Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
KEMBALI PULANG


__ADS_3

Ashana tidak berani mendongakkan kepalanya sejak ia masuk ke ruangan Achazia. Ia tidak berani. Walaupun kini mereka tinggal serumah, tapi Ashana tidak berani melawan jika Achazia sudah berada di kantor.


Achazia yang duduk di hadapan Ashana menatap wanita itu tajam. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi Ashana yang ketakutan. Tapi ia tidak bisa. Ia harus melakukan ini.


"Kau tahu apa kesalahanmu?"


Ashana mengangguk. "Tahu tuan."


"Apa kesalahanmu?"


"Aku telat berdiri saat kau sedang lewat."


"Lalu?"


Ashana mengernyit. Apa lagi? Bukankah kesalahannya hanya satu? Ia memikirkan apa lagi kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi tidak menemukan apa kesalahan itu.


Ashana mencoba berani untuk menggeleng. Walaupun dengan gelengan pelan. "Tidak tahu tuan."


Achazia menaikkan satu alisnya. "Tidak tahu?"


Ashana mengangguk pelan.


"Lucu sekali. Kau tidak mengetahui kesalahanmu sendiri. Kau memang tidak merasa bersalah?"


Ashana semakin bergetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut jika menjawab malah membuatnya masuk ke jurang lebih dalam.


"Maaf atas kesalahanku tuan. Mungkin aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku. Kesalahan apapun itu, tolong maafkan aku." Ashana menundukkan kepalanya berkali-kali meminta maaf.


"Mungkin masalah kau terlambat berdiri, aku masih bisa memaafkan. Tapi sepertinya yang ini tidak bisa." Achazia bangkit berdiri. Ia berjalan menghampiri Ashana. Membuat Ashana yang duduk hanya bisa diam walau ia ingin sekali menghindar.


Achazia memutar kursi yang diduduki Ashana sampai menghadapnya. "Tatap aku."


Ashana yang gemetar hanya bisa menurut. Ia mendongak dengan gerakan pelan. Tatapan tajam Achazia benar-benar menusuk. Membuatnya ingin sekali langsung kabur dari ruangan itu.


"Kau berani melakukan apapun demi menebus kesalahanmu itu?" Ucap Achazia dan langsung di balas anggukan Ashana.

__ADS_1


"Saya bersedia melakukan apa saja tuan."


"Bagus," Achazia menyeringai.


"Kau ingin tahu apa kesalahanmu?" Ucap Achazia dan Ashana mengangguk.


"Kesalahan mu adalah menggantung perasaanku. Kau tidak menjawab perasaanku. Dan kau malah menggantungnya. Kesalahan mu sangat fatal. Dan sebagai hukumannya, kau harus menerimaku. Dan kau harus menerimaku layaknya pacar. Bukan sebagai tuan."


Ashana menatap Achazia tak percaya. Bahkan ia lupa dengan tatapan takutnya. "Maksudmu? Aku harus menjadi pacarmu?"


Achazia mengangguk. Ia berjalan kembali ke kursi kekuasaannya, meninggalkan Ashana yang masih memandangnya dengan tatapan tak percaya.


"Tapi, bagaimana bisa aku menjadi pacarmu?" Ucap Ashana yang tak habis pikir dengan pikiran Achazia.


Achazia mengangkat kedua bahunya. "Mudah. Seperti orang-orang nya biasanya."


"Tapi, tapi kan kau---" Ashana kehilangan kata-katanya. Bagaimana pria yang ada di hadapannya ini dengan seenaknya berkata seperti itu tanpa memperdulikan Ashana? Jika boleh jujur, Ashana merasakan sesuatu saat Achazia menghukumnya dengan hukuman tidak wajar itu. Perasaan senang tapi Ashana tak mau mendeskripsikannya seperti itu.


"Baiklah, aku akan melakukan hukuman itu. Tapi dengan satu syarat." Ucap Ashana setelah berpikir cukup lama.


"Aku hanya akan menjadi pacarmu selama tiga bulan."


Achazia tampak berpikir. Tiga bulan? Apakah itu tidak terlalu sebentar? Tapi tidak apa, ia akan membuat Ashana jatuh cinta selama tiga bulan itu. "Baiklah, aku menerima persyaratan yang kamu berikan." Ucap Achazia yang langsung membuat senyuman terukir di wajah cantik Ashana.


"Mm... tapi setelah aku menjadi pacarmu apakah aku juga harus menjadi asistenmu?" Ucap Ashana.


"Jika kau tidak ingin menjadi asisten ku, maka kau harus selalu ada untukku. Walaupun kau tidak tinggal serumah denganku. Kau harus selalu ada jika aku membutuhkanmu."


Ashana tersenyum kecil. 'Sebenarnya aku ini pacarnya atau pelayannya?' Gumam wanita itu dalam hati.


"Aku akan selalu ada untuk anda tuan. Seperti seorang pacar yang akan selalu ada jika anda membutuhkan. Aku akan memilih kembali ke rumahku agar tidak tersebar berita-berita aneh tentang dirimu. Jika statusku sebagai pacarmu dan aku malah tinggal bersamamu, aku takut ada berita-berita aneh yang akan merusak reputasi mu. Ya sudah kalau begitu aku permisi." Ucap Ashana yang langsung keluar dari ruangan Achazia.


Achazia menatap punggung Ashana sampai wanita itu keluar dari ruangan. Ia mengeluarkan senyuman kecil saat Ashana sudah tidak berada di ruangannya. "Aku akan membuatmu jatuh cinta, Ashana."


Sedangkan di luar ruangan, Ashana langsung berlari menjauh dari ruangan Achazia. Ia menghembuskan napas lelah. "Gila. Kenapa juga aku harus di hukum atas kesalahan yang tidak masuk akal? Lagipula aku kan tidak menyuruhnya menunggu jawabanku. Kenapa juga dia menunggu? Huh, jadinya aku harus terlibat dalam masalah yang tambah rumit ini." Cerocos Ashana tanpa henti. Ia berjalan sambil memegang pinggangnya dengan mulut yang tidak mau berhenti bergerak.

__ADS_1


Ashana terlonjak kaget saat merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Ia menoleh dan menemukan Abercio yang sedang tersenyum ke arahnya. Membuat Ashana menatapnya horor. "Kau kenapa?"


"Tidak, aku hanya mendengar sedikit dari omelanmu tadi. Kalau kau mau aku bisa mengadukannya----"


"Tidak! Tidak! Jangan kumohon! Kau dengar apa saja?" Ucap Ashana yang mendekat ke arah Abercio.


"Eh, tidak. Ku tarik ucapanku. Sepertinya aku mendengar semuanya."


Ashana menepuk dahinya. Kenapa hidupnya harus di kelilingi oleh orang-orang seperti ini? "Baiklah, apa yang harus ku lakukan agar kau tutup mulut?"


"Tidak, aku tidak akan menyuruhmu apa-apa. Mungkin nanti jika aku butuh, aku akan hubungi." Ucap Abqari yang langsung pergi meninggalkan Ashana.


Ashana menghembuskan napasnya. Ia geleng-geleng kepala sebelum berlalu untuk pergi menemui Andini. Pasti wanita itu sedang ada di kantin.


"Ashana!"


Ashana menoleh. Benar saja, Andini sedang melambaikan tangan ke arahnya. Memberi tahu keberadaan nya kalau ia berada di sana. Ashana berjalan menghampiri Andini.


"Apa? Kau di hukum apa? Kau tidak sampai di pecat kan?" Andini langsung memberondong Ashana dengan banyak pertanyaan.


Ashana menggeleng. "Tidak, dia tidak sampai mengeluarkan ku. Nanti malam akan aku ceritakan. Aku akan menelponmu." Ucap Ashana.


"Mm.. bagaimana kalau aku yang menelepon duluan?" Ucap Andini. Nanti malam kan ia ada urusan dengan Adrian. Andini menebak pasti mereka akan mengobrol lama. Ia tidak mau Ashana menelpon saat ia sedang mengobrol dengan Adrian.


Ashana mengangguk. Ia sama sekali tidak curiga pada Andini. "Baiklah, terserah kau saja. Lagipula aku juga tidak tahu akan ingat atau tidak. Aku akan pindah lagi ke rumah."


Andini mengernyit. "Apa itu hukuman untukmu?"


Ashana menggelengkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah permintaanku. Aku yang memintanya pada Achazia."


"Kenapa? Ada masalah?"


"Tidak. Ceritanya panjang. Nanti akan ku ceritakan. Nanti malam."


Andini mengangguk sambil tersenyum. Setelah membeli makanan mereka makan bersama untuk mengisi kekosongan perut selama jam kerja.

__ADS_1


*****


__ADS_2