
Ashana menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan keras sampai menimbulkan suara. Membuat Andini yang berada di kotakan sebelahnya menyembulkan kepala.
"Kau kenapa?"
Ashana hanya menggelengkan kepala dengan kepala yang masih menempel di meja. Membuat Andini pindah ke kotakan Ashana.
"Ada masalah? Kau sakit?" Tanya Andini yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak, Andin.." Ashana kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap Andini. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah," Ucapnya. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Hanya ingin saja.
"Ku kira kau kenapa. Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaanku dulu." Andini kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda.
Ashana menatap Andini. Sampai saat ini Andini belum tahu kalau dia adalah wanita yang akan di jodohkan dengan Achazia jika Ashana tidak ada. Wanita itu menghembuskan napasnya. Apa Andini akan menerimanya? Dia kan tipe gadis yang tidak mau di atur.
"Apa aku cerita aja ya sama dia?" Gumam Ashana pelan. Bukannya bagaimana. Tapi Ashana sudah terbiasa dengan kehadiran Andini. Jadi ia benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia dari Andini. Begitu juga Andini. Ia juga tidak bisa menyimpan rahasia dari Ashana.
"Nanti saja kalau sudah jam makan siang." Gumam Ashana yang yakin untuk menceritakannya pada Andini.
"Ashana?"
Ashana mendongak saat mendengar suara orang memanggil namanya. Wanita itu tersenyum. "Iya ada apa?"
"Kamu di panggil sama Pak Achazia," Ucap wanita itu kemudian melenggang pergi.
Ashana memijat keningnya. "Mau apalagi sih dia?" Kesalnya. Akhir-akhir ini Achazia suka memanggil Ashana ke ruangannya hanya untuk menjadi wanita itu. Seperti membeli kopi, memijat, atau mengajaknya mengobrol. Oh iya, sebelumnya, Achazia menolak Ashana untuk kembali bekerja di kantor. Ia ingin Ashana bekerja di rumahnya saja. Tapi Ashana menolak. Ia bilang kalau ia butuh banyak uang. Jadi ia butuh banyak pekerjaan. Saat Achazia akan menaikkan gaji Ashana saat bekerja di rumahnya, Ashana menolak karena ia ingin gajinya di samakan dengan Ailee. Dan jadilah Ashana masih bekerja disini.
"Ada apa kau memanggilku?" Ucap Ashana saat sudah memasuki ruangan Achazia. Wanita itu membulatkan kedua matanya. Ternyata di dalam bukan hanya ada Achazia. Tapi ada Adrian, Abercio dan Abqari juga.
"Se-sepertinya kalian sedang rapat persahabatan. Aku keluar dulu." Ucap Ashana yang sudah gugup.
"Mau kemana?" Suara Achazia menginterupsi langkah Ashana.
"Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Jawab Ashana. Sebenarnya wanita itu sedang berusaha mati-matian untuk tidak gugup.
"Kemari dulu."
Ashana berdecak. Ia berjalan mendekat. Bagaimanapun ia tidak bisa menolak permintaan majikannya. "Apa?"
"Ada seseorang yang ingin bicara denganmu."
__ADS_1
Ashana mengernyit bingung. "Siapa?"
Achazia menunjuk seseorang dengan dagunya. Membuat Ashana menoleh dan menemukan Abercio yang sedang berdiri sambil mengalihkan tatapannya.
"Abercio?" Tanya Ashana yang di angguki oleh Achazia.
"Hey, orangnya sudah di panggil. Kau mau seperti itu terus? Ayolah, buang gengsimu!" Ucap Adrian yang terlihat kesal dengan sikap Abercio. Tapi Abercio tetap diam.
"Abercio!" Panggil Adrian.
Abercio menoleh. "Kau bicara padaku?" Ucap pria itu yang malah membuat Adrian naik darah.
Abqari tertawa melihat ekspresi ingin membunuh Adrian. "Sudahlah Abercio. Kau tidak bisa bersembunyi terus. Cepat atau lambat kau harus melakukan ini." Ucap Abqari yang sebenarnya juga kesal karena sifat gengsi Abercio.
"Oke, baiklah!" Abercio menaruh gelas yang di pegangnya ke atas meja. Pria itu menatap Ashana lalu berjalan menghampiri wanita itu.
"Ashana, aku butuh bantuanmu." ucap Abercio yang membuat Ashana mengernyit. Bantuan seperti apa yang diinginkan Abercio?
"Aku..." Abercio menatap satu persatu sahabatnya. Mereka meyakinkan Abercio dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku mencintai sahabatmu." Ucap Abercio kemudian menundukkan kepalanya malu.
Ashana yang baru sadar langsung menutup mulutnya. "Maaf, maaf. Aku refleks." Ucap wanita itu sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.
"Apakah kau bisa membantuku?" Ucap Abercio.
"Aku akan membantumu. Tapi... apa Andini mencintaimu?" Ucap Ashana yang membuat Abercio down.
"Kau jangan bicara seperti itu. Aku yakin dia juga mencintaiku." Ucap Abercio mencoba untuk optimis.
Ashana terlihat menahan tawanya. Sebenarnya ia juga tahu kalau Andini menyukai Abercio. Terlihat dari tatapan Andini kalau Abercio lewat di kantor. Hanya saja Andini menutupinya dengan kekesalan pada Abercio.
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Syarat?"
Ashana mengerutkan dahinya. "Syarat apa maksudmu?"
"Kau tidak mempunyai syarat agar kau mau membantuku?" Abercio memperjelas ucapannya.
__ADS_1
"Oooh.. tidak." Jawab Ashana dengan enteng dan polos. Bahkan Abercio, Adrian dan Abqari dibuat melongo. Ashana mau melakukan sesuatu tanpa imbalan? Jaman sekarang mana ada orang seperti dia?
"Kau serius?" Kini Abqari yang berbicara.
Ashana mengangguk. "Iya,"
"Jangan samakan Ashana dengan orang di luar sana. Ashana berbeda." Itu suara Achazia. Walaupun pria itu fokus pada pekerjaannya, ternyata ia juga menyimak pembicaraan.
"Jadi kau mau bagaimana aku membantumu?" Tanya Ashana.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini. Jika pekerjaanmu di kantor sudah selesai, ayo pergi bertemu."
"Tapi... " Ashana menatap Achazia yang memang sedang fokus. Tidak, lebih tepatnya mencoba untuk fokus. Wanita itu menghampiri Achazia.
"Achazia.." Panggil Ashana.
"Hm.." Achazia hanya membalasnya dengan gumaman.
Ashana menelan salivanya susah. Sepertinya Achazia tidak menyetujuinya untuk pergi dengan Abercio. Tapi ia akan mencoba. Ini demi Andini. Andini juga memiliki perasaan dengan Abercio. Jadi ia harus membantunya.
"Apakah aku boleh pergi? Aku mohon..." Ucap Ashana lembut. Bahkan ia sampai memasang wajah memelas.
Achazia menghela napas. Pria itu menatap Ashana. "Kau tahu Ashana, aku tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu. Pergilah, tapi hanya untuk membantu Abercio dekat dengan Andini." Ucap Achazia yang menekankan kalimat terakhir.
Ashana tersenyum bahagia. "Terima kasih!"
Achazia menatap Abercio. "Jaga dia. Aku tidak mau ada lecet sedikit pun saat dia pulang ke rumah." Ucap Achazia yang di angguki oleh Abercio.
"Tenang saja. Aku akan menjaganya."
"Berawal dari dipilihkan, dan berakhir dengan pilihan yang tepat. Bagus! Semoga saja kau tidak lupa dengan orang yang sangat berjasa bagimu ini Achazia." Ucap Adrian.
Achazia menatap Adrian. "Ya ya Terima kasih." Ucap pria itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Mm.. kalau begitu aku kembali dulu. Masih banyak pekerjaan kantor yang belum aku selesaikan." Pamit Ashana yang di angguki oleh ketiganya. Kecuali Achazia. Membuat Ashana menatap Achazia. "Achazia? Aku keluar boleh?" Ucap wanita itu karena di setiap hal apapun Ashana harus meminta izin pada Achazia.
"Silahkan." Jawab Achazia tanpa menatap Ashana sedikit pun.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar." Ucap Ashana kemudian keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
*****