Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MALAM PERTAMA


__ADS_3

"Memangnya dia kira aku tidak bisa mengobati diriku sendiri? Iya, aku sadar aku salah. Aku memang ceroboh. Tapi dia juga tidak seharusnya berkata seperti itu. Seakan-akan aku tidak bisa mengobati diriku sendiri." Ashana terus saja mengomel di kamarnya. Wanita itu kesal dengan perkataan Achazia saat mengobatinya tadi.


"Huh! Karena banyak bicara aku jadi haus. Jam berapa sekarang?" Ashana melihat ke arah jam dinding. Matanya langsung membulat besar.


"Jam setengah satu?! Sudah berapa lama aku bicara sendiri?!" Pekik Ashana. Apakah dia sudah mengoceh terlalu lama?


"Pantas saja aku haus," Ashana berjalan keluar kamar. Wanita itu bukan tipe wanita yang penakut. Bukan juga pemberani. Tengah-tengah.


"Gelap sekali," Gumam Ashana. Karena ia sudah hafal denah apartemen ini jadi ia tidak perlu menyalakan lampu.


Sesampainya di dapur, Ashana langsung mengisi air dan meneguknya. Ia tidak mau air dingin. Itu hanya akan membuatnya tambah haus.


"Arrghh!!"


Ashana sedikit terlonjak mendengar erangan itu. Ia menyapu pandangannya mencari darimana asal sumber suara. "Di-dimana?"


"Arrghh!!"


Ashana menatap pintu kamar Achazia. Wanita itu mengernyit. "Apakah berasal dari kamar Achazia?" Gumamnya. Ashana memberanikan diri untuk berjalan mendekat.


Sampai kedua kakinya berhenti di depan pintu kamar Achazia. Ia menempelkan telinganya di pintu.


"BUKAN AKU!!"


Ashana menjauhkan telinganya dari pintu. Wanita itu menyentuh dadanya yang berdetak lebih cepat. Sepertinya ia ketakutan. "Tenang Ashana. Tidak ada apa-apa." Ashana membuka pintu dengan pelan. Wanita itu mengintip ke dalam dan menemukan Achazia yang sedang tertidur dengan balutan selimut di tubuhnya. Tapi gerakan tubuhnya terlihat gelisah.


"AKU BILANG BUKAN AKU BRENGSEK!!"


Ashana berjalan mendekat dengan langkah pelan. "Sepertinya dia sedang mengigau," Gumam wanita itu.


Ashana menatap kasihan Achazia yang sepertinya terjebak dengan mimpinya itu. Achazia terlihat gelisah dengan keringat yang memenuhi tubuhnya. Achazia itu pria yang tidak bisa tidur kalau memakai baju. Tapi nanti ia akan memakai selimut.


"Apa aku bangunkan saja?" Gumam Ashana.


"KAU SELALU MENUDUHKU DASAR BAJINGAN!!"


Ashana menyentuh dadanya yang berdetak lebih cepat. "Mengagetkan." Wanita itu mengulurkan tangannya menyentuh otot tangan Achazia. "Tuan..." Panggilnya pelan.


Achazia tetap tidak bangun. Pria itu masih tampak gelisah.


"Tuan.." Ashana mempercepat pergerakan tangannya agar Achazia bangun. Tapi hasilnya tetap sama.


Ashana berdecak. "TUAN ACHAZIA!!"


Achazia sontak membuka kedua matanya. Dada pria itu naik turun. Ia menatap Ashana yang berdiri di sampingnya. "Ka-kau? Sedang apa kau disini?"


Ashana yang awalnya kesal karena Achazia tidak bangun-bangun kini malah menundukkan kepalanya. Lupa kalau ini adalah kamar Achazia.


"Kau tadi berteriak kencang sekali. Sampai terdengar ke dapur. Jadi aku berinisiatif untuk melihat ada apa." Ucap Ashana pelan.

__ADS_1


Achazia mengalihkan tatapannya. "Mimpi itu lagi," Gumam pria itu pelan.


"Mm.. ya sudah kalau begitu aku kembali ke---"


"Jangan," Sela Achazia.


Ashana menatap Achazia. "Jangan?"


"Tidur bersamaku disini malam ini," Ucap Achazia.


Ashana melebarkan kedua matanya. Semudah itu Achazia memintanya untuk tidur bersama? Wanita itu tertawa pelan. "Tuan kau bercanda kan?"


"Tidak, aku butuh teman." Jawab Achazia serius.


"Tapi, tapi kan---"


"Kau tahu aku tidak suka penolakan,"


Ashana mencebikkan bibirnya. Walaupun tidak mau wanita itu tetap mengangguk. "Baiklah, tapi hanya menemani tidur kan?"


"Iya, kemari."


Achazia menggeser tubuhnya untuk memberikan Ashana tidur di sampingnya.


Ashana naik ke atas ranjang dengan ragu. Wanita itu sempat melirik Achazia yang akan siap-siap untuk tidur lagi. 'Semudah itukah dia akan tidur lagi? Lalu aku? Mungkin malam ini aku tidak akan tidur.' Gumamnya dalam hati.


Ashana mengambil posisi membelakangi Achazia. Ia tidak mau. Yang ada nanti bukannya tidur malah menonton orang tidur. Ashana akui Achazia tampan. sangat tampan. Maka dari itu Ashana tidak mau tidur menghadap Achazia.


"Oke, Ashana. Kamu bisa. Ayo mulai," Ashana mulai memejamkan matanya. Berusaha untuk tertidur. Tapi sampai setengah jam, ia masih belum datang ke alam mimpi.


"Aku harus bagaimana?" Ashana menjambak rambutnya frustasi. Ia iri dengan Achazia yang sudah terlelap tanpa terganggu sama sekali.


"Mudah sekali ya bagimu tertidur. Sedang kan aku---"


"PERGI!!"


Ashana terkejut. Refleks wanita itu langsung turun dari atas kasur. Ia menatap Achazia yang mungkin mengalami hal yang tadi sempat terjadi.


"AKU MEMBENCIMU!!" Bentak Achazia. Yang sekarang sepertinya lebih parah. Urat-urat lehernya sampai tercetak jelas.


"Aku harus bagaimana?" Ashana panik. Wanita itu mondar-mandir tidak jelas. Bingung harus melakukan apa.


"Bangunkan! Iya bangunkan!!" Ashana kembali naik ke atas kasur. Wanita itu menggoyangkan tubuh Achazia lebih kencang agar pria itu bangun. Tapi tetap saja.


"TUAN ACHAZIA BANGUN!!" Ashana mengeluarkan semua kekuatannya untuk membangunkan Achazia. Tapi pria itu tidak bangun-bangun. Malah lebih parah dari sebelumnya.


"TUAN ACHAZIAAAAA!!!"


"TIDAAAAK!!!" Achazia bangun dengan kondisi yang berantakan. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Kenapa belakangan ini ia selalu bermimpi seperti itu?

__ADS_1


Ashana yang berada di samping Achazia takut pria itu kenapa-napa. Wanita itu mengibaskan tangannya di depan wajah Achazia. Membuat Achazia menatapnya.


"Kau tidak apa-apa?"


Achazia memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing. "Kau---kenapa kau muncul di mimpiku?"


"Apa?"


Achazia meringis. "Iya, kau ada di mimpiku."


Ashana menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Kenapa tiba-tiba begini? Padahal ia tidak pernah berhubungan dengan Achazia sebelumnya.


"Mm.. mungkin karena aku tadi membangunkan mu, ja-jadi aku muncul di mimpimu," Ucap Ashana terbata.


Achazia mendesah pelan. Pria itu menyenderkan kepalanya. "Aku harus bagaimana.."


"Kau mengalami mimpi buruk?" Ashana memberanikan diri untuk bertanya.


"Iya," Jawab Achazia tanpa membuka kedua matanya.


"Ibuku bilang, kalau kau mengalami mimpi buruk, peluklah seseorang saat kau tidur. Kalau tidak ada, kau boleh peluk apa saja," Ucap Ashana memberikan solusi untuk Achazia.


"Memeluk seseorang?" Ulang Achazia.


Ashana mengangguk. "Iya,"


"Baiklah," Achazia mengambil posisi untuk tidur kembali. Pria itu menghadap Ashana. "Kemari,"


Ashana mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?"


"Kemari, aku butuh pelukan," Achazia sudah merentangkan kedua tangannya. Menunggu Ashana untuk menyambutnya.


"Ta-tapi apakah harus aku?"


"Memangnya disini siapa lagi yang bisa ku peluk?"


"Kau bisa memeluk bantal guling atau---"


"Tidak. Aku tidak mau memeluk benda mati." Ucap Achazia.


"Tapi aku---"


"Kau menolak?" Achazia menatap tajam Ashana. Bukan tajam, tapi memang tatapannya seperti itu.


"Baiklah," Ashana menyambut pelukan Achazia. Wanita itu jadi menyesal telah bicara seperti itu.


"Kita tidur," Bisik Achazia tepat di samping telinga Ashana.


Ashana mengangguk lesu. Tapi akhirnya ia juga bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2