
Sudah seminggu lebih bu Anet di rumah sakit,kondisinya juga sudah semakin membaik dan hari ini dokter mengatakan bahwa bu Anet sudah boleh pulang,Rangga sangat senang mendengar kabar baik itu,akhirnya dia bisa kembali berkumpul dengan mamanya.
"Kamu tidak ke rumah sakit Mir untuk menjemput tante?" tanya oma,kebetulan saat itu oma berada di rumah bu Anet untuk menunggu kepulangan menantunya.
"Tidak oma,Mira tunggu di sini aja sambil bantuin oma masak,lagian di sana juga sudah ada Cici dan Amel kok." Ungkap Amira,dia sengaja menyuruh Amel untuk datang ke rumah sakit dengan Cici,karena dia tahu Amel masih sangat mencintai Rangga.
"Kamu tidak takut Mir menyuruh Amel ke sana,kamu tidak pernah berpikir kalau dia bisa saja membuat hubungan kalian renggang?" oma terlihat khawatir.
"Amel tidak seperti itu lagi oma,Amira sengaja menyuruh Amel yang datang ke sana,setidaknya Amel masih memiliki sedikit waktu untuk bertemu dan berbicara sepuasnya dengan Rangga,sebelum Rangga benar-benar menjadi milik aku seutuhnya,kan kami akan segera menikah." Tutur Amira menjelaskan.
"Oh,begitu toh," ucap oma,kini beliau mengerti maksud dan tujuan Amira menyuruh Amel yang datang mewakili dirinya.
*****
"Ini semua Mira sama mama yang nyiapin?" tanya bu Anet,wanita itu senang dan terharu melihat hidangan di atas meja yang sudah di siapkan untuk menyambut kepulangannya.
"Iya!!" jawab oma dan Amira bersamaan.
"Tante,nanti malam keluarga Amira akan datang ke sini untuk menjenguk tante." Ucap Amira memberitahu.
"Sekalian aja Mir kita bahas tentang pernikahan kita,iyakan ma?" timpal Rangga meminta pendapat mamanya.
"Iya ide yang bagus itu,lagian mama juga sudah sembuh." Jawab bu Anet setuju. Mira hanya menatap Rangga dengan sorot mata tajam dalam hatinya dia berkata. "Nggak sabaran bangat ini cowok."
"Hemp,aku dengar apa yang dikatakan hati kamu barusan,pasti kamu bilang aku nggak sabaran iya kan?" tebak Rangga,dan tebakannya tepat sekali,membuat Amira gelagapan dia pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Amel dan Cici ada di mana tante?" tanya Amira,saat itu dia baru menyadari kalau Cici dan Amel ternyata tidak ada di sana.
"Amel sedang menemani Cici bermain ayunan di luar." Jawab tante Anet.
Amira langsung keluar untuk bertemu mereka,namun sebelum keluar dia dengan usilnya mengambil tepung yang ada di atas meja makan dan kemudian membalurinya di wajah Rangga,membuat cowok itu kaget seketika.
"Maaf nggak sengaja." Ucap Amira sambil berlari keluar,di iringi dengan tawa bu Anet dan oma.
"Kok malah ketawa sih? Amira benar-benar ya," geram Rangga,dia kesal dengan tingkah usil Amira,namun akhirnya dia tertawa juga.
"Cuci muka dulu sana.!" Suruh bu Anet di sela-sela tawanya.
__ADS_1
"Ada-ada aja Amira kenakalannya," gumam oma tersenyum.
"Aku mau keluar dulu,mau kasih dia pelajaran," ucap Rangga sambil berlalu meninggalkan kedua orang tua itu.
*****
"Pelan-pelan kak dorongnya!" ucap Cici pada Amel,dia saat itu sedang menemani Cici bermain ayunan di bawah pohon besar yang rindang.
"Seru bangat main ayunannya Ci," mendengar suara kakaknya,Cici buru-buru menghentikan ayunan itu dengan mendaratkan kakinya ke tanah.
"Iya kak,di sini anginnya juga sepoi-sepoi" jawab Cici.
"Bagaimana Mira sudah ada kabar tentang Laras dan ibunya belum dari pihak kepolisian?" tanya Amel kemudian.
"Belum ada Mel,tapi mereka bilang akan terus mencarinya,karena kemungkinan besar ibunya Laras akan kembali lagi untuk melanjutkan niat jahatnya yang sempat tertunda" tutur Mira,dia sangat mengkhawatirkan keselamatan ibunya Rangga.
"Semoga saja ya ini cepat berakhir,aku juga sudah menyuruh Hendri untuk mencaritahu keberadaan bu Lidia,karena aku yakin dia masih berada di kota ini." Ujar Amel.
"Aaaa...!!!" mereka menjerit terkejut,sedangkan Cici segera lari menjauh sejauh-jauhnya sambil tertawa.
"Rasakan itu,siapa suruh jadi orang usil bangat." Ucap Rangga,sambil terus menyemprot mereka dengan air.
"Kok aku ikut di siram juga sih,kan yang salah Amira," omel Amel kesal,dia berusaha merebut selang air yang di pegang Rangga.
"Mira,bantuin dong kok malah berdiri aja di sana" suruh Amel. Amira pun segera mendekat ke arah Rangga,dia berusaha membantu Amel untuk merebut selang air itu,tapi Rangga malah membuat mereka semakin basah kuyup.
Melihat Amira dan Amel yang disiram dengan air oleh Rangga,membuat Cici tertarik juga untuk ikutan bermain air,akhirnya dia pun mendekat ke arah mereka,Cici berjalan dari arah belakang Rangga supaya dia bisa merebut selang air itu,Amira dan amel hanya diam saja membiarkan Cici menjalankan misinya,hanya dalam hitungan detik kini selang air itu sudah berpindah ke tangannya Cici,dia langsung menyemprot Rangga.
"Cici berhenti!" teriak Rangga,tidak mau bajunya basah.
"Tidak mau,kak Rangga sendiri sudah membuat kak Amira dan kak Amel basah kuyup duluan,sekarang terima balasannya!" seru Cici dia mengarahkan selang air itu ke arah Rangga di iringi dengan tawa penuh kemenangannya.
Kini halaman depan itu jadi rame dengan suara teriakan dan tawa mereka,oma dan tante Anet yang berdiri di depan pintu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekanak-kanakan mereka.
__ADS_1
"Kelihatannya Rangga sangat bahagia bersama Amira,ma." Ucap bu Anet penuh haru.
"Iya,semoga saja hubungan dia dan Amira langgeng,karena mama lihat Amira juga sangat mencintai Rangga."
****
Malamnya semua keluarga Amira berkumpul di rumah Rangga,di sana sudah ada pak Aryo dan pak Andi,bu Diandra,bu Desi,Dimas dan istrinya,tak ketinggalan juga Aura dan Doni,mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah,sambil ngobrol-ngobrol dan membicarakan tentang pernikahan Amira dan Rangga,yang akan di langsungkan dalam dua minggu ini.
"Mel,Laras ngechatt aku." Bisik Mira tepat di telinga Amel,gadis itu tidak bisa menyembunyikan kekagetannya mendengar Amira menyebut nama Laras.
"Kamu serius?"
"Iya,temanin aku yuk! Aku harus ketemu sama dia malam ini juga," ajak Amira.
Amel melihat ke sekelilingnya semua orang saat ini sedang membicarakan tentang pesta pernikahannya,tapi Amira malah mau pergi begitu aja,bukankah itu sangat tidak sopan.
"Tapi mereka sed...
"Sudah jangan pikirin mereka,semua orang sedang fokus dengan apa yang sedang mereka bahas,sebaiknya kita langsung pergi aja sebelum mereka menyadarinya" ucap Amira masih setengah berbisik,kebetulan sekali memang kalau mereka pergi di saat itu,karena semua orang sedang sibuk jadi tidak akan ada yang menyadarinya,termasuk Rangga sekalipun.
Mereka langsung pergi dari sana,tanpa ada yang menyadari.
"Kamu yakin Laras tidak menjebak kamu Mir?" tanya Amel,dia masih ragu-ragu takutnya nanti Laras malah menjebak mereka.
"Tidak! Aku yakin 100%," jawab Amira penuh keyakinan.
"Apa kalian sering berbagi informasi selama ini?" tanya Amel penuh selidik.
"Iya,dan aku juga tahu dia tinggal di mana saat ini,dua hari sebelum kejadian aku sempat memberikan nomor handphoneku pada Laras,aku bilang sama dia kalau terjadi apa-apa dia bisa menghubungi aku kapan saja,dan aku pasti akan membantunya," cerita Amira.
Amel menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Ternyata kamu begitu mudahnya ya percaya dengan orang lain."
"Sebab aku yakin dia baik," jawabnya singkat. Suasana kembali hening dan Amel terus melajukan mobilnya menuju tempat yang Amira katakan,tempat di mana Laras sedang menunggu kedatangan mereka.
*****
__ADS_1