Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Siapa Laras Sebenarnya?


__ADS_3

   Amira dan Amel sudah sampai di rumahnya Rangga,dan sekarang mereka sedang duduk di ruang tamu,di sana juga ada Laras dan bu Anet.


    "Maaf datang kesini malam-malam." Ucap Amira sedikit melirik ke arah Rangga yang duduk di samping mamanya,cowok itu bahkan tidak sedikitpun menatap wajahnya.


   "Ya,nggak apa-apa" jawab bu Anet tersenyum.


  "Mbak Amira datang sama siapa?" tanya Laras yang semenjak tadi diam saja.


  "Aku datang sama Amel." Jawab Amira."


Ma,aku boleh ngomong bentar nggak sama Rangga?" pinta Amira dengan nada suaranya yang pelan. Bu Anet langsung mengangguk,seolah mengetahui kalau kedatangan Amira memang ingin bicara dengan Rangga.


    "Laras,aku bicara sebentar sama Rangga boleh,ya?" Amira kemudian juga meminta izin dari Laras,ya sekarang kan Rangga itu sudah sah jadi suaminya orang,meski mereka nikahnya tidak berdasarkan cinta.


    "Boleh kok,mbak." Jawab Laras lembut di iringi dengan senyumnya.


    Setelah mendapat izin dari mereka Amira langsung menarik Rangga untuk keluar,ada sesuatu hal yang perlu mereka bicarakan,hanya berdua saja tidak boleh ada orang lain.


    "Sudah,lepaskan! Nggak usah di tarik begitu juga,lagi pula aku juga bisa jalan sendiri." Ucap Rangga ketus,dia menepis tangan Amira yang memegang tangannya.


     "Baru beberapa hari nggak ketemu sudah begitu, mentang-mentang sekarang sudah punya istri,aku juga nggak di butuhkan lagi." Amira kesal dengan sikap Rangga yang cuek itu.


     "Mau ngomong apa,cepetan! Aku mau tidur kamu sudah mengganggu malam pengantin aku tahu nggak?" ucap Rangga seperti membentak Amira. Amira terdiam matanya berkaca-kaca,dia berharap kalau dirinya itu salah dengar.


    "Aku nggak salah dengar kan?"


Rangga melihat Amira seperti sangat kecewa dengan perkataannya,jadi dia buru-baru minta maaf,dan segera mengatakan bahwa tadi itu hanya candaan saja.


      "Jangan sedih dong aku tadi cuma bercanda." Ucap Rangga sambil tertawa lucu,karena berhasil ngeprank Amira.


   


      "Canda apaan begitu? Nggak lucu tahu." Ucap Amira memukul gemas bahunya Rangga.


    "Udah,kamu jangan takut aku juga nggak tidur sama dia,kami pisah kamar,dan lagi kita kan juga sudah berjanji untuk menikah,kamu tidak lupa kan?" Rangga kembali mengingatkan.


    "Sebenarnya ada hal yang perlu aku sampaikan sama kamu." Ucap Amira setengah berbisik.


   

__ADS_1


  "Tentang apa?"


    "Kamu harus lebih hati-hati sama Laras ya!" Amira menyuruh Rangga untuk berhati-hati.


    "Kamu juga tahu?" Rangga terkejut mendengar perkataan Amira,jadi sebenarnya mereka itu sudah sama-sama tahu.


    "Iya,aku dapat info dari temannya Amel."


    "Aku menyuruh Devan untuk mencari tahu tentang Laras,kamu pasti berpikir kalau aku akan diam saja tanpa menelusuri asal-usul dia kan?" tebak Rangga.


    "Iya aku pikir calon suamiku ini sangat bodoh."


    "Sembarangan kalau ngomong." Rangga tidak terima dirinya di katakan bodoh oleh Amira.


    "Hehehe iya maaf deh." Amira terkekeh,dia sangat bersyukur karena Rangga rupanya juga sudah tahu bahwa ada kejanggalan dalam kecelakaan hari itu,jadi setidaknya dia bisa lebih berhati-hati dengan Laras hingga motif dia melakukan semua itu terbongkar.


    "Peluk dong.!" Pinta Rangga bertingkah manja.


    "Nggak ah,minta aja sama istri kamu." Ucap Amira sedikit bergeser ke samping agar dia tidak terlalu dekat dengan Rangga,namun Rangga  tetap saja melakukan apa yang di kehendakinya,dia langsung memeluk Amira tanpa menghiraukan Amira yang terus meronta-ronta minta untuk di lepaskan.


     "Lepaskan aku Rangga!" pinta Amira,dia terus berusaha melepaskan dirinya,tapi Rangga memeluknya sangat erat.


    "Janji apa?" tanya Amira,kini Rangga juga sudah melepaskan pelukannya.


     "Ya janji kalau kamu tidak akan meninggalkan aku."


    "Kalau itu aku nggak bisa janji Rangga,tapi aku bisa pastikan kalau aku akan tetap mencintai kamu sampai maut memisahkan."


    "Sama aja kamu ninggalin aku." Ucap Rangga yang membuat Amira tersenyum mendengarnya.


    "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati Rangga sayang,termasuk kamu!" Amira menunjuk ke arah cowok itu.


    "Udah ah,jangan ngomongin mati dulu,seram tahu!" Rangga ingin mengganti topik pembicaraan.


     "Iya iya aku juga nggak mau ngebahas itu dulu,sekarang kita kembali ke permasalahan tadi,besok kamu bisa kan ke rumahnya Amel? Ada sesuatu yang perlu kita bahas mengenai hal ini." Ucap Amira.


    "Tentang Laras ya,aku pasti datang kok,apalagi kalau yang nyuruh datang sang pujaan hati." Ujar Rangga menggoda. Amira hanya mendengus kesal mendengar perkataan cowok itu,dan dia beranjak bangun dari kursi yang di dudukinya untuk kembali masuk ke dalam,setelah dirasa pembicaraannya dengan Rangga cukup sampai disitu aja,karena kalau bicara lama-lama sama Rangga yang ada mah penyakit gombalnya kumat lagi.


 

__ADS_1


     "Lho,sudah selesai ngomongnya?" tanya bu Anet saat Amira sudah kembali masuk ke dalam.


    "Iya Tante,Mira juga harus pulang cepat-cepat,kan Cici juga sendirian di rumah." Jawabnya kemudian.


    "Mau aku anterin?" tawar Rangga.


  "Nggak usah,kan aku perginya sama Amel,yuk Mel kita pulang!" ajak Amira.


     "Ayo.!''


    Amel langsung saja bangun dari duduknya,sebelum pulang Amira memberikan sebuah hadiah untuk Laras,dan itu adalah sebuah kalung permata yang di masukkan ke dalam sebuah kotak,kotaknya saja terlihat mahal.


  "Wah,ini buat Laras mbak?" tanya Laras dengan mata berbinar-binar dia terlihat sangat senang.


    "Iya itu hadiah buat kamu." Jawab Amira lembut.


    "Pasti sangat cantik,sayang sekali aku tidak bisa melihatnya" lirih gadis itu sambil meraba-raba kotak kalung yang ada ditangannya. "Makasih ya mbak,atas hadiahnya." Lanjutnya lagi.


    "Iya sama-sama." Jawab Mira,setelah berpamitan pada Rangga dan bu Anet dia langsung pulang,karena mereka juga harus menemui Hendri.


    "Bagus sekali,kamu bisa membuat Amira sayang sama kamu sampai memberikan kamu hadiah semahal itu,saya saja yang calon ibu mertuanya tidak pernah di kasih barang seperti itu." Ucap bu Anet sinis,sepertinya beliau memang tidak menyukai Laras.


     "Laras kan juga tidak minta ma,mbak Mira yang kasih sendiri." Jawab Laras membela diri.


     "Sudah malam,nggak usah ribut-ribut besok aja dilanjutin lagi." Ucap Rangga melerai


    "Siapa juga yang ribut,mama mau masuk ke kamar dulu kamu antarin Laras ke kamarnya ya,mama mau tidur terus,ngantuk." Mamanya itu langsung pergi,kelihatannya beliau cemburu deh karena Amira terlihat sangat peduli dengan Laras.


   "Apa mama marah ya kak sama aku?" tanya Laras.


   "Mama memang begitu,tapi hatinya baik kok,nggak usah di ambil hati." Ucap Rangga menghibur.


                    ****


   "Hebat sekali kamu Mira,bisa memberikan hadiah untuk Laras,pasti punya niat yang nggak baik nih" tebak Amel saat mereka masih dalam perjalanan untuk bertemu dengan Hendri.


    "Aku tidak punya niat jahat kok Mel,itu ikhlas dari hati aku yang paling dalam,aku hanya ingin menanam kebaikan di hati dia,jadi kalau dia memiliki niat jahat terhadap aku juga,maka dia akan berpikir seribu kali untuk melakukannya." Ucap Amira apa adanya.


 

__ADS_1


....*****....         ....*****....


__ADS_2