
Setelah sarapan tante Anet langsung menceritakan tentang kisah masa lalunya dengan papanya Rangga.
"Tante Lidia itu temannya mama,dia juga dekat dengan papa,suatu hari papa kamu mencari karyawan baru dan tante Lidia menyuruh mama untuk melamar kerja di perusahaannya papa,setelah interview mama diterima kerja di sana sebagai sekretaris papa." Bu Anet berhenti sebentar dan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara.
"Karena sebab itu makanya tante Lidia marah sama mama?" tanya Rangga,semakin penasaran.
"Tidak,saat itu kami masih berhubungan baik,hingga saat di mana ibu kamu meninggal,saat itu ibu kamu berpesan supaya papa kamu mencari pengganti,seseorang yang mau merawat kamu seperti anaknya sendiri,dan ibu kamu yang menyuruh papa untuk menikahi mama," jelas bu Anet,matanya berkaca-kaca,wanita itu kembali mengingat suaminya.
"Apa tante Lidia juga tahu soal ini?" tanya Amira kemudian.
"Tante Lidia juga tahu,tapi dia tetap marah sama tante,dia bilang tante sudah menggoda papanya Rangga,dan kebetulan juga tante saat itu menjadi sekretaris papanya Rangga. Tante Lidia sudah berjanji akan meninggalkan suaminya kalau papanya Rangga mau menikahi tante Lidia." Tutur bu Anet.
"Jadi sebenarnya tante Lidia itu tidak mencintai suaminya?" tanya Rangga.
"Iya." Bu Anet menjawab singkat.
"Rangga mungkin nggak ya,soal penggelapan dana perusahaan saat itu juga idenya tante Lidia,dia ingin membuat perusahaan papa kamu hancur." Ucap Amira menerka-nerka.
"Benar,apa yang kamu katakan memang benar Amira,lidia yang telah menyuruh suaminya untuk melakukan hal keji itu,dan mama yang membongkar semuanya hingga membuat pak Samuel harus mendekam dalam penjara,padahal sidang saat itu belum dimulai tapi pak Sam sudah meninggal duluan." Jawab bu Anet membenarkan.
"Dan karena itu juga membuat tante Lidia semakin menaruh dendam sama mama,karena mama yang telah membuat suaminya mendekam dalam penjara," sambung Rangga.
"Papa tidak mau menikahi Lidia karena papa sudah menganggap Lidia itu seperti adiknya sendiri,dan lagian Lidia juga sudah memiliki suami,mama benar-benar tidak menyangka sedendam itu dia sama mama,hingga mengorbankan suami dan anaknya sendiri." Ucap bu Anet,pikirannya jauh menerawang mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Laras juga bilang,kalau dua hari yang lalu dia sempat memergoki mamanya bertemu dengan om Agus dan tante Devi,dua orang yang mengaku-ngaku sebagai orang tuanya Laras,tapi karena melihat Laras ada di situ tante Lidia akhirnya kabur lagi," ungkap Amira.
"Dan dia sama sekali tidak tahu mamanya ada di mana?" tanya Rangga,tapi dari nada bicaranya seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Laras.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Amira bingung.
"Maksudnya,kamu percaya gitu aja dengan omongannya Laras,bisa jadi dia juga melindungi mamanya." Ucap Rangga,dia tidak percaya begitu saja dengan Laras.
"Laras tidak seperti mamanya sayang,kamu tidak perlu mencurigai dia seperti itu,dia itu anak yang baik," jelas bu Anet membela.
"Nah,aku setuju dengan mama,dengar tu jangan suka berburuk sangka dulu." Amira mengingatkan.
*****
"Apa yang akan kakak lakukan? Sebentar lagi kak Rangga dan kak Amira akan menikah." Ucap Cici,suaranya bahkan tidak begitu jelas karena dia berbicara di saat mulutnya penuh dengan makanan.
"Apa yang bisa kakak lakukan lagi di sini,setelah memastikan mereka menikah dan semuanya berjalan lancar kakak akan kembali ke london,keluarga kak Amel semua ada disana," jawab Amel,dia menyunggingkan senyumnya membayangkan Amira bisa hidup bahagia bersama Rangga.
"Sungguh rumit kehidupan orang dewasa ya,cinta segitiga," cicit Cici,dan entah dari mana dia dapat kata-kata seperti itu,kayak ngerti aja tentang percintaan.
"Kamu tadi ngomong apa Ci?" tanya Amel dengan matanya yang melotot ke arah Cici,omongan terakhir anak itu,Amel tidak bisa menerimanya.
"Tahu apa kamu tentang cinta segitiga,dasar anak ingusan!" ledek Amel,mendengar cibirannya Cici merungut kesal.
"Kak Amel pikir aku nggak tahu kalau kakak itu sebenarnya menyukai kak Rangga,udah jelas-jelas terlihat dimata kak Amel waktu bicara sama kak Rangga di rumah sakit." Ucap Cici gamblang.
Hampir saja Amel menyemburkan air dalam mulutnya ke wajah Cici,gadis itu sampai batuk beberapa kali,soalnya ucapan Cici benar-benar membuatnya tercengang,dan tidak bisa menjawab apa-apa, Amel diam seribu bahasa.
"Jadinya diam kan,pasti apa yang aku bilang benar." Tambah anak itu lagi,membuat Amel semakin kesal,ingin sekali dia menyumbat mulut Cici dengan kue bolu yang ada di depannya.
"Apanya yang benar,kamu itu kebanyakan nonton drama,dan lagian tahu apa kamu soal cinta?" tanya Amel dengan tatapan meremehkan.
"Kak Amel tersayang,kalau memang cinta ya ngaku aja cinta,toh Cici juga sudah tahu,untuk apa berdebat sama Cici yang masih anak-anak, Cici kan juga tidak tahu apa-apa mengenai cinta,tapi yang pasti luka dilutut lebih mudah di sembuhkan dari pada luka di hati." Tutur Cici panjang lebar,setelah mengakhiri ucapannya anak itu segera pergi dari sana,meninggalkan Amel yang bengong sendiri.
__ADS_1
"Kena mental gue,itu anak benar-benar ya,kalau ngomong selalu aja nggak pernah salah." Amel kesal sekaligus merasa lucu dengan ucapan Cici tanpa sadar dia tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapan terakhir Cici tadi,benar-benar seperti orang dewasa,patut di acungi jempol.
***
Setelah menjemput Cici di rumah Amel, Mira mengajak Rangga untuk pergi ke rumah papanya.
"Kakak ngapain pulang ke rumah mama,mau nganterin aku ya?" tanya Cici,saat mobil masih terus melaju.
"Memangnya kamu nggak kangen sama mama?" tanya Amira.
"Kangen sih,tapi jangan tinggalin Cici disana ya,soalnya Cici kesepian sendiri semenjak kak Ririn nggak tinggal sama kita lagi,Cici jadi nggak punya teman ngobrol deh."
"Memangnya kak Ririn kemana?" tanya Rangga matanya masih fokus menatap jalanan.
"Kak Ririn tinggal sama nenek di bogor,dia sekolah disana," jawab Cici. "Kak Rangga dan kak Amira kalau nikah nanti,terus beli rumah baru jangan lupa ngajak Cici buat tinggal bareng kakak berdua,ya?" pinta cici dengan memamerkan wajah polosnya.
"Nggak mau!" jawab Amira dan rangga spontan,refleks membuat Cici terkejut.
"Kompak banget,Cici nggak bakalan ganggu kok,janji deh" ucap Cici berusaha membujuk mereka.
"Mending kita tinggal berdua aja ya sayang,males juga kalau ada Cici." Timpal Amira,Rangga mengangguk saja mendengar ucapan Amira.
"Dasar,orang dewasa memang selalu begitu,giliran lagi sedih aja Cici di cariin. Eh pas udah senang Cici dibuang gitu aja,dikirain aku ini tisu apa?" oceh Cici,Amira dan Rangga hanya senyum-senyum saja mendengar ocehannya.
"Iya tisu buat ngelap ingus." Rangga menambahkan,kemudian mereka berdua sama-sama tertawa,sedangkan Cici mengomel sendiri di kursi belakang kemudi,mereka sudah membuat suasana hati Cici menjadi buruk hari itu.
"Awas aja nanti aku kerjain," gumam Cici yang tidak di dengar oleh mereka.
****
__ADS_1