Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
HARI PERTAMA


__ADS_3

Ashana menurunkan tangan Achazia yang melingkar di pinggangnya. Ia tidak mau menjadi bahan omongan kalau Acha zia seperti ini. Padahal sudah jadi bahan omongan juga sih. Karena mereka sudah memasuki area kantor.


Tapi Achazia tetap Achazia. Ia malah senang melihat ekspresi kesal Ashana. Walaupun terlihat samar.


"Kau pacarku. Salah memang?" Ucap Achazia saat Ashana entah keberapa kali menyingkirkan tangan Achazia yang terus memeluk pinggangnya.


"Tidak," Ucap Ashana yang memang benar juga sih. Tapi kan ia yang malu karena menjadi pusat perhatian di kantor sekarang.


'Tenag Ashana, hanya tiga bulan. Ya, tiga bulan.' Ashana menguatkan dirinya sendiri.


Selama perjalanan, Ashana tidak berani mendongakkan kepalanya. Sampai Achazia yang mengangkat dagu Ashana saat mereka sedang berada di dalam lift.


"Angkat pandanganmu. Mereka harus mengenal siapa pacarku." Bisik Achazi tepat di kuping Ashana membuat Ashana merengut geli.


Ashana mempertahankan wajahnya untuk tidak menunduk. Yang membuat ia menyesal menaiki lift adalah lift sekarang sangat ramai. Dan yang lebih parahnya lagi, di dalam lift ini ada Andini yang sekarang sedang senyum-senyum sendiri melihat Ashana dan Achazia. Ashana bisa melihatnya karena Andini berada tepat di belakang tubuhnya.


"Aku akan langsung ke tempatku." Ucap Ashana saat Achazia baru saja akan membuka mulut.


'Baru saja aku ingin menyuruhnya untuk ikut ke ruanganku.'


"Kau harus ke ruanganku dulu." Ucap Achazia.


"Tapi----"


"Aku bosnya disini." Ucap Achazia lagi.


"Mm... bagaimana kalau nanti jam makan siang aku ke ruangan mu? Aku janji akan menghabiskan waktu makan siangku di ruangan mu." Ucap Ashana membujuk Achazia. Ia tidak akan menyerah. Lagipula pekerjaannya banyak. Ia harus ekstra karena Ashana tidak mau menumpuknya lebih banyak.


"Baiklah." Ucap Achazia dan Ashana langsung menghembuskan napas lega.


"Tapi aku akan mengantar ke tempatmu."


Ashana mencibir dalam hati. Baru saja ia akan bebas dari pusat perhatian orang-orang, sekarang Achazia malah ingin mengantarnya. Sudahlah, Ashana mengiyakan saja. Toh, pasti ujung-ujungnya ia yang akan mengalah.


Selama perjalanan tangan Achazia setia memeluk pinggangnya. Ashana merasa nyaman dengan itu, tapi yang membuatnya tidak nyaman adalah tatapan para karyawan yang seperti tidak percaya. Eh, apa katanya tadi, nyaman?


"Ekhem!"

__ADS_1


Semua karyawan yang sudah berdiri menyambut Achazia langsung tahu kalau presdir mereka ini akan mengatakan sesuatu. Mereka tetap diam menunduk sampai Achazia mengeluarkan suaranya.


"Semuanya lihat kesini."


Semua karyawan yang menyambutnya itu menatap ke arah Achazia dan Ashana. Ashana yang ingin menunduk langsung di cegah oleh Achazia dengan cara menahan dagu wanita itu.


"Mulai sekarang kalian harus tahu kalau Ashana Berryl Carissa adalah kekasihku. Kalian harus menjaga sopan santun kalian kalau tidak mau di tendang dari perusahaan ini." Ucap Achazia.


"Baik tuan." Jawab mereka serempak.


Achazia menatap Ashana di sampingnya. Pria itu tersenyum lalu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya. "Sekarang tidak akan ada yang mengganggumu."


'Memang dari dulu juga tidak ada yang mengganggu ku! Dasar presdir, seenaknya sendiri.' Kesal Ashana dalam hati. Tapi ia tidak berani menunjukkannya. Yang ia tunjukkan adalah senyum tanda kalau ia menyukai apa yang sudah di lakukan Achazia.


"Ya sudah kalau begitu aku akan bekerja. Kau juga, selamat bekerja." Ucap Ashana. Ia ingin pria ini cepat-cepat pergi dari sini.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan pergi ke ruanganku."


Cup!


Ashana yang langsung mematung karena Achazia tiba-tiba saja mencium pipinya. Dan tanpa merasa bersalah pria itu berlalu meninggalkan Ashana yang sama sekali tidak bergerak. Berkedip pun tidak.


Andini langsung berlari lalu memeluk Ashana yang sedang menyentuh pipinya. Semua karyawan melihatnya. Bagaimana Achazia mencium pipi Ashana. Semua melihatnya.


"Andini...." Panggil Ashana lirih.


"Ya?" Andini langsung merespon dengan senyum lebar. Entah kenapa melihat mereka bersama rasanya ia ikut bahagia juga. Mungkin karena Adrian sudah menceritakan semuanya padanya.


"Apakah aku akan mati?"


Andini mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"


"Jantungku berdetak tidak normal." Ucap Ashana. Kini tangannya berpindah menyentuh dadanya.


Andini ingin sekali tertawa mendengar ucapan Ashana yang kelewat polos itu. Tapi ia hanya tersenyum menanggapinya sambil menyentuh tangan Ashana yang masih menempel di dada.


"Kau ini. Ini karena kau mempunyai perasaan yang sama seperti Achazia." Andini memulai menjelaskan.

__ADS_1


Ashana langsung menatap Andini. "Maksudmu?"


"Kau juga mencintai Achazia kan? Apa kau belum menyadari itu? Kalau kau belum sadar, sekarang tubuhmu sudah menyadarkanmu." Ucap Andini.


Ashana menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku tidak mungkin mencintainya. Aku---"


"Sudahlah Ashana, jangan menyangkal. Aku juga tahu kau juga mencintai Achazia. Hanya saja kau tidak mau mengakui itu."


"Andini, tapi mana mungkin. Aku hanyalah----"


"Berhenti membanding-bandingkan dirimu lagi. Ayo, lebih baik kau bekerja. Daripada berdiri disini." Ucap Andini yang langsung menarik tangan Ashana untuk duduk.


*****


Achazia melemparkan tubuhnya ke kursi kekuasaannya. Senyum tidak lepas dari wajah pria itu. Sepertinya Ashana berhasil membuatnya gila. Bahkan dalam waktu yang singkat Ashana bisa membuatnya seperti ini.


"Tapi bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?" Selalu itu yang di pikirkan Achazia. Ia takut cintanya tak berbalas. Ia takut Ashana tidak mencintainya seperti ia mencintai gadis itu.


Achazia menyambar ponsel yang ada di atas meja. Ia langsung menghubungi Adrian yang langsung di jawab oleh pria itu.


"Ya, ada apa?" Suara Adrian di sana.


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Kau harus kesini."


Terdengar helaan nafas Adrian. "Tapi sebentar lagi aku akan ada meeting dengan klien ku."


"Aku tidak peduli. Kau harus kemari."


"Baiklah, aku akan kesana. Dasar pemaksa."


Tut.


Achazia langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menaruh ponsel itu kembali ke atas meja. Sambil menunggu Adrian datang, pria itu berjalan menuju jendela besar yang ada di ruangan itu. Kita akan langsung di suguhkan dengan pemandangan jalan raya kota Jakarta yang macet di pagi hari tapi terlihat indah itu. Tanpa sadar senyumnya kembali terbit saat mengingat wajah Ashana yang sedang kesal. Ia jadi merindukan Ashana tidur bersamanya lagi. Ia ingin gadis itu tidur dalam pelukannya lagi.


Achazia pikir, jika ia tidak tidur dengan Ashana, mimpi itu akan datang lagi. Tapi ternyata ia salah. Hanya butuh beberapa hari tidur dengan Ashana, mimpi itu hilang. Tidak muncul lagi. Bahkan sampai sekarang pun Achazia tidak memimpikan itu lagi. Ya, mimpi adalah awal mulai Achazia bisa mencintai Ashana. Entah kenapa ia merasa kalau Ashana mempunyai daya tarik yang berbeda. Yang membuatnya bisa jatuh cinta.


Mengingat mimpi itu lagi, membuat Achazia mengepalkan kedua tangannya kuat. Mimpi yang membuatnya menyesal sekaligus marah saat mengingatnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2