Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
ADIK ACHAZIA


__ADS_3

"Ibuku sudah tahu," Ucap Achazia yang membuat Ashana menatap ke arahnya.


"I-ibumu?" Suara Ashana terdengar bergetar. Sekarang ia sedang berada di ruangan Achazia. Pria itu yang memanggilnya kemari.


Achazia mengangguk. "Ya. Dan dia ingin bertemu denganmu?"


"Bertemu de-denganku?" Ashana tambah bergetar. Jangankan bertemu dengan Ibunya Achazia, berdiri di depan mansion keluarga Comman saja mungkin kakinya sudah bergetar.


"Ya, jadi kau harus bersiap-siap." Ucap Achazia. Pria itu bangkit berdiri. "Aku sudah meminta seseorang untuk mengantarmu membeli apa yang harus di persiapkan." Lanjutnya.


"Ta-tapi aku belum siap," Ucap Ashana yang tidak tahu harus bagaimana.


Achazia menatap Ashana tajam. "Siap atau tidak, aku tidak peduli. Kau harus tampil sempurna di depan ibuku." Ucap pria itu.


"Tapi---"


"Itu orang yang akan menemanimu," Ucap Achazia saat orang itu masuk ke dalam ruangannya.


Ashana menoleh ke arah pandangan Achazia. Disana berdiri seorang gadis yang... manis. Ia tersenyum menatap Achazia. "Hai Kak. Dimana orangnya?" Tanya gadis itu riang.


Achazia menunjuk Ashana. Membuat gadis itu menatap Ashana di sertai senyuman. "Hai, kenalkan aku adik kandungnya Kak Achazia. Namaku Alice. Umurku genap 19 tahun. Aku adalah orang yang bakal ngebantu kakak." Ucap Alice yang di akhiri dengan senyuman manis. "Oh ya, siapa namamu kak?" Lanjut Alice. Gadis itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


"Ash-Ashana." Ashana menyambut ukuran tangan Alice dengan gugup.


"Ajak dia. beli apapun yang menurutmu pantas untuknya." Achazia berjalan menghampiri Alice lalu memberikan black card nya pada Alice.


Alice tersenyum bahagia. "Aku juga boleh kan menggunakan ini?"


"Pakai sesukamu." Jawab Achazia sekenanya lalu berjalan dan duduk kembali di kursi kekuasaannya.


Ashana menatap Achazia tak percaya. "Kau memberikan itu hanya untuk membeli apa saja yang harus aku pakai?! Ya ampun Achazia ini berlebi---"


"Aku tidak ingin kau terlihat jelek di depan Ibuku. Bagaimanapun kau adalah pilihanku. Walaupun hanya pura-pura." Ucap Achazia.


"Sudahlah Kak. Terima saja. Kapan lagi dia akan berbaik hati seperti ini?" Alice menggamit lengan Ashana. Gadis itu tidak menghiraukan Achazia yang menatapnya tajam.


"Jadi sebelumnya aku tidak baik hati?"

__ADS_1


Alice tampak berpikir. "Bagaimana ya? Baik hati sih, tapi cuman 30%." Jawab gadis itu.


"Setiap minggu kau selalu meminta uang dan kau bilang---"


"Ayo kak, kita berangkat. Nanti keburu tutup tokonya." Tanpa menghiraukan Achazia, Alice langsung menarik tangan Ashana untuk keluar dari sana.


"Dasar adik tidak tahu di untung." Ucap Achazia.


*****


"Yang ini? Atau yang ini?"


"Yang ini saja." Ashana menunjuk dress berwarna peach yang di tunjukkan Alice.


Alice tampak berpikir. Gadis itu menatap dress berwarna peach itu. "Bagus.. Ya sudah ini sa---ya ampun!! Kak lihat itu!!"


Ashana menatap apa yang di tunjuk Alice. Wanita itu kembali menghembuskan napas. "Alice, kita sudah masuk toko sana toko sini. Dan masih belum menemukan apapun. Sudah menemukan dress yang cocok kau malah melihat dress yang lebih----"


"Ih kakak! Ayolah, kakak harus tampil cantik di depan Mommy. Kakak harus bisa memenangkan hati Mommy. Kak Achazia juga. Jadi kakak harus tampil WOW!"


"Iya aku tahu. Tapi kan kalau memang dapat Kak Achazia juga tidak papa. Beruntung malah." Ucap Alice sambil mengedipkan matanya berkali-kali menggoda Ashana.


"Kalau denganku masih lebih baik daripada dengan Kak Achazia. Beruntung Kak Achazia menghubungiku dan menyuruhku untuk menemanimu." Ucap Alice.


Ashana mengernyit. "Memangnya kenapa?"


Alice menghembuskan napasnya. "Karena dia orang yang tidak suka berbelanja, maka dia akan membeli semua dress di mall ini sesuai ukuranmu. Nanti kau akan di suruh untuk memilih. Tapi disini situasinya, semua dress nya sudah di beli." Ucap gadis itu yang membuat Ashana melongo.


"Kan aku hanya memakai satu. Lalu sisanya?"


"Untukmu semuanya. Yah, begitulah kakakku." Ucap Alice.


Ashana geleng-geleng kepala mendengar cerita tentang Achazia dari Alice. Apa semua orang kaya seperti itu?


"Aku janji ini yang terakhir. Kalau kau tidak suka kita beli yang ini saja." Ucap Alice sambil mengangkat dress berwarna peach yang masih ada di tangannya.


Setelah berjam-jam berkeliling di mall, akhirnya mereka sudah membeli apa saja yang harus di pakai Ashana nanti. Karena lelah mereka berdua memilih untuk istirahat dan makan di sebuah restoran.

__ADS_1


"Kak, aku mau tanya," Ucap Alice.


"Silakan," Ucap Ashana yang sibuk melahap makansnnya. Jujur, tubuhnya sangat butuh asupan karena dibawa kesana sini oleh Alice.


"Pertama kali kenal dengan kakakku kapan? Dan dimana?" Tanya Alice.


"Aku mengenal kakakmu sudah lama. Dari hari pertama bekerja pun aku sudah kenal dengan kakakmu. Tapi kakakmu tidak mengenalku. Iyalah, lagipula untuk apa Achazia mengenalku? Aku hanya karyawan biasa di perusahaannya." Ucap Ashana.


"Lalu bisa menjadi seperti sekarang bagaimana?" Tanya Alice yang benar-benar ingin tahu tentang hubungan Achazia dan Ashana. Ia ini termasuk orang yang kepo. Apalagi menyangkut kakaknya, ia wajib tahu.


"Itu semua gara-gara Adrian. Kakakmu itu menceritakan pada Adrian bagaimana rencananya. Dan dia menyuruh Adrian untuk mencarikan wanita yang pantas yang bisa membantunya. Dan Adrian malah memilihku. Entah kesalahan apa yang aku lakukan sampai Adrian mau memilihku." Ucap Ashana yang memang tidak mau seperti ini.


Alice terkekeh. "Kau lucu sekali Kak. Tidak apalah jika kau yang menjadi kakak iparku." Ucap Alice.


Ashana membelalakan matanya. "Tidak. Aku tidak mau!"


"Kenapa? Kakakku tampan, kaya, masih muda sudah sukses, dan banyak kelebihan lainnya. Apa alasanmu tidak mau dengannya. Padahal di luar sana banyak gadis yang memperebutkan kakakku yang sok dingin itu." Ucap Alice.


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Aku merasa tidak pantas."


Alice mengerutkan dahi. "Tidak pantas? Iya sih memang di mataku kakakku itu menyebalkan. Tapi aku yakin dia pantas untuk---"


"Bukan dia yang tidak pantas untukku. Tapi aku yang tidak pantas untuk dia." Ucap Ashana meralat kata-kata Alice.


"Tidak pantasnya?"


Ashana memalingkan wajahnya. "Kalian kaya dan aku----"


"Oh ****! Kenapa banyak orang yang selalu mengatakan itu? Kak semua manusia sama saja. Lagipula kalau sudah cinta memangnya harus gimana? Memaksa untuk menjadi kaya? Tidak kan? Aku selalu aneh dengan orang yang mengatakan itu." Alice memijat pangkal hidungnya. Sepertinya gadis itu sering bertemu dengan orang modelan seperti itu.


Ashana tersenyum. "Karena kau tidak merasakannya. Kau ka---"


"Sudah kak, sudah. Aku tidak suka. Aku benci pembicaraan seperti tadi. Ganti topik. Kalau kakakku mencintai kakak dan ingin menikahi kakak bagaimana?"


Ashana menatap Alice yang memicingkan mata menunggu jawabannya. Bahkan wanita itu pun tidak tahu harus menjawab apa.


*****

__ADS_1


__ADS_2