
Ashana menatap hamparan awan di depan matanya. Ia meraba jendela, walaupun awan itu terhalang jendela, ia bisa merasakan kehadiran awan itu. Ia menoleh saat ada tangan yang menyentuh bahunya.
"Achazia?"
"Aku menagihmu."
Ashana sudah tahu arah pembicaraannya. Ia mendengus. "Hey, aku tidak sepakat soal itu."
"Memang harus ada kesapakatanmu dulu?"
"Iyalah!"
"Tidak, aku tidak butuh. Jadi sekarang berikan hadiahnya padaku."
Ashana berdecak. "Achazia, aku tidak tahu sebenarnya apa yang kau inginkan. Aku benar-benar-----"
Cup.
Ashana mematung saat Achazia melakukan itu. Ia menatap Achazia yang malah tersenyum tanpa dosa. "Sebenarnya aku ingin lebih lama. Apakah boleh?"
"Kau sudah mengambil hadiahnya! Jadi kau tidak bisa memintanya lagi!"
Achazia tertawa melihat kegemasan yang ada di depan matanya ini. "Ya mungkin saja kau yang menginginkannya."
"Aku bukan kau!"
Achazia mengangkat kedua bahunya. Wajahnya mendekat, membuat Ashana waswas. Ashana langsung mundur, membuat Achazia terkekeh. Kenapa kekasihnya ini sangat menggemaskan?
"Aku tidak akan melakukan apapun."
"Siapa yang bisa menjamin?" Kesal Ashana. Bahkan tadi saja ia mengambilnya tanpa izin.
"Katakan padaku. Apa kau menginginkannya?"
Ashana memutar kedua bola matanya. "Kau ini bicara apa? Aku tidak mengerti!"
"Apakah aku harus mengatakan kata-kata yang terdengar jelas? Aku menginginkan----"
"Sudah cukup! Aku tidak mau bicara denganmu."
"makan malam maksudku. Kenapa kau sensitif sekali?" Achazia malah tambah ingin menjahili Ashana.
"Ma-makan malam?" Ashana gugup karena malu. Bagaimana ia bisa berpikir kotor padahal maksud Achazia bukan ke arah sana? Ah, ada apa dengan otaknya?
"Ya, makan malam. Mungkin sudah siap." Achazia pun tidak tahu pasti sudah siap atau belum. Ia hanya ingin menjahili Ashana.
"Lebih baik kita lihat." Ashana berjalan lebih dulu karena malu sedangkan Achazia mengekor dari belakang.
__ADS_1
"Abercio! Kenapa kau selalu mengambil kesempatan?!"
Ashana menghentikan langkahnya saat mendengar suara Andini. Ya, ia belum tahu bagaimana bisa Andini jadian dengan Abercio. Mungkin nanti ia akan menginterogasi Andini.
Terdengar tawa Abercio. "Memangnya aku mengambil apa?"
"Kau tanya saja pada dirimu sendiri!" Andini berjalan berbalik dan langkahnya terhenti saat menemukan Ashana dengan Achazia di belakangnya.
"Ashana,"
Ashana memasang wajah ketus. Ia sedang berpura-pura marah karena tidak di beritahu oleh Andini kalau dia telah jadian dengan Abercio.
"Aku tidak mau bicara denganmu."
Andini memasang wajah melas. "Ashana, aku tidak menceritakannya karena aku belum siap."
"Aku tidak peduli."
"Ashanaaaa...." Andini langsung menghampiri Ashana lalu menggamit lengannya. Ia bergelayut di tangan Ashana.
"Maafkan aku ya?"
Ashana menghela napas. Ia menatap Andini yang berdiri di sebelahnya. "Kau tahu aku tidak bisa marah dengan waktu yang lama jika kamu orangnya."
Andini tersenyum lebar. Ia langsung memeluk Ashana. "Aku menyayangimu."
"Aku juga." Ashana balas memeluk Andini.
Ashana mendongak dan menatap Abercio yang berjalan mendekat. Ia memicingkan matanya. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Itu karena sahabatmu memintanya. Dia bilang kalau dia belum siap. Jadi aku tidak memberitahumu."
"Baiklah, aku memaklumi nya. Tapi kau harus memberiku hadiah karena aku telah membantumu."
Andini langsung mendongak menatap Ashana. "Kau membantunya?"
Ashana mengangguk. "Iya, aku membantunya. Dia yang meminta bantuan ku. Lagipula kau senang kan, perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan? Aku sudah tahu dari lama kalau kau menyukai Abercio."
Andini yang malu kembali memeluk Ashana. Membuat Abercio yang menatapnya gemas ingin langsung menikahinya. Eh?
Achazia berdeham. Ia berjalan lalu berhenti di samping Ashana lalu merangkul bahu wanita itu. "Masih ada aku disini?"
"Memang siapa yang melupakanmu?" Balas Ashana.
"Wah, kau memintaku untuk kembali----"
"Sudah, sudah! Kau jangan bicara. Pikiran-pikiran aneh selalu datang di kepalaku jika kau bicara. Kita akan melihat makan malam kan?" Ucap Ashana yang sudah tidak kuat. Entah kenapa pikiran itu selalu muncul jika Achazia sudah mengatakan, yah begitulah.
__ADS_1
Mereka berempat berjalan menuju tempat makan. Saat di jalan, mereka melihat Alice yang berlari. Alice langsung tersenyum lebar saat melihat Ashana dan Achazia. Ia langsung memeluk Ashana dan bersembunyi di balik punggung Ashana.
"Kau kenapa?" Ucap Achazia melihat Alice yang seperti di kejar oleh sesuatu.
"Kak! Inilah akibatnya kau mengajak dia!"
Mereka berempat langsung menatap ke depan. Beberapa detik muncullah Abqari yang seperti baru saja berlari sangat jauh karena napasnya yang tidak beraturan.
Achazia menatap Abqari tajam. "Kau lakukan apa pada adikku?" Ucapnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa! Dia yang tiba-tiba menggigitku!" Ucap Abqari tidak terima di tuduh. Memang benar, Alice yang menggigitnya. Awalnya ia akan mendekati Alice. Alice yang sudah waswas dengan Abqari bersiap jika tiba-tiba Abqari melakukan sesuatu.
Saat itu keduanya sedang duduk di bangku pesawat yang langsung menunjukkan mereka pada pemandangan awan walapun di tutup jendela. Abqari yang akan menutup korden agar Alic fokus padanya malah terkena gigitan gadis itu karena Alice mengira kalau Abqari akan menyentuhnya. Karena tangan Abqari tepat berada di hadapan wajahnya. Itu membuat Alice takut dan langsung mengigit tangan Abqari. Saat Abqari menjerit, Alice langsung kabur. Dan yang membuat Alice takut adalah Abqari mengejarnya.
"Dia mengejarku kak!" Adu Alice tidak mau kalah.
Abqari berdecak. Mencintai gadis yang lebih muda lima tahun darinya memang lah menyebalkan. "Aku tidak akan mengejarmu jika kau tidak mengigitku!"
"Aku juga tidak akan mengigitku jika kau tidak menyentuhku!"
"Kau menyentuhnya?!" Kini Achazia yang malah ikut-ikutan naik pitam.
Abqari hampir saja frustasi. "Aku tidak menyentuhnya! Aku hanya akan menutup jendela dan dia mengira aku akan menyentuhnya!"
Baik Achazia, Ashana, Andini dan Abercio langsung menatap Alice. "Alice benarkah itu?" Tanya Ashana.
"Kan aku kira dia akan menyentuhku."
Ke empat orang itu langsung menghela napas. Ternyata kesalahpahaman. "Ya sudah kalau begitu lebih baik kita makan. Ini sudah malam dan aku yakin kalian lapar."
Mereka pun berjalan bersama. Alice yang masih waswas dengan Abqari menyuruh pria itu untuk jalan lebih dulu bersama Abercio dan Achazia.
Walaupun merasa kesal, entah kenapa Abqari masih mencintai gadis itu dan masih bertekad untuk mendapatkan hatinya. Ah, cinta benar-benar membuatnya gila.
Tempat makan mereka tidak jauh lagi. Mereka akn sampai. "Tunggu, tunggu." Abqari menghentikan langkahnya, membuat yang lain ikut memberhentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Andini.
"Kalian mendengar sesuatu?"
"Harusnya kau berhenti mengejarku!"
Ya, mereka semua mendengarnya. "Itu suara Ailee." Ucap Ashana. Ia yakin Ailee sedang di dalam bersama Adrian.
Achazia menghela napas. "Drama apalagi ini."
Ashana langsung mencubit lengan Achazia. "Diam."
__ADS_1
"Aku tidak bisa berhenti Ailee! Aku mencintaimu! Dan akan terus mencintaimu!"
*****