
"Apa sudah ada kabar mengenai keberadaan mama kamu?" tanya Amira langsung ke intinya.
"Tidak ada mbak,dua hari yang lalu aku sempat memergoki mama sedang bertemu dengan dua rekan kerjanya,om Agus sama tante Devi,tapi karena melihat kedatanganku mama akhirnya kabur lagi," ungkap Laras.
"Apa om Agus sama tante Devi bekerja sama dengan mama kamu?" tanya Amel menaruh rasa curiga dalam hatinya.
"Tidak mbak,aku sudah menemui mereka dan mereka mengatakan semuanya,mereka juga sudah pergi ke kantor polisi untuk memberi keterangan," jelas Laras lebih lanjut.
"Sebenarnya dendam apa mama kamu sama tante Anet?" tanya Amira dia berharap laras mengetahuinya.
"Tante Devi bilang,mama itu sangat mencintai papanya kak Rangga,tapi beliau tidak mencintai mama aku sama sekali,pak Erick saat itu lebih memilih mama Anet untuk menjadi istrinya,di saat itulah permusuhan mereka di mulai." Tutur Laras menceritakan.
"Kamu yakin ceritanya seperti itu?" tanya Amira masih tampak ragu.
"Kata tante sih begitu,tapi untuk lebih jelasnya mbak bisa menanyakan langsung kepada mamanya kak Rangga." ucap Laras.
"Iya Mir,bukankah tante Anet belum menceritakan apapun tentang sebab tante Lidia sangat membenci beliau?" timpal Amel mengingatkan.
"Aku juga baru sadar akan hal ini Mel,kalau begitu pulang nanti kita tanyakan langsung masalah ini pada tante,supaya semuanya jadi lebih jelas dan cepat selesai."
"Setelah ini apa rencana kamu selanjutnya Ras?" lanjut Amel bertanya,dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.
"Aku akan terus berusaha mencari mama,mungkin mama bersembunyi di rumah kawannya yang tidak aku kenal,atau di suatu tempat yang tidak akan aku curigai sama sekali." Ucap Laras.
"Memang ada tempat seperti itu?" tanya Amira.
"Ada!"
"Dimana?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Di rumah lama kami." Jawab Laras,dan Amira semakin bersemangat saat mendengarnya,dia berharap semoga aja tante Lidia memang benar-benar ada disitu,jadi mereka tidak perlu lagi merasa khawatir dengan keselamatan tante Anet.
"Lho,bukankah tempat seperti itu yang paling mungkin kita curigai?" tanya Amira heran.
"Tidak mbak,karena mama pernah bilang kalau dia tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi,sebab dengan kembali ke sana hanya akan membuat mama semakin terpuruk,karena akan terus teringat dengan almarhum papa." Ucap Laras menceritakan.
*****
"Mir aku pulang duluan ya,maaf ya aku nggak bisa menemani kamu soalnya perut aku sakit banget,nggak bisa diajak kompromi,maaf bangat sekali lagi ya." Ucap Amel,sambil memasang ekspresi kesakitan diwajahnya.
Amira melihatnya dengan tatapan malas." Gini ni kalau punya teman tidak setia,aku bukannya tidak tahu kamu cuma pura-pura aja kan?" tebak Amira.
__ADS_1
"Benar,aku nggak bohong." Amel meyakinkan sambil memegangi perutnya,tapi dia juga terlihat sedang menahan tawanya,kayaknya sih dia beneran bohong.
"Kamu pasti takut dimarahi Rangga sama tante iya,kan? Makanya sekarang pura-pura sakit perut biar bisa ninggalin aku sendirian." Cicit Amira
"Mir aku sudah tidak tahan,aku pulang duluan ya!" ucap Amel,tanpa menunggu jawaban Amira dia langsung melajukan mobilnya. Amira hanya bisa menatap kepergian temannya itu dengan kesal,dia tadi juga sempat melihat Amel tersenyum ke arahnya.
"Huh..." Amira membuang nafasnya dengan kasar." Sepertinya aku harus menghadapi omelan tante sama Rangga lagi ni." Lirihnya dalam hati.
Halaman depan rumah Rangga sudah terlihat sepi,sepertinya keluarga Amira juga sudah pulang.
****
"Habis dari mana kamu jam segini baru pulang?" tanya Rangga marah.
Baru saja Amira masuk,eh dia sudah dihadang oleh Rangga di depan pintu,mana tante Anet cuma ngelihatin doang lagi,dia tidak menghiraukan sama sekali.
"Maaf." Ucap Amira dengan kepala menunduk.
"Aku bukan menyuruh kamu untuk minta maaf,tapi aku ingin tahu kamu habis dari mana?" tanya Rangga,suara cowok itu terdengar tegas dan sangat berwibawa,sejak kapan dia jadi begitu ya,membuat Amira semakin gugup.
"Aku ketemu sama Laras," Amira menjawab jujur,dia memilin ujung bajunya dan terus menatap ke bawah tidak berani melihat tatapan tajam Rangga.
"kamu itu sudah membuat semua orang di sini khawatir."
"Aku tahu,tapi tidak bisakah kamu memberitahu sama kami,kalau kamu ingin pergi,jangan keluar diam-diam seperti itu." Ucap ranggta dengan tegas.
"Tante...!" Amira memanggil tante Anet,dirinya setengah merengek seperti anak kecil yang minta dikasihani.
"Ah,mama nggak mau ikut campur,itu urusan kalian." Jawab tante Anet tidak peduli.
"Nah kamu juga pulang sendiri lagi,Cici mana?" tanya Rangga begitu menyadari Cici tidak ada bersama Amira.
"Kok nanya Cici sama aku sih,aku kan perginya sama Amel,nggak ngajak dia."
Bu Anet segera bangun dari duduknya saat mendengar Cici ternyata tidak bersama Amira.
"Kamu serius Mira?" tanya bu Anet cemas.
"Iya tante." Jawab Amira sungguh-sungguh.
"Tapi Cici sudah tidak ada semenjak kalian pergi,kami semua berpikir kalau Cici ikut sama kalian," sekarang Rangga jadi semakin khawatir,dia bahkan uring-uringan sendiri saat itu. "Tidak mungkin kan Cici di culik tante Lidia?" perkataanya itu malah semakin membuat Amira dan mamanya tambah khawatir,mereka takut kalau apa yang dikatakan Rangga benar-benar terjadi.
__ADS_1
Handphone Amira bergetar saat itu,dan dia segera mengambilnya,ternyata pesan dari Amel.
["Cuma ingin ngasih tahu kamu Mir,kalau Cici ada di mobil aku,entah siapa yang mindahin dia ke sini."] Isi pesan dari Amel,dan Amira baru bisa bernafas lega saat itu,setelah mengetahui kalau Cici baik-baik saja.
"Siapa mir?" tanya Rangga penasaran,karena Amira tiba-tiba tersenyum setelah melihat handponenya.
"Amel bilang,kalau Cici ada di mobilnya dia."
"Oh syukurlah kalau begitu." Ucap tante Anet,ikut senang mendengarnya.
"Tante,Amira mau tanya sesuatu ni tentang masa lalu tante,mengapa mamanya Laras sampai membenci tante seperti itu,tante mau menceritakannya kan?" tanya Amira berharap.
Bu Anet melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat,menurutnya itu sudah terlalu malam untuk bercerita.
"Besok aja," ujar Rangga,baru saja bu Anet akan menjawabnya,tapi sudah didahului oleh cowok itu.
"Tapi ini sangat penting tante mau,ya!" bujuk Amira.
"Rangga benar,besok saja Mira,lagian ceritanya juga sangat panjang nggak bakalan habis dalam semalam." Bu Anet beralasan.
"Kalau begitu aku pulang saja,besok ke sini lagi." Ucap Amira kecewa,dia membalikkan badannya hendak keluar dari rumahnya Rangga,tapi tante Anet dan Rangga mencegahnya.
"Tidur di sini aja Mir,lagian sudah malam,biar tante yang bilang sama mama dan papa kamu nanti," cegah wanita itu.
"Iya tidur di sini aja,ayo aku antar ke kamar!" Rangga langsung menarik tangan Amira tanpa persetujuan dari gadis itu,yah Amira menurut saja dia juga sudah sangat kelelahan seharian ini.
*****
"Akh...! Kak Amel ngapain di kamar aku?" tanya Cici,dia terkejut dan menjerit begitu terbangun dari tidurnya dan mendapati Amel berada di sampingnya.
"Ngapain sih Ci teriak-teriak? Bikin orang kaget aja." Ucap Amel kesal,dia yang saat itu sedang memainkan hp segera meletakkannya di atas nakas,dan menatap Cici dengan heran.
"Kakak ngapain di sini?" Cici bertanya sekali lagi.
"Coba kamu lihat ke sekeliling kamu,ada yang aneh nggak?" suruh Amel,Cici pun memutar bola matanya melihat keadaan sekeliling,dinding kamar dengan cat warna abu-abu,dan meja rias dengan banyaknya produk kecantikan. Keadaan kamar itu tampak aneh bagi Cici,di sana juga tidak ada boneka Teddy bear kesayangannya,jelas saja itu bukan kamarnya.
"Hehehe,aku ingat sekarang sepertinya aku ketiduran dimobil kak Amel saat mengikuti kakak sama kak Amira tadi," ucap Cici sambil tersenyum malu-malu.
"Huh...! Dasar anak kecil,ayo tidur lagi sudah malam,besok kakak anterin kamu pulang." Amel langsung menarik selimut dan kembali menyelimuti Cici.
****
__ADS_1
.