
"Tidak ada siapapun ma,Laras hanya sendirian disini." Jawab gadis itu,dia sepertinya sedang bicara dengan mamanya.
"Kamu harus bisa melenyapkan bu Anet,target kita bukan Rangga kamu ingat itu! Dan jangan sampai ketahuan" pesan mamanya.
"Baik ma,Laras juga akan berhati-hati agar niat kita ini tidak ada siapapun yang mengetahuinya." Ucap Laras sebelum dia mengakhiri obrolan dengan mamanya.
"Aku akan pastikan bu Anet tidak akan hidup tenang" gumam Laras,dia mencengkeram erat selimutnya seperti sedang menahan emosi.
Laras kemudian meletakkan handphonenya di samping bantalnya,sebelum tidur Laras mengganti bajunya dulu dan dia berjalan dengan lancarnya menuju lemari,dan hei lihat!! dia bahkan tidak perlu meraba-raba lagi seperti tadi di depan Rangga,ternyata Laras tidak buta dia hanya pura-pura saja.
******
"Lalu,apa motif dia melakukan semua ini?" Rangga semakin bingung,apalagi mereka tidak mendapatkan banyak informasi mengenai Laras.
"Soal itu aku juga belum tahu Ga." Jawab Amel.
"Apa mama kamu punya musuh?" tanya Mira,sebenarnya dia sudah ingin menanyakan hal ini sejak tadi.
"Musuh? Aku rasa mama dan papa aku tidak punya musuh,tapi nggak tahu kalau mama Anet." Jawab Rangga.
"Apa mama kamu memiliki suatu rahasia yang kamu tidak tahu" tambah Amel.
Rangga menyipitkan matanya, sepertinya dia baru mengingat sesuatu.
"Kamu ingat sesuatu Rangga?" tanya Amira penasaran,saat itu mereka semua hanya bisa menerka-nerka saja.
"Apa ini ada hubungannya dengan pak Samuel?"
"Siapa pak Samuel?" tanya Amel dan Mira hampir barengan.
"Beliau dulunya pernah bekerja di perusahaannya papa di bagian keuangan." Jawab Rangga kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Lalu sekarang pak Samnya dimana?" tanya Mira.
Rangga membuang nafasnya dengan kasar dan menjawab dengan suaranya yang terdengar lemah" Beliau sudah meninggal."
Amel dan Mira saling pandang,sepertinya sekarang mereka tidak punya cara lain selain menceritakan hal ini pada bu Anet.
"Kayaknya kita nggak punya cara lain deh Ga,selain menanyakan langsung hal ini sama mama kamu." Ucap Amel memberi saran.
"Aku akan menanyakannya sendiri nanti,tapi kalau di rumah tentu saja tidak aman karena di sana ada Laras."
"Soal Laras biar aku yang urus,karena nanti sore aku bakalan datang lagi ke rumah kamu." Ujar Amira sambil melirik ke arah Rangga dan tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Alasan,padahal kamu memang tidak bisa jauh-jauh dari aku kan?" tanya Rangga dia memutar bola matanya dengan malas. Amel terkekeh melihat kelakuan mereka.
"Sepertinya kalian memang tidak bisa di pisahkan,kalian tenang aja aku akan secepatnya membereskan masalah ini,supaya kalian bisa cepat-cepat menikah." Ucap Amel penuh semangat,dia bahkan tersenyum lebar saat itu,membuat Amira dan Rangga merasa heran.
"Semangat bangat Mel,kayak kamu aja yang mau nikah." Tutur Rangga.
"Iya benar tu." Amira membenarkan, "Awas ya jangan sampai kamu malah jadi pelakor nantinya" lanjutnya kemudian.
"Sembarangan kalau ngomong,aku ini tidak suka Rangga menikah dengan perempuan lain,kecuali kamu" ungkap Amel,biar mereka nggak salah paham.
"Sudah...sudah,kalian kok malah sibuk memperebutkan aku sih." Rangga berusaha melerai,tapi kata-katanya itu terdengar sangat menyebalkan.
"Idih...kepedean ini orang" cibir Amira.
"Iya,siapa juga yang ngerebutin kamu,jangan sok kecakepan deh" tambah Amel.
"Yang tadi barusan itu apa juga?" tanya Rangga.
"Mel,kayaknya pembahasan kita mengenai Laras cukup sampai disini aja dulu ya,dan otaknya Rangga juga perlu di ademin dulu."
"Lho,kita kan belum selesai ngomongnya" cegah Rangga saat Amira mengambil tasnya hendak pulang.
"Iya Mira,kita lanjutin nanti malam aja lagi,dan aku juga perlu bertemu Hendri."
"Galak bangat,sama kayak Amira." Ucap Rangga pada Amel.
"Biarin!" jawab Amel cuek,dan setelah kepergian kedua temannya,dia segera menelpon Hendri dan menyuruh cowok itu untuk datang ke rumahnya.
*******
Sorenya Amira kembali datang kerumah Rangga,dan kali ini dia bukan ingin bertemu dengan Rangga melainkan ingin mengobrol dengan Laras,sekarang mereka berdua sudah ada di taman belakang,tempat di mana biasanya Mira dan Rangga menghabiskan waktu berdua sambil menikmati pemandangan sore yang indah.
"Ras,bagaimana rasanya tinggal disini,tante baik kan sama kamu?" tanya Mira.
"Mama ya gitu,belum bisa menerima keberadaan aku disini." Jawab Laras sedih.
"Sabar aja dulu,nanti tante juga bisa bersikap baik sama kamu,sama seperti aku sebelumnya Ras." Amira mencoba menghiburnya.
"Jadi mbak juga begitu dulunya?" tanya Laras,dia sepertinya penasaran dengan cerita Amira,sebenarnya sih Amira sedang berusaha mencari informasi dari Laras,tentang siapa gadis itu sebenarnya.
__ADS_1
"Iya,dulu tante juga tidak terlalu suka sama aku,tante terlalu sayang sama Rangga jadi tante tidak mau Rangga menikahi wanita sembarangan tanpa tahu asal-usul keluarga orang tersebut,kamu itu beruntung Laras." ucap Mira di akhir kalimatnya,suaranya terdengar parau dan Laras tahu kalau saat itu Amira tengah bersedih.
"Kalau mbak Amira mau menikah dengan kak Rangga sekarang,aku nggak keberatan kok."
"Aku tidak mungkin menikah dengan Rangga di saat seperti ini,apalagi kalian baru saja menikah apa kata orang nantinya." Ujar Amira,dan entah kenapa Laras merasa sangat bersalah mendengar penuturannya (Amira).
"Maafkan aku mbak Mira,karena kecerobohan aku sendiri,mbak Mira jadi korbannya" ucap Laras semakin merasa tidak enak dengan Amira.
"Kamu tidak salah kok,itu semua adalah musibah."
"Mbak Amira orang baik siapa pun yang mendapatkan cintanya mbak,pasti dia akan menjadi orang yang sangat bahagia" puji Laras tulus.
"Aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Amira kini dia mulai terlihat serius.
"Boleh,memangnya mbak mau nanya apa?"
"Yang hari itu di rumah sakit siapanya kamu?" tanya Amira,dia padahal sudah tahu siapa mereka,tapi entah apa niatnya hingga menanyakan lagi hal yang sudah diketahuinya.
"Mereka itu kedua orang tua tiriku,mbak."
"Mereka baik sama kamu?" Mira terus bertanya,dia tidak akan berhenti sebelum mengetahui siapa Laras sebenarnya,dan untuk apa dia melakukan semua ini.
"Baik,tapi tidak terlalu baik."
"Maksudnya.?" Mira sedikit bingung dengan jawabannya Laras.
"Mereka itu baik sama aku,tapi kadang-kadang aku juga sering di pukuli tanpa alasan yang jelas." Jawabnya,sejauh ini Amira masih belum merasa ada yang aneh dengan Laras,karena jawabannya itu sama seperti yang dikatakan oleh temannya sendiri kepada Amira.
*****
"Jadi mama sama sekali tidak tahu siapa keluarganya pak Samuel?"
"Tidak,mama tidak tahu soal keluarga dia." Jawab bu Anet sekali lagi."
"Padahal ini sangat penting lho,ma" jelas Rangga,dia ingin mamanya mengatakan sesuatu yang mungkin di rahasiakan dari dia.
"Sebenarnya kamu untuk apa sih menanyakan tentang pak Sam?"
"Mama pasti menyembunyikan sesuatu dari aku kan?" kini Rangga mulai curiga,saat melihat perubahan di wajah mamanya,mamanya itu terlihat gelisah setiap kali menyebut nama pak Sam.
*******
__ADS_1