
Ashana mencoba biasa saja saat hatinya terus memikirkan tentang pesan yang di kirimkan oleh orang yang tidak ia ketahui siapa. Ia mencoba untuk terlihat biasa saja walaupun hatinya benar-benar takut.
"Ada yang kau khawatirkan?"
Ashana tersenyum. Ia menggeleng. Hari ini adalah hari minggu. Dan Ailee meminta untuk bertemu. Ia sudah meminta izin pada Achazia dan Achazia mengizinkannya.
"Tidak, Ailee. Tidak ada." Ucap Ashana. Tidak lupa ia menambahkan senyum di akhir ucapannya.
"Apakah minggu ini kau ada pekerjaan? Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau----"
"Tidak, tidak ada. Kau tenang saja. Lagipula Achazia mengizinkan mu kan? Kalau Achazia mengizinkan mu berarti tidak ada hal penting yang harus aku kerjakan."
Ailee tersenyum. Ia menyentuh tangan Ashana yang berada di atas meja. "Ku mohon, pertahankan hubungan kalian." Ucap Ailee yang membuat Ashana bingung.
"Hubungan? Hubungan apa?"
"Hubungan mu dengan Tuan Achazia. Kau tahu? Setelah menjalin hubungan denganmu, dia lebih banyak tersenyum. Dia tidak kaku seperti dulu. Dia juga tidak terlalu cuek sekarang. Setidaknya sekarang dia bukan robot yang hanya bekerja saja. Dia mempunyai orang yang dia cintai."
Ashana tersenyum. Ia balas menyentuh tangan Ailee dengan menaruh tangan satunya di atas tangan Ailee. "Kau tenang saja. Aku mencintainya. Aku tidak akan meninggalkannya."
"Baguslah. Oh, iya. Kita akan kemana sekarang?"
"Kau maunya kemana?" Balik tanya Ashana. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah kafe yang ada di dalam mall.
"Bagaimana kalau nonton bioskop?" Saran Ailee yang di angguki Ashana. Setelah membayar minuman keduanya pergi ke lantai atas.
"Kau menyukai genre apa kalau menonton?" Tanya Ailee saat mereka berdua sedang berada di dalam lift.
"Apa saja aku suka." Ucap Ashana.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita menonton film horor?" Ucap Ailee sambil tersenyum Film horor adalah kesukaannya.
"Ho-horor?" Ashana meneguk salivanya. Di antara banyak genre kenapa Ailee harus memilih horor? Horor itu mendapat peringkat paling bawah kedua dalam bidang per-genre-an Ashana. Yang paling terakhir adalah pembunuhan.
Ailee mengangguk. "Apakah kau keberatan?"
Ashana terkekeh. "Tidak sih. Hanya saja apakah tidak ada film dengan genre lain?"
"Sepertinya ada. Ayo kita lihat."
Mereka berdua akhirnya sampai di bioskop. Setelah melihat daftar film apa saja yang akan tayang di bioskop, mereka berdua memilih untuk menonton film dengan genre fantasi. Setelah memesan tiket dan memesan popcorn juga minuman, mereka berdua menunggu di tempat yang sudah di sediakan disana. Karena film nya akan di mulai pukul 13:00. Sedangkan sekarang masih pukul 11.45.
__ADS_1
"Ailee, bolehkah aku bertanya?" Ucap Ashana.
"Boleh. Kau mau menanyakan apa?" Ucap Ailee.
"Tapi janji kau jangan marah. Jika kau tidak bisa menjawabnya tidak apa." Ucap Ashana.
Ailee mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, kau mau menanyakan apa?"
"Apakah kau menyukai Adrian?"
Senyum Ailee yang tadi mengembang seketika langsung pudar. Wajahnya berubah menjadi datar. "Kenapa kau menanyakan itu?"
Ashana terkekeh walaupun hambar. Sudah ia duga pasti akan seperti ini. Lagipula salahnya sendiri yang telah nekat menanyakan. "Tidak, aku hanya bertanya. Jika kau tidak bisa menjawabnya tidak apa." Ucap Ashana. Ia meminum minuman yang telah ia pesan untuk menutupi kegugupan nya.
Setelah Ashana menanyakan itu hanya ada hening di antara mereka. Tidak ada yang bertanya atau mengawali obrolan. Ashana menyesal telah mengucapkan kata itu. Jadi ia sendiri yang bingung harus bagaimana. Atmosfernya berubah menjadi canggung.
"Ailee apa kau marah?" Ucap Ashana pelan.
Ailee menggeleng walaupun dengan wajah datar. "Tidak."
"Kau marah ya? Maafkan aku yang telah lancang menanyakan itu. Aku hanya----"
"Kau tidak marah?"
Ailee menggeleng. "Tidak. Aku hanya terkejut kenapa kau menanyakan hal itu. Maafkan aku yang refleks diam karena kau menanyakan itu. Aku hanya terkejut."
Ashana terkekeh. "Oh, aku kira kau marah. Maafkan aku."
"Tidak apa. Tapi apa kau tidak penasaran dengan jawabanku?"
Ashana melebarkan kedua bola matanya. "Kau mau menjawabnya? Ku kira---"
"Kau bertanya jadi harus aku jawab kan?" Ailee tersenyum. Haish, pantas saja Adrian begitu tergila-gila padanya. Senyumnya bisa menyulap siapa saja yang melihat.
Ashana menggaruk dahinya walaupun tidak gatal. "Aku tidak memaksamu untuk menjawab."
"Ini keinginanku sendiri untuk menjawab."
"Baiklah, kalau kau mau menjawab." Ucap Ashana.
"Aku bertemu dengannya tiga tahun yang lalu."
__ADS_1
Ashana kembali melebarkan kedua matanya. "Benarkah?"
Ailee mengangguk. "Aku sudah bekerja di apartemen Tuan Achazia selama tiga tahun. Apakah kau tahu soal mimpi Tuan Achazia yang membuatnya tidak bisa tidur?"
Ashana mengangguk pelan. Bagaimana ia tidak tahu itu? Bahkan ia juga terkejut Achazia mempunyai trauma dalam mimpinya. "Ya, aku tahu. Apakah Achazia masih bermimpi seperti itu?"
"Sepertinya tidak. Karena aku tidak pernah melihat Adrian ke apartemen."
Ashana mengerutkan dahinya. "Adrian? Maksudmu?"
"Mimpi itu sudah menghantui Tuan Achazia selama bertahun-tahun. Dari pertama aku bekerja pun Tuan Achazia sudah mengalami mimpi itu. Dan setiap Tuan Achazia mengalami mimpi itu, dia akan menelpon Adrian untuk datang. Dan dari sanalah kami saling mengenal." Ucap Ailee. Ia menghembuskan napas sebelum melanjutkan bercerita.
"Kami saling mencintai. Bahkan kami pernah menjalin hubungan selama dua tahun. Tapi sayang hubungan kami di tentang oleh keluarganya."
"Lalu?"
Ailee tersenyum. Kenapa dia bisa mengeluarkan senyuman semanis itu? "Dia membujuk ku untuk tetap bertahan. Ya, aku bertahan. Aku terus berjuang dengannya agar menarik perhatian keluarganya. Tapi itu semua percuma. Walaupun aku sudah berjuang untuk menarik perhatian keluarganya, mereka tetap tidak menyukaiku. Aku tidak menyerah. Aku hanya memilih untuk membuat pria yang aku cintai bahagia."
"Maksudmu?"
"Adrian tidak akan menjadi Presdir jika aku masih bersamanya. Itu ancaman dari keluarganya. Jika Adrian masih bertahan bersamaku, maka jabatan itu akan di berikan pada adiknya."
"Dan Adrian setuju?"
"Tidak. Dia tidak setuju. Dia memilihku. Walaupun harus meninggalkan keluarganya."
"Lalu apa yang dia lakukan?"
"Dia melakukan yang menurutnya benar. Tapi aku menolak. Aku tidak mau dia berbuat yang menentang keluarganya. Jadi aku memilih untuk membencinya walaupun aku tidak ingin."
"Lalu kau bisa membencinya?"
Ailee menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak. Mau aku seberusaha apapun aku tetap tidak akan bisa membencinya."
Ashana terdiam. Kisah cinta mereka hampir mirip dengan kisah cintanya dengan Achazia. Akankah ia juga akan berakhir sama seperti Adrian dan Ailee.
"Ashana, sudah jam satu. Ayo kita ke dalam. Semua orang sudah mulai masuk." Ucap Ailee saat melihat banyak orang masuk ke dalam.
Ashana mengangguk. "Ayo."
*****
__ADS_1