
"Siapa namamu?" Tanya Adriyana saat Ashana dan dirinya sudah berada di sebuah ruangan milik Adriyana.
"Ashana.." Jawab Ashana pelan. Kepalanya menunduk. Wanita itu takut kalau Adriyana tidak akan menyukainya. Eh? Tapi masa bodoh bukan kalaupun memang Adriyana tidak menyukainya, ia akan bebas dari Achazia.
"Nama lengkapmu?"
"Ashana Berryl Carissa."
Adriyana menatap Ashana dari atas sampai bawah. Ia berjalan menghampiri Ashana dan berhenti tepat di hadapan wanita itu.
"Kenapa menunduk? Takut?" Tanya Adriyana dengan suara yang mengintimidasi.
Ashana meremas kedua tangannya. Ini lebih horor dari apapun. Ia mencoba untuk mendongak menatap Adriyana.
Adriyana tiba-tiba tertawa. Membuat Ashana mengernyit. Ada apa dengan Ibunya Achazia?
"Kau ini lucu sekali." Ucap Adriyana saat tawanya sudah reda. Wanita itu membawa Ashana untuk duduk di sofa. Membuat Ashana terkejut dengan perlakuannya.
"Kenapa kau sangat gugup? Tenanglah, aku tidak akan memakanmu." Gurau Adriyana.
Ashana menatap Adriyana. Apa ini? Kenapa Adriyana tiba-tiba bersikap baik padanya? Padahal tadi sudah membuat panas dingin.
"Kau adalah pacar Achazia? Baguslah. Apakah harus aku ancam dulu dia agar mempunyai pacar? Dan bagusnya ancaman ku berhasil." Adriyana mengibaskan rambutnya membuat Ashana mengernyit.
"Berarti, tante tidak benar-benar menjodohkan Achazia?" Tanya Ashana.
"Aku menjodohkannya, tapi aku tidak mengekang nya. Jika dia sudah bertemu dengan gadis yang di cintainya, dia bisa menggagalkan perjodohan. Lagipula perjodohannya tidak terlalu serius. Anak perempuannya saja menentang perjodohan ini." Ucap Adriyana menceritakan yang sebenarnya.
"Siapa dia?" Tanya Ashana lagi yang sudah mulai nyaman dengan Adriyana. Ternyata Adriyana tidak segalak yang ia kira.
"Andini Bea Cadereyn. Kau tahu? Anak bungsu dari keluarga Cadereyn."
Senyum yang terukir saat mendengarkan cerita dari Adriyana langsung luntur. Ashana mengalihkan tatapannya dari Adriyana. Seperti ada rasa sesak yang menelusup ke dadanya.
"Ada yang salah?" Tanya Adriyana saat melihat perubahan raut wajah Ashana.
Ashana mendongak. Wanita itu langsung tersenyum. "Tidak,"
Adriyana memicingkan kedua matanya. Ternyata sifat Alice turun dari Adriyana. "Kau menyembunyikan sesuatu?" Tanyanya.
"Tidak, tidak ada!" Jawab Ashana gelagapan.
Adriyana tersenyum lebar. "Aku tahu. Kau mengenal Andini?" Tebak Adriyana benar.
__ADS_1
Ashana kembali menunduk. Wanita itu tersenyum. "I-iya."
"Pasti satu kantor denganmu kan? Aku dengar putri tinggal Cadereyn itu bekerja di perusahaan anakku."
"Kita sahabat." Ucap Ashana dengan suara pelan.
Adriyana terkejut sampai menutup mulutnya. "Benarkah?"
Ashana mengangguk. "Iya,"
"Oh maaf, aku tidak tahu kalau kalian bersahabat. Berarti aku salah menjodohkan Achazia." Ucap Adriyana yang takut melukai perasaan Ashana. Ia tidak tahu kalau Andini punya hubungan sedekat itu dengan Ashana.
Ashana terkekeh. "Tidak papa. Aku tidak masalah," Ucap wanita itu yang tidak mau Adriyana merasa bersalah.
"Mm.. Ashana aku ingin bertanya."
"Silahkan."
Adriyana terlihat ragu untuk menanyakan. Membuat Ashana kembali bertanya. "Apa yang ingin tante tanyakan?"
"Kau berasal dari keluarga apa?"
Ashana yang mendengar pertanyaan itu terdiam. Wanita itu mencoba untuk tersenyum. "Aku.. bukan berasal dari keluarga kaya." Ucap Ashana.
Ashana menatap Adriyana. Pasti pertanyaan kedua tidak jauh berbeda dengan pertanyaan pertama. Tidak apa, Ashana tidak tersinggung. Lagipula memang faktanya seperti itu.
"Di kantor, apa jabatanmu tinggi?"
Ashana terdiam sebentar. Wanita itu tersenyum. "Aku hanya karyawan biasa." Ucapnya.
Adriyana memijat pangkal hidungnya. Wanita itu meringis. Membuat Ashana menatapnya takut.
"Kau tahu? Keluarga Comman itu rewel. Sebenarnya aku menentang bagian ini. Tapi sudah tradisi ya mau bagaimana lagi? Keluarga Comman mempunyai tradisi, kalau menikah dengan perempuan, perempuan itu harus sederajat atau lebih bawah tapi kastanya tinggi atau kalau tidak dia punya jabatan bagus di kantornya. Kalau dengan laki-laki harus sederajat atau lebih tinggi. Tidak ada kompromi." Ucap Adriyana membuat Ashana meneguk salivanya.
"Benarkah?"
Adriyana mengangguk. Ia tersenyum kemudian mengusap bahu Ashana. "Tapi tenang saja. Kalau memang Achazia mencintaimu, aku akan membantumu," Ucap wanita itu tulus. Ia tidak mau Achazia memaksa untuk mencintai. Ia tidak mau Achazia merasakan apa yang ia rasakan.
Ashana bergerak gelisah. Ia tidak mau Adriyana membantu lebih jauh karena sejujurnya ini hanyalah sandiwara. "Tapi tante tidak perlu---"
"Ashana," Sela Adriyana. Wanita itu tersenyum. Ia mengusap lembut pipi Ashana. "Aku bisa melihat ketulusan di mata Achazia. Dan hanya kamu yang bisa membuatnya seperti itu. Aku ibunya. Aku mengerti dia melebihi dirinya sendiri. Tenang saja, kau punya aku."
Ashana menunduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Jika begini ia harus apa? Adriyana percaya jika mereka punya hubungan. Dan apa katanya? Adriyana melihat ketulusan di mata Achazia untuknya. Apa ini? Ini kan hanya pura-pura.
__ADS_1
"Ya sudah, kita keluar. Kita sudah berbincang terlalu lama. Ayo." Adriyana mengajak Ashana untuk keluar. Ashana menurut. Adriyana merangkul Ashana untuk mengajak wanita itu keluar.
"Sudah mommy?" Tanya Achazia yang melihat Ashana dan Adriyana keluar dari ruangan itu.
Adriyana mengangkat salah satu alisnya. "Sudah apanya?"
"Di interogasi."
Adriyana tertawa. Wanita itu mengajak Ashana untuk mendekati Achazia. "Kau ini apa-apaan. Aku tidak sejahat itu untuk membuat calon menantuku menangis." Ucapnya.
Ashana hanya tersenyum mendengar gurauan itu. Tanpa ia sadari Achazia sedari tadi memperhatikan sambil tersenyum kecil.
"Mommy, aku ingin mengajak Ashana melihat-lihat rumah ini boleh?"
"Silahkan. Dia juga kan nanti akan tinggal disini. Ya sudah, kalau begitu Mommy pamit dulu." Ucap Adriyana lalu pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Ayo." Achazia menggenggam tangan Ashana lalu menariknya. Membuat Ashana terkejut dan terpaksa mengikuti langkah pria itu.
"Apakah kau tidak bisa menekankan langkah kakimu? Kakiku tidak bisa mengimbangi langkahmu," Ucap Ashana yang kewalahan mengikuti langkah Achazia. Di tambah pria itu menggenggam tangannya.
Tanpa pikir panjang, Achazia langsung menggendong Ashana, membuat Ashana menjerit kaget. "Kau gila?!" Ucap Ashana tak percaya. Wanita itu menatap para pelayan dan penjaga yang tetap fokus pada pekerjaannya.
"Kau tidak malu?" Ucap Ashana lagi tapi dengan volume suara yang sudah di kecilkan.
Achazia berjalan dengan santai. Tanpa memperdulikan gadis yang kini berada di gendongannya. "Mereka masih ingin membiayai keluarganya. Jadi mereka tidak akan berani memperhatikan kita." Ucap Achazia.
"Tapi---Ah! Kau ini!" Kesal Ashana yang tidak tahu harus bicara apa. Ternyata Achazia semenyebalkan ini.
Achazia menatap Ashana saat mereka sudah berada di sebuah pintu. Membuat Ashana balik menatapnya. "Apa?" Tanya Ashana yang sebenarnya gugup.
"Buka pintunya." Titah Achazia.
"Kau mau apa?" Tanya Ashana takut. Berontak pun ia tidak bisa.
"Buka saja."
Ashana menghembuskan napasnya. Ia mencoba menenangkan dirinya. Tenang, Achazia tidak akan macam-macam. Ashana memutar handle pintu lalu membuka pintunya.
Ashana menatap Achazia. "Ini?"
"Ini adalah kamarku."
*****
__ADS_1