Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
ABERCIO ANDINI


__ADS_3

"Mudah sekali dia bicara seperti itu. Dia kira menikah akan semudah dia bicara? Aku bertanya bagaimana kalau perjodohannya batal? Lalu dia jawab dia tidak akan menikah. Lalu aku bertanya lagi, bagaimana kalau ibunya tetap ingin dia menikah? Lalu dia jawab kalau dia akan menikah denganku. Apa sih di itu?!" Ashana menceritakan semuanya pada Andini saat mereka sedang beristirahat di kantin kantor.


Andini yang malu karena kebisingan yang di ciptakan Ashana hanya mengangguk mengiyakan cerita Ashana. Beruntung Ashana tidak menyebutkan siapa orang yang sedang mereka bicarakan. "Ashana kecilkan suaramu." Bisik Andini.


"Hah?" Ashana mendekatkan wajahnya karena tidak jelas mendengar ucapan Andini.


"Kecilkan suaramu,"


Ashana menatap Andini. "Memangnya kenapa?"


Andini berdecak. Sahabatnya ini tidak peka atau bodoh sih? "Lihat sekitarmu,"


Ashana menuruti perkataan Andini. Ia melebarkan kedua matanya saat melihat hampir semua pengunjung kantin menatap ke arahnya. "Andini, kenapa mereka menatapku seperti itu?" Tanya Ashana yang jadi ikut-ikutan berbisik.


"Karena kau berisik!" Bisik Andini geregetan.


"Oh.." Ashana cengengesan sendiri. "Maaf.. Maaf.." Ia menyatukan kedua tangannya. Meminta maaf pada mereka yang terganggu. "Kau tidak bilang." Ashana menatap Andini kesal.


"Ku kira kau mengerti." Balas Andini. Ia menyeruput es tehnya.


"Lanjut cerita. Lalu kau jawab apa?" Tanya Andini.


"Aku tidak jawab apa-apa. Aku lebih memilih pergi dari sana."


"Dasar kau ini. Kalaupun menikah dengannya juga tidak papa. Kau akan bahagia. Dia itu definisi sempurna." Ucap Andini.


Ashana mencebikkan bibirnya. "Kalau begitu, kau saja yang menikah dengannya."


"Dia memang tampan tapi dia bukan seleraku." Ucap Andini dengan gaya sombong.


"Biasanya juga kau selalu memujinya, mengaguminya, menatapnya kalau lewat, menyebut---"


"Astaga Ashana! Itu hanya bercanda. Lagipula aku tidak serius." Andini memotong ucapan Ashana.


"Bercanda? Ku kira kau serius." Ucap Ashana yang memang menganggap kalau itu serius.


"Kau ini. Semuanya saja bawa serius."


"Eh Andin. Itu sahabatnya Achazia kan? Siapa namanya?"


Andini menatap Ashana heran. "Sejak kapan kau tidak memanggil Achazia dengan embel-embel Pak?" Tanyanya aneh. Karena biasanya Ashana selalu memakai embel-embel itu.


"Pagi tadi. Achazia menyuruhku untuk memanggil namanya saja,"


Andini senyum-senyum tidak jelas. "Sepertinya hubungan kalian sudah sangat dekat. Padahal belum ganjil seminggu." Ucap wanita itu.


Ashana menatap Andini aneh. "Kau bicara apa sih? Aneh, itu aku bertanya...." Tanpa persetujuan Andini, Ashana memutar kepala Andini untuk melihat apa yang ia tunjukkan.


Andini melebarkan kedua matanya. Saat Andini sedang menatap kedua orang itu, salah satu dari mereka menyadari. Membuat Andini langsung mengalihkan tatapannya. "Abqari dan Ab-Abercio."

__ADS_1


"Ab-bercio?" Ulang Ashana.


"Iya, Abercio."


"Aku pernah mendengar nama keduanya tapi aku lupa. Hah, namanya lebih susah dari Achazia dan Adrian. Abqari dan Ab---siapa tadi?"


"Aber---"


"Abercio."


Ashana dan Andini refleks menoleh ke arah sumber suara. Abercio sudah berdiri di samping meja keduanya dengan Abqari di belakang.


Andini menghela napas. Wanita itu memijat pangkal hidungnya. 'Kenapa aku harus bertemu dengan orang ini lagi ya Tuhan...' Gumamnya dalam hati.


"Selamat siang Nyonya Cadereyn.." Abercio tersenyum manis sambil menatap Andini. Sedangkan yang di tatap menatap ke arah lain.


Ashana yang tidak mengerti hanya menatap keduanya penuh tanda tanya. "Kalian saling kenal?"


Abercio menatap Ashana. Pria itu tersenyum manis. "Apakah kau wanita yang dipilih oleh Achazia?"


Ashana yang mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Abercio langsung gelagapan. Ia kira hanya Adrian saja yang mengetahuinya. Ternyata Abercio juga.


Abqari yang melihat kelakuan Ashana tertawa pelan. Pria itu mengambil duduk di sebelah Ashana. "Kenapa kau terlihat panik? Achazia tidak memberitahukannya padamu?"


Ashana melebarkan kedua matanya. "Jadi kau juga sudah tahu?"


"Astaga.." Ashana memegang kepalanya yang tiba-tiba pening.


Abqari terkekeh. "Lagipula Achazia tidak bisa menyembunyikan apapun pada Adrian, aku ataupun Abercio."


"Sesejati itukah persahabatan kalian?" Tanya Ashana.


Abqari mengangkat kedua bahunya. "Ya, seperti itu kurang lebih."


"Hey nona Cadereyn. Kenapa kau terlihat malu-malu seperti itu?" Goda Abercio dan Andini tetap tidak merespon.


"Oh, aku mengerti. Apakah karena kau menyukaiku?"


Andini membelalakkan matanya. Ia menatap Abercio. "Kau---kau bicara apa sih?!" Kesalnya.


Abercio terkekeh melihat respon Andini. Entah kenapa mengganggu Andini sangat menyenangkan baginya.


"Aku tahu salah tingkah." Ucap Abercio. Pria itu melipat kedua tangannya.


"Salah tingkah?!"


"Iya." Abercio mengangguk santai.


Andini merotasikan kedua matanya. Wanita itu menatap Ashana. "Ash, ayo kita pergi dari sini." Tanpa meminta persetujuan Ashana, Andini langsung menarik tangan Ashana untuk pergi dari sana meninggalkan Abercio dan Abqari.

__ADS_1


Abqari memperhatikan Abercio yang tertawa puas melihat Andini yang seperti itu. "Kau terlihat sangat bahagia." Ucap Abqari.


"Hah? Kau bicara apa?" Tanya Abercio saat tawanya reda.


"Tidak. Ayo, kita sudah terlambat. Nanti tuan muda Comman marah." Ucap Abqari yang langsung melanjutkan langkahnya di susul dengan Abercio di belakangnya.


Di sisi lain, Andini terus menarik Ashana sampai menjauh dari kantin.


"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Ashana yang sudah lelah di tarik tangannya oleh Andini.


Andini menoleh ke belakang tanpa menghentikan langkah kakinya. "Dia sudah tidak ada?" Tanya wanita itu dengan langkah yang memelan.


Ashana ikut melihat ke belakang. "Dia siapa?" Tanya wanita itu tak mengerti.


Andini menghela napas lega. "Baguslah dia tidak mengikuti sampai kesini." Ucapnya.


Ashana mengerutkan keningnya. "Kau bicara apa? Aku tidak mengerti."


Andini mengibaskan satu tangannya di depan wajah Ashana. "Sudahlah, jangan mengerti. Lebih baik, kita kembali bekerja. Jam istirahat sebentar lagi habis." Ucap Andini lalu kembali menarik tangan Ashana.


*****


"Bisa saja kau memilihnya Achazia," Ucap Abercio di sertai kekehannya.


Achazia yang sedang membaca buku menatap sinis Abercio. "Adrian yang memilihnya." Ralat Achazia.


"Kau yang memilihnya?" Tanya Abqari dan Adrian mengangguk.


"Tepat kan pilihanku?" Ucap Adrian bangga.


"Ya, aku akui dia cantik. Gadis yang di sebelahnya juga," Ucap Abqari lalu melirik ke arah Abercio.


Abercio menatap Abqari. "Siapa yang kau maksud?" Pria itu meminta penjelasan lewat matanya.


"An...dini? Kalau tidak salah," Ucap Abqari berniat menggoda Abercio. Terlihat jelas sekali kalau Abercio tidak suka nama Andini disebut.


"Mau apa memang kalau dia cantik?" Ketus Abercio.


"WOW!!" Abqari bangkit berdiri. Pria itu menepuk tangannya beberapa kali. Ia menatap Abercio. "Kau cemburu?"


Achazia yang sedang fokus membaca buku dan Adrian yang sedang meminum kopi sambil menatap jalanan sampai menoleh menatap Abercio.


"A-aku, aku ti-tidak cemburu!!" Elak Abercio gelagapan. Wajah pria itu sampai memerah.


Abqari tersenyum jahil. Pria itu menaikturunkan alisnya menggoda Abercio. "Benar tidak cemburu?"


"Ah sudahlah! Aku pergi!" Kesal Abercio. Pria itu bangkit berdiri lalu pergi keluar dari ruangan Achazia yang mengundang tawa ketiga sahabatnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2