Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Ternyata Temannya Papa


__ADS_3

      Begitu sampai di rumah,Amira langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur,dia bahkan tidak peduli dengan ocehan Cici dari tadi yang menyuruhnya untuk segera mandi.


      "Bangun dulu! Nggak baik lho kak tidur jam segini,sudah hampir maghrib mandi sana! tubuh kakak bau tahu!?" cibir Cici,dia menutup hidungnya padahal itu cuma sandiwaranya dia aja.


      "Ah banyak omong kamu." Ucap Amira cuek,dia memang kepanasan tapi badannya juga sudah sangat lelah,hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi Amira.


      "Mandi dulu kak,nanti sehabis mandi dan shalat maghrib Cici pijitin deh." Suruh Cici,sekaligus membuat janji.


      "Tumben kamu baik,pasti ada maunya ni," tebak Amira mulai curiga.


       "Lagi baik dibilang ada maunya,kalau lagi nggak baik dibilang nggak berbakti,kakak ini gimana sih?" ucap Cici kesal.


       "Iya iya maaf,Cici memang lagi baik,ya sudah kakak mandi dulu." Amira pun mengambil handuknya dan bergegas ke kamar mandi,di belakang Amira Cici tersenyum,sepertinya dia memang sedang merencanakan sesuatu.


                          *****


        "Sudah selesai Ci?" tanya bu Diandra,Cici saat itu masih memijit kakinya Mira,dengan wajah murungnya dia menatap ke arah wanita itu.


        "Belum mi,Cici harus mijit kak Amira dulu,katanya badan kakak pegal-pegal semua." Ucap Cici dengan wajah polosnya,bu Diandra berjalan lebih dekat dengan mereka,Amira yang saat itu posisinya sedang tidur tengkurap tidak menghiraukan sama sekali akan kedatangan mamanya,dia menikmati pijitannya Cici yang membuat pegal-pegal di tubuhnya sedikit berkurang.


       "Keenakan kamu ya,pergi main terus pulang nyuruh Cici buat mijitin kamu lagi,seharian kamu ninggalin dia sendirian,kamu ini jadi kakak gimana sih?" ucap bu Diandra memarahi Amira sambil memukul bokongnya dengan bantal.


       "Aduh! Mama kok jadi marah-marah sama Amira." Ucap Amira,kini dia sudah merubah posisi tidurnya,dengan duduk di tepi ranjang dan menatap kesal ke arah Cici.


"Pasti ni anak sengaja," batin Amira,saat itu Cici sedang menahan tawanya.


      "Bagaimana mama nggak marah,sudah beberapa hari ini kamu jarang di rumah,pergi pagi pulang malam,bahkan nggak punya waktu untuk sekedar nemenin mama sama Cici,nah sekarang nyuruh adek kamu buat mijitin kamu lagi,keenakan sekali kamu." Omel bu Diandra.


       "Amira lagi punya banyak urusan ma." Jawab Amira membela diri.


      "Nggak ada alasan,mama nggak mau tahu! Pokoknya sekarang kamu pakai baju yang bagus kita makan malam di luar!" tegas bu Diandra,Amira langsung bisa menebaknya,ini semua pasti rencananya Cici sama mama.


       "Besok aja ya ma,Amira capek pengen tidur cepat,mama ajak Cici aja." Jawab Amira sambil menarik selimutnya hendak tidur,namun bu Diandra dan Cici langsung menarik tangannya agar dia bangun.


      "Bangun! Jangan tidur dulu,malam ini kamu harus ikut mama,nggak ada alasan capek atau apalah itu,siapa suruh akhir-akhir ini nggak punya waktu buat kita," ucap mamanya,kini giliran bu Diandra yang cemberut,kalau sudah begini Amira tidak punya cara lain selain mengikuti keinginan dua orang di depannya.

__ADS_1


       Cici sendiri begitu kegirangan karena Amira juga ikut,dia bahkan sangat semangat ketika menyuruh bu Diandra untuk mengepang rambut panjangnya.


      "Di kepang yang rapi ya mi!" pinta gadis kecil itu.


      "Oke tuan putri." Ucap bu Diandra.


      "Dikepang yang rapi ya mi!" Amira mengulang ucapan Cici tadi. Cici dan bu Diandra hanya diam saja mendengar Amira mengulang ucapan Cici tadi,mereka cuek-cuek aja enggak peduli sama sekali.


     "Kak Amira lagi kesal kayaknya," bisik Cici.


  


    "Iya,biarkan saja dia memang begitu," jawab bu Diandra pelan.


                              *****


       "Wah kayaknya makanannya enak semua." Ucap Cici saat melihat hidangan di atas meja,tapi dia sama sekali tidak menyukainya,lobster,cumi,ayam panggang,Cici tidak biasa makan makanan seperti itu.


       "Kok diam saja Ci,di makan dong tadi katanya enak." Ucap pak Andi saat melihat Cici yang hanya diam saja menatap makanan di depan mereka,begitu juga dengan Amira.


      "Kita mau nasi goreng aja." Ucap mereka bersamaan.


Bu diandra baru ingat kalau Amira tidak suka makanan seperti itu,dia dan Cici sama,mereka berdua sama seperti papanya,pak Aryo.


      "Oh iya,mama lupa kalian berdua lebih suka nasi goreng ya?" bu Diandra kemudian segera memesan nasi goreng untuk mereka berdua.


     "Haha..." Pak andi kemudian tertawa,dan tawanya itu membuat mereka heran,apanya yang lucu hingga beliau tertawa begitu.


     "Kenapa pa,apa ada yang lucu?" tanya istrinya.


      "Itu ma,wajah mereka berdua lho lucu bangat kalau cemberut begitu,udah wajahnya mirip lagi" ungkap pak Andi masih terkekeh.


      Amira dan Cici saling pandang,dan kemudian mereka sama-sama memalingkan wajahnya ke arah lain,apa mereka berdua sedang marah?


       "Iya ya pa,lucu gitu," ucap bu Diandra membenarkan. "Lagian kalian berdua ngapain cemberut begitu? Lagi ngambek sama siapa coba? "tanya bu Diandra penasaran.

__ADS_1


    "Sama mama dan papa." Jawab Mira.


      "Kamu Cici?" tanya pak Andi.


      "Sama." Jawab Cici singkat.


       "Kok gitu,emang kita salah apa?" bu Diandra bingung,dengan tingkah dua kakak beradik di depannya itu.


       "Mami sama papi ngajakin kita kesini,tapi pesan makanannya nggak ada satupun yang Cici dan kak Amira suka," jelas Cici masih ngambek. Sedangkan Amira pandangannya mulai terfokus ke arah dua orang yang tampak tidak asing baginya.


     "Lho,itu bukannya orang-orang yang mengaku menjadi orang tuanya Laras" gumam Amira,dia melihat dua orang tua palsunya Laras bertemu dengan seorang wanita,yang dapat diperkirakan usia wanita itu seumuran dengan mamanya.


     "Kamu fokus bangat Mira,lagi ngelihatin siapa sih?" tanya bu Diandra sambil toleh sana sini melihat apa yang sedang Amira perhatikan saat itu.


      "Itu lho ma,ibu-ibu yang memakai baju warna merah,dan satunya lagi abu-abu," tunjuk Amira,tiga orang itu duduk di kursi yang kebetulan terletak di awal pintu masuk,jadi bu Diandra dapat melihatnya dengan jelas.


      "Itu Lidia,temannya papa dan dua orang itu adalah rekan kerjanya dia." Yang di jawab pak Andi,suaranya tidak terlalu jelas karena mulut beliau penuh dengan makanan,tapi meskipun begitu Amira tahu apa yang papanya katakan.


        "Semakin seru ni kayaknya!" gumam Amira.


        "Kak Amira masih nyari informasi tentang kak Laras ya?" tanya Cici,dia memang tahu apa yang dilakukan oleh Amira akhir-akhir ini sampai dia sangat sibuk,dan tidak punya waktu untuk mengajaknya jalan-jalan.


        "Iya,dan sekarang kakak sudah dapat informasi lain,nanti pulang dari sini kak Amira bakal nanya soal tante itu sama papa" bisik Amira di telinga Cici.


        "Kalian lagi ngomongin apa,kok bisik-bisik gitu.?" Tanya bu Diandra penasaran.


        "Rahasia.!" Mira dan Cici menjawab kompak,membuat bu Diandra hanya bisa gigit jari diperlakukan begitu oleh dua kakak beradik itu,begitu pesanannya datang Amira dan Cici langsung saja memakan makanan mereka tanpa menghiraukan tatapan mamanya yang di buat jengkel dengan jawaban menyebalkan mereka tadi.


      "Pa,nanti setelah pulang dari sini tolong ceritain sedikit tentang teman papa itu,ya?" pinta Mira.


      "Iya!" pak Andi hanya menjawab singkat,karena dirinya sedang menikmati makan malam yang menurutnya sangat lezat itu.


                          *****


    

__ADS_1


__ADS_2