
"Mm.. Andini." Panggil Ashana saat Andini sibuk melahap bakso.
"Apa?" Tanya Andini tanpa mendongak.
"Ashana menggaruk tengkuknya. " Mm.. Bagaimana ya?"
Andini meneguk segelas air. Wanita itu menatap Ashana. "" Kamu mau mengatakan apa?" Tanya Andini lagi. Terlihat dari wajah Ashana kalau ia gugup.
"Aku pernah menceritakan padamu kan soal Achazia yang di jodohkan?"
Andini mengangguk. "Iya, lalu?"
"Sebenarnya orang yang akan di jodohkan itu adalah kamu." Ucap Ashana dengan suara pelan.
BRAK!!
Seisi kantin langsung menoleh ke arah Andini yang tiba-tiba bangkit sambil menggebrak meja.
"Kau kenapa?" Ashana membawa Andini untuk duduk lagi. "Kau jadi pusat perhatian." Bisik Ashana sambil melirik mereka yang menatap ke arahnya.
"Biarkan saja! Apa katamu tadi?! Aku yang akan dijodohkan dengan A---MMMPPHH!!"
Ashana langsung membekap mulut Andini. "Kau bicara apa? Jangan teriak-teriak." Ucap Ashana penuh penekanan.
Andini menyingkirkan tangan Ashana yang membekap mulutnya. "Bagaimana aku tidak teriak---"
"Andini!" Ashana kembali membekap mulut Andini. "Kalau kau tidak mau diam aku tidak akan melanjutkan ceritaku." Ancam Ashana yang membuat Andini langsung diam.
"Baiklah, baiklah. Bagaimana ceritanya?" Ucap Andini yang sudah bisa mengontrol emosinya.
"Mommy Achazia yang cerita sendiri padaku kalau---"
"What?! Kau dekat dengan mommy nya?"
Ashana mengangguk sambil meringis. "Bisakah kau mengecilkan volume suaranya?" Pinta Ashana.
"Oke baik. Aku akan tenang." Andini mengambil posisi duduk santai.
"Dengarkan aku dan jangan menyela. Jika kau menyela lagi aku tidak akan menceritakannya." Ancam Ashana lagi.
"Oke iya." Andini langsung memasang telinganya.
"Mommy Achazia bilang kalau dia akan menjodohkan anak bungsu keluarga Cadereyn. Kau bukan? Tapi dia akan menjodohkanmu dengan Achazia kalau Achazia tidak mempunyai pasangan. Karena Achazia merencanakan ini dan tidak kau di jodohkan, jadi tidak jadi perjodohannya. Achazia belum tahu kalau orang yang akan di jodohkan dengannya adalah kamu." Ucap Ashana.
"Jadi aku tidak akan di jodohkan kan?" Tanya Andini dengan raut panik.
__ADS_1
Ashana menggeleng sambil tersenyum. "Tidak akan."
"Huh, untung saja. Aku benci perjodohan. Memang mereka pikir aku tidak bisa mencari pria sendiri?" Kesal Andini pada keluarganya yang dengan mudahnya menjodohkan dirinya dengan Achazia.
"Bagus Achazia merencanakan hal ini denganmu. Jadi dia tidak akan menikah denganku."
"Memang kalau misalkan kalian di jodohkan kalian akan tetap menikah?"
"Tidaklah! Achazia memang tampan tapi dia bukan tipeku. Lagipula aku tidak suka di jodohkan. Menolak perjodohan sepertinya seru karena akan membuat keluargaku marah. Dan aku menyukai itu jika mereka semua sudah marah padaku karena kelakuanku." Ucap Andini yang membuat Ashana geleng-geleng kepala. Isi kepala Andini memang tidak bisa di tebak.
"Mm.. kau sudah selesai makan?" Tanya Ashana pada Andini.
"Eh, belum. Sedikit lagi." Ucap Andini kemudian mulai menghabiskan bakso.
"Aku akan menunggumu."
*****
"Jadi bagaimana?" Ashana menopang dagu dengan satu tangan. Kini Ashana dan Abercio sedang berada di sebuah cafe ternama.
"Aku ingin kau racuni Andini dengan kebaikan-kebaikan ku." Ucap Abercio.
Ashana mengernyit. "Memangnya kau punya kebaikan?" Tanya Ashana polos.
"Baiklah aku akan mencobanya. Tapi apa saja kebaikan yang ada dirimu? Aku tidak tahu."
Abercio menyerahkan sebuah map pada Ashana. Membuat Ashana berdecak kagum. "Kau sampai membuat ini? Apakah ini proposal cintamu untuk Andini?"
"Bukan, karena aku malu untuk mengatakannya, kau bisa membacanya sendiri. Semua yang harus kau lakukan ada di dalam."
"Oh, begitu ya. Yasudah nanti di rumah aku akan membacanya." Ucap Ashana lalu memasukkan map itu ke tasnya.
Mereka berdua mengobrol sebentar. Obrolannya masih berputar seputar Andini, saat merasa kalau sudah waktunya untuk pulang, Ashana pamit pada Abercio.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Abercio yang di balas gelengan tak enak dari Ashana.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Ucap Ashana menolak tawaran Abercio.
"Tidak, tidak. Kau mau membuatku kena amukan Achazia?"
"Tapi aku bisa menjaga diriku dengan baik." Ucap Ashana meyakinkan Abercio.
"Ashana, Achazia menitipkanmu padaku. Pria macam apa aku yang tidak mengantarkan seorang gadis itu untuk pulang?"
Ashana terdiam. Gawat juga jika Abercio terkena amukan Achazia. Jadi walaupun enggan, ia tetap mengangguk. Kasihan Abercio jika harus babak belur nanti.
__ADS_1
Selama perjalanan tidak ada yang di obrolkan. Ashana yang tidak mau memulai pembicaraan dan Abercio yang canggung jika harus mengobrol dengan Ashana. Padahal Abercio adalah tipe pria yang suka bercanda dan bisa mencairkan suasana. Entah kenapa sekarang tidak bisa. Mungkin karena Ashana adalah sahabat dari orang yang di sukainya. Ia harus jaga image jika tidak mau image nya buruk di depan Ashana.
"Sudah sampai,"
"Terima kasih." Ashana tersenyum sebelum keluar dari dalam mobil.
Sepeninggalnya mobil Abercio, Ashana masuk ke dalam apartemen. Apartemen terlihat ramai. Mungkin karena ini adalah jam pulang kerja. Dan kebanyakan orang yang menghuni apartemen ini adalah para orang kantoran.
"Ailee," Sapa Ashana saat baru masuk ke dalam apartemen.
Ailee tersenyum. "Kau darimana saja?"
"Aku ada urusan tadi sebentar. Dimana Achazia?" Tanya Ashana.
"Tuan sedang berada di balkon." Ucap Ailee.
Ashana menaruh tas ke kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa ia pergi ke balkon untuk melihat Achazia.
Ashana mengernyit saat tidak menemukan siapa-siapa. "Kemana dia?" Gumam Ashana. Wanita itu menghembuskan napasnya. "Dia sendiri yang menyuruhku langsung menemuinya jika sudah pulang, tapi dia juga yang tidak tahu keberadaannya dimana." Kesal Ashana.
"Kau mencariku?"
Ashana berbalik dan menemukan Achazia yang sedang meminum sesuatu sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu balkon.
"Kau yang menyuruhku untuk menemuimu jika sudah pulang. Nah, sekarang kau mau apa?" Ucap Ashana.
Achazia berjalan mendekat kemudian duduk di kursi yang ada. "Aku hanya ingin melihat jika kamu datang dengan keadaan baik-baik saja." Ucap pria itu santai.
"Itu saja?"
"Iya."
"Tidak penting." Gumam Ashana. Lebih baik ia bekerja membantu Ailee daripada harus meladeni tuan muda aneh keluarga Comman. Ia berbalik berniat untuk pergi.
"Kau mau kemana?" Tanya Achazia.
"Aku harus bekerja. Aku tinggal disini tidak hanya menumpang." Ucap Ashana.
Achazia bangkit berdiri. Pria itu menaruh gelas yang di pegangnya di atas meja. Ia berjalan mendekati Ashana sampai wanita itu mundur dan tidak bisa lagi karena di belakangnya ada di tembok.
"Kau mau apa?" Tanya Ashana menjaga suaranya untuk tidak bergetar.
Achazia menaruh satu tangannya di atas kepala Ashana. Pria itu menatao wajah Ashana lekat-lekat. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah ketakutan Ashana. "Jika aku memintamu untuk hanya mengurusku bagaimana? Apa kau setuju?"
*****
__ADS_1