
Akhir pekan yang di maksud Achazia pun datang. Ashana sudah siap satu jam sebelum Achazia menjemputnya. Ia menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Bahkan sesekali ia menggigit kukunya. Kenapa rasanya seperti baru pertama kali pergi bersama? Iya sih, ini kali pertama Achazia mengajaknya jalan. Tapi kan, biasanya sudah sering. Seperti antar jemput pergi ke kantor.
"Kenapa tidak di telepon saja Kak Achazia nya?" Andri yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa apel di tangannya berucap. Ia duduk di sebelah Ashana. Maklum kalau di rumahnya banyak buah. Karena kepala keluarga dari keluarga ini jualan buah.
Ashana menggeleng. "Kalau aku menelponnya, itu akan membuatku tambah panas dingin."
Andri memakan apelnya walau pun dengan dahi yang mengerut. "Kenapa panas dingin? Aneh." Sahut laki-laki itu. Krauk! Ia kembali memakan apelnya.
"Haish, kau tidak akan mengerti."
"Aku mengerti. Kakak yang belum paham."
Ashana menatap Andri. "Jadi kau merasa lebih hebat dariku?"
"Bukan begitu Kak. Kakak sepertinya bodoh dalam hal cinta. Kakak baru pertama kali jatuh cinta ya?" Ucap Andri yang membuat Ashana melebarkan kedua matanya kesal. Padahal memang benar.
"Memang kau merasa pintar dalam hal percintaan?" Balik tanya Ashana.
"Kak, kakak hanya perlu menjawab pertanyaanku. Bukan menanyakan pertanyaan lain padaku."
"Terserah aku. Mulut, mulut ku." Ucap Ashana yang langsung melipat kedua tangannya lalu kembali menghadap ke depan.
"Kak, nanti kalau jalan-jalan jangan lupakan aku. Bawakan aku sesuatu setelah kau pulang."
"Kau ini ya, minta sana pada Achazia. Aku tidak punya uang."
Andri tersenyum lebar. "Bolehkah? Baiklah, aku akan meminta pada Kak Achazia."
"Eh, jangan!" Ashana langsung panik. Ia memusatkan tubuhnya pada Andri.
"Kenapa? Tadi kakak sendiri yang suruh aku untuk memintanya pada Achazia."
"Sudah, sudah. Aku saja yang membelikan." 'Aku hanya bercanda. Aku kira kau tidak akan berani jika meminta pada Achazia.' Ashana melanjutkan ucapannya di dalam hati. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa. Lama-lama bosan juga ya, menunggu Achazia yang tidak datang-datang. Eh, bukan tidak datang-datang, Ashana nya saja yang terlalu bersemangat. Eh, bersemangat?
__ADS_1
Setelah sekian lama, terdengar suara mobil dari arah luar. Ashana mengintip dari jendela yang tertutup korden. Jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat Achazia keluar dari dalam mobil itu.
Ashana menggigit bibir bawahnya. 'Aku harus bagaimana?'
"Kak, apa yang kau lihat?" Ashana terkejut saat tiba-tiba Andri sudah berada di sampingnya. Bukankah anak ini sudah pergi tadi? Kenapa datang lagi?
Andri ikut-ikutan mengintip di jendela. Ia tersenyum lebar saat tahu kalau Ashana sedang mengintip Achazia yang kini berjalan menuju rumahnya. "Wah, lihat. Pujaan hati sudah datang. Kita tinggal tunggu sampai dia mengetuk pintu. Satu, dua, tiga."
Tok tok tok
Ashana menoleh menatap Andri yang malah melayangkan satu tembakan menggunakan tangannya lalu pergi. Membuat kerutan di dahi Ashana.
Ashana menghembuskan napasnya. Ia mencoba untuk biasa saja. Setelah di rasanya sudah siap, ia berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu itu. Ashana mencoba untuk menampilkan senyum natural saat menatap Achazia yang berpenampilan sangat..... tampan.
"Ka-kau mau mampir dulu?" Ashana meringis. Kenapa ia terlihat gugup?
Achazia yang menyadari kegugupan Ashana pun terkekeh. Ia menggaruk dahinya. "Mungkin aku ingin duduk dulu sebentar."
Ashana mengangguk. Ia mempersilahkan Achazia untuk masuk. "Aku akan buatkan minum untukmu."
Achazia tersenyum kecil. "Baru saja datang."
"Kak, buatkan minum untuk Kak Achazia. Aku juga." Ucap Andri saat Ashana akan berlalu menuju dapur.
Ashana hanya menghembuskan napasnya lalu pergi ke dapur. Tidak mau ambil pusing dengan kelakuan adiknya. Lagipula ia sedang tidak mau ribut.
"Sebenarnya kak Achazia akan mengajak kakakku kemana? Kau tahu kak," Andri menoleh ke arah dapur. Kakak nya tidak akan mendengar apa yang ia katakan. Jangankan mendengar, melihatnya saja tidak bisa.
"Apa?" Achazia merasa penasaran karena Andri seperti yang sedang memantau situasi.
"Kakakku sudah berdandan sangat cantik dari satu jam lalu. Dia menunggu kakak datang dengan gelisah. Kadang dia menggigit kukunya. Aku yang melihatnya seperti itu di ruang tamu jadi geregetan sendiri. Aku sudah menyuruhnya untuk menelepon mu agar kau menjemputnya lebih cepat. Tapi apa kau tahu apa yang dia katakan? Katanya, jika kau datang lebih cepat itu hanya akan membuatnya tambah gugup."
Achazia ingin tertawa mendengar apa yang di adukan Andri. Ashana terlalu menggemaskan. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Ashana saat gelisah. Tanpa Ashana ketahui sebenarnya Achazia juga sama gelisah nya. Ia takut apa yang ia tunjukkan pada Ashana tidak membuat wanita itu senang.
__ADS_1
"Kak, kau tahu? Aku kemarin mendapatkan nilai bagus di sekolah." Achazia mengeryit saat Andri membicarakan topik yang melenceng. Saat melihat Ashana yang keluar dari dapur, ia baru mengerti. Achazia sempat tersenyum kecil.
"Bagus, kembangkan bakatmu. Siapa tahu kau bisa bekerja di perusahaan ku." Ucap Achazia.
"Aku akan terus berusaha kak. Makanya, kak Ashana, berhubungan dengan baik ya. Jangan sampai berantem. Semoga saja kalian seperti ini sampai kalian menikah. Agar aku bisa masuk ke Comman Grup tanpa tes karena ada Kak Achazia." Gurau Andri.
Achazia tertawa. Ia tahu Andri sedang bergurau. Lagipula ia juga tidak akan melakukan apa yang Andri katakan. Andri pun tahu bagaimana dirinya. Andri juga akan berusaha jika dia mau. Walaupun hubungan Achazia dan Ashana akan selalu baik, Andri tidak akan memanfaatkan keadaan itu.
"Kau ini. Belajar yang benar." Ashana menatap Andri tajam. Achazia hanya tersenyum menatap kedua kakak beradik ini.
"Ada yang mudah kenapa harus berusaha kak. Iya kan Kak Achazia?" Andri menatap Achazia dengan satu alisnya yang di naik turunkan.
Achazia hanya tersenyum menanggapinya. Membuat Ashana tambah kesal.
"Bercanda kak. Lagipula aku bukan orang seperti itu. Kak Achazia juga tidak akan meloloskan ku dengan mudah." Ucap Andri saat melihat wajah asem kakaknya.
"Ya ya aku tahu." Balas Ashana ketus.
Achazia meminum minuman yang sudah di hidangkan Ashana. Setelah meminum minumannya beberapa kali, ia bangkit berdiri.
"Ayo berangkat."
"Sekarang?" Ashana dan Andri ikut berdiri.
"Iya, dimana Ibumu?" Achazia baru sadar kalau Ibu Ashana tidak ada.
"Ibu ikut berjualan dengan Bapak."
"Ya sudah kalau begitu. Kami pergi dulu, Andri."
Andri mengangguk. "Hati-hati."
Keduanya berjalan keluar. Saat akan masuk ke dalam mobil, Ashana sempat menanyakan kalau mereka akan pergi kemana.
__ADS_1
Achazia tersenyum. "Rahasia."
*****