Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
APA INI?


__ADS_3

Ashana menaruh dua piring siomay di atas meja. Ia sudah berbicara pada Achazia kalau jam makan siang ia akan bersama dengan Andini. Achazia juga mengizinkannya. Lagipula Andini adalah sahabat Ashana. Achazia percaya dengan wanita itu.


"Apa yang akan kau katakan sekarang?" Ucap Ashana. Wanita itu menarik kursi lalu duduk.


Andini meremas kedua tangannya yang berada di bawah meja. Sebenarnya ia tidak mau mengatakan ini pada Ashana. Tapi ia berpikir lagi. Andini bukan orang yang bodoh. Ia tidak akan diam saat orang lain mengatakan padanya untuk jangan bicara.


"Aku mendapatkan pesan ini." Andini mengulurkan ponselnya ke hadapan Ashana.


Ashana menatap Andini. "Apa ini?"


"Kau baca saja."


Ashana mengambil ponsel Andini lalu membaca satu kalimat yang dikirimkan nomor tidak di kenal.


0812********


Semua ini baru saja akan dimulai.


Ashana membelalakan matanya. Kenapa sama persis dengan pesan yang datang padanya. Ia menatap nomornya. Ashana buru-buru mengecek ponselnya. Dan ternyata benar. Nomor nya sama.


"Ada apa?" Tanya Andini saat melihat Ashana begitu ter buru-buru melihat ponsel.


Ashana menatap Andini. Wajahnya langsung pucat. "Kenapa----kenapa sama dengan pesan yang dikirimkan padaku?"


Andini melebarkan kedua matanya. Ia langsung menyambar ponsel Ashana lalu membaca satu kalimat yang di kirimkan oleh nomor yang tidak di kenal. Nomor pengirimnya sama!


"Kenapa bisa begini? Tidak mungkin kalau ini salah kirim." Andini menatap Ashana. Sedangkan Ashana hanya bisa mengurut keningnya yang tiba-tiba pusing. Andini menyentuh pergelangan tangan Ashana. Membuat Ashana menatapnya.


"Are you okay?"


Ashana mengangguk. "Tapi, Andin. Aku tidak mengerti maksudnya apa. Pikiranku membawaku ke sesuatu yang tidak-tidak."


Andini menghela napas. "Salahku malah memberitahumu. Seharusnya aku menyimpannya untuk diriku sendiri."

__ADS_1


Ashana langsung menggeleng. "Tidak tidak. Kau bagus memberitahukan ku. Kalau kau tidak memberitahukannya bagaimana aku tahu kalau kita mendapatkan pesan yang sama dan dari orang yang sama?"


"Memang kau tidak akan memberitahukannya padaku seandainya aku tidak memberitahukannya padamu?"


"Sebenarnya awalnya aku hanya menganggap kalau nomor ini salah kirim. Tapi pesan yang kembali datang membuatku yakin kalau dia tidak salah kirim. Awalnya aku tidak mempermasalahkan itu. Aku kepikiran, tapi tidak terlalu mencemaskan. Dan sekarang melihatmu menunjukkan satu pesan yang sama dengan pengirim yang sama membuatku takut. Apakah ada sesuatu yang di rencanakan?"


Andini mengibaskan tangannya. "Kau terlalu berpikir yang macam-macam. Ini pasti hanya orang iseng dan kebetulan dia mengirimkan ke nomor kita. Percaya padaku kalau tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula kita tidak punya musuh dan tidak akan ada orang yang mau bermusuhan dengan kita karena kita adalah orang baik." Andini tersenyum mencoba menghibur Ashana. Sebenarnya ia juga khawatir tapi Andini tidak mau membuat Ashana tambah khawatir jika ia menunjukkan kekhawatirannya.


Ashana tersenyum. "Baiklah, kali ini aku akan mempercayaimu." Ucap Ashana walaupun masih ada kekhawatiran di hatinya.


Setelah membicarakan pesan yang sama dari nomor yang sama, keduanya menghabiskan dua piring siomay. Mereka menyelipkan obrolan ringan saat sedang makan. Dari mulai pekerjaan sampai Ashana yang menanyakan perihal hubungan Andini dengan Abercio. Ia yakin pasti sudah ada sesuatu walaupun ia tidak tahu itu.


"Jam makan siang masih lama. Kau akan kemana?" Tanya Andini saat melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Disini saja. Kau tidak akan ke mana-mana kan?"


Andini mengangguk. Setelah itu keduanya terlibat obrolan yang mengundang tawa. Mereka juga menyelipkan kisah mereka sewaktu SMA dulu. Mengingat kenangan saat mereka masih memakai seragam putih abu.


Ting!


"Siapa?" Tanya Andini.


Ashana menatap foto yang di kirimkan ke nomornya. Tanpa menjawab pertanyaan Andini, ia langsung bangkit dan berjalan cepat menuju tempat kejadian.


Andini yang melihat respon Ashana terkejut dan langsung berjalan menghampiri Ashana. "Kau kenapa?"


Ashana tidak menjawab. Bahkan matanya tidak berkedip. Membuat Andini memilih diam dan terus mengikuti Ashana.


Ashana berhenti tepat di hadapan pintu ruangan Achazia. Andini menatap Ashana aneh. Wajahnya terlihat marah. Bahkan Andini tidak berani bertanya saat Ashana dalam keadaan seperti ini.


Ashana membuka pintu pelan. Sangat pelan sampai tidak terdengar suara decitan. Andini ikut melebarkan kedua matanya saat melihat Achazia yang sedang berpelukan dengan seorang wanita yang ia kenal. Siapa yang tidak kenal wanita itu? Wanita itu adalah artis yang sering muncul di televisi.


"Achazia." Panggil Ashana lirih.

__ADS_1


Achazia yang posisinya membelakangi pintu langsung melepaskan pelukannya dengan Ariana dan menoleh menatap Ashana yang berdiri di ambang pintu bersama Andini.


"Ash-Ashana, ini tidak seperti yang kau---"


Ucapan Achazia terhenti saat Ashana malah berbalik lalu berlari menjauh. Achazia langsung mengejar Ashana tapi tangannya di tahan. Dengan kasar ia melepaskan tangan Ariana lalu berlari mengejar Ashana.


"Tunggu," Andini menghalangi jalan Achazia saat pria itu akan berlari mengejar Ashana.


"Minggir," Ucap Achazia tajam. Walaupun Andini adalah sahabat Ashana, tetap saja Andini adalah bawahannya.


"Bukannya aku berniat untuk menghalangimu, tapi aku tahu Ashana bagaimana. Kau mengejarnya malah akan memperburuk suasana. Biarkan aku yang mengejarnya dan menjelaskan padanya. Aku yakin kau bukan orang seperti itu. Aku bisa melihat kau sangat mencintai Ashana." Ucap Andini. Ia memberikan senyuman kecil.


Tatapan Achazia berubah memohon saat Andini mengatakan itu. Ia memegang baju Andini. "Apakah aku tidak bisa menemuinya? Aku harus menjelaskan itu semua tidak benar."


Andini mengangguk. "Iya, aku tahu. Tapi bisakah kamu mengalah untuk kali ini saja? Ashana bukan orang yang mudah di bujuk oleh orang yang membuatnya seperti itu."


Achazia terdiam sebelum mengangguk pelan. "Aku percayakan semuanya padamu." Ucap Achazia dan Andini mengangguk.


"Aku pergi dulu."


Andini berjalan mengikuti kemana Ashana pergi. Tadi saat Ashana lari ia memperhatikan wanita itu berlari kemana. Dan sisanya ia bisa tanyakan pada orang-orang.


Setelah mencari Ashana, akhirnya Andini bisa menemukan wanita itu sedang duduk sambil membelakanginya. Bahunya berguncang menandakan kalau wanita itu sedang menangis. Ia berjalan pelan. Andini juga ingin mendengarkan apa yang di katakan Ashana saat menangis. Biasanya Ashana suka bicara sendiri kalau sedang menangis.


"Aku tahu aku tidak pantas bersanding denganmu aku sadar! Tapi bukan hakmu juga menyakitiku seperti ini. Jika kau mencintainya kenapa kau tidak menjadikannya sebagai kekasihmu? Kenapa harus aku yang menjadi kekasihmu?"


Jika keadaannya tidak seperti ini Andini ingin tertawa karena Ashana yang bicara dengan gaya rap. Sangat cepat. Ashana menghentikan ucapannya saat napasnya sudah tidak kuat.


"Ashana," Andini menyentuh bahu Ashana sampai wanita itu menoleh. Ashana malah tambah menangis saat menatap Andini.


"Andini..." Rengek Ashana.


Andini langsung duduk di sebelah Ashana. "Tenang, aku ada disini."

__ADS_1


*****


__ADS_2