Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MINTA MAAF


__ADS_3

"Achazia," Panggil Ashana yang membuat pria itu mengangkat pandangannya.


"Ya?"


"Aku, aku ingin minta maaf." Kini malah Ashana yang menunduk. Entah malu atau merasa bersalah wanita itu sampai menundukkan kepalanya.


"Untuk?"


"Untuk kejadian beberapa hari lalu."


"Aku tidak tahu. Dimana? Dan bagaimana kejadiannya?"


Ashana mengernyit. Dia tidak tahu? Kalau dia tidak tahu lalu kenapa dia marah? Ah, sudahlah. Yang penting minta maaf."


"Itu, kejadian saat aku lebih menyayangi makanan daripada kamu." Ucap Ashana.


"Oh, yang itu ya."


"Iya, sebenarnya aku----" 'Bagaimana ini? Kenapa tiba-tiba bibirku kaku?'


"Sebenarnya kamu kenapa?"


Ashana masih diam. Ia mengintip Achazia yang masih menatapnya. "Aku mencintaimu." Dengan sigap wanita itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali karena malu.


Achazia terkekeh melihat tingkah Ashana, pria itu bangkit berdiri. Membuat Ashanayang bisa melihat kaki Achazia langsung mendongakkan kepalanya. "Kau mau kemana?"


"Ke kantor."


"Makananmu belum habis." Ucap Ashana mengingatkan Achazia.


Achazia menatap makanannya. "Biarlah, aku sudah tidak lapar."


"Oh, sudah tidak lapar ya? Apakah itu karena aku?"


Achazia hanya mengangkat kedua bahunya lalu pergi dari restoran itu. Ashana yang baru saja akan berteriak memanggil nama Achazia langsung menutup kedua mulutnya. Ia lupa kalau ini restoran.

__ADS_1


"Maafkan aku Alice. Aku akan mengajakmu lain kali." Ucap Ashana yang tidak tahu harus bagaimana. Ia memilih untuk meninggalkan Alice dan menyusul Achazia.


Ashana melangkah cepat walaupun tidak terlihat terburu-buru. Ia harus bisa menggapai Achazia saat pria itu sudah keluar restoran. Ya, harus. Kakinya melangkah panjang menyesuaikan langkah Achazia. Bedanya, Achazia terlihat biasa saja tapi Ashana terlihat kelelahan.


"Oh ya Tuhan, kenapa kakinya panjang sekali?" Ucap Ashana yang sudah mulai kelelahan. Beruntung sebentar lagi pintu keluar. Jadi ia tidak perlu seperti ini.


"Achazia!" Ashana langsung meraih tangan Achazia saat posisinya sudah berada di belakang pria itu. Dengan mengusir semua rasa malunya Ashana memeluk Achazia yang terlihat kaget dengan yang Ashana lakukan.


"Aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Tolong jangan seperti iniii..." Ucap Ashana yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang Achazia.


Achazia tersenyum kecil. Sebenarnya ia sudah luluh dari waktu masuk restoran dan menemukan Ashana di sana. Sebenarnya dari belakang juga ia sudah bisa menebak siapa orang yang bersama dengan adiknya itu. Tapi dengan polos Achazia malah bertanya.


Ashana bergeming saat Achazia sama sekali tidak membalas pelukannya. 'Apakah dia sudah tidak mencintaiku?' Gumam Ashana yang ketakutan. Ia langsung mempererat pelukannya pada Achazia, membuat Achazia ingin tertawa melihatnya.


"Aku mohon Achaziaaa... Aku mohon maafkan aku, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Aku akan----"


Grep!


Ashana langsung menegakkan tubuhnya saat Achazia melepaskan pelukannya. Ia menatap Achazia yang menatapnya dengan wajah datar. Membuat Ashana meneguk salivanya susah.


"Achazia tunggu aku!" Ashana mengikuti jejak langkah Achazia yang lebar. Tapi karena tadi ia sudah terlalu lelah, langkahnya tidak secepat tadi. Ia menunduk saat merasakan pandangannya buram. Ashana menangis. Air mata langsung mengalir saat Achazia melepaskan pelukannya. Entah kenapa rasanya lebih sakit daripada Achazia mendiamkannya. Kenapa seperti ini? "Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan lebih menyayangi makanan." Gumam Ashana yang di selingi isak tangis.


"Aku kira kau benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata tidak. Harusnya aku tidak mencintaimu. Aku tahu mencintaimu itu jalan yang salah tapi bodohnya aku tetap mencintaimu!!!" Teriak Ashana kesal. Beruntung ia berada di lorong sepi. Sebuah jalan yang di apit oleh perusahaan dan restoran tempat ia tadi makan.


Ashana menyentuh dadanya yang tiba-tiba merasakan sakit. Ia memejamkan kedua matanya. Baru pertama kali ia merasakan ini. Dan Ashana berjanji ini adalah terakhir kalinya ia merasakan sakit ini lagi. "KENAPA HARUS AKU YANG JATUH CINTA PADAMU?!" Ashana mengeluarksn semuanya. Ia teriak sekencang mungkin. Masa bodoh orang lain mendengarnya. Toh, tidak ada orang lain di sini.


Ashana bangkit berdiri. Ya, ia harus kuat. Mungkin Achazia tidak mencintainya. Mungkin ia sudah salah mencintai orang lain. Dan semoga saja itu semua masih kemungkinan. Ia marah, tapi ia juga masih berharap. Berharap kalau semua ini hanya bohong.


Ashana berjalan dengan langkah pelan. Sepertinya tidak bagus jika ia kembali ke kantor. Orang lain akan mempertanyakan dirinya kenapa dengan penampilannya yang sekarang ini. Jadi ia memilih untuk menelpon Andini dan meminta Andini untuk meminta izin untuknya. Saat Andini bertanya kenapa, Ashana menjawab sakit. Andini yang awalnya khawatir di tenangkan oleh Ashana. Dan Andini akan mengizinkan asal Ashana harus mengizinkannya menjenguk. Karena pasti Ashana akan menolak dengan alasan kalau ia baik-baik saja. Dengan syarat seperti itu akhirnya Ashana mau.


Ashana kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berbalik untuk pulang. Dengan kepala yang menunduk dan langkah yang pelan Ashana berjalan untuk mencegah taksi di jalan. Tapi dahinya malah menabrak dada seseorang.


"Maafkan aku."


Deg!

__ADS_1


Ini adalah orang yang sama yang tadi mengacuhkannya. Ashana tidak lupa ingatan sampai melupakan bagaimana setelan yang di pakai pria itu.


"Kau," Ashana tidak mendongak sama sekali. Ia masih dalam keadaaan menunduk. "Minggir, aku mau pulang."


"Biar aku antar."


Ashana mengangkat pandangannya. Sebenarnya pria ini mau apa? Tadi saat ia meminta maaf, pria ini mengacuhkannya. Dan sekarang?


"Tidak perlu, aku bisa----"


Grep!


Ashana terkejut dan refleks memeluk Achazia saat pria itu menariknya ke dalam pelukan. Saat Ashana akan melepaskannya Achazia malah mendekap nya lebih erat.


"Maaf, aku hanya bercanda."


Pemberontakan Ashana terhenti. Apa katanya? Hanya bercanda? Bercanda yang seperti apa kalau bercandanya seperti itu?


"Hanya bercanda?" Ulang Ashana lirih. Ia memejamkan matanya dan malah air mata yang menetes.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin kau mencintaiku. Itu saja. Tidak ada cara lain. Kau terlalu menutupinya sampai aku bingung harus bagaimana membuatmu mengatakannya.


Tangisnya makin menjadi. Bahkan suara isakan pun terdengar. Achazia yang merasa bersalah hanya bisa mengusap-usap punggung Ashana agar wanita itu tenang.


"Kau tidak marah padaku kan?" Ucap Achazia.


Ashana tidak menjawab. Ia terus menangis sampai Achazia bingung harus bagaimana lagi. Setelah lama menangis dan isakan nya terhenti, Ashana melepas pelukan Achazia.


Ashana menatap Achazia dengan mata sembab dan air mata di mana-mana. "Bagaimana aku bisa marah padamu?"


Achazia yang awalnya panik takut kalau Ashana akan marah padanya langsung tersenyum. Pria itu menarik Ashana ke dalam pelukannya. Ashana juga langsung memeluk Achazia tak kalah erat.


"Terima kasih. Terima kasih telah menerimaku."


*****

__ADS_1


__ADS_2