
"Haish, bilang saja kalau Ariana ingin mendekati kakakku kan?!" Ucap Alice frontal.
"Alice," Adriyana mencoba menenangkan Aluce dengan cara menarik tangan gadis itu. Tapi Alice tetap bergeming.
"Kau pikir kau pantas bersanding dengan kakakku?! TIDAK!" Ucap Alice.
Ariana yang terbawa emosi langsung berdiri. "Memang siapa kau berani mengatur Achazia? Achazia nya juga dari tadi diam saja. Tidak berkomentar apa-apa. Siapa kau---"
"Aku adiknya kalau kau lupa! Lagipula apa hakmu meraba kakakku? Hah?! Kau meraba nya sampai bahu. Seperti orang yang tidak berpendidikan! Memang kau pikir kakakku nyaman dengan apa yang kau lakukan? Tidak! Kakakku diam karena dia tidak mau membuatmu malu. Kau mengerti?!"
Kini semua orang menatap ke arah Ariana. Airana yang merasa malu dengan anaknya hanya menatap Ariana kesal. Sebenarnya ia sudah tahu kalau tangan Ariana tidak kau diam, menggoda Achazia. Tapi ia juga tidak mau menghentikannya karena mungkin anaknya sedang berusaha mendapatkan Achazia. Ia tidak menyangka kalau Alice juga memperhatikan sampai sedetail itu.
"Ariana, kau sudah keterlaluan." Ucap Alan, Papa Ariana.
Arsha hanya menghembuskan napasnya melihat kelakuan cucu-cucu nya. "Sudah, jangan di ributkan lagi. Kita di sini tidak untuk meributkan sesuatu." Ucap Arsha.
"Maaf, nek." Alice langsung kembali duduk. Sedangkan Arsha hanya tersenyum melihat Alice. Alice sudah bertindak benar. Dia hanya terbawa emosi.
Alice menatap Adriyana yang tersenyum. Bangga dengan apa yang telah ia lakukan. Alice juga menatap Achazia. Achazia juga tersenyum. Bahkan pria itu menyempatkan memberi jempol ke arahnya. Alice tahu ia melakukan hal yang benar. Dasar Ariana, kalau di bandingkan pun masih cantik Kak Ashana. Begitu pikir Alice.
Saat makan malam sudah di mulai, Achazia menggeser sedikit kursinya agar bisa menjauh dari Ariana. Alice yang peka dengan apa yang di lakukan oleh Achazia, langsung mendekatkan diri pada kakaknya itu.
"Kakak mau sesuatu?" Ucap Alice mendahului Ariana yang akan melayani Achazia.
Achazia mengangguk. Ia menunjuk ikan gurame yang terletak tidak jauh dari Alice. "Aku mau itu."
"Biar aku ambilkan." Alice mengambil ikan gurame, tapi sayang sendok untuk mengambil ikan itu sudah di ambil lebih dulu oleh Ariana. Ariana, dengan tampang tidak berdosanya menatap Alice. "Kau mau ikan?"
Alice mengangguk dengan wajah datar. Ia mencoba mengambil sendok yang masih di genggam Ariana, tapi Ariana menjauhkannya membuatnya tambah kesal.
"Biar aku yang ambilkan. Kemari kan piringmu."
"Aku bisa sendiri." Ucap Alice.
"Agar sekalian. Aku juga ingin ikan gurame."
Alice berdecak. Ia mengambil piringnya, membuat Ariana mengernyit. Bukankah Achazia yang menginginkan ikan gurame? Lalu kenapa Alice memberikan piringnya sendiri?
Walau pun enggan memberikannya, tapi Ariana tetap memberikannya. Tak lupa saat Ariana memberikan ikannya, Alice memberikan senyuman miring.
"Kau mau ikan kak?" Ucap Alice pada Achazia dan Achazia mengangguk. Alice memindahkan ikan gurame yang ada di piringnya ke piring Achazia.
Ariana melebarkan kedua matanya. Saking tidak mau Achazia berinteraksi dengan nya, Alice sampai melakukan itu.
__ADS_1
Mereka semua makan dengan tenang. Hanya Alice dan Ariana yang sedari tadi melempar pandangan tidak senang. Ya, hanya mereka berdua. Selain mereka berdua, semuanya makan dengan tenang.
Setelah makan malam selesai, Alice langsung berdiri lalu pamit ke kamar mandi. Ia ingin buang air kecil. Setelah selesai dengan urusan kamar mandinya, Alice lebih memilih duduk di ruang tamu dari pada kembali ke ruang makan dan bertemu dengan nenek lampir itu lagi.
"Otak mu ini ya." Alice menoleh ke belakang dan menemukan Achazia yang kini sudah merangkul bahunya. Ia duduk di sebelah Alice.
Alice terkekeh. "Salahkan dia kenapa gatal sekali." Ucap Alice.
"Dari dulu dia memang seperti itu."
"Kenapa kakak hanya diam saja sih? Aku tahu kakak juga risih sebenarnya."
"Aku tidak mau mempermalukan nya. Kasihan kalau dia malu, jadi lebih baik aku diam saja."
"Malah harusnya kakak buat dia malu. Agar dia tidak seperti itu lagi pada kakak."
Achazia terkekeh. "Jika dia sudah melebihi batas, aku akan bicara."
"Kak, coba telepon Kak Ashana."
"Mau apa kau?" Achazia menatap adiknya curiga.
"Aku ingin mengobrol dengannya."
"Kau tidak punya nomornya?"
Achazia menghela napas. Ia mulai menelepon Ashana. Lama tidak di angkat, sampai akhirnya di angkat.
"Kak Ashana!" Pekik Alice saat melihat wajah Ashana muncul di layar ponsel Achazia. Saling senangnya gadis itu sampai merebut ponsel yang ada di tangan Achazia.
"Hai, Alice." Sapa Ashana gugup. Kini wanita itu sedang berada di kamarnya.
"Kakak merindukan ku tidak?" Tanya Alice.
Ashana mengangguk. "Ya, aku merindukanmu."
Alice memekik. Membuat Achazia terkejut juga Ashana yang ada di seberang telepon.
"Karena kakak merindukan ku, bagaimana kalau akhir pekan kita jalan-jalan?"
Achazia menatap Alice tidak terima. Akhir pekan ia akan mengajak Ashana jalan-jalan. Jangan sampai Ashana malah jalan-jalan dengan bocah tengik ini.
"Mmm... Bo----"
__ADS_1
"Tidak boleh. Ada sesuatu yang harus Ashana kerjakan di akhir pekan." Sela Achazia. Pria itu merebut kembali ponselnya yang di genggam Alice.
Alice cemberut. "Sesuatu apa?"
"Ada. Urusan kantor. Anak kuliah seperti mu tidak akan mengerti." Ucap Achazia.
Ashana yang bingung apa yang harus ia kerjakan di akhir pekan, hanya diam saja. Mungkin ada sesuatu yang memang harus ia kerjakan. Tapi Achazia belum memberi tahunya.
"Ya sudah kalau begitu akhir pekan nanti. Bagaimana Kak Ashana?" Alice berjinjit agar bisa melihat Ashana.
Ashana menatap Achazia yang hanya diam saja. Ia bingung harus menjawab apa. "Nanti aku pikirkan lagi saja."
"Kenapa? Apakah kakak ada jadwal?"
Ashana tersenyum. "Bukan begitu. Nanti aku hubungi kamu ya. Aku usahakan akhir pekan nanti."
Alice tersenyum lebar. "Yes! Kak Ashana itu paling the best!" Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan ponsel Achazia.
"Sudah?"
"Sudah apanya?"
"Sudah bicaranya?"
Alice tersenyum. Pasti kakaknya ini akan mengatakan sesuatu pada Ashana. Ia tahu, sebenarnya kakaknya ini mengusirnya. Baiklah, Alice juga tidak mau mengganggu pasangan yang satu ini. "Baiklah, baiklah. Aku akan pergi. Dadah calon kakak ipar! Muach!" Setelah melepaa cium jarak jauh, Alice pergi tak tahu mau kemana.
Ashana tersenyum melihat tingkah Alice. "Dia lucu."
"Ya, dia memang lucu." Achazia berjalan keluar. Mencari angin segar karena di dalam ia merasa sesak. Bahkan ia sudah melepas tiga kancing teratas kemejanya. Sebenarnya Ashana tidak kuat melihatnya, tapi Achazia tidak sadar.
"Akhir pekan aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia. Kau akan tahu nanti."
"Baiklah, tapi bisakah kau kancing kan dulu kemejamu?" Karena sudah tidak tahan, Ashana akhirnya bicara juga.
"Kenapa?" Achazia menatap kemejanya. Ia tersenyum miring saat mengerti.
"Sudah malam. Pasti dingin. Kau bisa masuk angin."
"Kau mau aku mengancingkan bajuku? Bagaimana ya, aku tidak bisa mengancingkan baju. Aku hanya bisa melepasnya. Jadi bagaimana kalau kau yang mengancingkannya?" Bukannya di kancing kan, Achazia malah membuka kancing yang lain. Membuat Ashana berdecak kesal.
__ADS_1
"Dasar anak ini!" Gumamnya dalam hati.
*****