Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
NASIHAT IBU


__ADS_3

Ashana merebahkan tubuhnya yang lelah sehabis bekerja di kantor. Ia menatap jam dinding. Sudah pukul 16:40. Pasti Achazia sudah sampai di apartemennya.


"Ponselku dimana ya?" Ashana meraba kasur mencari ponsel. Ia baru ingat kalau ponselnya masih ada di dalam tas.


Ashana


Kau sudah sampai rumah?


Setelah mengirimkan pesan pada Achazia, Ashana menaruh ponsel di sebelahnya. Saat mengirimkan pesan untuk Achazia tadi, ia melihat satu pesan yang di kirimkan oleh nomor tidak di kenal. Ia baru ingat kalau pesan itu sudah di kirim saat dia masih berada di kantor.


Ashana kembali menyalakan ponsel untuk memeriksa pesan itu.


0812********


Jika sudah memulai, jangan harap kau akan kabur sebelum permainan selesai.


Ashana mengernyit bingung. Siapa yang mengirimkan pesan seperti ini? "Pasti ini salah kirim." Ucapnya yang yakin kalau nomor itu salah kirim.


Setelah merasa cukup baikan, Ashana bangkit lalu membersihkan diri. Ia bukan tipe wanita yang akan menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Cukup lima belas menit saja ia sudah keluar dari kamar mandi.


"Ashana?"


Ashana menatap Ibunya yang baru saja membuka pintu. "Kenapa Bu?"


"Ayo makan dulu." Ucap Ibu. Ashana mengangguk lalu Ibu pun menutup pintu kamar kembali.


Setelah selesai memakai pakaian, Ashana keluar untuk makan. Di meja makan sudah ada Ibu, Bapak dan Andri.


"Wah, menunya sekarang apa?" Ucap Ashana sambil menarik kursi untuk duduk.


"Menunya sekarang adalah makanan kesukaanku."


"Bukankah semua makanan adalah makanan kesukaanmu?" Ucap Ashana yang langsung mengundang tawa Ibu dan Bapak.


"Maksudku yang paling aku suka di antara semua yang ku suka."


"Kau selalu bicara begitu. Hari ini menunya adalah makanan kesukaanku. Padahal semua makanan pun makanan kesukaanmu."


"Terserah kau saja lah kak. Aku lapar." Ucap Andri yang langsung menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Bapak.


Ashana menganggukkan kepala beberapa kali dengan keadaan mulut yang mengunyah makanan. "Baik."

__ADS_1


Acara makan di laksanakan dengan tenang. Setiap harinya juga seperti itu. Setelah selesai Ashana memilih untuk membantu Ibu membereskan meja makan setelah makan.


"Tidak perlu. Kau ke kamar saja. Kau pasti lelah." Ucap Ibu sambil mencegah Ashana membawa tumpukan piring kotor ke dapur.


Ashana tersenyum. "Kalau aku lelah menang Ibu tidak lelah?"


"Tidak, Ibu tidak lelah." Ibu akan mengambil alih tumpukan piring kotor yang ada di tangan Ashana tapi langsung di jauhkan oleh Ashana.


"Tidak apa. Aku juga tidak lelah." Ucap Ashana menolak dengan halus.


"Tidak, kau lelah. Ibu tahu."


"Ya sudah, berarti Ibu juga lelah. Aku tahu itu."


Ibu berkacak pinggang. Anaknya ini benar-benar keras kepala ya. Ia menjewer telinga Ashana pelan. Tapi bisa membuat Ashana meringis sakit.


"Aw! Sakit Bu!" Ringis Ashana. Setelah Ibu melepaskan jewerannya, Ashana mengusap telinganya yang sakit. Padahal biasa aja.


"Kau ini sangat keras kepala ya. Ya sudah, ayo." Ucap Ibu di sertai senyuman.


Ashana mengeluarkan cengiran nya. Ia berjalan mengebor Ibu menuju ke dapur.


"Ibu," Panggil Ashana.


"Hm?"


"Kau akan merasakannya nanti jika kau sudah menikah. Oh iya, Ibu lupa. Kau kan akan menikah dengan anak konglomerat. Pasti ada banyak pembantu yang akan membantumu. Oh, Ibu salah lagi. Mereka tidak akan membantumu. Tapi merekalah yang mengerjakannya." Ucap Ibu bergurau.


"Siapa? Aku saja belum ada rencana akan menikah. Memangnya aku akan menikah dengan siapa?"


"Achazia. Siapa lagi." Balas Ibu santai.


"Ih, Ibu. Bisa saja aku tidak menikah dengan Achazia."


Setelah Ibu selesai membawakan semua peralatan makan yang kotor, ia membantu Ashana mencuci piring. "Memang kau pernah ada pikiran seperti itu?"


"Seperti apa?" Tanya Ashana tidak mengerti.


"Seperti tadi. Kalau bisa saja kau menikah bukan dengan Achazia."


"Oh, iya. Memangnya kenapa?"


"Kau mencintainya?"

__ADS_1


Ashana terkekeh. "Tentu saja Bu. Kalau aku tidak mencintainya untuk aku berpacaran dengannya?"


"Lalu kenapa ada pikiran bisa saja kau tidak menikah dengannya?"


Ashana tersenyum. "Bu, dia berasal dari keluarga kaya raya. Tidak sebanding denganku. Keluarganya juga sangat memandang jika menikahkan anggota keluarga mereka. Jadi aku merasa kalau aku tidak akan lolos." Ucap nya.


Ibu tersenyum. Setelah selesai mencuci semua alat makan, ia membawa Ashana untuk duduk. "Dengarkan Ibu. Ibu juga satu pemikiran denganmu kalau kita memang tidak sebanding dengan mereka. Kita harus sadar diri. Tapi, Ibu berubah pikiran. Jika kita memandang kasta terus menerus, kapan kita akan bahagia? Apakah dengan menikahi wanita yang sederajat bisa membuat kita bahagia? Apakah dengan tantangan yang sepertinya mustahil untuk di hadapi kau pantas untuk menyerah dan merelakan kebahagiaanmu? Tidak, tidak seperti itu. Relakan jika memang sudah berjuang tapi tidak menghasilkan apa-apa, setidaknya kau sudah berjuang untuk kebahagiaanmu sendiri. Jangan di paksakan jika memang dia bukan orang yang tepat. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untukmu." Ucap Ibu. Ia mengusap surai lembut Ashana.


Ashana terdiam mendengar nasihat Ibu. Benar, benar yang dikatakan Ibu. Bagaimana bisa ia menyerah sebelum menghadapi? Jika Achazia adalah kebahagiaannya apakah salah memperjuangkan kebahagiaan itu?


"Walaupun harus melawan keluarganya?"


Ibu mengangguk. "Ya, buktikan kalau kau mampu bersanding dengan Achazia walaupun derajat kalian berbeda. Jangan minder. Kau pantas bahagia."


Ashana tersenyum. Ia memeluk Ibu. Ibu selalu menyemangatinya walaupun Ashana tidak bercerita apa pun. Seperti yang mengetahui tanpa harus di beri tahu.


"Sudah, sekarang kau istirahat." Ucap Ibu.


"Aku belum mengantuk Bu."


"Memang istirahat saat mengantuk saja?" Ucap Ibu.


Ashana berdecak. Kenapa Ibunya ini pintar sekali menjawab alasan sih? Ashana melepaskan pelukannya. "Baiklah, aku akan istirahat." Ucapnya dan Ibu mengangguk.


Setelah mengecup pipi Ibu singkat, Ashana masuk ke dalam kamar. Ia tidak tahu kalau Ibunya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Walaupun Ashana sudah dewasa, tapi ia tetap gadis kecil di mata Ibunya.


Saat Ashana masuk ke dalam kamar, ponselnya bergetar. Ashana langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


*Achazia


Aku sudah sampai. Tumben kau menanyakannya?


Ashana


Kau ini. Jika aku tidak menanyakannya kau akan berpikir kalau aku tidak peduli. Jika aku tanya kau malah seperti ini*.


Ashana tersenyum. Walaupun dengan sikap Achazia yang seperti itu, malah membuatnya tambah tidak mau kehilangan pria itu.


Satu pesan datang dari nomor yang sama. Nomor yang tidak di kenal. Jari Ashana bergerak membukanya.


0812********


Ashana, bersiaplah.

__ADS_1


"Sebenarnya nomor siapa ini?" Gumam Ashana.


*****


__ADS_2