Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
TERJEBAK


__ADS_3

Ashana menelpon Alice untuk menanyakan apakah jadi untuk makan siang bersamanya. Dan Alice bilang jadi. Ia menyebutkan nama restoran mewah yang ada di dekat kantor. Membuat Ashana bingung harus menjawab apa. Ashana langsung menelpon Alice.


"Halo kak. Ada apa?"


"Begini Alice. Apakah tidak ada restoran lain? Restoran disana terlalu mahal. Uangku tidak cukup untuk makan di sana." Ucap Ashana mengutarakan ketidaksetujuannya.


"Tidak, kakak tidak perlu membayarnya. Aku akan mentraktir kakak."


"Alice, kau tidak perlu seperti itu. Tidak perlu---"


"Sudahlah, Kak. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Jadi aku mohon terima ini."


"Bukannya begitu Alice, tapi aku----"


"Intinya aku tidak mau tahu. Kakak harus terima."


"Kita hanya perlu----"


Tut.


Ashana menatap ponselnya yang sudah di matikan secara sepihak oleh Alice. Ia berdecak. Ia tidak mau membuat uang tabungan Alice jadi berkurang. Alice belum bekerja. Lagipula Ashana tidak terbiasa menerima traktiran orang lain.


Alice : Kak, aku sudah menunggu di restorannya.


Ashana menghembuskan napasnya. Alice adalah gadis yang keras kepala. Sekeras apapun ia menolak, sekeras itu juga Alice akan memaksa.


Setelah pamit dengan Andini, Ashana berjalan menuju restoran yang di maksud Alice. Restorannya terletak di dekat kantor. Jadi ia tidak perlu menggunakan transportasi umum. Kakinya terus melangkah keluar kantor dengan pikiran yang menuju pada Achazia. Entah kenapa di manapun ia berada, dan kapanpun itu, pikirannya selalu Achazia. Walau pun ia sudah mencoba untuk tidak terlalu memikirkan Achazia karena nanti pekerjaannya akan berantakan. Tapi tetap saja, Achazia selalu datang.


Ashana menatap restoran dengan bangunan mewah yang kini berada di hadapannya. Ia menghela napas sebelum masuk ke dalam.


Ashana mengedarkan pandangannya mencari Alice. Tidak susah karena Alice sudah tahu Ashana masuk dan melambaikan tangannya ke arah Ashana yang di balas Ashana dengan senyum kecil.


Ashana berjalan menghampiri Alice. Ia menarik kursi lalu duduk di hadapan Alice. "Kau sudah lama menunggu?" Tanya Ashana.


Alice menggeleng. "Belum. Ayo, lebih baik kita pesan makanan dulu. Ingat ya, aku yang bayar. Kakak jangan menolak. Kalau kakak menolak akan menangis di sini." Ucap gadis itu.


Ashana terkekeh. "Lagipula kalau pun aku menolak, kau akan tetap memaksa kan?" Ucap wanita itu yang langsung mendapat cengiran Alice.


"Kakak mau apa?" Tanya Alice. Gadis itu melambaikan tangan memanggil pramusaji.


"Samakan saja dengan pesananmu." Ucap Ashana. Ia merasa tidak tahu diri jika harus memilih makanannya. Sudah di traktir, memilih pula.


Saat Alice memesan makanannya, Ashana fokus pada ponsel. Ia jadi teringat Achazia, haruskah ia meminta bantuan Alice? Tapi ia tidak mau menyeret Alice ke dalam masalahnya. Kalau Achazia malah marah pada Alice bagaimana? Ia juga yang repot. Ia juga bingung, bagaimana caranya meminta maaf pada Achazia. Haruskah ia membuat kejutan? Tidak, tidak. Itu pasti akan terlihat menjijikan di mata Achazia. Mengucapkannya langsung? Bagaimana kalau Achazia tidak memaafkannya.

__ADS_1


"Kakak,"


Ashana mendongakkan kepalanya. "Iya?"


"Kakak sedang ada masalah apa dengan Kak Achazia?"


Deg.


Bagaimana Alice bisa tahu? Atau ia terlalu mencirikan kalau mereka berdua sedang ada masalah? "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Waktu aku menunggu di ruangan kakak, aku menanyakan tentang Kak Ashana ke kakak. Kak Achazia malah mengubah topik pembicaraan. Jika aku bertanya tentang Kak Ashana, pasti dia akan langsung mengalihkan topik." Ucap Alice.


Ashana menghembuskan napasnya. "Tidak, hanya perkara biasa." Ucap wanita itu di akhiri senyuman.


Alice memicingkan kedua matanya. "Sepertinya ada yang kalian berdua sembunyikan. Ah, tidak apalah. Ada bagusnya juga aku mengajak kalian makan siang bersama."


Ashana mengernyit. "Maksudmu?"


"Awalnya aku hanya akan makan siang dengan kakakku. Tapi melihat ada Kak Ashana, aku jadi ingin mengajak Kak Ashana makan siang bersama karena aku merindukan Kak Ashana. Tadinya aku ingin mengatakan pada kakakku kalau Kak Ashana akan ikut. Tapi setiap membahas Kak Ashana, kakakku selalu mengalihkan pembicaraan.


Ashana menggigit kuku jarinya gelisah. Jadi Achazia akan ke sini? Bagaimana ini? Apakah tidak akan terasa canggung? " Kenapa kau tidak bilang padaku saja?"


"Hehe, aku lupa."


Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal menunggu Achazia datang dan pasti kecanggungan akan langsung terasa. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ikuti saja alurnya. Ashana sudah pasrah.


"Kau sudah menunggu lama?" Tanya Achazia dan Alice mengangguk.


"Iya, untung saja aku ada teman ngobrol."


"Siapa dia?"


'Mampus!' Batin Ashana. Ia tidak mau menoleh. Ia tidak mau menatap Achazia.


Alice tersenyum. "Ini Kak Ashana."


Tak ada respon dari Achazia. Setelah beberapa detik, pria itu langsung menarik kursi yang bersebelahan dengan Alice dan berhadapan dengan Ashana.


"Ku kira kau hanya mengajakku." Ucap Achazia yang sepertinya juga tidak mau menatap Ashana. Tapi dengan alasan yang berbeda mungkin. Ashana yang tidak mau menatap Achazia karena pria itu akan membuat hatinya berantakan. Dan Achazia yang tidak mau menatap Ashana karena kesalahan Ashana waktu itu. Itu menurut Ashana.


"Tadinya aku memang hanya mengajak kakak. Tapi aku malah bertemu Kak Ashana, jadi aku ajak makan siang bersama. Aku merindukannya, makanya aku mengajaknya."


"Kau sudah memesan makanan?" Ucap Achazia seperti yang tidak mau mendengar lebih jauh.

__ADS_1


Alice mengangguk. "Sudah."


Ashana menyimak percakapan kakak beradik ini di balik fokusnya ia memainkan ponsel. Sebenarnya, ponselnya sepi, tidak ada apa-apa. Itu hanya pengalihan Ashana daripada harus menyimak obrolan mereka secara terang-terangan.


Ashana berterima kasih sekali pada pramusaji yang datang untuk mengantarkan pesanan. Ia ingin cepat-cepat makan lalu pergi dari sini. Setelah pramusaji itu menghidangkan makanan, ketiganya langsung menyantap makanan tanpa ada obrolan sama sekali. Alice yang peka sesuatu terjadi antara Ashana dan Achazia mempunyai ide. Ia bangkit berdiri.


"Mau kemana?" Tanya Achazia.


"Aku ke kamar mandi dulu sebentar."


Ashana menggigit bibir bawahnya. Jadi Alice akan meninggalkannya berdua dengan Achazia? Bagaimana ini?


*Ashana


Andin, bagaimana ini... Aku terjebak disini.


Andini


Kenapa memangnya?


Ashana


Kau tahu? Ternyata Alice tidak mengajakku saja. Tapi juga mengajak Achazia. Dan sekarang Alice malah pergi ke kamar mandi. Tinggalah aku dengan Achazia berdua. Bagaimana ini?


Andini


Dasar. Sepertinya Alice peka kalau kau sedang tidak baik-baik saja dengan Achazia. Jadi dia memberi waktu untuk kalian menyelesaikannya. Makanya dia ke kamar mandi.


Ashana


Lalu aku harus bagaimana?


Andini


Kau manfaatkan kesempatan yang sudah Alice beri. Minta maaflah sekarang.


Ashana


Aish, aku belum punya persiapan.


Andini


Memangnya minta maaf harus ada persiapan. Kau ini.

__ADS_1


Ashana menatap Achazia yang sedang fokus memakan makanannya. Benar juga sih kata Andini. Ini adalah waktunya untuk meminta maaf. Tapi bagaimana?


*****


__ADS_2