh malah ngajakin main tebak-tebakan." Ujar Amira kesal.


"Ayo tebak dulu.!


"Ketemu gorila." Amira menjawab asal-asalan.


"Yang serius dong!"


"Monyet kali." Amira masih tetap cuek.


"Apa? Kamu bilang Doni monyet?" Aura tidak terima Amira memanggil Doni dengan sebutan monyet.


"Lah,itu orang ngapain ada di sini,kapan masuk nya." Batin Amira saat melihat Aura sudah ada di tengah-tengah mereka.


"Eh kakak,aku bukan panggil dia monyet,mana Amira tahu,kalau yang sedang di omongin Della adalah monyet eh maksud Amira kak Doni" jawab Amira membela diri.


"Nggak,pasti kamu sengaja kan?" Aura mulai meraba bantal di samping Amira,amira sudah dapat menebaknya,sebentar lagi bantal itu pasti bakal di lempar ke arahnya,jadi dia harus waspada.


"Iya,kak Aura benar dia pasti sengaja." Della bukannya membela,tapi malah menyalahkan Amira,memang benar-benar tu anak.


"Wah,kamu Della,sudah berani lempar batu sembunyi tangan ya,awas aja." Amira juga mengambil bantal berniat ingin memukul Della,tapi rupanya Aura sudah bergerak lebih dulu.

__ADS_1


"Nah rasain kamu,pasti kamu sengaja kan main tebak-tebakan sama Amira,biar dia nebak asal-asalan,terus bilang cowok aku monyet,nyebelin tahu." Ucap Aura sambil terus memukul punggung Della dengan bantal.


"Della langsung bangun dari tempat tidur berniat keluar dari kamar itu,tapi tidak bisa karena Aura sudah berdiri di depan pintu.


"Maaf...maaf kak Aura,Della yang salah ." Ucap Della,tapi Aura tetap tidak mau melepaskannya.


Alhasil kamar Amira jadi berantakan karena ulah mereka yang main lempar-lemparan bantal seperti anak kecil. Amira hanya menonton saja tingkah konyol kakak dan sahabatnya itu,sambil sesekali tertawa.


Beberapa menit kemudian..


"Sekarang bersihkan kamar aku! Sebersih-bersihnya" suruh Amira saat mereka sudah berhenti karena kelelahan dan menghempaskan tubuh di atas kasurnya yang empuk itu.


"Bentar lagi Mira,kakak capek." Jawab Aura dengan nafas ngos-ngosan.


"Iya aku juga" tambah Della.


"Mir buatin air segar dong buat kita!" pinta Della,permintaannya gila emang,sudah tahu Amira berjalan saja masih harus menggunakan kursi roda,sekarang menyuruh dia untuk membuat air untuk dirinya,wah benar-benar ngeselin tu orang.


"Sembarangan kalau nyuruh orang,sana buatin sendiri,kamu nggak lihat Amira nggak bisa jalan." Aura langsung marah-marah saat mendengar permintaan Della.


"Loh,aku kan cuma bercanda kak,kok marah nya sampe segitu sih." Della jadi merasa bersalah,perasaannya jadi tidak enak saat melihat perubahan di wajah Aura.


"Iya,aku buatin sendiri." Della kemudian langsung bangun untuk membuat sirup dingin untuk dirinya sendiri,padahal tadi itu dia cuma bercanda.


"Buatin juga buat aku satu." Pinta Aura,masih dengan wajah kesal.


"Kakak kenapa segitunya marah-marah ke Della,kan lagian dia cuma bercanda,kasian tau." Ucap Mira saat Della sudah keluar dari kamarnya.


"Ssst..." Aura menempelkan jari telunjuk dibibirnya. "Jangan keras-keras ngomongnya,entar si Della dengar,aku cuma pura-pura saja tadi,sengaja biar dia buatin air sekalian buat aku,kan kesempatan bangat tu,aku juga lagi haus." Ucap Aura tersenyum lucu,dia rupanya cuma sandiwara aja tadi.


"Dasar,suka kali ngerjain orang."


"Sekali-kali kan nggak apa-apa,oh iya,ini kakak tadi juga membelikan baju buat kamu" tunjuk Aura,sambil membuka tas belanjaannya tadi.


"Baju untuk apa?" Tanya Mira heran.


"Baju buat di pakai dinner kamu bersama Rangga nanti malam." Jawab Aura.


"Hemmp... Mira sepertinya nggak mau deh kak,males aja ketemu dia." Ujar Amira dengan wajah murung.

__ADS_1


"Kamu,masih berharap bisa bersama dia lagi kan." Tebak Aura.


"Jujur memang Amira masih berharap bisa kembali sama Rangga,tapi apa kakak yakin dia bisa setulus dulu sama Amira.?"


"Mir,jodoh itu hanya Allah yang tahu,kalau memang dia jodoh kamu,mau kamu menghindar dari dia,kalian tetap akan dipersatukan."


Amira terdiam mendengar ucapan Aura,kakaknya memang benar,sekarang Rangga sudah memperlihatkan kepada Amira,bahwa dia itu benar-benar tulus,bahkan sudah berkali-kali dia ingin bertemu Amira,tapi gadis itu selalu menghindar,mungkin malam ini Amira harus mengatakannya,lagian dia juga masih sangat mencintai Rangga.


\*\*\*\*\*


"Untuk sementara kamu harus tinggal di sana dulu,agar kaki kamu itu bisa cepat sembuh,dengan begitu pertunangan kamu dan Rangga juga bisa di percepat." Tutur pak Andi. Amira hanya mengangguk saja,dia sebenarnya untuk saat ini sedang tidak mau jauh-jauh dari keluarganya,dia sudah sangat nyaman berada di dekat mereka,karena sekarang mereka sangat menyayanginya,tidak seperti dulu.


"Tidak apa-apa sayang,nanti kak Aura juga akan ikut kesana menemani kamu." Tambah bu Diandra.


"Dia tidak akan mau ma,mana mau kak Aura jauh-jauh dari om Doni."


"Apa,tadi kamu bilang om Doni? Coba di ulang sekali lagi mungkin aku salah dengar." Pinta Aura,kini wajahnya sudah memerah,menahan emosinya,mereka hanya tertawa saja,tanpa mengatakan apapun.


"Lho,kenapa memangnya,kan nggak ada salahnya juga Amira panggil dia om,cocok juga menurut papa,lagian umurnya juga lebih tua dia dua tahun dari pada kakak mu." pak Andi ikut membela Amira.


"Kalau di panggil om,ketuaan dong pa,papa juga sengaja bikin Aura jengkel." Wajah Aura makin cemberut.


"Tuh,lihat kan,papa aja setuju." Tambah mamanya.


"Awas kamu ya,aku nggak bakalan mau nemenin kamu ke Singapura" Aura mengancam.


"Lihat tu pa,kak Aura nggak mau." Adu Amira


"Kalau dia nggak mau berarti papa juga nggak mau merestui hubungan dia sama Doni,gampang kan." pak Andi balik mengancam.


"Iya,iya Aura temanin deh." Jawab Aura buru-buru. "Dasar tukang ngadu!"


"Biarin." Ucap Mira,sambil menjulurkan lidahnya.


"Kak Dimas dimana ya?" tanya Aura kemudian.


"Loh,emangnya kalian nggak tahu,kalau Dimas itu lagi dekat sama Siska.?" Tanya sang mama heran.


Aura langsung saja tertawa mendengarnya,karena ternyata Dimas masih menyukai Siska.

__ADS_1


__ADS_2