Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
MANSION KELUARGA COMMAN


__ADS_3

"Kau cantik sekali Kak!!" Puji Alice. Gadis itu bangga dengan hasil karyanya ini.


Ashana menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ini seperti bukan dirinya. Ia menoleh menatap Alice. "Al," Panggil Ashana.


"Ya?"


"Kau apakan wajahku?"


Alice mengernyit bingung. Gadis itu menatap Ashana. "Tidak aku apa-apa kan. Hanya di rias saja. Kenapa memang?"


Ashana menyentuh wajahnya. "Ini bukan aku."


"Hah?" Alice dibuat tambah bingung oleh Ashana. Maksudnya apa?


"Dia yang di cermin sangat cantik. Berbeda sekali denganku." Ucap Ashana tidak percaya.


Alice tersenyum mengerti. Gadis itu memegang kedua bahu Ashana. "Kakak itu cantik, hanya saja tidak sadar."


Ashana kembali menatap Alice. "Kau meminjam wajah orang lain untukku?" Tanya wanita itu tidak masuk akal.


"Kakak bicara apa sih?" Alice benar-benar bingung dengan jalan pikiran Ashana. Memang bisa meminjam wajah orang?


Ashana mengangguk. "Iya, kau meminjamkannya wajah orang lain untuk ku?"


Alice merotasikan kedua bola matanya. "Kak Ashana, Kalaupun aku meminjam wajah orang lain, sudah dari dulu aku meminjam wajah Prim Chanikarn." Kesal gadis itu karena Ashana berbicara yang tidak masuk akal.


"Tapi ak---"


"Sudahlah Kak. Sebentar lagi Kak Achazia akan datang menjemputmu." Ucap Alice. Kini keduanya berada di apartemen Achazia. Sedangkan Achazia masih di kantor. Dia bilang setelah pulang dari kantor dia akan langsung menjemput Ashana di apartemen.


Ashana menghembuskan napasnya. Tiba-tiba tangannya gemetaran. Ia yang selalu seperti itu saat gugup langsung menyatukan kedua tangannya. Mencoba menenangkan diri.


Alice yang sadar dengan apa yang di lakukan Ashana, menyentuh bahu wanita itu. Membuat Ashana menatapnya.


"Tenanglah. Aku yakin mommy akan menyukaimu. Jangan takut." Ucap Alice mencoba menenangkan Ashana.


Ashana tersenyum. Semoga saja begitu. "Semoga saja."


Cklek!


"Kau sudah si---"


Achazia yang baru saja masuk terpana melihat Ashana dengan penampilannya yang sangat berbeda. Pria itu bahkan tidak sempat berkedip.


Alice yang melihatnya hampir saja menyemburkan tawanya. Gadis itu berbisik pada Ashana. "Benar kan, kau memang secantik itu Kak." Ucap Alice bersamaan dengan Achazia yang tersadar.


"Kau sudah siap?" Tanya Achazia yang gugup. Pria itu memalingkan wajahnya. Tidak mau terlihat salah tingkah.

__ADS_1


Ashana mengangguk pelan. "Iya, sudah."


"Ayo turun." Setelah mengatakan itu Achazia langsung menutup pintu.


"BWAHAHAHAHAHA!! WAJAH KAKAKKU SANGAT LUCU!!" Alice langsung menyemburkan tawanya saat Achazia sudah tidak ada disana. Tapi tidak menutup kemungkinan Achazia mendengarnya.


"Alice," Ucap Ashana yang melihat Alice sampai terjungkal karena tertawa. Mengapa kakak beradik ini begitu berbeda?


"Hh.. hh... sudahlah kak, hh.. kau temui kakakku itu. Dia pasti sudah menunggu." Ucap Alice sambil mendorong tubuh Ashana untuk keluar kamar. Malah gadis itu mendorong Ashana sampai keluar apartemen.


"Alice kau tidak---"


BRAK!!


Ashana terlonjak saat Alice dengan santai menutup pintu apartemen dengan cara di banting. Wanita itu menghembuskan napasnya. Menetralkan detak jantungnya agar tidak gugup.


"Kamu bisa Ashana. Setelah ini kamu tidak akan berurusan dengan Achazia lagi." Ucap Ashana untuk menyemangati dirinya sendiri.


Ashana berjalan menuju parkiran. Menghampiri Achazia yang sudah menunggunya. Ia tersenyum saat menemukan Achazia sedang bersender di pintu mobil sambil memainkan ponsel.


"Ayo,"


Achazia mendongakkan kepalanya. Pria itu menatap Ashana dari atas sampai bawah. Ia langsung masuk ke dalam mobil. Ashana mengerti. Wanita itu mengikuti Achazia dengan duduk di kursi belakang.


"Kenapa disana?"


"Apa?" Tanya Ashana yang tidak terlalu jelas mendengar apa yang di katakan Achazia.


"Kenapa harus di depan? Kemarin juga kan aku disini."


Achazia berdecak. "Aku bukan sopir taksi." Ucap pria itu.


Ashana mencebikkan bibirnya. Wanita itu keluar dari mobil lalu pindah ke depan. "Kemarin juga biasa saja." Gumam Ashana pelan.


"Kau bicara apa?"


"Hah? Apa? Aku tidak bicara apa-apa." Balas Ashana gugup.


"Pakai sabuk pengaman. Kita berangkat." Achazia mengendarai mobilnya menuju mansion keluarga Comman. Sedangkan Ashana hanya diam saja. Memikirkan bagaimana nanti kalau Ibu Achazia sudah bertemu dengannya. Apakah ia akan marah? Atau malah akan senang?


Tidak butuh perjalanan yang lama akhirnya mobil yang di kendarai Achazia sampai di depan mansion keluarga Comman. Ashana yang melihat begitu besarnya mansion ini hanya menganga tak percaya. 'Ada berapa banyak orang yang tinggal disini?' Bahkan ini terbentuk tidak pantas di sebut rumah. Ini adalah istana.


"Ayo turun." Ucap Achazia. Pria itu sudah turun lebih dulu.


Ashana buru-buru melepas sabuk pengaman lalu turun dan menghampiri Achazia. "Bagaimana? Aku takut."


Achazia mengulurkan tangannya. "Genggam tanganku." Ucap pria itu tanpa menatap Ashana.

__ADS_1


Ashana dengan gugup menyambut tangan Achazia. Keduanya berjalan memasuki mansion bersama. Banyak yang menjaga mansion ini. Semua yang melihat Achazia langsung menunduk hormat. Setelah Achazia menghilang, mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing.


"Tuan Achazia," Achazia menoleh. Pria itu tersenyum pada seorang pelayan yang sudah mulai tua itu. Ia berjalan menghampiri Achazia dan Ashana.


"Apa kabar bi?"


"Baik. Udah lama tuan tidak kesini. Oh, ini orang yang mau bertemu dengan nyonya besar?" Tanya wanita yang di sebut bibi itu saat melihat Ashana di sebelah Achazia.


Ashana mengangguk sambil tersenyum. "Iya."


"Pas sekali. Nyonya besar sudah menunggu."


"Mommy menunggu dimana?"


"Di taman belakang tuan. Kalau begitu saya permisi." Bibi itu pergi dari sana untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Siapa?" Tanya Ashana saat wanita itu sudah tidak ada.


"Orang yang mengurus ku dari kecil."


Ashana membulatkan bibirnya mengerti. Pantas saja mereka terlihat akrab.


"Ayo. Ibuku sudah menunggu."


Ashana mengangguk. Ia berjalan beriringan dengan Achazia menuju taman belakang. Ternyata tempatnya jauh. Kaki Ashana sampai sakit karena menggunakan heels tinggi. 'Rumah macam apa seluas ini?' Gumam Ashana dalam hati.


"Itu ibuku." Achazia menunjuk wanita cantik yang kini tengah meminum tehnya sambil menatap hamparan taman.


"Achazia," Ashana menahan tangan Achazia. Ia takut.


Achazia tersenyum menenangkan. Tidak seperti Achazia biasanya. "Tidak akan terjadi apa-apa."


Achazia menggenggam tangan Ashana lalu membawanya pada Adriyana. Pria itu tanpa rasa takut menghampiri Adriyana yang duduk membelakangi nya.


"Mommy.." Panggil Achazia membuat Adriyana menoleh.


Adriyana tersenyum. Wanita itu bangkit berdiri lalu memeluk putra satu-satunya itu. "Anakku, sudah berapa lama kau tidak pulang nak?"


Achazia membalas pelukan dari Adriyana. "Tidak terlalu lama."


Adriyana melepas pelukannya. "Kau terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai melupakan mommy mu ini." Ucap Adriyana.


Achazia tersenyum. "Aku tidak lupa pada Mommy. Hanya aku tidak ada waktu untuk mengunjungi Mommy."


"Iya, Achazia. Terserah kau saja." Adriyana menatap Ashana yang sedari tadi diam saja. "Ini wanita yang mau kamu tunjukan ke mommy?" Adriyana menatap Ashana dari atas sampai bawah. Membuat Ashana kikuk.


"Ikut aku," Ucap Adriyana pada Ashana. Adriyana berjalan lebih dulu meninggalkan Ashana yang masih diam saja.

__ADS_1


Ashana menatap Achazia takut. Takut kalau Adriyana tidak menyukainya. Tapi Achazia menganggukkan kepalanya. Meyakinkan Ashana kalau semuanya akan baik-baik saja.


*****


__ADS_2