
Ashana membuka gorden yang menghalangi datangnya sinar matahari. Wanita itu tersenyum saat melihat Achazia sedikit terusik karena sinar matahari yang masuk melewati jendela.
"Aku masih mengantuk." Ucap Achazia yang malah membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain.
Ashana berdecak. "Pemalas." Gumam wanita itu. Ia makin menarik gorden sampai ujung. Membuat kamar terang tanpa perlu lampu.
"Ayo bangun, walaupun hari libur kau tidak boleh malas." Ashana menarik tangan Achazia untuk bangun. Jadi mau tidak mau Achazia pun bangun.
"Kau ini..."
"Kau sendiri yang memperkejakan ku untuk mengurus mu. Dan kau sendiri yang setuju kalau aku boleh memaksa dan memarahi mu. Jadi kau tidak boleh menolak." Ucap Ashana. Selama 3 minggu terakhir ini Ashana sudah menjadi orang yang 'mengurus' Achazia. Ya, wanita itu menerima tawaran Achazia yang harus mengurusnya. Toh, lagipula mau ia menolak atau tidak ujung-ujungnya ia akan menjadi pengurus Achazia.
"Iya, aku bangun." Ucap Achazia. Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah Ashana dan tersenyum ke arah gadis itu. "Terima kasih telah membuat tidurku selalu nyenyak." Ucap Achazia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Ashana bergeming. 'Kenapa dia sangat tampan ketika tersenyum?' Gumamnya. Tapi ia langsung menggeleng-geleng kan kepalanya mengusir pikiran itu saat Achazia sudah berada di dalam kamar mandi.
Ashana membereskan kamar Achazia selama pria itu sedang sibuk dengan urusan kamar mandi. Saat terdengar suara shower dimatikan, Ashana langsung keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur untuk melihat Ailee.
"Ailee?" Ashana tidak menemukan keberadaan Ailee. Wanita itu mencari Ailee ke mana-mana. Tapi ia tidak menemukannya. Sampai ia mendengar suara yang tak asing. Ia memilih untuk keluar apartemen karena suaranya terdengar dari luar.
"Sudahlah Adrian, lupakan aku,"
"Kau bilang apa? Melupakanmu? Tidak semudah itu Ailee."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau tahu aku apa dan kau apa."
Ashana bisa melihat dari mata Ailee kalau sebentar lagi air mata akan meluncur bebas dari sana.
'Ailee mengenal Adrian?' Batin Ashana. Wanita itu lebih memilih untuk mendengarkan di balik pintu.
"Sudahlah, tidak ada untungnya kita seperti itu. Lebih baik kau lupakan aku dan mulai hidup baru lagi. Tanpa aku disana."
"Tapi Ailee, aku tidak bisa."
"Kau pikir aku bisa?!" Tidak, Ailee tidak bisa lagi menahan air matanya. Wanita itu menatap Adrian dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
"Jangan menangis." Adrian menarik Ailee ke dalam pelukannya. Tapi Ailee menolak. Wanita itu menghentakkan tangannya kemudian memilih masuk ke dalam apartemen.
Ashana yang belum siap kalau Ailee akan masuk, hanya berdiri saja disitu.
"Ash-Ashana?" Ucap Ailee saat melihat Ashana berada di depan pintu. Tidak mau Achazia mengejarnya, Ailee langsung mendorong Ashana masuk lalu menutup pintunya.
"Kau sedang apa disana?" Tanya Ailee pada Ashana.
"Ak-aku mencarimu. Tapi kenapa kamu menangis?" Tanya Ashana yang sebenarnya sudah tahu kenapa. Ia hanya ingin mendengar langsung dari Ailee agar ia tidak salah paham.
Ailee tersenyum. "Kau sudah mendengar semuanya kan?" Tanya wanita itu.
"Mm.. ya begitulah." Ucap Ashana yang tidak tahu harus bicara apa.
"Ashana... kau dimana?"
Ashana menoleh dan menemukan Achazia yang sudah rapi dengan setelan jasnya. "Kau mau kemana?" Tanya Ashana.
"Rahasia. Nanti aku akan memberitahumu."
Achazia menurut. Pria itu berjalan ke meja makan kemudian duduk dan memulai sarapannya.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Achazia.
"Sudah." Jawab Ashana. "Nanti kita bicara lagi." Ucap wanita itu pada Ailee dan Ailee membalasnya dengan anggukan.
"Jadwal mu apa hari ini?" Tanya Ashana. Setiap hari ia harus menanyakan jadwal Achazia karena ia lah yang mengurus semua yanga Achazia butuhkan.
"Setelah sarapan ikutlah denganku. Aku akan memberitahukannya." Ucap Achazia yang membuat Ashana mengernyit. 'Dia bicara apa sih? Biasanya juga dia akan langsung memberitahukannya padaku,' Gumam Ashana.
Setelah selesai sarapan, Achazia bangkit berdiri. Membuat Ashana juga ikut bangkit. "Ayo ikut aku." Achazia jalan lebih awal.
"Sebentar," Ucap Ashana yang berhasil memberhentikan langkah Achazia.
Ashana berjalan menghampiri Ailee yang sedang mencuci piring. "Ailee.." Panggil Ashana.
__ADS_1
Ailee menoleh. Dan seperti biasa dengan senyum yang mengembang. "Ya? Ada apa?"
"Aku pergi sebentar tidak apa?" Sebenarnya Ashana tidak enak pada Ailee. Ia yang bilang kalau ia akan menemani Ailee, tapi ia yang selalu meninggalkan Ailee.
Ailee tersenyum. "Tidak apa. Lagipula kau ini kenapa sih masih menjadi asisten tuan Achazia? Kenapa tidak menjadi istrinya saja?" Goda Ailee yang membuat wajah Ashana memerah.
"Kau ini bicara apa. Ya sudah, aku pamit dulu."
"Ya sudah sana pergi."
Setelah pamit pada Ailee, Ashana berjalan menghampiri Achazia. "Kau bicara apa?" Tanya Achazia.
"Rahasia." Jawab Ashana dengan suara berbisik.
Achazia hanya berdecak. Pria itu melanjutkan langkahnya dengan Ashana yang berjalan mengekorinya. Sampai Achazia menarik tangannya untuk berjalan di sisinya. "Apa susahnya berjalan di sisiku?" Ucap Achazia saat Ashana sudah berada di sisinya.
"Nanti orang-orang akan berpikir kalau kita mempunyai hubungan." Ucap Ashana.
"Bukannya memang mempunyai hubungan?"
"Beda Achazia." Ucap Ashana yang sebenarnya ingin teriak di telinga pria itu. Tapi ia masih sadar tempat.
Mereka berdua akhirnya sampai di parkiran apartemen. Achazia menyuruh Ashana untuk masuk ke dalam mobil. Saat Ashana akan masuk, Achazia mencegah wanita itu untuk membuka pintu mobil.
Ashana mengernyit saat Achazia malah menahan tangannya. "Ada apa?"
"Harus berapa kali aku bicara padamu kalau aku bukan supir taksi." Ucap Achazia dengan mata yang menatap tajam.
Ashana tidak mengerti. Butuh beberapa detik sampai wanita itu mengerti kemudian terkekeh pelan. "Maaf, aku sering lupa." Ucap Ashana kemudian berjalan memutar untuk masuk ke mobil. Bohong kalau Ashana lupa. Ia hanya Achazia tahu kalau hubungannya dengan pria itu hanya sebatas majikan dan pelayan. Tidak lebih. Ashana hanya akan melakukan sesuatu jika Achazia yang meminta. Tapi masih dalam batas wajar dan harus di sertakan alasan jika memang itu tidak wajar. Seperti harus menemani tidur di setiap malam.
"Oke, sekarang kita mau kemana?" Tanya Ashana saat sudah memasang sabuk pengaman. Ia menatap Achazia dengan penuh senyum.
Achazia tersenyum tipis. "Kau lihat saja. Aku yakin kau tahu tempatnya."
Ashana sempat bingung, tapi ia juga tidak mau terlalu memikirkan. Toh, nanti juga ia akan tahu. "Baiklah, kita lihat kau akan membawaku kemana." Ucap Ashana. Setelah itu Achazia membawa mobilnya menuju tempat yang tidak di ketahui namanya oleh Ashana.
__ADS_1
*****