Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
ADA APA DENGAN ACHAZIA?


__ADS_3

Achazia menyibak gorden yang menghalangi sinar matahari masuk ke kamarnya. Ya, hari ini pria itu menginap di rumah orang tuanya. Setelah itu ia langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi. Entah kenapa semenjak Achazia bersama Ashana, pria itu tidak mau wanita, siapapun itu masuk ke dalam kamarnya. Kecuali Mommy dan Alice. Itu sudah jelas karena mereka akan langsung masuk ke dalam kamar Achazia tanpa seizin Achazia.


Setelah siap dengan setelan kantornya, pria itu keluar kamar. Dari depan kamarnya yang berada di lantai dua, sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Tapi hanya Alice yang berada disana. Mommy dan Daddy nya belum datang.


"Kak ayo sarapan!" Teriak Alice dari bawah. Kaki Achazia bergantian menuruni anak tangga. Ia berjalan menghampiri Alice.


"Dimana Mommy dan Daddy?" Tanya Achazia.


Alice mengangkat kedua bahunya. "Mungkin masih di kamar. Ayo, lebih baik kita makan duluan saja."


Achazia mengangguk. Kemudian ia memulai sarapannya bersama Alice yang berada di hadapannya. Setelah selesai, Achazia bertanya pada Alice. "Kau berangkat bersama siapa?"


"Sendiri," Jawab Alice setelah meneguk segelas air sampai habis.


"Tidak dengan sopir?" Achazia mengerutkan keningnya. Biasanya Daddy nya akan menyuruh sopir untuk mengantarkan Alice.


Alice tertawa. "Ayolah kak, aku bukan tuan Puteri yang harus di antar jemput setiap harinya. Aku bisa mengendarai mobil, kenapa bakatku tidak digunakan?"


Achazia ikut terkekeh. Ia lupa kalau adiknya ini bukan spesies anak yang nurut nurut amat. "Bagus, jalankan hidup yang ingin kamu jalankan." Achazia mengusap kepala Alice sebelum berlalu pergi menuju mobilnya.


Achazia melirik ponselnya yang berdering. Telepon dari Arkan. Achazia langsung mengangkat telepon itu. "Ada apa?"


"Tuan, saya ingin membicarakan perihal nanti, rapat para pemegang saham."


Achazia menghela napas dengan kedua mata yang tertutup. Ia hampir lupa kalau setiap akan ada rapat para pemegang saham. "Aku akan segera sampai."


"Baik Tuan,"


"Saya tutup,"


"Silahkan Tuan."


Achazia menaruh ponselnya di kursi sebelah pengemudi. Kenapa di saat ia sudah mendapatkan orang yang tepat, malah banyak masalah yang membuat kepalanya tambah pusing?

__ADS_1


Achazia menempatkan mobilnya di tempat khusus. Setelah itu pria itu turun dan berjalan memasuki gedung tinggi yang sudah beberapa tahun ini ia pimpin.


*****


Semua orang langsung berdiri saat seseorang akan lewat seperti biasa. Ashana yang terlalu fokus dengan tugasnya tidak menyadari kalau semua orang sudah berdiri. Sampai bahunya di tepuk oleh Andini. Ia mendongak dan sadar dengan semua orang yang sudah berdiri.


Ashana berdiri lalu tepat setelah itu Achazia lewat dihadapannya. Sekilas Achazia meliriknya, tapi hanya sekilas, tidak lama, mungkin hanya satu detik. Membuat Ashana bingung. Achazia kenapa? Wajahnya juga terlihat kurang bersahabat.


Mata Ashana terus mengikuti Achazia sampai pria itu masuk ke dalam ruangannya. Sentilan di kening menyadarkan Ashana. Wanita itu meringis lalu menatap Andini kesal. "Kenapa kau menyentilku?"


"Kau menatap Achazia seakan-akan dia ingin di ambil orang saja." Ucap Andini. Ia tadi melihat Ashana yang terus saja menatap Achazia sampai pria itu menghilang di balik pintu.


Ashana menghembuskan napasnya. "Kenapa aku merasa ada yang aneh ya?"


Andini langsung mendekatkan tubuhnya. "Aneh bagaimana?" Bisik wanita itu.


Ashana melirik Andini sinis. "Kerja, nanti akan aku katakan kalau sudah jam makan siang."


Andini memasang wajah cemberut. Tapi benar juga yang dikatakan Ashana. Sekarang waktu kerja, jika mereka ketahuan mengobrol oleh atasan, habis mereka dipotong gajinya. Karyawan tetap karyawan. Walaupun Ashana adalah kekasih Achazia, Ashana tetaplah karyawan di perusahaan ini.


Ashana menoleh. "Apa?"


"Sebentar lagi akan rapat pemegang saham."


"Lalu?" Ashana masih fokus pada komputernya.


"Kita bisa mencari tahu di waktu itu."


Ashana menghentikan jarinya yang sedang mengetik di komputer. Ia menatap Andini tidak mengerti. "Maksudmu?"


Andini tersenyum lebar. 'Memang kau saja yang bisa membuatku penasaran.' Batin wanita itu senang. "Nanti, akan ku katakan pada jam makan siang."


Ashana memasang wajah masam. Ia mengerti sekarang. Andini balas dendam. Ia juga ingin membuat Ashana penasaran. "Wah, wah. Kau juga ingin membuatku penasaran ya, baiklah aku tidak terlalu penasaran." Tantang Ashana.

__ADS_1


"Aahh, aku tau kau ingin tahu kaaannn?" Ucap Andini menggoda Ashana.


Ashana berdecak. "Kau mengajakku mengobrol saja. Sudah, sudah. Kalau gajiku di potong, ganti dengan gajimu."


"Enak saja,"


Keduanya kemudian kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Tanpa terasa jam makan siang telah tiba. Banyak pegawai yang sudah pergi menuju kantin kantor. Ada juga yang masih menyelesaikan tugas yang belum selesai. Sedangkan Ashana dan Andini masuk ke dalam kelompok yang sudah berjalan menuju kantin.


"Tiba-tiba aku ingin makan mie ayam," Celutuk Ashana.


Andini menganggukkan kepalanya. "Aku juga, nanti setelah makan kau harus katakan yang tadi,"


Ashana menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ia mengerti maksud Andini. "Baik kanjeng ratu."


Setelah memesan makanan dan menemukan meja untuk tempat makan, mereka mulai mengisi perut yang sudah kosong itu. Tanpa disela pembicaraan apapun. Setelah semua makanan habis, Andini memulai pembicaraan. "Katakan, apa yang membuatmu merasa aneh pada Achazia?"


Ashana menghela napas. Sebenarnya ia ingin tertawa, hanya saja ia tahan. Lucu sekali Andini ini, baru beberapa detik mereka selesai makan, wanita itu tidak memberikannya waktu untuk sekedar menikmati kekenyangan.


"Baik, dengarkan aku. Entah kenapa saat Achazia lewat pagi tadi, dia hanya sekilas menatap ke arahku. Itu pun tanpa senyum. Terlihat dingin? Aku kurang tahu tapi seperti saat pertama aku bekerja disini. Aku harap tidak ada sesuatu yang terjadi diluar dugaanku." Ucap Ashana.


Andini mendengarkan dengan serius. "Tidak, tidak. Tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh." Wanita itu meyakinkan Ashana. "Aku yang akan pertama kali menampar Achazia jika dia melakukan sesuatu yang membuatmu sedih." Lanjutnya. Andini menggenggam tangan Ashana. Ia menatap Ashana yang juga menatapnya.


Ashana tersenyum. "Terimakasih Andini," Entah sudah kata terimakasih yang keberapa Ashana pun tidak tahu tepatnya. Andini tidak pernah tidak selalu ada untuknya.


"Haish, kau ini bicara apa? Memang aku orang baru bagimu? Hah? Aku sudah lama bersamamu Ashanaaaa.... jadi berhenti bersikap seakan-akan aku adalah orang yang datang saat kau sedang sedih. Aku akan selalu ada untuk itu, bukan sekedar datang." Ucap Andini.


Ashana tersenyum. "Oh iya, apa rencanamu untuk rapat para pemegang saham nanti?"


Andini menjentikkan jarinya. "Nah iya, nanti saat ada rapat para pemegang saham, pasti keluarga Achazia akan datang karena sebagian besar saham perusahaan ini ada di tangan mereka, nah setelah itu----"


Andini menggerakkan tangannya agar Ashana mendekat. Ashana mendekat dan Andini membisikkan sesuatu.


Ashana tersenyum saat Andini selesai membisikkan rencananya. "Kau pintar juga."

__ADS_1


Andini mengibaskan rambutnya. "Otakku akan cepat bekerja jika soal seperti ini," Kemudian keduanya tertawa bersama.


*****


__ADS_2