
Achazia melempar tubuhnya ke atas kasur. Pria itu menghela napas lega. Hari ini ia sangat lelah. Mungkin karena seharian ini ia menghabiskan waktu dengan keluarga Ashana. Tidak apa, lagipula ia tidak menyesal.
Achazia langsung bangkit saat merasakan saku celananya bergetar. Ternyata ada panggilan telepon dari Alice.
"Ada apa?" Tanya Achazia sebelum Alice menyapanya.
"Kakakku tersayang..."
Achazia menghembuskan napasnya. Pasti adiknya ini sedang ada maunya.
"Apa? Kau mau apa dariku?" Tanya Achazia langsung to the point.
"Kakak ini.. Memang yang paling mengerti aku. Mm.. jadi begini kak. Kartu ku di sita oleh daddy karena aku melakukan kesalahan."
"Kesalahan apa yang telah kau buat?" Tanya Achazia.
"Aku.... tidak datang saat makan malam berlangsung."
Achazia menghela napas. Daddy nya memang tegas. Agar anak-anaknya tidak sampai melanggar aturan rumah. Tapi ini sudah berlebihan.
"Baiklah, datang ke apartemen ku. Aku akan memberikannya."
"Aku tahu kau memang yang terbaik. Terimakasih kak! Sampai jumpa di apartemen!"
Tut.
Achazia melempar ponselnya asal ke atas ranjang. Ia bangkit berdiri kemudian berjalan keluar.
Ashana yang sedang membantu Ailee di ruang tengah terkejut saat melihat Achazia sudah duduk di sofa. Bukannya pria itu bilang ia ingin istirahat? Kenapa sekarang sudah keluar lagi?
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Ashana pada Achazia.
Achazia menggeleng. "Tidak,"
Ashana menganggukkan kepalanya kemudian kembali fokus pada pekerjaannya bersama Ailee. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Baik Ashana, Achazia ataupun Ailee. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai terdengar teriakan seseorang yang masuk.
"KAKAAAAAKK!!!"
Ashana dan Ailee menoleh ke sumber suara. Alice datang sambil berlarian. Achazia berdiri dan langsung di peluk oleh Alice.
"Daddy sangat jahat padaku." Adu Alice saat berada di dalam pelukan Achazia.
"Kaunya saja yang bandel." Ucap Achazia yang tidak mau membuat pikiran Alice jelek tentang Daddy nya.
"Hanya perkara tidak ikut makan malam apakah itu harus di sita?" Ucap Alice. Ia mendongakkan kepalanya menatap Achazia.
__ADS_1
"Daddy melakukan itu hanya agar kau tidak menganggap sesuatu sebagai hal yang sepele." Ucap Achazia lagi.
"Tapi kak---"
"Sudah, terima saja. Lagipula kau akan tetap bisa berbelanja."
"Bagaimana kalau daddy tahu?"
"Tidak akan." Ucap Achazia. Lagipula kalaupun Daddy nya tahu, ia tidak akan menyita aset yang dimiliki Achazia karena semua itu adalah hak miliknya.
"Oh iya, dimana kak Ashana?"
Ashana yang tadinya memperhatikan interaksi antara kakak beradik itu langsung menyibukkan diri.
"Itu dia." Achazia menunjuj Ashana yang sedang membantu Ailee.
"Kak Ashana!" Alice berlari ke arah Ashana kemudian langsung memeluk Ashana dari belakang.
"Hei, sejak kapan kau ada disini?" Sapa Ashana basa-basi. Walaupun ia sudah tahu dari kapan Alice berada disini.
"Baru saja aku datang," Ucap Alice bersamaan dengan Ashana yang memutar tubuhnya menghadap Alice.
"Kakak tahu tidak? Aku di hukum oleh Daddy atas kesalahan yang tidak parah sama sekali."
Alice mengangguk. "Kau tahu kak, apa yang aku lakukan?"
Ashana menggeleng. "Tidak. Memangnya apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya tidak hadir saat makan malam. Hanya itu saja. Bukankah itu hanyalah sesuatu yang sepele? Bahkan kakak juga menyalahkanku."
Ashana menatap Achazia yang kini sedang menatap ke arahnya. Seperti memberi tatapan, jangan membenarkan ucapan Alice.
"Iya, memang itu hanya masalah sepele. Aku setuju denganmu. Tapi jika sesuatu yang sepele itu di sepelekan, maka yang berat pun pasti akan di sepelekan. Kau harus belajar dari hal yang sepele." Ucap Ashana.
"Aku tidak menyalahkanmu juga tidak menyalahkan daddy mu. Kalian benar menurut pikiran masing-masing. Aku tidak berbohong."
Alice kembali memeluk Ashana. "Terima kasih kak. Setidaknya ada orang yang tidak menyalahkanku dalam segala hal."
Ashana menatap Achazia yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Membuat Ashana salah tingkah.
"Ya sudah kak. Terima kasih atas pendapatnya. Aku sangat puas." Alice melepaskan pelukannya lalu berjalan menghampiri Achazia. Meminta sesuatu yang sudah di janjikan Achazia. Setelah mendapatkan itu Alice pamit untuk pergi.
"Terima kasih."
Ashana menoleh ke segala arah. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Ailee sudah pergi untuk mengurus hal lainnya. Apakah Achazia mengucapkan terimakasih padanya?
__ADS_1
"Aku bicara padamu Ashana," Ucap Achazia.
"Terima kasih? Untuk apa?" Tanya Ashana.
"Terima kasih karena kau tidak menyalahkan adikku. Adikku terbiasa di salahkan jika bersama dengan keluarga yang lain. Ia tidak pernah di benarkan, hanya mommy mungkin yang seperti itu."
Ashana tersenyum. "Lagipula memang benar. Mau Alice atau daddy mu, semuanya benar menurut pemikiran masing-masing. Tidak ada yang salah di antara mereka berdua." Ucapnya.
Achazia bangkit berdiri. Melihat senyuman Ashana bisa membuat dirinya kehilangan akal. Kenapa senyuman itu bisa menghipnotis dirinya?
"Aku akan beristirahat." Ucap Achazia.
Ashana mengangguk. "Silahkan,"
Achazia berdecak. Ashana ini tidak peka atau bagaimana? "Bagaimana aku bisa tidur jika tidak ada kau Ashana?"
Ashana mengerjapkan matanya berkali-kali. Mencoba memahami ucapan Achazia. "Oh iya, maaf. Kau duluan saja." Ucap Ashana kikuk.
"Jangan terlalu lama," Ucap Achazia sebelum berlalu meninggalkan Ashana.
Ashana mengangguk. Matanya tidak bisa lepas dari Achazia yang semakin menjauh lalu hilang di balik pintu. Ia menghela napas, kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya? Apakah karena Achazia? Ah, tidak mungkin.
Setelah semuanya selesai, Ashana pergi ke kamar Achazia. Walaupun ia sudah sering menemani Achazia tidur, rasanya tetap seperti baru yang pertama kali.
Ashana membuka pintu kamar Achazia dengan pelan. Ia melihat Achazia sedang berdiri sambil menatap pemandangan indah Jakarta di waktu malam. Achazia menoleh saat mendengar suara pintu yang di buka. Pria itu tersenyum saat tahu Ashana yang membukanya.
"Kau belum tidur?" Tanya Ashana basa-basi.
Achazia menggeleng. "Aku belum mau tidur. Kau, kemarilah."
Ashana berjalan menghampiri Achazia. Ia ikut menatap pemandangan indah Jakarta saat tengah malam.
"Kau butuh sesuatu?" Tanya Ashana dan Achazia mengangguk.
"Apa itu? Biar aku yang bawakan."
Achazia menatap Ashana intens. Membuat Ashana langsung mengalihkan tatapannya. "Aku membutuhkanmu."
Ashana tersenyum kikuk. Wanita itu mengusap tengkuknya. "Achazia jangan bercanda. Apa yang kau butuhkan? Biar aku bawakan." Ucapnya yang kini sudah menatap Achazia.
"Aku memang membutuhkanmu Ashana." Achazia menarik pinggang Ashana sampai tidak ada jarak di antara keduanya. Ashana yang terkejut menyentuh dada Achazia yang memang tidak menggunakan apa-apa. Ashana mengatur napasnya yang tiba-tiba tidak beraturan. "Achazia kau kenapa?"
"Aku akan membebaskanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk bekerja denganku lagi. Kau bisa bekerja di kantor seperti biasanya. Tapi dengan satu syarat, kau harus menjadi pacarku."
******
__ADS_1