Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
TIDAK PERCAYA DIRI


__ADS_3

Ashana memangku wajahnya dengan kedua tangannya. Ini adalah hari ketiga setelah Achazia mengusirnya keluar dari ruangan pria itu. Ashana menghela napas. Entah kenapa rasanya aneh saat Achazia menganggapnya tidak ada. Bahkan Achazia tidak menyapanya jika berpapasan bertemu. Jangankan menyapa, melirik saja tidak. Membuat Ashana panik sendiri. Ia tidak ingin Achazia yang seperti itu. Melihat Achazia yang sekarang seperti melihat Achazia dulu. Dulu sebelum Ashana mengenalnya. Dulu sebelum pria itu jatuh cinta padanya.


Andini yang melihat Ashana melamun langsung mencolek dagu wanita itu yang membuat Ashana menatap ke arahnya. Andini menaikkan satu alisnya. "Kenapa lagi? Kenapa melamun?" Tanya Andini.


Ashana menghela napas. Ia akan menceritakan semuanya pada Andini. Lagipula tidak ada gunanya menyimpan sendirian. Toh, ia tidak akan bisa merahasiakan apapun dari Andini. "Andini, kenapa ini begitu rumit..." Ucap Ashana. Ia tidak akan bercerita sekarang. Ia masih sadar sekarang adalah jam kerja. Lagipula jam makan siang sebentar lagi. Ia akan menceritakannya nanti.


"Apanya yang rumit?" Tanya Andini tidak mengerti.


"Aku akan menceritakan semuanya jika sudah jam makan siang. Kita akan menyantap makan siang sambil mendengarkan ceritaku." Ucap Ashana yang di angguki Andini. Kemudian setelah itu keduanya kembali sibuk pada layar komputer.


Setelah melakukan pekerjaan masing-masing, walaupun belum selesai sepenuhnya, keduanya memilih untuk makan siang. Sebenarnya jam makan siang sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Tapi keduanya memilih mengerjakan pekerjaan sebentar.


"Ayo Andini.." Ucap Ashana yang di angguki Andini. Setelah Andini selesai, keduanya berjalan beriringan menuju kantin.


"Andin," Panggil Ashana dan Andini menoleh.


"Iya?"


"Menurutmu apakah aku ini orang yang pantas?"


Andini mengernyit. "Maksud mu?"


"Kau tahu aku ini hanyalah seorang anak penjual buah yang mendapatkan sahabat yang----"


"Ashana, sudah berapa kali aku bilang padamu, aku tidak memperdulikan itu semua. Lagipula kita sama-sama manusia. Tidak ada yang harus di bedakan. Kau adalah sahabatku. Dan selamanya akan selalu begitu."


Ashana menghela napas. "Aku selalu menanamkan itu pada diriku. Tapi rasa tidak percaya diri itu selalu datang. Menyadarkan aku kalau sebenarnya aku tidak pantas."


"Kau ini. Hanya orang-orang kuno yang memperdulikan kasta. Ayolah Ashana, ingat kita hidup di abad ke berapa. Kalau kau masih memperdulikan kasta, lebih baik kau hidup saja di zaman kuno."


Ashana terkekeh mendengar nada suara Andini yang terdengar kesal. Pasti, pasti Andini akan kesal jika Ashana sudah mengungkit tentang perbedaan kasta di antara mereka. Inilah alasan mengapa Ashana sangat bahagia memiliki Andini di kehidupannya.

__ADS_1


"Jadi aku mohon sekarang, buang ketidakpercayaan diri mu itu. Semua orang berhak bahagia. Jangan hanya karena ini kau jadi mencegat kebahagian mu datang. Awas saja jika kau kembali mengungkit hal itu. Aku tidak akan segan menjodohkan mu dengan orang kaya." Ucap Andini yang di akhiri dengan ancaman. Bukannya takut, Ashana malah tertawa mendengarnya.


"Baiklah, aku akan berusaha.."


"Jangan akan berusaha! tapi harus melakukan." Ucap Andini yang di angguki Ashana di sertai kekehan.


Tak terasa keduanya sudah memasuki area kantin. Setelah membeli makanan, mereka mencari tempat duduk yang kosong. Di kantin tidak terlalu penuh, jadi tidak susah untuk mereka berdua mencari tempat kosong.


"Lalu, apa yang ingin kau ceritakan padaku?" Ucap Andini saat bokongnya tepat duduk di atas kursi.


Ashana tersenyum. "Sebelum itu, aku akan mengatakan sesuatu yang pasti akan membuatmu terkejut."


"Apa itu?" Tanya Andini penasaran.


"Kau tahu kan alasan Achazia menjadikan ku asistennya itu apa?"


Andini mengangguk. "Iya, eh tapi---aku masih tidak mengerti. Kalau alasan Achazia menjadikanmu asistennya karena adalah untuk membatalkan perjodohan yang di lakukan Ibunya, kenapa tidak sekalian saja menjadikanmu pacarnya?" Ucap Andini yang sebenarnya dari dulu ingin sekali bertanya tentang ini.


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak mengerti. Sudah, balik ke topik pembicaraan awal. Kau sudah tahu alasannya jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu. Kau ingin tahu tidak siapa wanita yang di jodohkan dengan Achazia?" Ucap Ashana. Suaranya wanita itu sengaja kecilkan saat memasuki kalimat terakhir. Ia memajukan kepalanya mendekat.


"Andini Bea Cadereyn."


Mendengar namanya di sebutkan langsung membuat kedua bola mata Andini membulat. Refleks, wanita itu memundurkan wajahnya. "Maksudmu?" Ucap Andini masih tidak percaya.


Ashana mengangguk. "Iya, wanita yang akan di jodohkan dengan Achazia adalah kamu Andini." Ucap wanita itu.


"Tapi---tapi bagaimana bisa?"


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu. Mommy Achazia sendiri yang bilang saat itu. Saat aku bermain ke rumahnya. Kau tahu kan? Yang aku cerita itu. Tapi aku tidak menceritakan yang ini."


Andini menghela napas. Bahkan ia sampai memijat pelipisnya seperti memikirkan sesuatu. "Orang tuaku benar-benar gila. Bahkan mereka menjodohkan ku dengan seseorang tanpa sepengetahuan ku. Mereka pikir aku akan setuju?"

__ADS_1


Benar kan, sudah benar dugaan Ashana. Andini tidak akan setuju. Bahkan Andini tidak akan segan menolak perjodohan itu jika memang ia tidak menyukainya.


"Tapi perjodohan nya sudah gagal kan?"


Ashana mengangguk. "Iya, gagal. Semenjak Mommy Achazia mengetahui kalau Achazia mempunyai pacar."


"Baguslah, aku tidak mau di bilang teman makan teman."


"Maksudmu?"


"Kan kau menyukai Achazia." Ucap Andini dengan senyumannya.


"Kata siapa?" Ashana memalingkan wajahnya ke arah lain. Menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul.


Andini menatap Ashana sambil tersenyum. Mau di sembunyikan bagaimana pun, Andini sudah mengetahuinya. "Sudahlah, kau jangan malu seperti itu. Pergerakanmu sudah menjelaskan semuanya padaku. Jangan mengelak lagi Ashana. Aku tahu kau menyukai Achazia." Ucap Andini yang membuat Ashana tidak perlu bersembunyi lagi. Tapi ia tetap malu.


"Apa menurutku aku pantas?"


"Maksudmu?"


"Kau tahu kan Achazia adalah direktur besar di perusahaan ini. Apakah aku pantas untuk mencintainya?"


"Kau ini kenapa? Apa yang tidak pantas. Kau sangat pantas. Bahkan menurutku kau sangat serasi." Ucap Andini yang mendukung bagaimana pun keputusan Ashana. Selagi sahabatnya itu bahagia, ia akan selalu mendukungnya.


"Aku mencintainya, Andini." Ucap Ashana pelan.


"Ya, ya, ya. Aku sudah tahu dari dulu. Wajahmu itu mengatakannya kalau kau sedang menatap Achazia." Ucap Andini. Padahal ini semua berkat Adrian yang mengatakan semuanya saat itu.


"Perjuangkan dia, Ashana. Kau berhak bahagia. Lagipula jika kau masih mementingkan kasta, kapan kau akan bahagia?"


Ashana membenarkan ucapan Andini. Kalau ia memperdulikan kasta, kapan ia akan bahagia? Lagipula Mommy Achazia saja tidak mempermasalahkan itu. Bahkan ia akan membantunya. Alice juga.

__ADS_1


"Ingat Ashana. Apapun keputusan yang kamu buat, aku akan selalu mendukungmu." Ucap Andini yang membuat Ashana tersenyum. Sekarang ia akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.


*****


__ADS_2