Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
ORANG ANEH


__ADS_3

Ashana menatap setiap sudut dari restoran ini. Benar-benar menakjubkan. Bahkan matanya sampai tidak berkedip jika saja Achazia tidak mencium pipinya tiba-tiba.


Ashana menatap Achazia. Ia terkekeh pelan sebelum mencubit lengan Achazia. Achazia sudah memesan makanan untuknya tadi. Berhubung Ashana tidak tahu menu apa yang enak, jadi ia menyerahkan semuanya pada Achazia.


"Kakak," Panggil Alice.


"Iya? Ada apa?" Sahut Achazia.


"Bisakah dia di pindahkan duduknya?" Ucap Alice sambil menunjuk Abqari yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa aku harus di pindahkan?" Ucap Abqari.


"Keberadaanmu membuat ku risih."


Abercio tertawa mendengar ucapan Alice. Adrian, Ashana dan Andini terkekeh. Sedangkan Achazia dan Ailee tersenyum mendengarnya.


"Kau sudah tertolak Abqariiii." Ucap Abercio. Pria itu menyampirkan tangannya di bahu Andini, memanas-manasi Abqari.


Abqari berdecak. "Tenang, aku bukan orang yang mudah menyerah."


Alice menggeser kursinya ke sebelah Ailee agar ada jarak di antara dirinya dan Abqari. Abqari yang melihat itu santai saja. Yang penting Alice ada di sampingnya. Lagipula jaraknya tidak sejauh itu sampai harus menarik Alice kembali duduk di sebelahnya.


"Oh iya," Semua orang langsung menatap Adrian saat pria itu mengeluarkan suaranya.


"Tempat mana saja yang ingin kalian kunjungi?" Tanya pria itu. Ia menatap Achazia.


Achazia menoel pipi Ashana. Membuat wanita itu menoleh. "Apa?"


"Tempat apa yang ingin kau kunjungi selama di Swiss?" Tanya pria itu.


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Kenapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu Swiss. Kemana saja, aku ikut."


Adrian menatap Ailee. "Ada tempat yang ingin kau kunjungi sayangku?"


"Tidak ada." Sahut Ailee.


"Begini saja," Tiba-tiba Alice menyahut. "Bagaimana kalau aku pilihkan tempat-tempat yang bagus untuk kita kunjungi selama di Swiss?" Ucap Alice.


"Ide bagus." Balas Abqari dengan senyum lebar.


Alice menatapnya tajam. "Aku tidak bicara denganmu. Bagaimana Kak?" Ucap Alice.


Achazia mengangguk. "Bukan ide yang buruk." Ucap pria itu. Lagipula Alice selalu tahu tempat apa saja yang indah.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Semuanya mulai sibuk makan. Tidak ada yang bersuara. Ashana yang tidak terbiasa makan di tempat seperti ini mencoba untuk membiasakan diri. Tapi Achazia bisa melihatnya. Ashana terlihat kaku. Tanpa di suruh Achazia langsung menyuapkan makanannya.


Ashana menatap Achazia. Sedangkan Achazia hanya mengangkat satu alisnya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa kau---"


"Kenapa? Apa salah?" Sela Achazia.


Ashana menggeleng. "Ah tidak. Tapi lebih baik kau makan."


Achazia mengangguk. "Aku akan makan."


Sedangkan yang lain hanya bisa tersenyum tanpa merespon apa-apa. Achazia bisa marah nanti kalau ada yang sampai menyela pembicaraannya dengan Ashana.


Tidak ada yang bersuara selama makan. Semuanya fokus pada makanan masing-masing sampai habis. Mungkin karena ini adalah restoran kelas atas di tambah memang mereka tidak suka makan sambil mengobrol.


"Kau ke mobil lebih dulu. Nanti aku menyusul." Ucap Achazia.


Ashana mengangguk. Abercio, Adrian dan Abqari pun sama. Mereka menyuruh Andini, Ailee dan Alice untuk ke mobil lebih dulu. Entah apa yang akan mereka lakukan, Ashana tidak tahu. Mungkin itu tentang bisnis.


Ashana menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Andini menahan tangannya dari belakang. Ashana menoleh. "Ada apa?"


"Kau melihatnya?"


"Apa?"


Andini menunjuk objek menggunakan ekor mata. Ashana mengikuti. Wanita itu langsung menatap Andini saat tahu apa yang di tunjukkan Andini.


"Sejak kapan?"


"Sejak kita datang, aku sudah menyadari keberadaannya. Aku bilang pada Abercio. Mungkin Abercio sedang membicarakan itu pada yang lain. Dia tidak berpindah tempat Ashana. Tetap disana, sampai sekarang pun sama. Dan dia menatap ke arah kita."


Andini mengangguk. "Baiklah,"


Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing. Ashana yang ketakutan mencoba untuk tetap tenang. Ia mengunci pintu mobil lalu tetap menatap ke arah orang itu. Takut ada pergerakan dari orang itu.


Lima belas menit berlalu Achazia belum juga datang. Ashana berdecak, ia mulai khawatir. "Achazia lama sekali." Gumamnya.


Ashana kembali menatap ke arah orang itu. Kedua matanya langsung melebar saat tidak menemukan keberadaan orang itu. "Dimana dia?" Ashana panik. Ia langsung mencari keberadaan orang itu. Tidak ada, orang itu tidak ada.


Ashana terlonjak saat ada tangan yang menyentuh bahunya, refleks wanita itu memutar tubuhnya ke belakang. Ia langsung menghembuskan nafas lega saat tahu kalau orang yang menyentuh bahunya adalah Achazia.


"Kenapa kau begitu terkejut? Ada apa?" Ucap Achazia yang bingung melihat respon Ashana.


Ashana menggeleng. "Tidak ada."


"Kau di beri tahu Andini?" Tebak Achazia.


Ashana mengangguk. "Iya, Andini memberitahuku tentang orang asing itu. Dan Andini juga memberitahu Abercio. Apakah kalian tadi baru saja membicarakan soal itu?"


Achazia mengangguk. "Iya, anak buahku sedang membuntuti orang itu."

__ADS_1


"Memangnya kemana orang itu?"


"Sepertinya dia orang yang berpengalaman. Ia langsung sadar saat aku menyuruh anak buahku membuntutinya. Dia langsung pergi. Tapi anak buahku tidak akan kehilangan jejaknya."


Ashana mengangguk. "Anak buahmu juga orang yang berpengalaman. Pasti tidak akan kehilangan jejaknya." Ashana menyentuh tangan Achazia. Pria itu tersenyum.


"Ayo kita pulang."


Ashana mengangguk. Ia langsung memasang sabuk pengaman. Selama perjalanan pulang, Ashana tidak henti-hentinya berdoa agar orang itu bukan orang jahat. Semoga saja itu hanya orang yang sedang berdiri tapi kebetulan menatap ke arahnya. Ya, semoga saja.


"Kau langsung tidur, jangan kelayapan. Besok kita akan jalan-jalan." Ucap Achazia saat mereka sudah sampai di depan villa.


Ashana mengangguk. Tubuhnya juga sangat lelah minta di istirahatkan. "Kau juga,"


"Aku tidak janji." Ucap Achazia yang langsung membuat Ashana menatap pria itu tajam.


"Kau akan melakukan apa memangnya?"


"Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Ah, iya aku lupa. Kau kan direktur." Ucap Ashana yang baru ingat kalau kekasihnya ini seorang direktur. Walaupun dalam keadaan berlibur, Achazia tetap harus bekerja.


"Jangan malam-malam."


"Baiklah,"


Mereka berdua keluar dari mobil. Yang lainnya sudah keluar dari tadi. Saat memasuki villa, Ashana bisa melihat Alice dan Andini yang sedang duduk di sofa. Mereka berdua terlihat lelah. Sedangkan Abercio dan Abqari berada di sofa sebelahnya.


"Dimana Ailee?" Tanya Ashana.


"Ailee sudah pergi ke kamarnya." Ucap Andini.


"Ah, aku lelah sekaliiii...." Ucap Alice.


"Mau aku angkat ke kamar?" Tawar Abqari.


"Tidak," Jawab Alice cepat.


Ashana menatap Achazia yang berada di belakangnya. "Aku ke kamar dulu."


"Sebentar," Achazia mencegah Ashana dengan menggenggam tangan wanita itu.


"Ada apa?"


Achazia menunjukkan pipinya. Ashana tersenyum. Wanita itu langsung mencium pipi Achazia dan setelah itu langsung pergi masuk ke dalam kamar. Takut Achazia memintanya lagi.


Achazia terkekeh melihat kelakuan Ashana. Sedangkan yang lain hanya menghembuskan napasnya.

__ADS_1


"Mengumbar-ngumbar kemesraan, sangat tidak sopan." Celutuk Abqari yang di angguki Abercio. Beruntung Achazia tidak mendengarnya karena pria itu langsung pergi ke dapur menghampiri Adrian.


*****


__ADS_2