
"Tidak apa-apa pa,Dimas benar. Kamu pikir selama ini mama hanya duduk diam saja tanpa mencari tahu di mana keberadaan Amira,mama sudah berusaha mencari dia kemana-mana tapi tidak ketemu juga." Bu Diandra menjelaskan,nada suaranya mulai terdengar melunak.
"Omong kosong !" ucap Dimas sinis. Kini dia mulai terlihat benar-benar marah.
"Kak Dimas hentikan! Kenapa juga kamu bersikap seolah peduli pada Amira,bukankah dari dulu kamu sudah sangat membencinya." Tuding Aura.
"Dengar ya Aura,dari dulu aku tidak pernah sekali pun membenci Amira,aku hanya tidak berani menampakkan rasa sayang itu,sebab aku tahu Amira benci sama kita,karena mama lebih menyayangi kita dari pada dia,sekarang lihat apa yang sudah kita perbuat? Papa bahkan tega ngusir dia dari rumah cuma gara-gara kaki kamu yang sakit itu,padahal sekarang kamu sudah bisa berjalan normal. Tapi papa sama Sekali tidak pergi mencari dia,dan mengajaknya pulang,apa ini adil untuk dia?" Dimas marah,nafasnya naik turun,dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.
"Jangan salahkan papa,mama juga bersalah." Ujar Bu Diandra.
"Ya memang,mama juga bersalah,lebih bersalah karena hari itu mama tidak sedikit pun membela Amira di depan papa,jangan karena rasa benci mama kepada mantan suami mama yang berselingkuh dengan wanita lain,mama jadikan Amira sebagai pelampiasannya." Tambah Dimas sedikit membeberkan masa lalu ibu tirinya,Aura dan papanya tidak terkejut sama sekali,karena mereka memang sudah tahu sejak dulu,setelah setahun Bu Diandra menikah dengan pak Andi,hanya Amira yang tidak tahu hal ini,kalau saja dia tidak bertemu dengan papanya beberapa waktu lalu,maka sampai sekarang pun dia masih belum tahu.
"Aku akan pergi lagi untuk mencari Amira,dan aku akan mengatakan alasan kenapa selama ini mama sangat membenci dia."
"Dimas kamu jangan lakukan hal itu,dari kecil Amira sangat menyayangi papanya,mereka berdua sangat dekat,dia akan terluka jika mengetahui hal sebenarnya." Pinta Bu Diandra.
"Mama benar kak,dia tidak boleh tahu tentang hal ini." Aura ikut meyakinkan.
"Kenapa juga kamu peduli,bukannya kamu juga senang kalau dia menderita?" Dimas tersenyum sinis,Aura merasa bersalah,dan dia hanya bisa diam mendengar ucapan kakaknya yang menohok itu.
__ADS_1
"Pergi dimas! Lakukanlah sesuka hati kamu," suruh Pak Andi.
"Papa kok bicara gitu,bukannya menghentikan dia." Bu Diandra kesal.
"Dia tidak akan berani,papa kenal betul dengan dia,Dimas tidak akan bersikap gegabah." Pak Andi menenangkan,Dimas yang sudah berada di depan pintu masih bisa mendengar perkataan papanya dengan jelas.
"Tapi tidak kali ini pa,kali ini aku pastikan Amira tahu semuanya." Tekadnya dalam hati.
\*\*\*•••••\*\*\*\*
Rangga sedang menunggu montir datang untuk memperbaiki mobilnya yang mogok tiba-tiba,dia sangat kesal saat itu,padahal dirinya sedang buru-buru hari ini dia ada janji dengan Amel,kalau terlambat sedikit saja gadis itu pasti marah-marah,mau naik taksi pun tidak mungkin,sebab dia tidak akan meninggalkan mobilnya sembarangan di jalan. Saat dia lagi uring-uringan sendiri,matanya melihat sosok gadis yang sangat di kenalnya,dan gadis itu berada di seberang jalan.
Amira terus berjalan melintasi jalan raya,dia bahkan tidak melihat kiri kanan dan kendaraan yang berlalu lalang,dia tidak melihat dari kejauhan tampak sebuah mobil truk yang melaju kencang,Amira seperti tidak sadar saat berjalan mobil itu semakin dekat,Rangga berusaha memanggilnya tapi ...
Bruukk...!!!
__ADS_1
Dia terlambat tubuh Amira terpental beberapa meter,kepalanya mengeluarkan cukup banyak darah,orang-orang yang melihat kejadian itu mereka menjerit histeris,mereka tidak langsung datang untuk membantu,sesaat waktu seolah berhenti,angin berhembus pelan,Rangga terdiam nafasnya seolah ikut berhenti,Amira masih di sana dia masih tersadar,dia masih membuka matanya menatap langit yang tampak cerah,dia merasakan sakit di tubuhnya. Gadis itu berusaha menyeret tubuhnya ke tepi jalan,miris... saat itu orang-orang baru datang untuk membantu,Rangga berlari ke arahnya,sopir truk tadi pun turun dia ingin membantu,tapi orang-orang disana malah memukulinya.
Amira yang masih tersadar meski pandangannya mulai tampak kabur,dia menyuruh orang-orang itu berhenti.
"Jangan... Jangan pukuli bapak itu saya yang salah." Suaranya terdengar lemah.
"Amira... Amira,kamu harus sadar,kamu tidak boleh tidur,aku akan membawa kamu ke rumah sakit." Rangga menangis,kini jelas terlihat bahwa dia masih mencintai Amira.
Dia terlihat takut,takut amira pergi. Rangga memeluknya,Amira masih tersadar tiba-tiba dia tersenyum,Rangga memeluknya itu artinya Rangga masih peduli padanya.
"Aku...ak- aku bahagia untuk saat ini, kalau pun harus pergi sekarang tidak apa,aku sudah bisa. Disini bukan tempat ku lagi,tidak ada ya...yang mau menerima ku,aku minta maaf untuk beberapa waktu yang lalu karena sudah membohongi kamu bertahun-tahun lamanya,ak..." ucapan Amira terhenti dia batuk beberapa kali dan mengeluarkan darah dan saat itu matanya terpejam.
Rangga semakin kalut,saat itu mobil ambulance baru datang,orang-orang yang mengerumuni mereka tadi pergi satu persatu,Rangga masuk ke dalam mobil ambulance itu. Hatinya sangat khawatir,dia terus memegang erat tangan Amira,tangannya terasa dingin,Rangga bahkan tidak peduli dengan bajunya yang sudah terkena darah yang penting sekarang adalah keselamatan Amira.
\*\*\*\*\*\*"•••••••\*\*\*\*\*\*
Keluarga Pak Andi sekarang sedang menunggu di luar ruang operasi,Amira kehilangan banyak darah,kepalanya juga mendapat beberapa belas jahitan,tidak bisa di bayangkan betapa sakitnya dia di sana.
__ADS_1
Diantara mereka tidak ada yang bicara,semua menunggu dengan harap-harap cemas,tangan Rangga masih terus gemetaran,dia masih terbayang saat Amira kecelakaan tadi,Pak Andi juga tampak khawatir,begitu pula dengan Bu Diandra,Aura yang ada di sana terus berdoa dalam hatinya semoga Amira selamat,dan operasinya berjalan dengan lancar.
Dimas tidak kalah gelisahnya,dia juga masih sangat marah,ingin rasanya dia memaki orang-orang di sampingnya ini,karena mereka ikut andil dalam membuat Amira menjadi seperti ini. Kalau saja papanya bisa bersikap bijak mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.