Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
TRAGEDI DAPUR


__ADS_3

Ashana menatap Achazia yang sedang fokus menyantap makan malamnya. Wanita itu mengulum bibir. Kalau setiap hari seperti ini sangat membosankan sekali hidupnya. Achazia kaku, apakah ia harus kaku juga? Sepertinya benar yang dikatakan Adrian. Setidaknya ia harus mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.


"Tuan," Panggil Ashana yang duduk di hadapan Achazia. Oh iya, Achazia menyuruh Ashana untuk tidak berkelakuan layaknya pelayan. Pria itu menyuruh Ashana menganggap disini seperti rumah sendiri. Asal masih tahu batas.


"Ya?"


"Kau akan makan sebanyak ini?" Tanya Ashana sambil menatap banyak sekali makanan yang dihidangkan di meja makan.


Achazia mengerutkan dahinya. "Menurutmu?"


"Menurutku, sepertinya tidak mungkin. Eh, tapi mungkin saja. Siapa tahu kau adalah tipe orang yang suka makan. Tapi tertutup oleh sifat tegasmu di kantor." Ucap Ashana.


Achazia menatap Ashana. Alisnya mengerut. Membuat Ashana balik menatapnya.


"Ada yang salah denganku?"


Achazia mengalihkan tatapannya. "Tidak." Setelah menaruh alat makannya pria itu bangkit berdiri.


"Kau mau kemana?" Tanya Ashana.


"Ada urusan yang harus aku kerjakan."


"Tapi makananmu belum habis. Bahkan kau baru makan beberapa suap." Ucap Ashana. Wanita itu tahu Achazia belum makan dari siang. Dan saatnya makan malam pria ini malah memilih pekerjaannya daripada mengisi perutnya. Aish, memangnya dia tidak lapar?


"Aku sudah kenyang,"


"Kau ini," Ashana mengambil piring yang berisi makanan yang belum habis itu lalu berjalan menghampiri Achazia. "Makan," Wanita itu menyuapkan sesendok nasi pada Achazia.


Achazia hanya diam saja menatap Ashana. Pria itu tidak merespon apapun.


"Kau harus makan. Boleh kerja, tapi harus jaga pola makan. Ayo buka mulutnya," Ashana mendekatkan sesendok nasi itu ke hadapan Achazia.


Achazia membuka mulutnya. Membuat Ashana tersenyum. Satu suapan masuk. Dua tiga sampai tujuh suapan masuk. Saat Ashana mau menyuapkan lagi, Achazia menahan tangannya. "Sudah, aku kenyang,"


"Kenyang? Sebentar," Ashana berjalan menuju meja makan, menaruh piring lalu membawa segelas air untuk Achazia. "Ini, minum dulu."


Achazia menurut. Pria itu menerima segelas minum yang di berikan Ashana lalu meneguknya sampai habis.


Ashana tersenyum. "Sekarang, silahkan kalau kau mau bekerja." Ucap wanita itu sambil mengambil gelas yang ada di tangan Achazia lalu menaruhnya kembali di atas meja makan. Kemudian ia kembali menyantap makan malamnya yang belum selesai.


Achazia berdecak saat ia sadar. Tanpa berbicara apapun, pria itu pergi meninggalkan Ashana menuju ruang kerja untuk mengurus pekerjaannya.


Ashana menatap kepergian Achazia sambil menghela napas. Wanita itu memijat keningnya. "Kenapa hidupmu begitu monoton tuan muda?" Gumamnya. Adrian sudah menceritakan semuanya tentang Achazia pada Ashana. Tanpa terkecuali. Bahkan Ashana sempat bertanya mengapa Adrian sangat santai menceritakan rahasia yang di simpan oleh Achazia? Dan dengan santainya Adrian menjawab kalau Ashana tidak mungkin membocorkannya. Pria itu percaya Ashana adalah wanita yang baik dan ia bisa menjaganya. Dan Adrian juga percaya Ashana adalah wanita yang nanti akan membuat Achazia merasakan indahnya hidup.

__ADS_1


"Sedih juga mendengar kisah hidupnya yaaaaang ah, sudahlah." Daripada memikirkan Achazia, Ashana lebih memilih membereskan meja makan. Wanita itu merasa sedikit kasihan pada makanan yang mungkin akan di buang ini. Padahal untuk makan satu orang saja kenapa harus berbagai menu seperti ini sih? Dasar Andriyani.


Setelah selesai, Ashana berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu melirik jam dinding. Sudah pukul 9 malam. Ia harus tidur.


*****


Bohong jika Achazia tidak merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Pria itu menumpu tubuhnya di atas meja. Wajahnya menunduk karena merasakan hal yang tidak biasanya ia rasakan. "Tidak mungkin hanya karena kejadian tadi," Ucap Achazia yang langsung mengalihkan pikirannya. Pria itu berjalan ke kursi yang biasa ia tempati lalu duduk dan mengerjakan pekerjaannya. Sebenarnya pekerjaan hanya alibi saja. Achazia hanya tidak tahu harus seperti apa saat berada di atmosfer yang sama dengan Ashana.


Achazia meraih ponselnya kemudian menelpon seseorang. Adrian namanya. Setelah nomornya tersambung ia langsung menempelkannya ke telinga.


"Halo,"


"Kau sudah memberitahu semuanya pada Ashana?"


"Sudah,"


Achazia memejamkan matanya. "Kau yakin ini baik untukku?"


Terdengar kekehan Adrian di seberang sana. "Tenang saja, Achazia. Kenapa kau sepanik itu. Lagipula dia berhak tahu alasan mengapa kau mempekerjakannya seperti ini."


"Tidak tahu pun dia tidak keberatan." Gumam Achazia.


"Ada apa kau meneleponku?"


"Apakah dia melakukan sesuatu yang berbeda?"


Achazia mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"


"Ah, tidak tidak. Lupakan saja. Kau besok akan pergi ke kantor?"


"Ya,"


"Baguslah, aku akan pergi ke kantormu,"


"Bukan biasanya juga seperti itu?"


"Ah, iya juga sih,"


Prangg!!!


Achazia menoleh ke sumber suara. Bahkan Adrian yang berada disana juga bisa mendengar suara itu. "Apa itu Achazia?"


"Tidak tahu. Aku matikan dulu," Achazia langsung mematikan sambungan telepon bersama dengan Adrian. Pria itu berjalan menghampiri sumber suara.

__ADS_1


Achazia bisa melihat Ashana yang sedang memungut bekas pecahan gelas di lantai. Posisi wanita itu yang memunggunginya membuat Ashana tidak bisa melihat Achazia.


"Ada apa?"


Ashana yang mendengar suara berat milik Achazia sedikit terlonjak kaget. Wanita itu menoleh dengan gerakan pelan. "Tu-tuan?"


"Ada apa disini?"


Ashana bangkit berdiri dengan keadaan kepala menunduk. Tangannya tidak mau diam memilin ujung pakaiannya.


"Tadinya aku mau tidur, tapi aku lupa belum membereskan piring-piring yang sudah di cuci ke tempatnya. Jadi aku balik lagi. Dan sepertinya, aku tidak sampai untuk menaruh gelasnya. Jadi gelasnya jatuh." Ucap Ashana dengan kepala yang menunduk dan rasa bersalah yang sangat.


Achazia mengalihkan tatapannya. "Kenapa dia manis sekali?" Umpat Achazia di dalam hati.


Achazia berdeham. "Tidak apa. Sekarang kau, pergilah tidur." Ucap pria itu.


"Lalu bagaimana dengan semua ini?"


"Biar Ailee yang membereskan,"


Ashana melebarkan kedua matanya. "Tidak! Biar aku saja!" Wanita itu kembali berjongkok untuk memungut pecahan-pecahan beling itu.


Achazia memperhatikan Ashana. Pria itu mengerutkan keningnya. Mengapa harus dia yang lelah-lelah membereskan, padahal kan ia sudah bilang---


"Aww!!" Ashana meringis. Wanita itu langsung menahan darah yang keluar di tangannya dengan menghisapnya.


Achazia berdecak. Pria itu berjongkok di hadapan Ashana. "Kau ini keras kepala sekali." Tanpa meminta persetujuan Ashana, ia langsung menggendong wanita itu lalu membawanya duduk di sofa.


"Diam atau kau akan kehabisan darah." Ancam Achazia saat Ashana mau memprotes apa yang pria itu lakukan. Padahal tidak mungkin hanya karena seperti itu bisa kehabisan darah. Ashananya saja yang tidak sadar.


Setelah mendudukkan Ashana di sofa, Achazia berjalan mengambil sesuatu untuk mengobati Ashana. Tidak perlu waktu lama pria itu sudah datang lagi.


"Kemarikan tanganmu,"


"Aku bisa---"


"Diam," Achazia menatap Ashana tajam membuat wanita itu bungkam.


Setelah selesai mengobati luka, Achazia menatap Ashana dengan jarak yang sangat dekat. Membuat Ashana mundur secara refleks.


"Jangan melakukan hal-hal ceroboh lainnya. Ini adalah pertama dan terakhir aku membantumu."


*****

__ADS_1


__ADS_2