
Amira terduduk lesu dipinggiran kolam renang,saat itu Amel ada di sampingnya dia terus menemani Amira di sana,kali ini dia akan menjadi pengganti Della,karena biasanya di saat-saat seperti ini Della yang datang untuk menghibur Amira,tapi Della sudah kembali ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu.
"Acaranya sudah selesai apa belum ya?" tanya Mira pada Amel.
"Tuh kan aku bilang juga apa,kamu sebenarnya masih berharap sama Rangga kan,ngomongnya aja nggak peduli" cicit Amel sedikit gemas dengan tingkah laku temannya itu.
"Kamu benar Mel melupakan dia memang susah,sekarang bahkan aku ingin segera pergi ke acara Rangga dan menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan itu." Ungkap Mira mengeluarkan uneg-unegnya." Tapi aku juga tidak boleh bersikap egois,jadi kali ini terpaksa aku harus mengalah" sambungnya lagi dengan pandangan menunduk,dan kakinya di julurkan ke dalam kolam hingga menyentuh air.
Amel menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya. "Kamu tahu Amira terkadang kita dipertemukan tapi tidak untuk di persatukan." Ucap Amel,kata-katanya itu terdengar cukup bijak.
"Benar,seperti aku dan Rangga," lirih Amira.
"Dalam cinta jika rasa sakit karena bertahan lebih besar daripada rasa sakit karena melepaskan,maka belajarlah merelakan." Ucap Amel lagi,dia mulai berpuistis.
"Kata-kata kamu barusan bagus Mel,dapat dari mana?" tanya Amira yang ngebuat amel tersenyum.
"Dari mbah google" jawabnya malu-malu.
"Kamu memang nggak bisa di ajak serius Mira." Ucap Amel kesal.
"Aku memang lagi serius Mel,memangnya kamu pikir aku sedang bercanda?"
"Bukan itu maksudnya,kata-kata yang aku ucapkan itu untuk menghibur kamu,eh kamu malah nanya aku dapat kata-katanya dari mana?" ucap Amel semakin kesal aja.
"Hehe... terlalu sedih juga nggak baik kan.?"
"Ya kamu benar,dan aku juga ikut senang melihat kamu masih bisa tersenyum di saat-saat seperti ini." Tutur Amel,seraya mengambil handphonenya yang sejak tadi bergetar.
"Siapa Mel?" tanya Mira penasaran,ketika melihat Amel yang hanya memandang hpnya tanpa langsung menjawab panggilan yang masuk itu.
"Nggak tahu Mir,nggak ada namanya."
"Di angkat aja dulu,siapa tahu penting." Suruh Mira.
"Hallo." Terdengar suara seorang laki-laki.
"Iya,ini siapa ya?"
__ADS_1
"Hendri Mel,oh ya aku cuma mau bilang kayaknya orang yang di nikahi sama Rangga punya niat terselubung,soalnya aku sudah mencari tahu tentang keluarga dia,dan ternyata ibunya itu masih hidup." Tutur laki-laki di handphone itu.
"Kamu serius?" tanya Amel tidak menyangka dengan info yang di dengarnya.
"Serius lah,nanti aja deh kita bicarakan soal ini,ketemuannya di tempat biasa ya?" pungkas cowok itu sebelum memutuskan percakapan mereka.
"Oke."
"Dia bilang apa Mel?" Amira kayaknya penasaran tu.
"Sepertinya ini semua sudah direncanakan,dan sekarang dia sudah jatuh dalam perangkap gadis itu," jelas Amel yang ngebuat Mira semakin tidak mengerti.
"Perangkap.?" Amira mengulang perkataan Amel dengan ekspresi bingung. "Apanya yang perangkap?" dia bertanya lagi.
"Ya ampun Mira,Rangga itu sudah jatuh dalam perangkapnya Laras,kamu sendiri masa nggak ngerasa ada yang aneh sih,makanya jangan terlalu kebawa perasaan,kan jadinya nggak bisa mikir yang waras." Ucap Amel sembarangan.
"Jadi menurut kamu aku itu gila?" Mira melotot.
"Aduh... kita jangan berantem dulu ya?" pinta Amel karena saat itu kepalanya juga sedang pusing.
"Iya deh,tapi coba bilang dulu sama aku kenapa kamu bisa sampai nyuruh orang untuk menyelidiki tentang asal-usul Laras?" tanya Amira masih penasaran,karena dirinya saja tidak sampai kepikiran untuk mencari tahu tentang asal-usul Laras secara detail,dia hanya mendengar apa yang di katakan oleh temannya Laras saja.
"Cuma itu saja yang kamu dengar?" tanya Amira kurang puas dengan informasi yang di dapatkannya dari Amel.
"Ya itu saja,bukankah aneh kalau mamanya itu menyuruhnya untuk menikahi Rangga,tapi jangan sampai dia jatuh hati sama Rangga."
"Kalau begitu kita benar-benar kena tipu Mel.!" Ucap Amira,volume suaranya sedikit keras sepertinya dia baru menyadari sesuatu.
"Kamu terlihat sangat yakin,memangnya bukti apa yang kamu punya?"
"Temannya bilang kalau Laras itu hidup dengan ibu tiri dan bapak tirinya,dia juga sering di pukuli tanpa alasan,hidupnya sangat menderita itu sebabnya aku kasihan melihat dia,dan kamu kan juga tahu kalau dia mau mengizinkan aku untuk menikah dengan Rangga setelah Rangga menikahi dia." Mira bercerita.
"Nah itu aja sudah terlihat keanehannya,yang aku nampak ni ya hubungan dia sama ibunya saat di rumah sakit waktu itu baik-baik aja,hanya saja aku tidak bisa mendengar semua percakapan mereka,dokternya keburu datang.
"Memangnya saat itu kamu berada dimana hingga bisa mendengar pembicaraan mereka?" tanya Amira,dia semakin tertarik dengan ceritanya Amel.
"Aku berada di luar kamarnya,karena dokternya datang jadi aku langsung kabur deh."
__ADS_1
"Mereka sudah menikah,dan sekarang sudah sah jadi suami istri berarti malam ini..." Amira menghentikan ucapannya,dia mulai membayangkan yang tidak-tidak.
"Rangga tidak akan melakukan hal itu,Rangga hanya mencintai kamu." Amel meyakinkan.
"Tidak,Rangga pasti akan melakukanya,kamu kayak nggak tahu cowok aja." Amira tidak yakin dengan ucapan Amel.
"Kamu harus percaya Mira,dia tidak akan tidur dengan perempuan itu!" Amel sedikit meninggikan suara di akhir ucapannya.
"Mana ada lelaki yang menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga seperti itu,kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi bagaimana kalau kita ke rumah Rangga malam ini?" ajak Amira,dia sekarang benar-benar tidak bisa menahan perasaannya lagi,apalagi kalau benar perempuan itu memiliki niat buruk terhadap Rangga.
"Aku sih setuju-setuju aja." Jawab Amel menyetujui ajakan Amira.
"Oke,kalau begitu kita beraksi malam ini." Ucap Amira penuh semangat,di ikuti dengan anggukan kepala oleh Amel,dua gadis itu terlihat sangat akrab sekarang,bahkan mereka mau bekerja sama untuk melindungi orang yang sama-sama dicintainya dari niat jahat Laras.
******
"Mau kemana sayang?" tanya bu Diandra ketika melihat Mira sudah berdandan dengan sangat cantik,tidak seperti biasanya. Bahkan pak Andi pun terkesima melihat anak tirinya itu.
"Ya ampun Mira papa sampai pangling melihatnya." Ucap papanya takjub.
"Eum,mau bertemu pacar barunya itu." Cici ikut nimbrung.
"Terserah kamu mau bilang apa,yang pasti kamu nggak bakal kakak bawa." Ujar Mira sambil menjulurkan lidahnya ke arah Cici.
"Nggak apa-apa,lagian sebentar lagi om sama tante juga mau jalan-jalan keluar iya kan tante.?" Tanya Cici sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya,kita mau jalan-jalan keluar sebentar lagi,tapi panggilnya kok masih om sama tante,panggil aja mami sama papi." Suruh bu Diandra.
"Iya iya...mami sama papi," ulang Cici.
"Ya sudah ma,Amira berangkat dulu ya." Pamit Amira dia kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya,dan langsung pergi karena Amel sudah menunggunya diluar.
******
__ADS_1