Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
TENTANG ASHANA DAN ACHAZIA


__ADS_3

Andini langsung keluar kamar saat mendengar suara bunyi bel yang dibunyikan. pasti Adrian. Dengan langkah yang di percepat Andini langsung membukakan pintu dan langsung terpampang Adrian yang sedang berdiri di hadapannya kini.


"Ayo masuk." Ucap Andini mengajak Adrian untuk masuk.


Adrian mengikuti langkah Andini tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia duduk di sofa saat Andini pergi ke dapur untuk menghidangkan minuman.


"Bagaimana? Ada apa dengan Ashana?" Ucap Andini to the point saat sudah menghidangkan minuman di atas meja.


Adrian mengeluarkan senyum kecil. "Kau tidak bertanya dulu padaku, aku ingin minum apa?" Ucap pria itu basa-basi.


Andini memutar kedua bola matanya jengah. "Ayolah, aku tahu kau menyukai semua jenis makanan dan minuman. Jadi jangan manja. Lagipula hanya ada ini di apartemenku. Jika kau mau yang aneh-aneh kau bisa membelinya sendiri." Ucap wanita itu yang langsung membuat Adrian tertawa.


"Kau ini, masih tidak berubah." Adrian meminum minuman yang di hidangkan oleh Andini. Kau tahu apa? Itu air putih yang di campur es batu.


Adrian menatap ke setiap penjuru apartemen Andini. Membuat Andini berdecak. "Kau mau mengulur waktu sampai berapa abad? Dari tadi hanya diam saja."


"Memangnya kita mau apa?"


Ingin rasanya Andini memukul kepala sepupunya yang t***l ini. Bisa-bisanya dia mengatakan mau melakukan apa padahal dia sendiri yang merencanakan pertemuan.


"Pikir saja sendiri! Dasar bodoh!" Maki Andini yang sudah kesal. Sudah tahu kesabarannya hanya setipis tisu di bagi dia, masih memancingnya lagi.


Adrian tertawa lagi melihat respon Andini. Andini memang tidak berubah sejak dulu. Selalu seperti ini. Dan inilah yang membuatnya nyaman jika bersama dengan Andini.


"Kau masih betah berada di apartemen ini?" Tanya Adrian membuat Andini mengernyit. "Maksudmu?"


"Kau tidak mempunyai pikiran untuk kembali ke rumah keluargamu?"


Andini mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Lagipula aku lebih menyukai kehidupan yang seperti ini. Jauh dari orang-orang seperti kalian." Wanita itu melipat kedua tangannya. Maksud dari orang-orang seperti kalian adalah orang-orang kaya. Entah kenapa dari kecil Andini tidak pernah suka kehidupan orang-orang kaya. Kehidupannya selalu berputar di itu-itu saja.


"Kau selalu berpikir seperti itu dari kecil. Jika aku bukan saudaramu, mungkin kini aku akan menjadi salah satu orang yang mencintaimu." Ucap Adrian yang langsung di hadiahi pelototan oleh Ashana.


"Gila kau! Sudahlah, jangan bawa pembicaraan ini ke mana-mana. Langsung pada inti percakapan. Apa yang terjadi pada Ashana? Aku sangat khawatir padanya. Apakah dia terlibat masalah denganmu? Kalau iya, lepaskan dia. Dia cuman gadis polos yang tidak mengerti apa-apa." Ucap Andini langsung mengubah topik ke niat awal mereka akan bertemu.

__ADS_1


Adrian menyunggingkan senyumnya. "Ya, dia melakukan sesuatu. Yang membuat sahabatku sampai hampir gila karena apa yang dia lakukan." Ucap Adrian bercanda. Tapi pria itu menunjukkan wajah sok seriusnya.


Andini melebarkan kedua matanya. "Benarkah? Apakah Abercio? Oh tidak mungkin. Ashana tidak pernah berhubungan dengan Abercio. Abqari? Apalagi pria itu. Ya! Apakah Achazia?" Wanita itu menatap Adrian dengan jari telunjuk yang mengarah kepada pria itu.


Adrian mengangguk tanpa menghilangkan ekspresi sok serius di wajahnya. "Iya, Ashana telah melakukan kesalahan."


"Apa itu?"


"Dia telah membuat Achazia jatuh cinta padanya. Dan yang lebih parahnya, Ashana menggantung Achazia dengan tidak menjawab perasaan Achazia."


"APA?!"


Adrian meringis. Ia mengusap telinganya yang sakit. Suara Andini bisa memecahkan gendang telinganya. "Bisakah kau merespon dengan biasa saja? Kau mau membuat telingaku tidak bisa mendengar lagi?" Ucap Adrian kesal.


Andini masih dalam keadaan yang sama. Terkejut dengan apa yang di katakan Adrian. Achazia jatuh cinta pada Ashana? Pria yang susah dalam hal jatuh cinta.


"Ka-kau tidak sedang berbohong kan?" Tanya Andini terbata saat kesadarannya sudah pulih kembali.


"Untuk apa aku berbohong?"


"Ashana.... aku tidak menyangka dia sehebat itu.." Gumam Andini masih geleng-geleng kepala.


"Ya begitulah, aku juga tidak mengerti dengan hubungan mereka. Hubungan mereka terlalu rumit untuk ku mengerti." Ucap Adrian.


Andini menatap Adrian dengan alis yang bertaut. "Memang hubungan percintaan mu tidak rumit?" Ucap wanita itu.


Adrian menghela napas. Hanya sahabat-sahabat nya dan Andini saja yang tahu kalau ia sangat mencintai Ailee. Wanita yang mengurus apartemen Achazia. Walaupun Adrian sudah melakukan berbagai cara untuk membuat Ailee mencintainya, tetap saja, Ailee merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Adrian. Lagipula Ailee mengatakan kalau dia tidak mencintai Adrian.


"Kisah cintaku tidak rumit. Hanya pujaan hatiku saja yang masih bimbang dengan perasaannya. Sebenarnya dia itu sama, mencintaiku. Tapi dia terlalu malu untuk mengungkapkannya." Ucap Adrian.


"Apanya yang mencintaimu? Pasti dia tidak mau denganmu. Siapa juga wanita yang menginginkanmu?" Ledek Andini membuat Adrian geram sendiri mendengarnya.


"Aku jadi ingin bertemu dengan wanita itu. Aku akan berterimakasih padanya karena telah menolakmu. Aku akan mengajaknya untuk berteman." Ucap Andini yang di akhiri dengan senyum manis.

__ADS_1


"Dia terlalu cantik. Jika kau bertemu dengannya aku malah takut kau nanti jadi minder sendiri. Dia itu wanita yang lembut. Sepertinya tidak akan cocok jika berteman denganmu." Adrian melipat kedua tangannya lalu memangku satu kakinya.


"Kau pikir Ashana tidak cantik? Kau pikir Ashana bukan wanita yang lembut?" Ucap Andini. Lalu menurut Adrian Ashana ini jelek? Ashana ini wanita yang kasar? Mudah sekali di bilang kalau Andini tidak akan bisa berteman dengan wanita yang cantik juga memiliki sifat yang lembut.


Adrian tertawa. Tawa itu lumayan panjang. Bahkan mata pria itu sampai tidak terlihat karena tertawa.


Andini menatap Adrian aneh. Ada apa dengan pria itu? Apakah mengalami gangguan jiwa mendadak? Tertawa tapi tidak ada yang lucu.


"Kau kenapa Adrian? Menurutku lebih baik kau pergi ke rumah sakit saja daripada ke rumahku. Sepertinya penyakit tersembunyi di dalam tubuhmu sudah kambuh." Ucap Andini yang merasa aneh dengan Adrian.


"Aku tidak mempunyai penyakit jiwa." Ucap Adrian saat tawanya sudah reda.


"Ya habis kau aneh sekali. Tiba-tiba tertawa padahal tidak ada yang lucu."


"Aku tertawa karena sikap aneh mu. Bisa-bisanya Abercio menyukai wanita sepertimu."


Blush!


Andini langsung memalingkan wajahnya saat merasakan panas yang menjalari pipinya. Kelakuan Andini itu tidak luput dari perhatian Adrian.


"Kau kenapa? Wajahnya memerah begitu. Kau sakit?" Ledek Adrian.


"Haish!" Andini bangkit berdiri. Wanita itu berjalan menghampiri Adrian lalu menarik tangan pria itu untuk bangkit. "Sudah selesai kan? Kalau begitu kau boleh pergi tuan muda Chawki."


Tanpa mendengar jawaban Adrian, Andini langsung menggeret Adrian untuk keluar dari apartemennya. Jika dibiarkan Adrian pasti akan makin melunjak dan malah meledeknya.


"Selamat malam tuan muda Chawki. Semoga malammu menyenangkan."


"Hei, aku adalah tamu---"


Brak!


Adrian terkejut. Tapi beberapa detik kemudian ia terkekeh dengan apa yang dilakukan Andini.

__ADS_1


*****


__ADS_2