Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi
Akhirnya Sah!


__ADS_3

     Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba,dan hari ini adalah hari pernikahan Amira dan Rangga.


    "Wah calon pengantinnya cantik banget!" puji Siska,Amira sudah selesai di rias saat itu dan dia tengah berfoto bersama keluarganya,sembari menunggu kedatangan Rangga.


    "Jadi ratu sehari." Jawab Amira di iringi dengan kekehannya.


    "Ratu selamanya dong,perempuan itu kan memang ratu,mana ada kata sehari," timpal Amel menyangkal.


     "Mungkin dia ingin menjadi ratu sehari,selebihnya mau jadi pembantu gitu?" tanya Aura.


     "Nggak juga tu." Amira menjawab cuek. "Panggilin mama sama papa dong,biar kita foto-foto dulu," suruh Amira sama Aura.


     Baru saja Aura mau memanggil kedua orang tuanya eh,mereka sudah masuk duluan ke kamarnya Amira,Cici juga ada di sana,bu Desi dan pak Aryo juga ada,untungnya kamar Amira luas jadi meskipun satu keluarganya berkumpul di sana,ruangannya tidak terasa sesak.


    "Fotonya di luar saja,di sini nggak ada pemandangan sama sekali,masa iya mau foto di tempat tidur kamu." Ucap pak Aryo,yang membuat mereka tersenyum mendengar penuturannya.


    "Iya aku setuju sama usulan papa." Doni ikut menimpali.


    "Kalau begitu ayo keluar!" ajak Cici bersemangat,dia sangat bahagia hari itu sebab Rangga dan Amira akhirnya menikah juga.


   Mereka semua sekarang sudah berada di luar,dan siap-siap untuk berfoto.


    "Sekarang ayo ambil fotonya!" suruh Amira pada Dimas.


    "Kenapa pula aku yang di suruh,kita kan mau foto keluarga,suruhnya sama fotografer tuh!" tunjuk Dimas ke arah Johan yang tengah memotret-motret area di taman saat itu,menurutnya halaman rumah Amira sangat bagus apalagi banyak bunga yang sedang bermekaran,di tambah lagi dengan dekorasi pelaminan yang begitu cantiknya,membuat dia merasa tertarik untuk mengabadikan momen ini.


     "Johan!" panggil Dimas,cowok yang dipanggil itu tidak menoleh sama sekali,mungkin dia tidak mendengar karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.


     "Johan!!" Amira,Siska dan Amel memanggilnya,panggilan mereka itu membuat beberapa tamu undangan yang sudah hadir menjadi kaget termasuk Johan,karena mendengar namanya di panggil jadi dia segera menghampiri mereka.


    "Ada apa ya,mbak?"


    "Fotoin kita dong!" suruh Cici.


    "Sekarang juga?" tanya Johan,karena menurutnya itu masih terlalu awal seharusnya foto itu kalau mempelai prianya sudah datang.


    "Ya sekarang lah masa tahun depan" yang dijawab bu Diandra.


    "Cepetan dong,nanti keburu Rangganya datang!" desak bu Desi.


     "Baiklah kalau begitu," ucap Johan,dia pun langsung melakukan tugasnya. Baru tiga foto yang diambil,Rangga dan keluarganya sudah datang,membuat mereka terpaksa harus menghentikannya dulu.


    "Nanti aja di lanjutin lagi,setelah akad nikahnya usai." Ucap bu Diandra.

__ADS_1


  


     Mereka segera pergi menghampiri rombongan dari pihak calon pengantin pria,dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman penuh kebahagian yang terukir dibibir.


     Amira deg-degan di tempatnya berdiri,dia tidak pernah membayangkan hari ini benar-benar terjadi,akhirnya dia dan Rangga bisa menjadi sepasang suami isteri,Amira terus menggenggam tangan Aura untuk menghangatkan tangannya yang mulai terasa dingin.


     "Nggak usah geregetan gitu Mira,biasa saja bukannya kalian memang sudah sering berdua," ucap Aura.


    "Itu lain lagi ceritanya kak,sekarang aku akan benar-benar menjadi istri dia,nggak kebayang deh tiap hari harus menghadapi sikap nyebelin Rangga." Tutur Amira.


    "Nyebelin tapi ngangenin kan?" goda Amel yang berada di samping Aura.


   "Hehehe,iya sih" jawab Amira jujur.


                          *****


   "Laras???"


    "Ma,sekarang mama mau kemana lagi,aku nggak bakalan biarin mama pergi," ucap Laras memegang erat pergelangan tangan mamanya.


     "Kamu jangan ikut campur sama urusan mama Ras,kamu tidak tahu apa-apa!" bentak wanita itu,berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman anaknya.


    "Apa yang bisa mama sembunyikan lagi dari aku,aku sudah tahu semuanya."


      "Siapa di sini yang brengsek? Mama atau mamanya kak Rangga,mama seharusnya sadar akan kesalahan yang dulu mama lakukan,hingga membuat papa berakhir di penjara,semuanya itu ide mama,coba saja kalau mama tidak menyuruh papa untuk melakukan perbuatan haram itu,pasti semua ini tidak akan terjadi," ucap Laras,dia ingin sekali mamanya bisa berdamai dengan masa lalunya.


      "Mama benci sama dia Laras,mama nggak terima semua ini,mama ingin dia juga mati," ucap bu Lidia,wanita itu kemudian menangis histeris dan Laras memeluk mamanya,dia berusaha menenangkan hati sang mama.


    "Mama,sekarang jangan pikirkan tentang masa lalu itu,semua sudah lewat biarkan saja,kita pergi jauh dari kota ini,kita mulai hidup baru mama mau kan?" tanya Laras mengajak mamanya,dia berusaha untuk mengubah pikiran buruk mamanya.


    "Tapi polisi sedang mengejar-ngejar mama Ras,sekarang mama sudah menjadi buronan polisi,mana bisa kita pergi dari kota ini" ucap wanita itu sedih.


     "Aku akan pergi ke rumah kak Rangga dan meminta mereka untuk memaafkan mama."


     "Kamu beneran mau bantu mama?" tanya wanita itu tidak yakin,takutnya nanti malah Laras akan membawanya ke kantor polisi.


    "Laras serius ma" Laras meyakinkan.


     "Bagus kalau begitu," ucap bu Lidia dalam hatinya,wanita itu tersenyum sinis tanpa dilihat oleh Laras,sekarang entah apa yang sedang direncanakannya.


    Mereka pun segera keluar dari kontrakannya,Laras bahkan tidak menyangka mamanya ada di sana,dia pikir mamanya akan tinggal di rumah lama mereka,ternyata perkiraannya salah,dan dia juga mendapatkan alamat kontrakan mamanya itu dari pak Rudi,pengacara mereka.


                           *****

__ADS_1


     "Akhirnya selesai juga." Ucap Rangga menghela nafas lega,dia menatap Amira lama sekali hingga membuat Amira risih.


      "Aku kesana sebentar ya,mau menyapa tamu undangan," ucap Amira beralasan,supaya dia bisa segera pergi dari hadapan Rangga.


      "Untuk apa kesana kita kan pengantinnya,seharusnya mereka yang datang ke sini untuk memberikan ucapan selamat sama kita berdua," cegah Rangga tidak mau Amira pergi,dia tahu itu hanya alasannya Amira saja.


      "Makanya jangan pandangi aku terus,aku risih tahu." Amira berterus terang.


      "Memangnya tidak boleh,apakah ada undang-undang yang mengatakan tidak boleh memandangi istri sendiri?" tanya Rangga dengan suaranya yang sedikit menggoda.


     "Sana!" Lihatnya ke sana jangan kesini terus." Amira meletakkan kedua tangannya di pipi Rangga,dan kemudian memutar kepala Rangga,membuat cowok itu menatap lurus ke depan.


     "Untuk apa melihat ke depan,kalau di samping ada yang lebih indah." Rangga mulai gombal.


    "Gombalin aja terus." Ucap Cici yang tiba-tiba sudah ada di tengah-tengah mereka.


    "Aku heran Mir sama bocah yang satu ini,setiap kali kita lagi enak-enaknya ngobrol berdua,selalu saja ada dia."


    "Cobaan untuk kita mungkin." Jawab amira,melihat Cici dengan pandangan malas.


    "Boleh nggak Cici duduk di tengah kak Rangga dan kak Mira,kita foto bertiga" pinta Cici.


    "Boleh." Jawab Rangga penuh semangat,dia kemudian memanggil Johan untuk mengambil gambar mereka bertiga.


     Saat masih asyik-asyiknya berfoto,Amira tiba-tiba melihat Laras dan mamanya dari kejauhan,mereka terlihat sedang berbincang dengan mamanya Rangga.


     "Rangga,bukankah itu Laras sama mamanya," ucap Amira menunjuk ke arah kerumunan saat itu.


     "Iya buat apa mereka ke sini? Jangan sampai mereka membuat acara ini jadi kacau," ujar Rangga,dia bergegas turun dari pelaminan itu,dan pergi menghampiri mamanya,Amira dan Cici mengikutinya dari belakang.


      "Ma,ngapain orang ini datang ke acara kita.?" tanya Rangga,dia tidak bisa menahan rasa marah dalam hatinya karena perbuatan bu Lidia yang hampir saja membuat mamanya terbunuh.


      "Bu Lidia ingin meminta maaf sama mama,dia ingin memulai hidup baru,jadi bu Lidia meminta mama untuk mencabut tuntutan mama." Jawab bu Anet menjelaskan.


     "Iya Rangga,tante benar-benar minta maaf,tante sangat menyesal sekarang,tante akan pergi dari kota ini dan memulai semuanya dari awal" terang bu Lidia dengan ekspresi penuh sesal.


    "Iya kak Rangga,mama sudah menyadari kesalahannya sekarang,Laras jamin mama sudah benar-benar berubah." Laras berusaha meyakinkan.


     Amel yang juga ikut mendengar percakapan mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan mamanya Laras. "Masa iya bisa berubah secepat itu,jangan-jangan dia malah punya niat lain," bisik Amel di telinganya Amira.


                              ****


            

__ADS_1


   


__ADS_2