Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Bertemu Mama


__ADS_3

    Pak Andi tidak tahu harus berbuat apa,Dimas dan Aura juga sama khawatirnya,mereka ingin menyuruh Amira datang untuk menjenguk mamanya itu juga tidak mungkin,Amira sendiri pun juga masih kurang sehat.


   "Bagaimana ini kak? dokter bilang kita harus membawa Amira,aku tidak mau mama berbuat hal nekat seperti tadi." Ucap Aura sedih.


   "Ya,yang mama butuhkan saat ini adalah Amira,kamu benar kalau kita tidak mempertemukan mama dengan Amira,bisa jadi mama akan kembali melukai dirinya sendiri." Tambah Dimas.


   "Papa tidak menyangka,mama sampai depresi seperti ini." Lirih Pak Andi.


    Beberapa jam yang lalu.


  "Sini,biar Aura bantu ngupasin." Pinta gadis itu,perasaannya tidak enak saat melihat mamanya memegang pisau.


   "Nggak usah! Mama bisa sendiri" jawab Bu Diandra sekilas.


   Dengan hati deg degan Aura terus mengawasi mamanya yang sedang mengupas kulit buah mangga di tangannya,melihat tidak ada sesuatu yang terjadi,Aura pun bangun dari duduknya dan melangkah keluar,namun baru beberapa langkah dia berjalan,tiba-tiba dia mendengar ada sesuatu yang jatuh ke lantai,dan itu adalah pisau yang tadi di pegang ibunya,bersamaan dengan itu juga mamanya jatuh kelantai dengan bersimbah darah,wanita itu melukai pergelangan tangannya sendiri,Aura ketakutan dia panik,dan kemudian memanggil papanya.


        *****


     Dua hari kemudian Bu Diandra sudah diperbolehkan pulang,jadi Aura dan Dimas sepakat untuk datang kerumah Rangga dan meminta Amira agar mau menemui mamanya.


   "Kalau Amira masih tidak mau bagaimana kak?Apa kita akan memaksa dia?"


   "Ya nggak mungkinlah Ra,Amira kan juga belum ingat apa-apa,kita juga tidak boleh membebani dia Selama ini dia sudah cukup menderita hidup bersama kita." Ujar Dimas,dia masih fokus menyetir.


  Mendengar jawaban kakaknya,Aura jadi diam,apa yang di katakan Dimas memang benar,Amira sudah cukup menderita selama ini,tidak boleh membebani dia lagi.


       


  ******


    "Jadi tujuan kalian ke sini untuk mengajak Amira ke rumah kalian?" tanya Rangga dingin.


   "Ya,kondisi mama saat ini sedang tidak baik-baik saja." Yang di jawab Aura.


   "Tanya sendiri sama Amira apa dia mau ikut kalian?" ucap Rangga melirik ke arah Amira,tatapan matanya seperti tidak mengizinkannya untuk ikut,tapi Amira tidak peduli dengan Rangga,terserah dia mau memberi izin atau tidak yang pasti Amira tetap akan ikut.

__ADS_1


   "Amira mau..." tuturnya kemudian,Aura sangat senang,tanpa sadar dia bangun dan memeluk adiknya yang duduk di samping Rangga.


   "Kamu mau Mira? Makasih,makasih bangat,mama pasti sangat senang." Aura terharu matanya berkaca-kaca.


   "Kamu lihat kan?" ujar Dimas pada Rangga,Rangga hanya bisa mendengus kesal.


  "Apa benar kalian keluarga aku?" tanya Amira saat Aura sudah melepaskan pelukannya.


  Dengan penuh semangat Aura mengangguk mantap "Iya,kita ini keluarga" Aura membenarkan.


  "Kalau begitu kak Aura tolong bantu aku ke kamar." Pinta Amira.


  Dengan senang hati Aura membantunya,dia menyuruh Dimas mengangkat tubuh Amira untuk di pindahkan ke kursi rodanya,tapi Rangga mencegahnya dan bilang "Biar aku saja,aku kan suaminya."


  Mendengar ucapan Rangga,Dimas tertawa. "Hahaha..." tawanya pun lama,membuat semua orang heran dengan tingkahnya,sepertinya cowok itu sedang menertawai ucapan Rangga tadi "Rangga ini benar-benar bodoh dia lupa apa,kalau dia itu cuma suami pura-pura aja." Batin Dimas.


   "Nggak usah,aku ini juga kakaknya,kamu jangan lupakan itu." Dimas mengingatkan.


 .   ******


   "Kamu kenapa membawa semua baju kamu Mira?" tanya Aura penasaran.


  "Kalian ada masalah?"


  "Tidak." Jawab Amira singkat.


   "Rangga berlaku buruk sama ka..


   "Rangga baik kok sama aku sebagai suami sandiwara" jawab Amira,diakhir perkataannya dia sengaja mengecilkan volume suaranya,tapi Aura tetap bisa mendengarnya dengan jelas


   "Suami sandiwara,suami pura-pura? Apa maksud perkataannya,jangan-jangan ingatan Amira sudah kembali,iya dia tadi memang bilang sandiwara,aku yakin aku nggak salah dengar" batin Aura,tapi dia berpura-pura tidak mendengar apa yang tadi di ucapkan Amira.


   "Kamu yakin tidak ada masalah?" Aura memastikan.


   "Iya yakin,sebenarnya aku ingin menunggu sampai oma pulang,tapi tidak apa-apa juga sih,nanti kasih tahu oma,kalau aku sudah pulang ke rumah lewat telepon saja," tutur Amira sambil terus merapikan bajunya dan memasukkannya dalam koper.

__ADS_1


   *****


    "Lho,kok banyak bangat bajunya? Kamu mau nginap setahun di sana?" tanya Rangga,dia bingung kenapa Amira membawa baju se koper.


  "Masih ada sisanya tuh di lemari." Jawab Amira acuh tak acuh matanya bahkan tidak melihat Rangga sedikit pun.


  "Aku ikut."


  "Jangan.!!" mereka menjawab kompak,yang membuat Rangga semakin heran.


  "Ada apa dengan mereka bertiga?" dia bertanya dalam hatinya.


  "Aku cuma pergi sebentar,nanti kalau oma tanya aku dimana,jawab saja aku pulang sebentar untuk menjenguk mama." Amira langsung meminta Aura untuk segera membawanya ke mobil.


   Rangga hanya bisa melihat kepergian Amira,dia itu hanya suami pura-puranya saja,sekarang dia baru mengerti dengan perasaannya,dia sebenarnya masih mencintai Amira. Amel hanya pelampiasannya saja.


 . *****


    Kini amira sudah berada kembali di rumahnya,Pak Andi juga berlaku sangat baik kepadanya,bahkan memesan makanan kesukaan Amira.


Sebenarnya dia sangat bahagia,dia merasa bahagia sekarang,kebahagiaan yang selalu di rindukannya,sekarang dia mendapatkannya.


   "Kamu kembali sayang,kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Bu Diandra,hati Amira terenyuh melihat wajah pucat sang mama,wanita itu terlihat kurus,tidak seperti beberapa waktu lalu,mamanya benar-benar sangat menyesali semua yang telah dilakukannya dulu.


  "Amira...!!" panggil mamanya pelan, "kamu sudah memaafkan mama?" tanya wanita itu lagi saat Amira masih terus melamun,pikirannya pun sebenarnya sedang tidak fokus,dia masih tidak yakin untuk mengatakan kebenaran kalau dia sebenarnya sudah mengingat semuanya.


   "Amira memang sudah mengingat semuanya ma,Amira sudah ingat kalian semua,Amira tidak marah sama mama." Jawab Amira,dia menangis,ternyata Amira tidak lagi sekuat dulu,biasanya dia selalu bisa menyimpan air matanya,menyembunyikan kesedihannya,tapi beberapa hari terakhir ini entah kenapa dia begitu mudah menangis,hatinya sakit.


  Bu Diandra memeluk Amira,berusaha menenangkannya,tapi ternyata tidak bisa,tangisannya makin lama makin kuat,hingga membuat Aura,Dimas dan papanya yang menunggu di luar kamar pun masuk,dan melihat keadaan Amira.


  "Hiks!!" Amira masih menangis dalam pelukan mamanya,kepalanya tiba-tiba sakit,semua yang pernah terjadi di kehidupannya itu seolah berputar-putar di pikirannya seperti kaset rusak,dia tidak tahan benar-benar sangat mengganggu.


  "Amira sudah,jangan menangis lagi,kami tidak akan meninggalkan kamu lagi." Aura meyakinkan.


  "Mama ada di sini nak,mama janji mama akan menyayangi kamu seutuhnya." Tambah sang mama.

__ADS_1


  Rangga dan papanya hanya diam,tidak tahu harus berbuat apa,dan ujung-ujungnya Amira pingsan lagi,membuat mereka semua panik.


   


__ADS_2