
Ailee menatap Adrian yang sedang memainkan laptopnya di ruang tengah. Yang lain sudah tidur, hanya Adrian yang masih sibuk dengan laptopnya. Awalnya Ailee ingin menunggu Adrian sampai pria itu selesai. Tapi itu pasti akan sangat lama. Jadi ia memilih untuk menghampiri pria itu.
"Adrian," Panggil Ailee membuat Adrian mendongak. Senyumnya langsung mengembang saat menemukan Ailee sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau belum tidur?"
"Bolehkah aku duduk di sampingku?" Tanya Ailee.
Adrian menganggukkan kepalanya. "Silahkan, dengan senang hati."
Ailee duduk di sebelah Adrian. Ia menatap laptop Adrian, tapi sayang tidak terlihat karena Adrian mengarahkan laptopnya ke sisi yang berlawanan dengan Ailee.
"Ada apa? Ada yang mau kau katakan padaku?" Tanya Adrian.
Ailee mengangguk. "Apakah kau tidak keberatan jika aku menanyakan ini?"
Adrian tertawa. Dan tawa itu berhasil membuat Ailee terhipnotis sejenak. "Apa yang harus di beratkan? Aku siap jika itu tentangmu Ailee."
"Sebenarnya..." Ailee menatap Adrian. Mata pria itu begitu teduh menatapnya. Menunggunya bicara. "Pekerjaan apa yang sedang kau lakukan dengan Pak Achazia, Abercio dan Abqari?"
Ailee meneliti wajah Adrian. Melihat apakah ada tanda-tanda kebohongan yang akan keluar dari mulut Adrian. Tapi yang ada di wajahnya hanya senyum dan mata yang tak lepas menatapnya. "Hanya itu saja?"
Ailee menganggukkan kepalanya. "Ya, hanya itu. Aku sangat penasaran karena kalian suka tiba-tiba pergi tanpa memberitahu kami alasan apa, ya walaupun kalian mengatakannya kalau ada pekerjaan yang harus dikerjakan, tapi kalian tidak menjelaskan pekerjaan apa itu." Ailee menatap Adrian yang tidak pernah lepas menatapnya.
"Baik, aku akan jawab, tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu."
Ailee mengangguk. Ia menatap Adrian untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan pria itu.
"Jika saja kau diberi pilihan untuk menyelamatkan orang yang kau cintai, atau meninggalkan orang yang kau cintai, kau akan memilih yang mana?"
Ailee terkekeh. "Kau ini bertanya apa? Pasti aku akan menyelematkan orang yang aku sayangi."
"Benar, tapi jika kau ingin menyelamatkan orang yang kau sayangi, kau harus melakukan beberapa syarat, kau akan melakukannya?"
Ailee mengangguk. "Iya, pasti."
__ADS_1
Adrian tersenyum. Pria itu mencubit hidung Ashana. "Pintar sekali. Sekarang pikir bagaimana jika aku yang ada di posisi itu? Dan syaratnya adalah aku tidak boleh mengatakannya padamu, apakah jika, jika kau yang ada di posisiku, kau tetap akan mengatakan itu?"
Ailee terdiam. Ia berpikir sebentar. Apakah itu yang kini sedang di alami Adrian, wajahnya berubah serius. Apakah ada seseorang dalam bahaya sampai Adrian harus menyelamatkan orang itu? "Apa yang terjadi? Siapa yang harus diselamatkan? Apa maksud dari perkataanmu ini?"
Achazia terkekeh. Ailee sangat lucu jika sudah seperti ini. "Tidak, itu hanya perumpamaan. Tidak ada yang perlu diselamatkan. Kau tenang saja. Aku hanya butuh jawabanmu. Apa yang akan kau lakukan jika kau ada di posisiku, apakah kau tetap akan mengatakannya?"
Ailee menggeleng. "Aku tidak akan memberitahu dia."
"Bagus, bayangkan saja posisiku sekarang seperti itu. Kau akan tahu jika sudah waktunya. Kau doakan saja aku semoga semua ini cepat selesai." Adrian mengusap pipi Ailee, sedangkan Ailee tidak menolak sama sekali.
"Kau akan tetap disini apa akan tidur?" Tanya Adrian. "Kau hanya akan menanyakan itu kan? Tidak ada hal lain?"
"Bolehkan aku menemanimu sampai selesai malam ini?"
Adrian terdiam. Wajahnya terlihat kaget. Tapi beberapa detik kemudian pria itu tersenyum.
"Aku tidak punya alasan untuk menolaknya."
Ailee tersenyum kecil. "Terimakasih, malam ini aku tidak bisa tidur, kebetulan kau juga belum tidur." Tidak, itu hanya alasan. Sebenarnya Ailee sudah mengantuk, tapi saat melihat Adrian yang belum selesai juga dengan tugasnya, ia jadi ingin menemani pria itu.
Ailee terkekeh. "Begitukah?"
"Tidak ada satu hal tentangmu yang luput dari ingatanku Ailee."
Ailee menatap Adrian, segitu hebatnya kah cinta Adrian untuknya? Sampai pria itu tetap mencintainya walau Ailee sudah berusaha untuk tidak kembali lagi.
"Kenapa Adrian?"
Adrian yang sudah mulai kembali fokus pada laptopnya menoleh menatap Ailee.
"Kenapa?"
"Kenapa harus kau yang mencintaiku sebegitu hebatnya?" Suara Ailee terdengar lirih.
Adrian tersenyum. Pria itu menutup laptop yang berada di pangkuannya. "Sepertinya pertanyaanmu tidak memerlukan jawaban. Karena jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri."
__ADS_1
Ailee mengernyit. "Maksudmu?"
"Karena harus aku yang mencintaimu sebegitu hebatnya." Ucap Adrian. Mengubah pertanyaan yang diberikan Ailee menjadi pernyataan.
Ailee terkekeh. "Apakah aku masih bisa memulainya lagi?"
Adrian yang mendengar itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Ini yang sangat ia tunggu. Tapi ia seakan tidak percaya mendengarnya. Senyumnya langsung mengembang. "Apa? Bisa ulangi?"
Ailee menghembuskan napasnya. Dari dulu Adrian tidak pernah berubah."
"Ya sudah kalau kau tidak mau, aku tidak---"
"Hey hey hey. Kau kenapa sayang? Jawabanku tidak sesuai pertanyaanku." Adrian terkekeh di akhir ucapannya.
"Terserah."
Adrian tertawa pelan. Ya, ia sadar kalau sekarang sudah malam. Ia tidak mungkin tertawa begitu keras sampai membangunkan yang lain. "Kenapa kau begitu menggemaskan?"
"Kau tahu?" Ailee mendekatkan dirinya pada Adrian. Tidak menghiraukan pertanyaan Adrian tadi.
"Apa?"
Tanpa menunggu lagi Ailee langsung menghamburkan diri ke pelukan Adrian. Adrian yang tidak menebak kalau Ailee akan melakukan ini, tersenyum. Ia mengusap surai lembut Ailee. Benar-benar hal yang sangat ia rindukan.
"Aku merindukanmu."
"Aku lebih merindukanmu." Adrian mendekap Ailee erat. Ia tidak mau wanitanya pergi lagi. Ia tidak akan membiarkan wanitanya pergi. Siapapun yang berani mengusir Ailee, maka ia akan langsung turun tangan untuk menghalangi.
Adrian melepaskan pelukan itu saat mendengar is akan tangis yang keluar dari bibir kecil Ailee. Pria itu menatap wajah Ailee yang sudah banjir oleh air mata. Wanita itu menunduk, membuat Adrian khawatir. "Ada apa? Kau kenapa? Aku membuat kesalahan? Kenapa? Katakan padaku." Adrian benar-benar khawatir. Baru beberapa menit ia merasa sangat bahagia, lalu malah melihat Ailee tiba-tiba menangis.
"Aku menangis karena aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Sangat sangat sangat merindukanmu. Kau tidak tahu bagaimana susahnya menahan diri untuk tidak lari ke arahmu. Aku sudah berusaha tapi selalu gagal dan berakhir aku yang menangis sendirian. Setiap melihatmu ingin sekali aku mengatakan aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa melakukan itu walaupun aku ingin. Kau hanya bisa berpura-pura untuk membencimu, tidak menyukaimu. Padahal aku sangat ingin---" Ailee langsung melebarkan kedua matanya saat Adrian mengecup bibirnya singkat.
Adrian tersenyum tipis. Pria itu mengusap pipi Ailee lembut. "Sudah melampiaskan semuanya sayang? Kini aku ada di depanmu. Kau bebas mau melakukan apapun padaku."
*****
__ADS_1