
Ashana merasa hubungannya sangat baik setelah kejutan Achazia beberapa minggu lalu. Ya, tidak terasa hubungan mereka berdua sudah berjalan hampir tiga bulan. Dan Ashana bersyukur tidak ada sesuatu yang mengganggu hubungan mereka. Dan Ashana sangat berharap untuk tidak akan pernah ada.
"Pagi, princess."
Ashana hanya tersenyum kecil. Hanya itu yang bisa ia lakukan ketika Achazia menggodanya. Sebenarnya jika Achazia memanggilnya seperti itu, Ashana ingin langsung berteriak saat itu juga. Tapi ia masih bisa mengontrol diri. Lagipula Ashana tidak mau membuat Achazia jadi besar kepala nantinya.
"Pagi," Jawab Ashana.
"Tidak ada tambahan?" Achazia menatap Ashana dengan senyuman yang terukir.
"Tambahan apa?"
"Tidak ada kata yang perlu di tambah?"
Ashana tampak berpikir. Beberapa detik kemudian ia tersenyum. "Pagi, Achazia."
Achazia menghela napas sebelum tersenyum. Kekasihnya ini benar-benar menggemaskan. "Kau ini," Achazia langsung menarik Ashana dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Ia menyelundupkan wajahnya ke ceruk leher Ashana. Membuat Ashana terkekeh geli.
"Ekhem!"
Ashana refleks menjauhkan Achazia. Ia menoleh dan langsung tersenyum saat menemukan Bapaknya sudah bersiap untuk pergi ke pasar. Tapi keberadaan mereka berdua menghalangi jalan Bapak Ashana karena Ashana dan Achazia berdiri di depan pagar.
"Eh, bapak." Ashana yang belum peka kenapa Bapaknya terus berada di situ hanya tersenyum.
"Kalian tidak akan berangkat bekerja?" Tanya Bapak.
"Kami akan berangkat." Ucap Ashana.
"Ya sudah, kalian minggir dulu. Lanjut nanti mesra-mesraannya. Bapak ingin lewat." Ucap Bapak yang membuat Ashana langsung menggeser sambil menarik tangan Achazia.
"Silahkan," Ashana tersenyum yang di balas senyum juga oleh Bapak.
Setelah Bapak pergi, Ashana menepuk jidatnya. Ia menatap Achazia yang terlihat biasa saja. Bahkan Achazia terkesan santai.
"Kau ini. Bagaimana kau bisa memelukku saat ada Bapak? Aku kan jadi malu." Ucap Ashana.
"Salahkan dirimu sendiri kenapa menggemaskan. Mau aku peluk lagi?" Achazia dengan tampang yang tidak bersalah malah kembali melebarkan kedua tangannya.
Ashana mendorong dada Achazia. Lalu wanita itu langsung berjalan menuju mobil Achazia. "Cepat, kita akan telat nanti." Ucap Ashana.
__ADS_1
Achazia hanya tersenyum menanggapinya. Sebenarnya Ashana itu sedang salah tingkah. Tapi dia sedang berusaha untuk menutupinya.
Achazia membukakan pintu untuk Ashana sebelum ia sendiri masuk ke dalam mobil. Setelah Ashana selesai memakai sabuk pengaman nya, Achazia baru menjalankan mobilnya.
"Apakah keluargamu belum tahu?" Tanya Ashana tiba-tiba.
Achazia menggeleng. "Kau mau aku memberitahu mereka tentang hubungan kita?" Sebenarnya Achazia sudah siap jika Ashana ingin ia memperkenalkan Ashana pada keluarganya. Ia tidak takut Ashana akan di ejek nanti. Achazia berpikir lagi, benar kata Adriyana. Ada dirinya yang akan melindungi Ashana.
Ashana langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan. Aku belum siap."
"Lalu kapan kau akan siap?"
Ashana terdiam. Ia sendiri juga tidak tahu kapan waktu itu akan datang. Tapi, tunggu. Bagaimana bisa keluarga Achazia belum mengetahui hubungannya? Itu sangat aneh.
"Achazia, benarkah keluarga mu belum mengetahui hubungan kita? Maksudku, kau adalah orang penting. Jadi setiap apapun yang berhubungan denganmu pasti akan tersoror media. Bagaimana mungkin----"
"Ya, aku mengerti. Kau sendiri kan yang belum siap? Jadi aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menghalangi adanya berita tentang kita. Orang suruhanku bisa kita andalkan. Sebenarnya sudah banyak berita tentang hubungan kita. Hanya saja, yah pasti kau mengerti. Aku akan menurutimu jika memang kau belum siap." Ucap Achazia.
Akhirnya mereka berdua sampai di kantor. Ashana keluar lebih dulu. Ia menunggu Achazia di samping mobil.
Achazia tersenyum saat melihat Ashana. "Tumben sekali. Kau menungguku?" Godanya sambil memeluk pinggang Ashana.
"Hanya sebentar."
Ashana menghentikan langkahnya. Ia membiarkan Achazia memeluknya lebih lama. Sebenarnya ia juga menginginkan ini. Hanya saja ia terlalu malu untuk melakukannya.
Achazia melepaskan pelukannya. Ia menautkan jari jemarinya pada jari jemari Ashana. "Ayo."
Mereka berjalan masuk. Sebenarnya banyak yang ingin memperhatikan mereka. Tapi mereka masih sayang nyawa dan pekerjaannya. Mereka tidak akan melepaskannya semudah itu. Achazia tidak suka di perhatikan. Jadi mereka tidak mau mencari perkara.
"Manager pemasaran sudah mengirimkan proposalmu padaku." Ucap Achazia saat mereka berdua sudah sampai di tempat Ashana.
Ashana meringis. Kenapa ia jadi merasa malu ya sekarang? Entah kenapa ia takut kalau ada kesalahan di dalam proposal itu. Entah kenapa ia merasa harus tampil sempurna di depan Achazia.
"Kau sudah memeriksanya?"
"Belum, mungkin sekarang." Ucap Achazia yang membuat Ashana menghela napas. Setidaknya ia belum melihatnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku duluan." Ashana berjalan lebih dulu. Tapi tangannya langsung di sambar oleh Achazia.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? Tempatmu dan ruangan ku searah."
"Iya, tapi aku ingin pergi ke toilet dulu." Ucap Ashana.
Achazia melepaskan tangannya. Sebenarnya ia curiga, tapi ia langsung menepis semua pikiran buruknya. Setelah Ashana hilang dari pandangan, Achazia baru melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
"Pagi Pak." Arkan yang berdiri di depan pintu menundukkan kepalanya.
"Ikut aku."
Arkan berjalan mengebor Achazia. Pria itu berdiri di depan meja Achazia sampai Achazia duduk.
"Aku punya tugas untukmu."
"Saya akan melakukannya."
Achazia mempunyai alasan mengapa ia begitu percaya pada Arkan. Arkan adalah pria rekomendasi Abercio. Dia dulunya pernah bekerja di perusahaan Abqari. Sebenarnya kalau bukan Achazia yang meminta Arkan untuk bekerja si perusahaannya, Abqari juga tidak akan memberikannya. Abqari juga mempunyai dua sekretaris yang sama hebatnya.
Bukannya Achazia tidak bisa mencari orang lain sampai harus meminta pada perusahaan sahabatnya. Tapi ia punya alasan tersendiri untuk itu. Ia butuh orang yang sudah di jamin kesetiaanya. Karena orang itu yang akan mengurus semua hal pribadinya. Bukan hanya seorang sekretaris saja.
"Apakah banyak berita tentangku?" Tanya Achazia.
Arkan menggeleng. "Tidak, Tuan. Penjagaan sangat ketat jika Tuan sudah berdua dengan Nyonya Ashana. Tidak akan ada reporter yang berani mengangkat berita ini ke publik."
"Bagus. Aku punya pekerjaan untuk mu."
"Saya akan melakukannya."
"Awasi Ashana. Aku tidak mau terjadi suatu hal yang buruk padanya."
Arkan mengangguk. "Saya akan menyuruh orang paling berpengalaman."
Achazia mengangguk. "Sudah, hanya itu."
"Kalau begitu saya pamit undur diri." Arkan berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Achazia yang menghembuskan napasnya saat Arkan sudah keluar.
"Kenapa mimpi itu datang lagi? Aku harus bagaimana." Achazia memejamkan matanya lalu memijit pangkal hidungnya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena mimpi si***n itu.
*****
__ADS_1