Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
BELANJA


__ADS_3

Sepulang dari air terjun Rhine, Ashana tidak langsung masuk ke dalam kamar. Achazia bilang, dia ada urusan sebentar. Jadi pria itu pergi debgan Abercio, Adrian dan Abqari. Alice yang ingin tahu alasannya kenapa hanya bisa mencak-mencak karena tidak diberi tahu. Kini Andini, Ashana, Ailee dan Alice sedang berkumpul sambil duduk di sofa.


"Menurut kalian apa yang mereka lakukan?" Tanya Ashana.


Andini menatap Ashana. "Apakah mungkin mengurusi orang kemarin?"


"Orang yang mana?" Alice yang tidak tahu apa-apa langsung menyahut.


Ashana menatap Andini, apakah tidak apa-apa jika Alice tahu? Dan Andini mengangguk. Mereka semua harus tahu, agar waspada jika terjadi lagi.


"Saat kita ke restoran kemarin malam, ada orang aneh yang memperhatikan kita." Ucap Ashana. Wanita itu melirik Andini, agar wanita itu saja yang meneruskan ucapannya.


"Lalu?" Wajah Alice terlihat tegang. Bahkan ia sampai memajukan wajahnya untuk mendengar lebih jelas. Ailee terlihat biasa saja, tapi Ailee juga memperhatikan.


"Aku curiga, takut orang itu adalah orang yang mengirimkan pesan itu. Kau juga dapat kan?" Andini bertanya pada Alice dan Alice mengangguk. Andini tahu dari Ashana.


"Pesan apa?" Sahut Ailee.


"Seeprti ancaman? Aku tidak tahu pastinya. Tapi pesan itu sangat mengerikan." Jawab Andini.


"Aku juga mendapatkannya." Ucap Ailee.


"Lalu?" Alice bertanya pada Andini.


"Ya, aku pikir dia orang yang mencurigakan. Aku takut dia adalah orang suruhan dari orang yang mengirimkan kita pesan misterius itu." Ucap Andini.


Ashana menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Bisa jadi."


"Astaga, siapa orang itu sebenarnya? Kenapa mengikuti kita sampai kesini?" Alice memegang kepalanya. Pusing dengan apa yang terjadi padanya.


"Atas dasar apa mereka melakukan ini? Kenapa mereka menyuruh menjauh?" Ailee bersuara.


Ashana mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu pastinya. Mungkin mereka mengira kalau kita tidak pantas untuk mereka."


Alice terdiam. Dalam hati sebenarnya ia juga menyukai Abqari. Tapi ia hanya takut memulai. Ia kenal Abqari seperti apa karena dari kecil pria itu sering bermain dengan Achazia.


"Apakah pesan itu serius?" Tanya Alice takut.

__ADS_1


Ashana menatap Alice dengan senyum jahil. "Kenapa? Kau menyukai Abqari?" Tanya wanita itu.


"Ti-tidak!"


Ailee yang melihat kegugupan dari wajah Alice hanya tersenyum. "Kau menyukainya. Terlihat dari wajahmu." Ucap wanita itu santai.


"Benarkah?" Alice menatap Ailee.


Ailee mengangguk. "Iya,"


Andini yang melihat ekspresi Alice tertawa. "Kau ini lucu sekali. Kalau kau menyukainya kenapa kau tidak menerimanya?"


Alice berdecak. Ia menyenderkan tubuhnya. "Dia itu playboy. Wanitanya banyak."


"Siapa tahu jika denganmu dia akan berhenti?" Sahut Ashana.


Alice menggeleng. "Aku tidak yakin." Ia menoleh pada Ailee. "Kak Ailee,"


"Iya?"


"Kakak, kenapa kakak tidak menerima Adrian? Dia baik, dia tampan, dia tidak seperti Abqari. Kenapa kakak menolaknya?" Tanya Alice.


"Mm... Bagaimana kalau kita masak?" Ashana mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ia takut Ailee tidak nyaman dengan pertanyaan Alice.


Andini tersenyum. "Ide bagus. Apakah bahan-bahannya ada?"


Alice menggeleng. "Tidak ada. Karena kita selalu makan di restoran, jadi tidak ada persediaan di dapur."


"Ayo kita ke supermarket." Ucap Ailee yang juga setuju dengan ucapan Ashana.


"Di dekat sini ada supermarket. Aku tadi melihatnya." Ucap Ailee lagi.


"Bagus, apakah bisa di tempuh dengan berjalan?" Tanya Alice.


Ailee mengangguk. "Sepertinya bisa. Lagipula perkiraan kita akan berjalan selama 10 menit."


"Baiklah, kita jalan saja."

__ADS_1


Semuanya setuju. Mereka akan berjalan ke supermarket. Setelah siap, mereka berjalan ke supermarket. Benar kata Ailee, supermarket nya tidak jauh. Sangat dekat. Apalagi mereka berjalan sambil mengobrol, jadi tidak terasa.


"Apa saja yang akan kita beli?" Tanya Alice saat mereka berempat sudah sampai di supermarket.


"Ailee?" Ashana menatap Ailee karena Ailee lah yang lebih mengerti dengan soal seperti ini.


"Kita akan masak banyak. Oh iya, apakah mereka berkata akan lama?"


Andini mengangguk. "Ya, Abercio bilang, mereka akan lama. Paling sebentar mereka akan pulang setelah 3 jam. Itu paling sebentar. Jadi mungkin kira-kira 5 jam mereka pergi."


"Ayo, kita ke tempat sayuran dulu."


Setelah masuk ke dalam supermarket dan mengambil keranjang, mereka mulai berjalan ke arah tempat sayuran. Mereka sengaja membawa empat keranjang karena banyak yang akan mereka beli. Awalnya Ashana menolak karena itu akan banyak sekali. Sedangkan mereka hanya dua hari lagi disini. Ailee pun menyetujui itu. Tapi Alice tidak mau. Dia ingin masak banyak. Lagipula kalaupun tidak habis, tidak apa-apa. Andini pun menyetujui itu. Karena Alice yang paling muda, jadi Ashana dan Ailee menyetujuinya.


Setelah sayuran sudah mereka pilih, kini mereka beralih ke tempat daging. Banyak daging yang mereka beli. Mulai dari ayam hingga sapi. Bagian paha sampai dada mereka beli. Ikan pun tak lepas. Ashana yang merasa ini terlalu banyak hanya diam saja. Alice bilang kalau mereka akan menggunakan kartu Achazia. Kartu Achazia tidak akan berkurang jika mereka membeli ini. Bahkan ini tidak akan terasa apa-apa.


Setelah selesai dengan urusan daging, mereka berjalan ke arah bumbu-bumbu dan snack. Bumbu-bumbu tidak tealu banyak di ambil karena Ailee yang memilihkannya. Alice tidak mengerti jadi dia diam saja. Keranjang bumbu-bumbu di campur dengan snack. Saat berada di jajaran snack, Alice langsung maju. Ia mengambil setiap snack yang tertangkap penglihatannya.


Setelah selesai memilih di bagian snack, mereka lari ke jajaran minuman. Bahkan Alice sampai menaiki troli lalu di dorong oleh Andini. Sedangkan di belakang Ashana dan Ailee membawa tiga troli. Mereka berdua hanya tertawa melihat Andini dan Alice.


"Berhenti,berhenti!" Andini berhenti. Mereka sudah sampai di tempat minuman dingin. Alice turun kemudian langsung memilih minuman. Ailee dan Ashana hanya melongo saat Alice mengambil semua merk minuman dan di masukan ke dalam keranjang.


"Kau serius Ailee? Ini terlalu banyak." Ucap Ashana.


Alice menggeleng. "Aku yakin ini akan habis. Kita ada delapan."


"Kau yakin? Walaupun kita ada delapan, tapi menurutku mustahil menghabiskan semuanya." Ucap Ailee.


"Kita bisa membagikannya ke anak buah mereka. Tenang saja. Anak buah mereka banyak."


"Di Swiss juga?"


Alice mengangguk. "Anak buah mereka berempat itu tersebar di seluruh dunia. Ada semua kaak." Ucap Alice yang membuat Ashana dan Ailee terbelalak. Sedangkan Andini biasa saja. Mereka kan orang kaya. Wajar kalau seperti itu.


Setelah selesai, mereka pun bayar di kasir. Mereka meminta untuk di antarkan ke villa mereka karena jika mereka yang membawa pasti berat sekali. Dan kasir pun menyanggupinya.


Mereka kemudian pulang ke villa. Tanpa mereka sadari, ada orang yang memeprhatikan mereka di luar supermarket.

__ADS_1


Orang itu merogoh ponselnya lalu berbicara. "Mereka baru saja berbelanja di supermarket."


*****


__ADS_2