
Ashana mengerjapkan matanya beberapa kali. Bahkan ia sampai lupa kalau sekarang ia sudah kembali ke rumahnya. Bukan di apartemen Achazia lagi. Kenapa mengingatnya membuat perasaan Ashana sedikit sedih ya?
"Aku ini kenapa sih. Bukankah ini yang kau mau Ashana? Kembali ke rumahmu. Jadi sekarang nikmatilah." Ucap Ashana pada dirinya sendiri. Ia menyibak selimutnya lalu turun dari atas kasur. Ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian kantor, berdandan seadanya, ia keluar dari kamar. Senyum langsung mengembang saat Ashana menemukan Ibunya sedang menyiapkan sarapan. Ia langsung menghampiri Ibu lalu memeluknya dari belakang.
"Wah, ibu tebak. Pasti Ashana."
Ashana malah makin mengeratkan pelukannya. Ia menurut dagunya di bahu Ibu. "Ibu sedang membuat apa?" Tanya Ashana. Entah kemana jika itu bersama Ibu, Ashana akan merasa nyaman. Dimana pun itu jika ada Ibu disana, kenyamanan yang akan ia rasakan.
"Ibu sedang memasak nasi goreng spesial. Kau mau?" Ucap Ibu yang masih sibuk mengaduk-aduk nasi goreng.
Ashana mengangguk antusias. "Tidak ada yang tidak mau nasi goreng spesial buatan Ibu." Ucapnya yang membuat Ibu malah tertawa.
"Ya sudah, sekarang kau duduk. Repot kalau kau terus memeluk Ibu seperti ini."
Ashana memajukan bibirnya. Tapi ia tetap duduk di meja makan menunggu sarapannya selesai. Ia tidak menemukan Bapak juga Andri. Entah kemana mereka. Oh iya, mungkin Bapak sudah berada di pasar. Tapi Andri? Ah sudahlah, mungkin dia sedang mandi.
"Kak Ashana!"
Ashana menoleh. Baru saja di bicarakan, orangnya sudah berjalan kemari dengan seragam yang sudah lengkap. Ia berhenti di samping Ashana yang sedang memangku dagu.
"Apa?"
"Ada Kak Achazia di depan."
"Hah?!"
Raut wajah Ashana yang biasa saja jadi berubah terkejut saat nama itu di sebutkan. Ia langsung bangkit dan berjalan keluar untuk menemui Achazia yang kata Andri ada di depan.
__ADS_1
Ashana menatap Achazia yang dengan santainya memainkan ponsel sambil bersandar di pintu mobil. 'Mau apa dia ke sini?' Gumam Ashana kesal. Ia berjalan menghampiri Achazia.
Achazia yang tersadar langsung memasukkan ponselnya ke saku. Ia menatap Ashana yang kini berdiri di hadapannya. Senyum tipis tak lupa tercetak. "Selamat pagi."
"Pa-pagi juga." Ashana menahan diri untuk tidak kesal pada pria di hadapannya ini. Bagaimana pun juga Achazia adalah bos nya. Presdir di di perusahaan tempatnya berkerja.
"Maaf sebelumnya, ada urusan apa kau kemari?" Ashana bertanya dengan nada yang sudah di lembutkan.
Achazia semakin melebarkan senyumnya. Tangannya terulur memeluk pinggang Ashana, membuat Ashana terkejut dengan apa yang di lakukan Achazia. "Bukankah aku pacarmu?"
Belum sempat Ashana bicara, Achazia lebih dulu menyela. Mengingatkan Ashana kalau sekarang status mereka sudah berganti. Ya walaupun, masih tetap sama, sebagai atasan dan bawahan.
"Apa kau tidak mau mengajak pacarmu ini untuk masuk?" Ucap Achazia.
"Oh, ya. Ayo masuk." Mereka berdua masuk. Masih dengan tangan Achazia yang memeluk pinggang Ashana. Andri yang melihat itu hanya bisa menatap kakaknya tak percaya. Ternyata kakaknya hebat juga. Bisa mendapatkan seorang presdir. Bahkan tanpa perlu di beritahu Andri sudah mengerti dengan perlakuan Achazia pada Ashana.
"Ibu...." Panggil Ashana pada Ibunya yang sedang menghidangkan nasi goreng di atas meja.
"Aku ingin ikut sarapan disini. Apakah boleh?"
"Oh, tentu boleh! Ayu kemari!" Dengan semangat Ibu mengajak Achazia untuk duduk di meja makan. Ia menyendokan nasi goreng itu untuk Achazia. Lupa kalau anak kandungnya masih berdiri mematung di sana.
"Kak, apakah kau dan Kak Achazia sudah berpacaran?" Bisik Andri yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya.
Ashana menatap tajam Andri. Wanita itu tidak menjawab. Ia memilih untuk ikut duduk dan sarapan bersama.
Andri mengernyit melihat bagaimana respon kakaknya. Beberapa detik kemudian ia mengangkat bahunya tidak peduli lalu ikut melakukan apa yang Ashana lakukan.
"Maaf kalau sarapannya seperti ini." Ucap Ibu. Ia tahu kalau Achazia orang kaya, pasti orang kaya sarapannya aneh-aneh. Begitu pikir Ibu.
__ADS_1
Achazia mengangguk sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Rasanya sama persis seperti nasi goreng yang di buat Ashana. Di luar dugaan, Achazia sangat lahap saat menghabiskan nasi goreng itu. Padahal saat di apartemen ia sudah sarapan. Membuat Ibu senang melihatnya.
"Wah, ternyata kau juga suka nasi goreng ya." Ucap Ibu saat Achazia sudah menghabiskan nadi goreng itu. Pria itu meneguk segelas air putih sampai habis.
"Terima kasih atas sarapannya." Ucap Achazia.
"Iya, sering-sering lah kemari. Aku akan membuatkan menu lain yang lebih enak nanti." Ibu sangat bersemangat saat berbicara dengan Achazia.
"Setiap pagi aku akan selalu kemari untuk menjemput Ashana pergi ke kantor."
Ibu langsung terdiam. Beda dengan Andri yang walaupun terkejut masih bisa menguasai diri. Bahkan Ibu sampai menoleh menatap Ashana yang melahap sarapannya sambil menunduk. "Kau akan mengantar Ashana ke kantor?"
Achazia mengangguk. "Aku juga yang akan mengantar Ashana pulang."
"Sebentar sebentar." Ibu menjeda ucapannya. Ia menatap Ashana dan Achazia bergantian. "Kalian pacaran?"
Berbeda dengan reaksi Ashana yang langsung menunduk malu, Achazia malah tersenyum. Pria itu mengangguk menjawab pertanyaan Ibu. "Iya, kami pacaran."
Ibu langsung mengangkat wajah Ashana agar menatapnya. Ashana yang melihat kelakuan Ibunya hanya bisa pasrah saat wajahnya di tangkup Ibu. "Kenapa kau tidak cerita pada Ibu kalau kau berpacaran dengan Achazia?" Ucap Ibu pada Ashana. Ashana terlihat seperti yang anak kecil yang ketahuan berbohong. Ia pasrah saat kedua tangan Ibunya tidak mau diam memainkan wajahnya.
"Ibuuuuu...." Ashana melepaskan tangan Ibu yang masih bertengger di wajah. "Aku baru saja berpacaran dengan Achazia." Ucap Ashana yang memang benar adanya.
Ibu tersenyum senang. "Kalian memang cocok. Bahkan Ibu pernah berdoa semoga kalian----"
"Sepertinya kami sudah harus berangkat. Ayo sayang." Ucap Ashana memotong ucapan Ibu. Dan panggilan yang digunakan Ashana membuat tiga orang yang ada si meja makan terkejut. 'Kau sudah gila Ashana.' Gumamnya dalam hati.
Achazia tersenyum saat mendengar panggilan itu. Ia langsung bangkit berdiri lalu menggenggam tangan Ashana. "Kalau begitu kami permisi." Setelah pamit, mereka berdua keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di depan.
"Ibu mendukung kalian! Ibu akan selalu mendukung kalian!!" Teriak Ibu dari dalam. Membuat Ashana meringis malu dan Achazia yang tersenyum senang.
__ADS_1
*****