Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
BUJUK


__ADS_3

Ashana, Andini, Alice dan Ailee belum tidur saat empat pria itu pulang. Kini mereka sudah berada di villa. Achazia dan yang kain terkejut karena mereka belum juga tertidur padahal sudah tengah malam.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Andini pada Abercio.


Abercio melirik Achazia yang diam saja. "Kami ada urusan sebentar tadi."


"Sebentar? Kau pergi selama tujuh jam!" Ucap Andini.


"Baiklah, aku minta maaf." Ucap Abercio.


Ashana menatap Achazia yang diam saja. Ia menyentuh tangan Achazia yang duduk di sebelahnya. "Kenapa? Ada apa? Urusan apa yang membuatmu harus mengurusnya begitu lama?"


Achazia masih menunjukkan wajah datar. Ia menoleh menatap Ashana. Senyum tipis pun keluar. "Itu tidak penting."


"Kalau tidak penting kenapa kau mengurusnya kak?" Ucap Alice.


Achazia menghembuskan napasnya. "Kalian tidak perlu tahu. Lagipula ini tidak ada hubungannya dengan kalian." Ucap Achazia yang membuat semuanya diam.


Ashana berdeham setelah beberapa detik tidak ada yang bersuara. "Aku ke kamar dulu." Ucap Ashana kemudian bangkit dan pergi ke kamar.


Andini ikut bangkit saat Ashana sudah menutul pintu kamarnya. "Aku juga, aku sudah mengantuk." Ucap Andini dan di susul Alice dan Ailee.


Abercio menghembuskan napasnya. Pria itu menyandarkan tubuhnya. "Apakah mereka harus tahu?"


Adrian menggeleng. "Tidak, mereka tidak boleh tahu." Ucap pria itu setelah diam cukup lama.


Abqari mengangguk. "Ya, mereka tidak boleh tahu." Ucap pria itu.


Abercio menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi untuk membujuk Andini." Pria itu bangkit kemudian masuk ke dalam kamar Andini.


Andini yang mendengar suara pintu terbuka menoleh. Kini ia sedang menatap pemandangan luar dari jendela. Saat tahu kalau orang itu adalah Abercio, ia kembali memfokuskan matanya pada pemandangan di luar.


"Mau apa kau kemari?" Tanya Andinu tanpa menatap Abercio.


Abercio kini berada tepat di belakang Andini. "Kau bilang kau mengantuk. Lantas kenapa tidak tidur?" Tanya Abercio.


"Mengantuknya tiba-tiba hilang." Ucap Andini yang membuat Abercio tertawa.


"Kau ini lucu sekali."


Andini tidak menjawab. Membuat Abercio memeluknya dari belakang. Andini hanya diam saja. Tidak melawan, juga tidak membalas.


"Kau kenapa?" Tanya Abercio.


"Kenapa kau bertanya? Memangnya aku kenapa?" Balik tanya Andini.


"Kau diam saja."


"Lalu kenapa jika aku diam saja?"


Abercio menghela napas. Ia harus bisa membujuk Andini. "Mau minum coklat panas sambil melihat pemandangan di luar?" Tawar Abercio. "Kau belum mengantuk kan?" Lanjut Abercio.


Andini menggeleng. "Belum. Baiklah, aku terima tawaran mu." Ucap Andinu yang membuat Abercio tersenyum.


"Aku buatkan dulu sebentar."


Saat Abercio pergi, Andini memilih untuk ke balkon lebih dulu. Sambil menunggu Abercio, ia menatap bintang yang terhampar di langit. Senyumnya tiba-tiba terukir saat menyadari betapa indahnya bintang-bintang yang menghiasi langit.


"Aku datang," Andini menoleh ke belakang. Abercio kembali sambil membawa dua cangkir gelas berisi cokelat panas.


"Ini untukmu." Setelah memberikannya pada Andini, Abercio ikut duduk.

__ADS_1


"Bintangnya indah."


"Iya,"


Abercio menatap Andini yang ternyata juga sedang menatap langit. "Indah, sepertimu."


Andini terkekeh. "Aku tidak lupa kalau kau adalah jenis buaya darat."


Kini berganti Abercio yang tertawa. "Aku serius."


"Aku tahu, aku memang indah, kau tidak perlu mangatakannya."


"Baiklaaaah," Abercio menyeruput cokelat panasnya.


"Kau tahu?"


"Apa?"


"Kenapa aku jatuh cinta padamu?"


"Apa?" Andini menatap Abercio.


"Karena aku pun tidak tahu." Jawab Abercio yang di akhiri dengan kekehan.


Andini tersenyum. "Kau tidaj perlu mangatakannya jika kau tidak tahu."


"Aku ingin tahu. Bagaimana kau bisa menyukaiku?"


"Aku tidak akan mengatakannya."


"Kenapa?"


Abercio terkekeh. "Kita sama ternyata."


"Oh iya, omong-omong besok kalian ingin pergi kemana?" Tanya Abercio.


"Aku pikir kalian sudah merencanakan akan pergi kemana."


Andini menggeleng. "Tidak, kami tidak merencanakan apapun, kami sibuk menunggu kalian pulang. Terserah kalian ingin pergi kemana. Aku ikut saja."


"Kau pernah kemari sebelumnya?" Tanya Abercio.


Andini mengangguk. "Ini adalah ketiga kalinya aku kemari."


"Aku tidak terkejut karena kau memang dari keluarga kaya."


"Ya, aku mengakuinya, tapi aku juga membencinya. Kau tahu alasanku untuk bekerja di perusahaan milik Achazia apa."


Abercio menganggukkan kepalanya. "Mm.. Andini, aku ingin bertanya."


"Bertanya apa?"


"Jikalau kau dijodohkan, kau akan menerima perjodohan itu atau kau memilih cintamu sendiri?" Tanya Abercio.


"Kau ini bertanya apa? Ya aku akan memilih cintaku sendiri. Lagipula siapa mereka berani mengaturku? Aku tidak suka hidupku di atur, dan akan seperti itu sampai kapan pun."


Abercio tersenyum. "Baguslah,"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"


"Tidak, tidak apa-apa."

__ADS_1


"Bagaimana itu yang akan terjadi padamu?"


"Apa?"


"Bagaimana jika kau yang di jodohkan?Bukan aku. Apakah kau akan memilih untuk menurut atau memilihku?"


Abercio mencubit pipi Andini. Tidak keras, tapi mampu membuat Andini meringis. "Kau ini kenapa? Tiba-tiba mencubitku."


"Tidak apa. Kau ini aneh. Tentu saja aku akan memilihmu. Lagipula aku mendapatkanmu itu susah."


Andini tersenyum. "Baguslah. Lagipula percuma aku memilihmu tapi jika kau yang di jodohkan, kau memilih untuk di jodohkan. Seberapa keras pun aku berjuang, aku akan tetap kalah." Ucap Andini.


"Kenapa orang kaya seperti itu?" Tanya Andini tak habis pikir dengan pemikiran orang kaya.


"Yang ada di otak mereka hanya bisnis, bisnis dan bisnis. Tidak peduli anaknya tidak mencintai orang itu atau tidak. Mereka tidak peduli. Menyebalkan." Ucap Andini yang membuat Abercio tertawa. Andini mempunyai ciri khas saat berbicara. Dan menurut Abercio itu sangat menggemaskan.


"Baiklah, kalau itu benar-benar terjadi, kau harus berjuang bersamaku."


Andini tersenyum. "Tentu saja." Ia menggenggam tangan Abercio yang berada di atas meja.


"Oh iya, Andini."


"Ada apa?"


Abercio menatap Andini. Pria itu memajukan wajahnya. Membuat Andini memundurkan wajahnya. "Kau mau apa?"


Abercio tertawa. "Tidak, tidak. Ini ada sesuatu di matamu."


"Apa? Coba ambilkan." Andini memajukan wajahnya dan--


Cup.


Andini melebarkan kedua matanya, sementara Abercio kembali duduk seperti tidak melakukan apapun.


Andini berdecak. "Kau!"


Abercio tertawa. "Apa?"


"Menyebalkan!"


Abercio tertawa lagi. Ia menatap Andini yang kini sedang menyentuh bibirnya sendiri. "Kau sedang apa? Ingin aku mencium bibirmu lagi?"


"Kau! Kau mau aku pukul?!"


Abercio tertawa. "Tidak, tidak. Ampun Ratu."


Andini melipat kedua tangannya. Dalam hati ia sangat senang. Bahkan ia ingin sekali berteriak tapi tidak mungkin.


"Sudah malam. Aku mau tidur." Ucap Andini. Ia bangkit kemudian menarik tangan Abercio untuk bangkit.


"Kau akan mengusirku?"


Andini mengangguk. "Ya, ayo keluar." Andini mendorong Abercio untuk keluar.


"Sebentar, sebentar." Abercio menahan pintunya agar tetap terbuka.


"Aku mencintaimu." Ucap Abercio kemudian langsung menutup pintu kamar Andini.


Andini yang masih mematung di depan pintu langsung tersadar saat pintu itu tertutup. Dengan tangan yang terkepal wanita itu memukul angin di hadapannya. "Abercio si**an!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2